
Happy reading
......................
Kevin bisa mendengar dengan jelas suara kericuhan dari lorong gang. Pria itu tidak terlalu menanggapi, ia berpikir itu hanya suara kucing berkelahi.
Namun, beberapa menit kemudian ia beranjak dari tempat duduknya menuju kearah kericuhan yang kini sudah senyap.
Langkah demi langkah, akhirnya Kevin melihat lorong gang tempat kericuhan itu.
Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. "LISAA!"
"Lisa, Lisa!"
Kevin mengguncang tubuh gadis itu terus menerus, namun tidak ada respon sedikit pun dari Lisa. Matanya kini melihat ke arah tangan Lisa yang berlumuran darah di dekat perutnya.
Pria itu memegang tangan Lisa. Ia berpikir lengan Lisa yang berdarah. Ternyata, gadis itu menutupi tusukan pisau tersebut dengan tangannya.
"Lisa!"
Dengan perasaan khawatir, Kevin langsung mengangkat gadis itu dan berlari menuju kearah rumah sakit.
......................
Pukul 08.00
Saat ini Lisa sedang di rawat di ruang operasi. Rasa khawatir terus menyelubungi pikiran Kevin yang terus menunggu hingga berjam-jam lamanya. Belum ada kabar sama sekali dari dokter, membuatnya semakin frustrasi.
Orang tua Kevin dan para polisi kini sedang menyelidiki lokasi kejadian. Untungnya mereka mendapat bukti dari CCTV.
Gambaran wajah pria penguntit itu tidak terlihat langsung. Namun, kejadian yang berlangsung semalam terlihat sangat jelas.
Kevin merogoh saku untuk mengambil ponsel. melihat pesan masuk dari Claudia yang tak lain adalah ibunya. Pesan itu berupa file yang berisikan video kejadian yang di alami Lisa semalam.
Tanpa Kevin sadari, ia meneteskan air mata tanpa disengaja. Ia tersenyum kecut sambil memejamkan mata.
"Ternyata memang benar akulah yang jahat disini."
Pintu ruang operasi terbuka. Kevin langsung membuka matanya dan berlari ke arah dokter.
"Dokter. Bagaimana dengan Lisa? Dia baik-baik saja kan? Cepat katakan padaku!" Kevin terus membanjiri pertanyaan pada sang dokter.
"Tenang dulu pak!"
Kevin terdiam, ia mencoba menenangkan dirinya dan memulai kembali bertanya dengan tenang.
"Bagaimana keadaan Lisa sekarang dok?"
"Pasien berhasil melewati operasi. Namun, untuk sekarang ini. Ia belum sadarkan diri."
"Apa saya boleh masuk?"
"Silahkan."
__ADS_1
Kevin pov
Aku pun masuk dan menutup pintu dengan perlahan agar tidak kedengaran. Aku melihat Lisa dengan tangan yang diinfus dan diberi alat bantu pernafasan.
Air mataku mengalir kembali dengan sendirinya.
"Kenapa kau menolongku, ha! Harusnya, biarkan saja aku yang kena tusukan itu! Kenapa juga kau harus peduli dengan orang yang selalu menyakitimu!"
Aku tak bisa menahan air mataku yang terus berjatuhan. Aku menggenggam erat tangannya yang tak berdaya, berharap agar aku saja yang menggantikan posisinya sekarang.
Aku tak tahu rasanya kepalaku pening sekali saat ini. Serpihan-serpihan memori ingatanku kembali bertebaran di kepalaku.
Rasa ini. Aku sering merasakan hal ini! Memori pertemuanku dengan gadis yang datang untuk selalu menghiburku saat sekolah dasar.
Flashback
"Angga! Aku membawakanmu bunga, kau mau?" ucap seorang gadis kecil yang mempunyai bola mata yang besar bak boneka.
Kevin menggelengkan kepala. "No, i don't like flower."
Gadis itu cemberut. "Ish. Apa yang kau katakan? Ayahku tak mengajariku berbahasa sepertimu."
"Kau sebentar lagi akan masuk sekolah dasar! Apa kau akan terus berbahasa Indonesia di London?"
"Tapi Angga, aku kan lahir di Indonesia. Jadi, kita pakai bahasa Indonesia saja ya!" balas gadis kecil itu sambil tersenyum. Kevin hanya membuang mukanya dengan angkuh.
Gadis kecil itu menempelkan bunga kecil ke daun telinganya.
"Apa yang kau lakukan!"
"Aku tidak menyukainya!"
"Tapi aku menyukainya. Kau terlihat tambah tampan seperti itu."
