Change You

Change You
Rasa Sakit yang Sebenarnya


__ADS_3

Happy Reading


Setelah cukup lama menangis, Lisa sadar bahwa ia akan mengalami akan hal ini setiap harinya. Sudah begitulah sepantasnya Lisa hanya dianggap sebagai wanita rendahan.


Sudah terlalu lelah untuk menangis, Lisa mengambil koper sambil berjalan dengan menyeret-nyeret baju pengantin panjangnya.


Gadis itu mencoba melihat sekeliling. Ia juga melihat sangat banyak terdapat ruangan di apartemen yang dimiliki Kevin. Orang kaya memang sangat berbeda tentunya.


Tanpa basa-basi dirinya pun memasuki salah satu ruangan dan kebetulan ruangan itu adalah kamar tidur.


Setidaknya dirinya bersyukur masih bisa istirahat untuk hari ini. Tentunya besok ia harus menguatkan hatinya, hal-hal kekerasan akan dihadapinya setiap hari. Itulah anggapan Lisa saat ini.


......


"Ayah."


"Ayah... ayah!" teriak Lisa refleks terbangun dari tempat tidurnya.


Tepat pada pukul 04.00 pagi, Lisa terbangun. Padahal dirinya sangat kelelahan. Tapi, kegelisahannya membuat ia tak bisa tidur dengan nyenyak semalaman. Mimpi buruk terus menghantui pikirannya.


Gadis itu turun dari ranjang dan langsung membasuh muka. Ia melihat cermin yang memantulkan wajah menyedihkan.


"Ibu aku merindukanmu. Jangan pernah menangis ya disana. Putrimu baik-baik saja disini dan aku yakin jalan kebahagiaanku berbeda dari yang dirasakan orang lain."


Pukul 06.00


Tringg Tringg (suara alarm)


Cuaca dingin dan rintik hujan sangat mendukung untuk tidur sehingga Kevin mengabaikan alarmnya. Suara alarm tersebut terdengar sangat nyaring, sehingga membuatnya terganggu saat tidur.


Sambil memejamkan mata, Kevin meraba-raba meja yang sedari tadi belum ia temukan sama sekali tombol alarm tersebut.


Hal ini membuat Kevin semakin kesal. Ia menggapai alarm tersebut dan melemparkannya ke dinding dengan sangat kuat. Hingga alarm itu tidak berbunyi lagi.


Tepat pada pukul 07.00 pagi. Kevin terbangun kembali. Kali ini bukan karena suara alarm lagi, melainkan suara ponsel yang terus berdering di dekat telinganya.


Kevin melihat layar ponselnya yang terdapat panggilan dari kontak manager.


"Ck. Bedebah tua ini mengganggu tidurku saja!" gerutu Kevin seraya mematikan daya ponselnya.


Dirinya tidak tidur kembali, melainkan menuju ke kamar mandi. Itulah hal yang biasa Kevin lakukan tiap harinya.


Kevin mengepalkan tangannya ketika melihat bathup terlihat kosong. Berati air mandinyabelum disediakan seperti biasa.


"Brak!" Suara tinjunya terdengar nyaring sampai di luar kamar mandi.


"Dimana air mandiku!" teriak Kevin tanpa ada seorang pun yang menjawab.


Bagaimana mungkin seseorang akan menjawab? Sedangkan dirinya hanya tinggal berdua dengan Lisa disebuah apartemen besar dan itu permintaannya sendiri.


Kevin menarik nafasnya dalam-dalam. Dirinya baru menyadari bahwa ia hanya tinggal berdua dengan Lisa.


"Huh! ternyata aku harus menyiapkan sendiri, ya."

__ADS_1


Sambil menunggu air mandi selesai, Kevin memilih untuk menunggu diluar. Hal yang pertama kali dilihat Kevin saat membuka pintu ialah gadis yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kevin dengan tatapan lurusnya. Atensinya mengganggap Lisa selayaknya wanita yang rendah.


"A-aku telah menyiapkan air mandi untuk anda tuan," ujar Lisa menunduk ketakutan. Ia bahkan tak berani menatap mata kevin sama sekali.


"Apa aku ada menyuruh anda untuk menyiapkan air mandiku, nona?" tanya Kevin. kali ini dengan nada yang lembut tapi terdengar seperti ingin mancekik.


"Ti-tidak tuan."


"Lalu untuk apa kau menyiapkan air mandiku?" ucap Kevin yang terus membanjirinya pertanyaan.


"Aku hanya ingin memban-"


"Membantuku. Agar apa, agar kau terlihat baik di depanku? Dengar Lisa. Aku tidak perlu bantuanmu dan jangan pernah terlihat sok baik dihadapanku. Karena aku benci dengan orang yang munafik!"


Pria itu menabrak bahu Lisa dan berlalu melewati gadis yang masih senantiasa menundukkan kepalanya.


Lagi-lagi perlakuan Kevin membuatnya ingin menangis, tetapi kali ini Lisa bisa menahan air matanya. Gadis itu hanya tersenyum mencoba menahan tangisnya.


......................


Setelah beberapa jam kemudian akhirnya Kevin sudah selesai dengan acara mandinya. Diliriknya ke arah jendela yang dimana cuaca masih terlihat gelap.


Cahaya matahari sedari tadi belum menampakkan dirinya padahal hari sudah menjelang siang.


Kevin pun menuju ruang dapur untuk makan, ia pikir makanan sudah tersedia biasanya. Karena para pelayan pasti menyiapkan semua kebutuhan Kevin dengan tepat waktu.


Makanan itu terlihat sederhana daripada biasanya.


Dan saat itu juga Kevin menyadari kalau makanan ini bukan buatan para pelayannya, melainkan buatan Lisa.


