
Perlahan ingatan Kevin tentang aera menghilang sedikit demi sedikit. Aneh memang jika dikatakan seperti itu, karena ia sangat mencintai Sella lebih dari siapapun.
Tapi, siapa sangka Lisa mampu mengwujudkannya?
Serpihan kecil ingatan mulai tampak tergambar dengan jelas. Hanya serpihan. Entah kapan ingatan itu kembali seluruhnya. Tapi yang pasti, secara tidak langsung mereka sedang memulainya.
Hari ini Kevin akan melakukan pemotretan, dan tentunya pria itu sudah sibuk sekali pagi ini. Dengan baju rajut menutupi leher dan celana panjang yang longgar, Kevin berjalan memasuki mobilnya.
Ia tak didampingi sopir ataupun pengawal hari ini. Sebab Minggu adalah hari untuk berlibur semua para pelayan, tentu saja itu permintaan Kevin.
Sedangkan Lisa sendirian, ralat, ada Jun disampingnya. Tidak ada hari libur buat Jun, semua hari baginya sama. Karena baginya apartemen milik Kevin sudah dianggap sebagai rumahnya sendiri.
Kevin menghela nafas di sela-sela pemotretan. Sejujurnya ia sangat ingin cepat pulang hari ini. Entah kenapa dia tak suka Lisa dan Jun berduaan.
Pria nan tampan itu, sempat memikirkan sesuatu yang aneh akan dilakukan Lisa dan Jun saat ia tidak di rumah.
"Bisakah kita lebih cepat? Aku sungguh tak suka jika harus menunggu lama."
"Maaf tuan, ini sudah hampir selesai."
Mendengar jawaban itu Kevin kembali memperbaiki posisinya. Jika ia melakukannya dengan benar maka ia dapat lebih cepat mengakhiri pemotretan itu.
Akhirnya pemotretannya lancar, dan ini adalah rekor tercepat Kevin dalam pemotretan. Karena biasanya pria itu akan terus mengoceh jika harus menunggu lama.
Dengan tergesa-gesa Kevin kembali mengganti pakaian santainya dan berlari kecil ke arah mobil.
"Kevin!" panggil bapak manager yang bekerjasama dengan Kevin.
"Hah, si tua bangka ini selalu menggangguku." batin Kevin menoleh kearah pria paruh baya tersebut.
Kevin memutar malas bola matanya,"Ada apa?" pria paruh baya itu berlari kecil mendekati Kevin. "Kita membutuhkan seorang wanita untuk pengganti pemeran wanita."
"Memangnya wanita itu kenapa?"
"Dia sakit, mungkin butuh beberapa hari untuk sembuh."
Kevin mulai terpikir sesuatu, ini adalah hal yang menarik baginya. Pria itu langsung mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Sedangkan bapak manager itu mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti.
"Bisakah kau kemari?"
"Untuk apa? Aku tidak tahu lokasi anda."
"Huh, sudahlah. Berikan ponselnya kepada Jun."
"Halo, ada apa tuan."
"Jun, bawakan Lisa ke tempat kerjaku."
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan."
Kevin mematikan ponselnya sebelah pihak sambil tersenyum smirk kemenangan. Pria paruh baya itu semakin tidak mengerti dengan ekspresi Kevin.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria paruh baya tersebut menatap aneh kearah Kevin.
"Tenanglah, aku hanya mencari pemeran penggantinya."
"Tapi kita sudah punya."
Kevin menatap tajam managernya. "Silahkan masukkan pemeran wanita pilihanmu, tapi aku tidak mau jadi pemeran utama," tegas Kevin.
"Hah yasudahlah," jawab sang manager sembari berpikir, "Seberapa profesionalnya gadis itu?"
......................
"Nona. Tuan muda menyuruh anda untuk ke tempat kerjanya," ujar Jun.
"Huh, apa lagi kali ini?" pikir Lisa. Mengingat kembali kemarin ia disulitkan hanya untuk membuka perban di kaki Kevin.
"Hmm baiklah. Aku akan kesana."
"Tidak usah nona, biar saya saja," sahut Jun menawarkan bantuan. Lagipula Kevin yang menyuruhnya untuk membawa Lisa.
Akhirnya Lisa menurut dan mengikuti Jun dari belakang. Ingin ia berteriak mengingat yang dilakukan Kevin padanya hari itu. Sungguh. Sangat, sangat menyebalkan!
Kejadian di hari itu...
"Bisakah kau tidak formal denganku?"
"Tapi anda—"
"Apa kau tidak bisa, menentang ucapanku sekali saja?"
"Nama saja, lagipula umur kita tidak beda jauh."
"K-kevin?"
"Ya."
