Change You

Change You
Terlalu Egois


__ADS_3

Happy reading


Kevin pov


"Apa Lisa hamil? Tapi tidak mungkin, Siapa ayahnya? Atau diam-diam Jun dan Lisa— akh! Apa yang aku pikirkan sih, tidak mungkin Lisa dan Jun melakukan itu."


"Apa aku yang membuatnya saat mabuk itu. Itu juga tak mungkin! Aku sangat sadar saat itu. Kenapa aku berpikir aneh-aneh seperti ini? Harusnya aku berpikir kesehatan Lisa sekarang," batin Kevin.


Tak butuh waktu lama, dokter dari kamar ruangan Lisa keluar sambil menutup pelan pintu masuk. Aku berlari menghampiri sang dokter berharap tidak ada yang terjadi apa-apa dengan Lisa.


"Dok, bagaimana keadaan istriku?"


"Istri anda baik-baik saja. Hanya saja, ia mengalami Gastroesophageal reflux disease atau GERD yang cukup parah."


"GERD? Lebih tepatnya seperti apa?"


"Asam lambung. Biasanya gejala penyakit ini sering mual dan muntah-muntah, atau tenggorokan pasien sering sakit. Saran saya sebaiknya jangan biarkan istri anda terlalu kelelahan, dan makan tepat waktu."


"Baik. Terimakasih dok," ucapku sambil menunduk terimakasih pada pria paruh baya yang berstatus dokter tersebut.


Aku masuk ke dalam ruang kamar Lisa dengan perasaan khawatir dibubuhi sedikit rasa lega.


Tadinya aku sempat berpikir bahwa Lisa hamil. Aneh bukan? Mungkin otakku sedikit bergeser sekarang, atau bisa jadi karena aku tidak mau dia dengan yang lain? Entahlah, nanti saja kupikirkan.


Untuk sekarang, aku menatapnya yang belum menyadarkan diri.


Aku baru menyadari kalau selama ini Lisa memang sering menunda-nunda waktu makannya, terlebih lagi aku terlalu egois membiarkannya untuk membersihkan apartemenn seorang diri.


Aku terlalu egois tidak pernah menanyakan keadaan Lisa padahal ia selalu mendahulukanku dibandingkan dirinya.


Tanpa kusadari air mataku menetes, bukan karena rasa kasihan atau apapun itu. Tetapi, rasa bersalahku yang tidak mampu mengungkapkannya dan rasa egoku yang terdalam pada Lisa.


Disisi lain aku masih memikirkan Sella disana, menunggu dan menantikan kehadirannya kembali. Tetapi disisi lain, aku tidak mau melepaskan Lisa dengan orang lain.


"Anda menangis?"


Terdengar suara lembut dan begitu perhatian, Lisa sudah menyadarkan diri. Aku tak menyadari ternyata ia sudah melihatku dengan wajah yang menyedihkan.


Suaranya yang lembut membuatku makin tak kuasa menahan tangis.


Kuseka air mataku berusaha untuk tetap tegar. "Tidak, hanya kelilipan saja,"  jawabku.


"Hm, kelilipan? Sepertinya ti—"

__ADS_1


"Ah gila sekali! Tadinya aku berpikir kalau kau hamil—"


"Aku hamil?! Bagaimana mungkin sudah selama itu."


Aku menatapnya bingung penasaran dengan kata-kata yang barusan diucapkannya. Berharap itu hanya bualan untuk membuatku merasa cemburu.


"Memangnya kau pernah melakukan itu?" tanyaku berusaha memastikan perkataannya.


"Pernah."


Aku menatapnya dengan tidak percaya. Terlalu kecewa sudah dengan anggapanku bahwa ia adalah gadis yang baik.


"Apa?! Dengan siapa dan kapan?!"


Lisa mengernyit membalas tatapanku dengan wajah polosnya, "Dengan anda. Waktu sebelum kita menikah, apa anda tidak mengingatnya?"


Aku berdesah lega, kemudian tertawa lepas selepas mungkin. Air mataku bahkan mengalir lagi dipelupuk mataku mengingat wajah Lisa yang polos dengan santainya mengatakan hal itu.


"Kenapa malah ketawa sih?!"


"Hahaha, aku bisa gila dibuat olehmu."


"Waktu itu...,"


Flashback (bab 2)


Padahal gelas itu mudah sekali digapai oleh tangannya, tapi ia malah menyuruh Lisa  yang lebih jauh jaraknya dari gelas tersebut.


"Baiklah tuan muda," jawab Lisa sembari berjalan mengambil gelas tersebut.


Tidak ada air di dalamnya, lantas mengapa Kevin  menyuruhnya untuk mengambilnya? Sebelum Lisa berbicara Kevin sudah terlebih dahulu menarik tangan Lisa.