Lisa pun mengambil beberapa piring sambil menyiapkan perlengkapan makanan kemudian kembali ke meja makan. Dilihatnya Kevin yang sedang berdiri di samping dengan melipat kedua tangan didepan dada.


"Kau! Apa aku menyuruhmu untuk memasak?" tanya Kevin dengan intonasi yang sama seperti sebelumnya.


Tidak ada jawaban dari Lisa, ia bahkan tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Melihat hal ini Kevin merasa tak diacuhkan, ia mengambil piring dari tangan Lisa dan melemparnya ke sembarangan arah.


"Kau mengabaikanku? Aku bertanya padamu!" Sentak Kevin seraya mencekeram rahang Lisa.


"Maaf. Aku pikir ini sudah kewajibanku tuan," Balas Lisa sembari memegang tangan Kevin yang mencekeram rahangnya.


Kevin pun melepas cengkeramannya dengan kasar. Membuat dagu Lisa merah seketika. Sangat terlihat jelas bekas cengkeraman yang diberikan Kevin pada Lisa.


Pria itu berjalan menuju meja makan dan melemparkan semua makanan yang telah di siapkan Lisa tepat di hadapan gadis itu.


Tanpa merasa bersalah Kevin tersenyum smirk dan meninggalkan Lisa berada di ruang makan sendirian.


Lisa berusaha menahan air matanya. Tapi seketika tangisnya pecah ketika Kevin sudah pergi dengan cukup jauh.


Sambil menangis tersedu-sedu gadis itu membersihkan semuanya seorang diri. Tanpa Lisa sadari ternyata tangannya sudah meneteskan darah saat membersihkan semua pecahan kaca.


Rasa sakit hatinya bahkan bisa mengalahkan rasa sakit di tangannya. Gadis itu tidak menyadarinya sama sekali, hingga akhirnya ia melihat sepanjang ruangan makan sampai wastafel di penuhin dengan tetesan darah.

__ADS_1


Ia melihat ke arah jari-jarinya yang meneteskan darah. Saat itulah Lisa menyadari kalau tangannya terluka saat membersihkan beberapa pecahan piring.


Rasa sakit bekas pecahan kaca itu pun baru mulai terasa. Saat itu juga ia mencari pertolongan pertama.


Untungnya disekitar lemari di atas wastafel tersedia kotak pertolongan pertama. Lisa pun mengobati lukanya segera dengan sedikit ringisan.


......................


"Ck. Lagi-lagi dia terlihat ingin baik di depanku. Tunggu aku Sella. Rasa sakit hatimu akan kubayarkan pada Lisa!" monolog Kevin menggerakkan ke kanan dan kiri setir mobilnya.


Kevin melihat kaca spionnya. Ada 2 mobil yang sedari tadi mengikutinya dari belakang. Ia pun berhenti, jalanan terlihat sepi apalagi saat itu hujan deras.


Mobil di belakangnya juga ikut berhenti, melihat hal ini membuatnya kesal seketika. Ia pun memilih turun dari mobilnya dan menghadang kedua mobil tersebut.


Salah satu orang di mobil tersebut keluar dan diikuti yang lainnya.


"Yo! Apa kabar, Vin?" Ucap Devan sembari melambaikan tangannya.


"Apa tujuanmu mengikutiku?!"


"Ayolah tidak ada alasan utama, aku hanya ingin bertemu dengan teman lamaku. Apa itu salah?"


"Ck!"


"Apa hari ini kau tidak bersama para pengawalmu?" tanya Devan dengan sedikit senyum smirknya.


"Aku tidak butuh pengawal hanya untuk membunuhmu!" tegas Kevin yang sudah yakin jika mereka pasti ingin memulai pertarungan.


"Hahaha, apa yang bisa kau lakukan tanpa pengawalmu?"


"Kita lihat saja," balas Kevin dengan percaya diri. Devan pun menggerakkan jarinya memberikan perintah. Sementara dirinya hanya melihat pertarungan, tidak ikut serta dalam pertarungan.


Benar-benar tak disangka dengan jumlah mereka yang banyak Kevin mampu mengalahkan mereka. Tapi sayangnya 1 mobil lagi datang dengan jumlah 5 orang mendekati Kevin. Bisa dikatakan 13 orang bersiap menyerang Kevin.


Dengan jumlah sebanyak itu Kevin tak mampu menyerang ke segala arah, hingga akhirnya ia mulai merasa kewalahan.


Tanpa ia sadari seseorang memukul kepalanya dengan kayu dari belakang. Dirinya tumbang saat itu juga. Meskipun ia masih sadar, tetapi Kevin tidak bisa berdiri. Disitulah kesempatan mereka untuk memukuli Kevin hingga babak belur.


Semua dompet serta mobil Kevin diambil mereka. Hanya tersisa Kevin yang tergeletak di tanah dengan darah di hidung dan mulutnya.


Devan menatapnya dengan penuh kelicikan. Namun Kevin membalasnya dengan senyumannya yang tampak terlihat percaya diri.


"Sudah kuduga, dirimu tak bisa apa-apa tanpa pengawal," ujar Devan dengan penuh nada ledekan.


"Kenapa tidak kau bunuh saja aku? Hidupmu akan terancam jika aku masih hidup."


"Jika dirimu berakhir disini, maka hidupku malah akan lebih terancam. Lagipula mana mungkin dirimu membalas dengan sebuah ancamankan? Jika itu benar, berati hidupmu hanya mengandalkan uang!"


Devan berlalu meninggalkan Kevin dan jangan lupakan senyum smirknya.


Devan dan para teman-temannya meninggalkan Kevin yang masih tergeletak ditanah. Pria itu menutup mata sembari merasakan hujan deras yang terus berjatuhan di atas tubuhnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2