"Baiklah, pria ini semakin gila saja!" gerutu Lisa.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Ntahlah. Mungkin aku berpikir harus menyelesaikan ini semua," jawab Lisa tanpa sadar.
Kevin tersenyum tipis, Lisa sangat cantik menurutnya walaupun tanpa polesan make up. Hidungnya yang mancung, mata yang besar dan bulat bak boneka.
Bibirnya berbelah di bagian bawah begitu pula dagunya, dan sesuatu yang paling menarik adalah lesung pipi yang sangat dalam. Semua itu akan terlihat jelas apalagi saat ia tersenyum.
"Aku sudah menyelesaikan semuanya. Apa aku boleh keluar?"
"Kau harus menyuapiku!"
"Apa?! Anda kan bisa makan sendiri?"
__ADS_1
"Berapa kali kau harus menentangku?"
"Huft!" Lisa menghentak-hentakkan kakinya ketika berjalan. Terlihat sekali gadis itu marah pada Kevin. Kevin hanya tersenyum lagi dan lagi. Mungkin mengganggu Lisa bisa menjadi hobi barunya.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Kevin. Sedangkan Lisa masih merasa tak terima hal ini. Tapi, Lisa merasa aneh untuk pertama kalinya melihat Kevin.
Pria itu berubah jadi manja sekaligus menjengkelkan.
"Apa dia kerasukan jin?" Itu lah yang dipikirkannya.
Lisa membereskan semua perlengkapan makan Kevin dan menaruhnya kembali ke atas nampan. Tetapi Kevin menahannya.
Pria itu memegang lengan Lisa dengan wajah yang sangat susah di tebak.
Lisa mengernyitkan dahinya. "Ada apa tu-- Kevin. Anda membutuhkan sesuatu?"
"Kau membenciku?" tanya Kevin. Lisa memasang ekspresi bingung. "T-tidak."
Kevin menarik lengan Lisa hingga gadis itu jatuh di dadanya yang bidang. Hidung mancung mereka hampir bersentuhan. Deru nafas serta detak jantung mereka terdengar kuat.
Aroma maskulin dari tubuh Kevin menyeruak masuk ke dalam hidung Lisa, dan aroma mint dari tubuh Lisa bisa tercium jelas oleh Kevin.
"Apa kau tidak menyukaiku?" tanya Kevin dengan tatapan lembut tapi raut wajah yang sedikit berbeda.
Lisa hampir pingsan melihat senyum pria itu. Bohong jika ia menjawab tidak. Karena pada dasarnya dari awal Lisa sudah jatuh hati pada pria yang di hadapannya saat ini.
Lisa bangkit dari tubuh Kevin. Gadis itu berdiri mengambil nampan dan berlari meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Kevin tertawa lepas setelah melihat wajah gadis itu yang sangat lucu menurutnya.
......................
Sesampainya Jun dan Lisa di depan gedung tersebut disambut baik oleh beberapa pekerja.
Sedangkan Kevin? Ia duduk di ruangannya sambil melirik jam dan meneliti kedatangan mereka. Akhirnya mereka sampai di ruangan Kevin di tuntun oleh para staf dan pekerja.
Kevin tersenyum smirk tatkala melihat gadis itu dengan muka masamnya.
Tapi tak ada yang bisa menghindari tatapan elang Kevin melihat Jun dan Lisa datang menghampirinya dengan jarak mereka yang hampir bergempetan.
Jun, pria yang sangat peka menyadari pandangan Kevin. Pria itu memperlambat jalannya agar Lisa berada di depan.
"Apa yang ada butuhkan tuan?" tanya Lisa dengan senyumnya yang sangat terpaksa.
"Kami membutuhkan pemeran pengganti untuk syuting," jawab pak Herdi selaku manajer pribadi Kevin.
"Tapi saya tidak bisa akting pak!" balas Lisa. Ia menatap tajam ke arah Kevin. "Pasti ini ulahnya!" pikir Lisa lagi.
"Anda tidak usah berdialog nona, dan muka anda tidak seluruhnya akan di sorot. Kami hanya memerlukan anda untuk kiss scene."
"Tuan..., Apa tidak ada orang lain? Jika kalian menyuruhku hanya akan membuang-buang waktu, aku sangat tidak bisa melakukannya. Jika hanya peran pembantu aku bersedia." ungkap Lisa dengan berbagai alasan membuat Kevin harus menahan tawanya ketika melihat ekspresi gadis itu.
"Karena aku sudah memilihmu. Maka kau harus menerimanya," jawab Kevin dengan santai.
__ADS_1
Pria itu berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga yang hampir tak percaya dengan jawaban Kevin yang sangat tidak logis.
TBC