Change You

Change You
Cinta atau Rasa Bersalah


__ADS_3

Terik panas burung-burung berkicau riang, angin-angin berhembus dengan tenang. Pagi ini cuaca sangat baik sama halnya dengan hati Kevin yang sangat gembira mendengar Lisa sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.


Sebelum mereka pulang, Lisa dan Kevin menemui sang ayah dikamar rumah sakit. Semuanya berjalan lancar seperti yang diharapkan, hingga mereka sampai di apartemen dengan tenang.


Mereka disambut dengan gembira oleh para pelayan. Begitu pula Jun yang berlari menyambut kedatangan mereka. Rasa lega, atas kedatangan Lisa yang penuh semangat membuat Kevin dan Jun tersenyum melihatnya.


Lisa menjatuhkan tubuhnya di ranjang. "Hah, rasanya lelah sekali berada dirumah sakit," keluh Lisa sambil meliuk-liukkan badan.


"Benarkah? Kupikir kau menikmati tidur dikasur kecil berdua denganku," goda Kevin.


"Aku minta maaf. Harusnya tak usah menunggu," ujar Lisa merubah posisinya menjadi duduk sambil menundukkan kepala.


Kevin menghampiri gadis itu, mengelus punggung tangannya dengan lembut. "Dengarkan aku. Jangan pernah mengatakan maaf lagi jika kau tidak salah."


"Tapi karenaku kau harus menunggu dirumah sakit, dan tidur dengan tidak nyaman."


"Kata siapa aku tidak nyaman? Tidur bersamamu dilantai, jauh lebih seru dibandingkan, tidur diranjang empuk nomor satu didunia."


"Ish, kamu berlebihan," Lisa memukul pundak Kevin dengan pelan, namun penuh arti. Ia sangat bahagia diperlakukan Kevin seperti ini. Lisa bahagia mempunyai Kevin yang disukainya.


****************


Tiinn tiin..


Mobil dan motor yang memenuhi jejalanan menyebabkan kemacetan. Klakson terus berbunyi, lampu sudah hijau, anehnya Jefri tidak memperdulikannya. Pria itu masih menetap dalam mobilnya.


"Jef, jalan! Kau gila?!" seru Alisya.


"Ya, aku gila. Sejak kapan kau suka pelayannya Kevin, hah?!"


"Memangnya kenapa? Kau cemburu, kau menyukaiku kan?"


"Huh, aku tidak menyukai wanita ganjen," balas Jefri dengan menghela nafas.


"Kau memang cocok untuk dicekik! Kau tahu? Semua pria bertekuk lutut bertemu denganku!"


"Tidak berlaku untukku dan..., kau itu cocok dengan Kevin!" tukas Jefri.


Alisya menaikkan sebelah alisnya, menatap bola mata Jefri dengan sangat lekat.


"Kamu itu aneh Jef, suka plin plan. Atau jangan-jangan—"


"Yah. Aku suka Lisa," potong Jefri.


Alisya tertawa terbahak-bahak, hingga klakson kembali berbunyi dibelakang dengan sangat kuat. Jefri langsung menekan gas mobil mendadak.


"Jef! Kau mau kita mati?!"


"Kau terlalu berisik. Lebih baik bantu aku, cari tahu tentang hubungan mereka!"


"Bagaimana kalau benar, Lisa adalah istri Kevin?" tanya Alisya dengan tatapan bersungguh-sungguh. Mungkin, keputusan dari Jefri akan menjadi pilihannya juga.


"Jika itu benar. Kevin pasti menikah dengan terpaksa," jawab Jefri dengan wajah datarnya dan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


"Kau tahu darimana...? Bisa aja kan, kalau mereka saling suka."


"Sella," jawab Jefri singkat.


"Ck! Wanita sialan itu."


"Sudah setengah tahun Sella tidak kembali. Dua bulan yang lalu, Kevin pernah cerita denganku. Kalau dia merindukan Sella."


Flashback 2 bulan yang lalu


Jefri pov


Saat itu, aku dan Kevin berada dicafe bersama dengan teh mint dan cappuccino di meja. Aku melirik Kevin yang terlihat murung seperti biasa.


Biasanya ia menghabiskan waktu di bar jika sedang sedih. Tapi kali ini berbeda, Kevin mengajakku untuk menemaninya dicafe.


"Lo, kenapa lagi?" tanyaku yang penasaran.


"Gue rindu Sella, Jef. Sampai sekarang gue masih belum tahu keberadaannya."


"Lupain Sella, Vin. Lebih baik Lo cari wanita yang lebih baik."