Kevin menjatuhkannya tepat di atas ranjang dan mengunci kaki dan tangan gadis itu. Sehingga Lisa yang berada dibawah kukungan Kevin tidak bisa bergerak.


"Apa yang anda lakukan!" tanya Lisa  sambil membelalakkan matanya. Gadis itu berusaha melepas cengkeraman tangan Kevin.


"Hanya hari ini, setelah itu kau tidak perlu khawatir, aku akan menempatkan ayahmu di ruang VIP" bisik Kevin tepat didekat telinga Lisa.


"Aaa! Tidak mau!"


Karena tangan Lisa ditahan dan tak bisa digerakkan, Lisa menggunakan kakinya dan menendang ******** Kevin dengan kuat. Nyawa pria itu seperti melayang sekarang.


Kevin melepas cengkeraman tangannya dan jatuh dari atas ranjang sambil memegang miliknya. Nafasnya tertahan, ingin menangis seketika.

__ADS_1


Kevin menatap geram Lisa. Sebaliknya, gadis itu mencari cara agar ia bisa keluar dari kamar.


Beberapa kali gadis itu menekan tombol kode kamar milik Kevin, namun tak ada yang tepat. Tetap merasakan sakit, Kevin mengambil tali dan berjalan pelan-pelan menghampiri Lisa yang fokus pada nomor-nomor tersebut.


Hap!


Kevin berhasil melingkarkan tali itu pada Lisa, namun gadis itu memberontak dan berusaha menendang untuk kedua kalinya.


"Sialan. Gadis nakal!" Kevin berhasil menghindarinya, ditariknya baju Lisa dengan kuat.


Baju Lisa robek begitu saja mungkin karena Kevin terlalu keras menariknya. Kalau saja dia tak banyak bergerak mungkin bajunya tidak akan robek. Lisa menutupi tubuhnya yang terekspos, disitulah kesempatan Kevin menarik gadis itu kembali keranjang.


Diikatnya kedua tangan Lisa disegi-segi ranjang dan menutup mulut gadis itu dengan dasinya.


Kevin menampilkan smirknya dan turun dari ranjang. Ia mengambil sesuatu dari laci meja, sesuatu benda berujung runcing dengan cairan di belakangnya.


Benda itu adalah suntik dengan cairan rangsangan otak. Cairan itu bukan untuk membuat Lisa terangsang, melainkan membuat gadis itu akan berhalusinasi tinggi dengan apa yang akan mereka lakukan sekarang.


Kevin kembali naik ke atas ranjang dan membuka baju kaosnya. Tangan pria itu mulai menyentik-nyentik suntik dan memajukannya tepat dilengan Lisa.


"Embbb!" Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang menetes tanpa ia disadari.


Kevin langsung menyuntikkan cairan tersebut dan menghela nafasnya. Ia menatap Lisa yang mulai memejamkan mata tak sadarkan diri, "Hah, sangat menyusahkan."


Flashback off


"Begitulah ceritanya...," ucapku mengakhiri kalimatku dengan tersenyum bahagia.


Lisa menangis sambil memukuliku dengan tangannya yang diinfus, "Huaaa! Jahat. Aku benci anda!"


"Kenapa malah nangis sih? Harusnya kau memuji kebaikanku yang masih mengkhawatirkan masa depa—"


Lisa memasang ekspresi serius dengan berkata, "Aku ingin bertanya. Jika benar anda mengkhawatirkanku. Lalu, kenapa anda membenciku hari itu?"


Kevin terdiam sejenak memikirkan apa yang harus dikatakannya. Apa ia mengatakan jujur saja? Mungkin mengatakan jujur lebih baik. Lagipula Lisa selalu terbuka untuknya.


"Huh, aku tidak tahu kenapa orangtuaku, selalu memaksaku untuk menikah denganmu. Aku juga tidak tahu kenapa mereka bisa dekat denganmu.


"Mendatangimu setiap harinya dan memaksamu untuk menikah denganku. Sebagai ganti semua itu mereka berjanji memenuhi melanjutkan studimu kejenjang yang lebih tinggi. Aku melihat itu semua."


"Aku melihatmu setiap harinya. Kau menolak mereka berkali-kali dengan alasan kau terlalu muda untuk menikah. Tapi, aku mendengar satu kali kau menerimanya, saat ayahmu akan menjalankan operasi.


"Aku terdiam, dan saat itu aku terlalu egois berpikir, kalau kau adalah wanita murahan sama dengan wanita lainnya yang mengejarku mati-matian.

__ADS_1


"Aku mencari tahu tentangmu dan berusaha menyingkirkanmu. Kuharap kau tidak membenciku setelah ini," sambungku dengan sedikit penyesalan dikalimat akhir."


TBC


__ADS_2