Change You

Change You
Cemburu


__ADS_3

"Aaa Sialan. Apa yang kulakukan? Kalau begini, pasti aku ketahuan!" teriak Kevin dalam hati.


"Tuan, kaki anda terluka!" seru Lisa.


Lisa yang begitu telaten langsung memegang Kevin dan menuntunnya ke sofa. Jun dan pelayan satunya, masih berdiri melamun kebingungan.


"Jun, ambilkan kotak obat!" perintah Lisa seraya menatap kaki Kevin yang terus menitikkan darah.


"Baik nona!"


Dengan sigap pria pelayan itu mengambil kotak obat dan langsung memberikannya pada Lisa. Kevin terdiam sejenak memperhatikan Lisa yang sangat cantik dan begitu perhatian.


Namun lamunannya buyar saat ketika Jun terus melihatnya. "Hm Jun?" panggil Kevin dengan tatapan memerintahkan pria itu untuk segera keluar dari sini.


"Baik tuan!" Jun yang sangat antusias, langsung mengerti keadaan. Ia langsung berjalan meninggalkan mereka berdua.


Sedangkan Lisa menatapnya kebingungan, ia menoleh kearah Kevin yang awalnya tersenyum, berubah seketika saat Lisa melihatnya.


Lisa tak terlalu menanggapi, ia menutupi bekas luka itu dengan plester sambil sedikit meringis. Padahal yang terluka Kevin, tapi ia seperti ikut merasakan.


Kevin berusaha menahan tawa melihat wajah Lisa yang amat serius. "Sudah siap!" seru Lisa seraya tersenyum kearah Kevin. Kevin terkagum melihat wajah Lisa yang begitu sempurna, apalagi jika dilihat dari dekat.


"Tuan?" panggil Lisa sembari melambaikan tangannya untuk menyadarkan Kevin dari lamunannya. Kevin memilih memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malu. "Hmm?"


Lisa meletakkan tangannya di kening Kevin. "Tuan, anda tidak apa-apa kan? wajah anda merah," ucap Lisa dengan lugunya. Pipi Kevin semakin memerah tatkala wajah gadis itu semakin dekat.


"Ah Lisa!" sontak Kevin menarik tangan Lisa membuat gadis itu jatuh di dekapannya. Jarak mereka sangat dekat saat ini, hampir tidak berjarak. Kevin dan Lisa sama-sama saling bisa merasakan hembusan nafas mereka.


Namun Lisa langsung sadar dan mencoba berdiri, tetapi Kevin menahannya. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Apa yang kulakukan!" pikir Kevin sembari melepaskan tarikannya. Lisa pun ikut berdiri seperti semula. Pipi keduanya sama-sama merah, dan itu semua akibat perbuatan Kevin yang membuat suasana terlihat canggung.


"Maaf tuan," ujar gadis itu setengah membungkuk, sedangkan Kevin masih setia membuang mukanya.


Lisa langsung berbalik arah membelakangi Kevin, dan melangkah besar untuk meninggalkan tempat itu secepat mungkin.


"Lisa!" panggil Kevin semula. "Mulai sekarang jangan terlalu formal denganku," timpalnya.


Lisa yang sempat berhenti, melanjutkan kembali langkahnya dengan cepat. Ia tak berani menoleh kearah Kevin dengan wajahnya yang semakin memerah.


......................


"Sella, kamu akan tetap tinggal selamanya disana?" ucap Devan dalam panggilan ponselnya.


"Mustahil dong! Gak mungkin aku ninggalin Kevin sendirian di sana. Paling nggak, sekitar 3 bulan lagi aku balik ke Indonesia.


"Jadi, kenapa nih. Kamu tiba-tiba telpon?" timpal Sella.


"Rencana kita gagal. Anak buahku, malah kenakin target ke cewek."

__ADS_1


"Jadi Kevin gimana? Kenapa bisa kena cewek sih?! Kan aku bilang lakuin tengah malam."


"Masalahnya, cewek itu ngikutin Kevin, Sel."


"Aku gak mau tahu, Van. Kamu harus cari tahu siapa gadis itu! Dan satu lagi. Kamu gak boleh biarin Kevin terbunuh. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Kevin, siap-siap aja!"


"Iya, tenang aja. Aku udah rencanakan sesuatu."


"Yaudah aku matiin nih telponnya," Sella mematikan panggilan di sebelah pihak.


Devan melirik ponselnya. "Huh!" Membuang nafas kasar.


Ia menatap langit-langit ruang pribadinya, berpikir bagaimana agar ia bisa mengungkapkan perasaannya selama ini. Sedangkan orang yang ia cintai, mencintai orang lain.


......................


Saat ini Kevin. Tengah berbaring di kamarnya, dengan kaki yang diperban. Ia menatap kearah luar jendela dengan pandangan kosong dan pikiran yang melayang.