"Gue dah dapat, Jef. Dia gadis yang baik dan cantik. Dia pernah ngorbanin nyawanya demi gue Jef. Tapi, gue gak tahu kalau dia ada rasa atau nggak," jawab Kevin dengan wajah murungnya.


"Gak mungkin dong, dia ngorbanin nyawa, kalau gak cinta? Berati, kalau dia cinta sama lo. Lo bakal ngelupain Sella?"


"Ntahlah. Perasaan gue ke Sella itu, antara merasa cinta atau bersalah. Gue gak bisa ngebedain perasaan gue, Jef."


"Itu yang Kevin bilang ke aku."


"Aku udah nanya. Tapi, dia gak mau jawab pertanyaanku," jawab Jefri.


"Mengesalkan sekali! Wanita sialan itu, pasti sedang bersenang-senang."


****************


Tak tak tak


Suara ketukan Keyboard terdengar jelas ditelinga Sella. Gadis itu terbangun dari tidurnya yang lelap. Hampir dua Minggu, ia belum menatap matahari sama sekali.


"Kau berisik sekali!" teriak Sella sambil menepuk kuat meja kerja Devan.


"Sengaja," jawab Devan singkat dengan fokus menatap layar laptopnya.


"Kau gila?! Menggangguku untuk tidur tahu!" sentak Sella.


"Huh, wajahmu pucat. Apa tidak lebih baik kau menghirup udara segar?"


"Tidak. Aku tidak berselera untuk keluar tanpa Kevin."


"Ck! Dasar pshychopat. Aku akan mengirim dua pengawalku untuk mengikutimu."


Sella terdiam. Pikirannya hanya tertuju dengan ucapan Devan yang perhatian menurutnya. Namun, yang bisa dibayangkan Sella hanya wajah Kevin. Hanya Kevin!

__ADS_1


"Dev?"


"Ya?"


"Kau harus bantu aku, membawa Kevin! Hidup atau mati, Kevin adalah milikku!"


"Aku harap bayimu, tidak pshychopat sepertimu."


"Ini bayimu. Bukan bayiku! Berikan aku nomor Lisa sekarang juga!"


"Dimana aku mendapatkannya? Kau pikir mudah untuk mendapatkan itu?!"


Sella kembali terdiam. Senyum smirk menampilkan wajah pshychopatnya dengan jelas. Gadis itu menemukan sebuah ide yang menarik, untuk memisahkan Kevin dan Lisa tentunya.


****************


Sudah beberapa jam sejak kepulangan Lisa dari rumah sakit. Namun, yang dilakukannya hanya berbaring dikamar dengan selimut putih.


Ini semua karena Kevin. Pria itu tidak memperbolehkan Lisa untuk keluar dari kamar, agar gadis tersebut tidak kelelahan, Namun perlakuannya sangat berlebihan bukan?


"Kau haus?" tanya Kevin duduk memperhatikan Lisa yang berbaring dengan selimut panjang.


"Iya."


"Tunggu sebentar biar aku ambilkan."


Kevin langsung beranjak dari tempat tidurnya. Namun, tangan Lisa mencegahnya untuk pergi.


"Aku bisa ambil sendiri, Vin. Aku udah benar-benar sehat kok," jawab Lisa.


"Tapi, kata dokter kau tidak boleh kelelahan."


"Tapi ini terlalu berlebihan. Bukan seperti ini yang dimaksud dokter. Dibandingkan bekerja, aku lebih lelah berbaring terus."


"Maafkan aku. Aku hanya takut kalau kau masuk lagi kedalam rumah sakit."


"Jangan terlalu dipikirkan, aku sudah bisa menjaga diriku sekarang. Oh iya, kamu mau makan apa? Kita belum makan siang ini."


"Baiklah, oke, oke. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri! Hari ini kita pesan makanan saja dulu, atau makan diluar?"


"Makan diluar saja, boleh?"


"Oke, siap bos!" seru Kevin sembari tertawa.


****************


Jefri dan Alisya berhenti tepat di depan apartemen Kevin. Mereka datang sangat tepat, dimana Kevin dan Lisa baru saja akan berangkat untuk makan diluar.


"Kevinnnn!" seru Alisya.


"Lah, si nenek sihir," gerutu Kevin.


Lisa melirik kearah suara yang menunjuk di luar gerbang. Sudah terlihat Jefri yang tersenyum menatap kearahnya. Kevin melihat tatapan Jefri dengan tidak suka pada istrinya.

__ADS_1


Dia harus jujur kali ini. Bahwa Lisa, adalah gadis yang pernah ia ceritakan.


TBC


__ADS_2