Pria kecil itu membunyikan senyumnya dengan pipinya yang mulai berseri-seri.
"Apa kau akan menyukaiku jika aku memakai ini?" tanya Kevin dengan nada malu-malu.
Gadis kecil itu meraih pipi Angga dan mencubitnya. "Tentu saja! Aku menyukai Angga!"
Flashback end
"Sebenarnya siapa gadis kecil itu. Apa benar dia Sella?" monolog Kevin.
Kevin menaruh tangan Lisa di wajahnya."Kau mengingatkanku pada gadis kecil itu Lisa."
Sudah hampir 2 hari Lisa tak menyadarkan diri, Kevin juga tidak makan sama sekali.
Kedua orang tua Kevin sudah memaksa putra mereka untuk makan. Dan juga mereka akan menggantikannya untuk menjaga Lisa. Namun, pria itu tetap bersikeras untuk menjaga Lisa hingga bangun.
Hingga tanpa sadar, Saat menjaga Lisa. Kevin terjatuh dari kursinya. Pingsan dan tak sadarkan diri.
10 menit setelahnya...
__ADS_1
Kevin mengerjapkan matanya berulang kali. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah ruangan nuansa putih yang berbau obat-obatan.
"Kau sudah sadar?" tanya Arga yang merupakan ayah dari Kevin.
"Kenapa aku bisa disini?"
"Kau tidak makan sama sekali selama 2 hari."
"Lisa? Bagaimana dengan Lisa! Dia sudah sadar?" tanya Kevin yang langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Sudah, dia sudah bangun sejak kau ping-" belum selesai Arga melanjutkan ucapannya, Kevin langsung berlari keluar tanpa memperdulikan keadaanya yang masih lemah.
"Hei. Jangan lari-lari!" seru Arga.
Kevin tak menanggapi, ia terus berlari menuju ruangan Lisa. Namun tak ditemukannya sama sekali keberadaan Lisa. Kevin kembali keruangannya dengan nafas yang terengah-engah.
"Kan sudah kukatakan jangan berlari-lari! Lisa sudah pindah ke lantai 3 diruang 005," ujar Justin seraya menahan tawanya melihat wajah khawatir Kevin.
Begitu Kevin mengetahui keberadaan Lisa, ia langsung berlari kembali. Arga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
Brakk!
"Lisa!" teriak Kevin mendobrak pintu. Lisa tengah berbaring bersama Claudia di sampinya membuat wanita paruh baya itu menatap Kevin dengan tatapan bingung.
"Ekhem!" Kevin membuang mukanya dan bersikap angkuh kembali.
Sementara Claudia , hanya bisa tersenyum melihat tingkah Kevin yang sedikit kekanakan menurutnya.
"Kalau gitu mama keluar dulu yah," ucap Claudia sembari mengecup kening Lisa. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban 'iya'.
Kini hanya tersisa Kevin dan Lisa di ruangan tersebut. Suasana terlihat canggung, terlebih lagi Kevin terus berdiri sambil membuang muka.
Lisa memberanikan dirinya untuk memulai percakapan. "Tuan, apa anda baik-baik saja? Aku mendengar dari mereka kalau anda pingsan tadi dan semua itu gara-gara aku."
Kevin paling tak suka mendengar kata-kata yang seperti ini. Jelas-jelas karena dirinya Lisa hampir sekarat. Sekarang ia malah bilang gara-gara aku. Ucapan yang sangat bodoh bukan?
"Setelah semua yang terjadi padanya, sempat-sempatnya ia mengkhawatirkanku?" batin Kevin.
"Anda marah denganku?" tanya Lisa.
"Ya. Aku sangat marah padamu!"
Lisa mengalirkan air matanya. Padahal dia sudah cukup kebal dengan perlakuan Kevin, tapi Lisa agak sensitif hari ini.
Kevin yang melihat itu semakin benci dengan dirinya. Apa yang dilakukannya, bukannya harusnya ia menanyakan kabar Lisa?
Pria itu melangkahkan kakinya, mengusap air mata Lisa dengan jarinya. "Aku tidak marah padamu, harusnya aku yang bertanya padamu kenapa kau lakukan itu semua?"
"Aku tidak tahu, tubuhku bergerak sendiri."
Lagi-lagi jawaban Lisa membuat Kevin menjadi kesal.
Ingin sekali rasanya Kevin dipukuli oleh Lisa terlebih dahulu agar ia merasa sedikit lebih tenang dari rasa bersalahnya.
__ADS_1
Tetapi, mendengar jawaban Lisa. Ingin ia menampar dirinya sendiri berkali-kali agar sedikit puas.
TBC