Sejujurnya, ia telah memikirkan beberapa kali yang terjadi dengannya hari ini. Semakin lama ia tinggal dengan Lisa, semakin ia sadar kalau Lisa tak seburuk yang di dalam pikirannya.


Tok tok tok


"Lisa?" pikirnya. "Masuklah!" seru Kevin dengan nada santai sembari merubah posisinya menjadi setengah duduk.


Kevin menantikan bahwa gadis itu untuk masuk. Sayangnya, bukan Lisa yang mengetuk pintu. Melainkan, Jun pelayan pribadinya yang sudah mengabdi sejak kecil.


Kevin berharap Jun tidak terlalu formal dengannya. Tetapi pria itu lebih memilih untuk formal. Karena adanya perbedaan antara mereka.


"Tuan, saya dengar anda belum makan siang. Saya sudah menyiapkan ini untuk anda," ujar Jun menyodorkan sebuah nampan yang berisikan makanan yang telah dimasaknya bersama Lisa.


"Harusnya kau tahu, aku tak suka makanan rumahan," ucap Kevin ketus sembari membuang muka.


Jun membungkukkan badannya seraya meminta maaf.


"Maafkan saya tuan. Tadinya saya sudah mengatakan pada nona Lisa, kalau anda tidak menyukai makanan rumahan. Tetapi, Lisa bersikeras mengatakan Kalau anda, akan memakan masakannya."


Kevin tersenyum sumringah, lalu menoleh kearah Jun yang menatapnya bingung. "Ada apa tuan?"


"Berikan nampan itu pada Lisa, dan suruh ia kemari!"


Jun membungkukkan setengah badannya. "Baik tuan," ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar. Jun merasa, Kevin sedikit aneh, tak biasanya dia seperti ini.


Dirinya menduga bahwa Kevin mulai menyukai Lisa. Itulah yang dipikirkannya saat ini.


Akhirnya kedua orang itu telah sampai, tepat di depan kamar Kevin. Jun masuk dengan santai. Berbeda dengan Lisa, yang menunduk ketakutan. Apalagi yang akan terjadi padanya hari ini?


"Saya sudah membawa Lisa tuan," seperti biasa Jun tetap formal. Sedikit membungkukkan badan dan tetap tenang. Lisa tersenyum tatkala melihat Jun, yang menurutnya sangat sopan dan baik.


Kevin melihat senyuman itu dengan jelas. Pria itu beralih menoleh ke Jun. "Bisakah kau, meninggalkan kami berdua?" ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


Jun mengangguk sebagai jawaban 'iya'. Sebelum Jun keluar dari kamar itu. Ia menatap kearah Lisa sebentar sembari tersenyum.


Kevin menatap jijik sepasang pria dan gadis, yang saling tersenyum dihadapannya saat ini.


"Ekhem!" deheman Kevin yang keras membuat keduanya saling menunduk. Jun mempercepat langkahnya untuk keluar. Sedangkan Lisa, kembali memikirkan apa yang akan dilakukan Kevin dengannya saat ini.


Suasana terlihat canggung, ketika hanya mereka berdua yang tersisa di dalam kamar. Kevin memulai pembicaraan.


"Letakkan nampan itu dimeja," pinta Kevin.


"Apa dia akan membuang makanan ini dihadapanku?" terka Lisa.


Gadis itu meletakkan makanan dimeja tanpa berbicara. Sesuai dengan yang diperintahkan Kevin. Lisa berjalan mundur dan kembali ke tempatnya semula.


Suasana kembali canggung, di mana Kevin menatap kesembarang arah.


"Bisa kau lepaskan perban yang ada dikakiku?"


"Tapi, kaki anda masih terluka tuan."


"Tidak apa. Aku hanya merasa risih dengan perban ini."


"Kenapa tidak anda melepaskannya. Aku ta—" belum sempat Lisa berbicara, Kevin sudah memotongnya. "kau mengaturku?" tanya Kevin membuat Lisa menghela nafasnya pelan. "Baik tuan," jawab Lisa singkat.


Gadis itu membuka perlahan, perban di kaki Kevin. Ia meringis sendirinya, gadis itu terlihat sangat lucu, membuat Kevin harus mengulum senyumnya.


"Lisa?"


"Ya. Tuan?" jawab Lisa dengan sigap sembari tetap melepaskan perban itu perlahan.


"Bisakah kau tidak formal denganku?"


"Tapi anda—"


"Apa kau tidak bisa, menentang ucapanku sekali saja?"


"Baik tuan, maksudku ya Kev– huh, aku tidak bisa! Aku harus memanggil anda apa?"


"Nama saja, lagipula umur kita tidak jauh beda."


"K-kevin?"


"Ya."


"Baiklah, pria ini semakin gila saja!" gerutu Lisa.


Lisa tersenyum menunjukkan bahwa ia akan melaksanakan perintah Kevin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2