
Happy reading
"ini sudah malam, apa anda tetap tidak memperbolehkanku untuk pulang?" ucap Lisa dengan nada kesal.
"Hahaha, tentu saja. Kita boleh pulang sekarang!" balas Kevin dengan semangat.
Lisa tak menanggapinya, gadis itu merasa lelah sekali sekarang. Ia pun berjalan duluan memasuki mobil. Di sepanjang perjalanan Kevin melirik Lisa berulang kali. Gadis itu memejamkan dan membuka matanya berkali-kali berusaha menahan kantuk.
"Lisa. Kita sudah sampai."
Gadis yang setengah tidur itu membuka matanya perlahan lalu memperhatikan sekitar luar. "Ah iya."
Lisa pun berjalan duluan dengan agak sempoyongan. Sedangkan Kevin? Ia masih berada di dekat mobil dengan tersenyum sambil menunggu reaksi dari Lisa.
Gadis itu mengedipkan matanya berulang kali, kakinya serasa tidak bisa berdiri lagi. Diliriknya kebelakang menatap Kevin seakan tak percaya apa yang tengah dilihatnya.
"Happy birthday yang ke 19 tahun, Lisa."
Kevin melangkah sembari tersenyum hangat, menggenggam erat tangan gadis itu dan menuntunnya kedalam. Lisa memperhatikan Kevin dari samping, pria itu seperti bercahaya, layaknya seperti pangeran baginya.
Pemandangan yang sangat indah dengan lampu yang berkelap-kelip. Di tengah halaman luas itu terdapat sebuah meja putih dan dua kursi, dikelilingi mawar merah serta lilin.
Lisa melepaskan genggaman Kevin. Ia meneteskan air mata terharu sembari menatap Kevin. Pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan Lisa dan mengusap air mata di pipi Lisa.
"Maaf, ini mungkin tidak seberapa dengan yang kau berikan. Tapi, aku harap kau bahagia hari ini. Aku memberikannya, sebagai ucapan terimakasih dan juga permintaan maafku untuk selama ini."
Bahkan sebelum Kevin memberikan ini semua, Lisa sudah merasa sangat senang jika pria itu tak membencinya.
Lisa membalas dengan sebuah senyuman manis. Di raihnya telapak tangan Kevin yang ada di pipinya kemudian menggenggam erat tangan itu.
"Aku sangat bahagia, Vin." Ucap Lisa seraya memeluk Kevin dengan erat. Gadis itu meneteskan air matanya tepat di dada bidang Kevin. Tangan Kevin mulai terangkat dan membalas pelukan nan hangat itu. "Aku yang akan menjagamu sekarang."
Tak berapa lama kemudian, Lisa melepaskan pelukan dan mendongakkan kepala untuk menatap Kevin yang jauh lebih tinggi darinya.
Suasana hening seketika, hanya mereka berdua yang ada disana. Lisa memejamkan matanya setelah wajah Kevin semakin dekat dengannya. Semakin dekat dan dekat hingga hidung mereka saling berpadu.
Namun pikiran Kevin seketika melayang mengingat perkataan Devan waktu itu padanya.
"Setelah kau menghamilinya kau tidak bertanggungjawab, sekarang kau malah bertanya dimana Sella. ck. Lucu sekali!"
Kevin membuka matanya. Bibir mereka sudah hampir menempel, tetapi pria itu malah mendorong Lisa dan melangkah mundur hingga tangannya mengenai duri bunga.
__ADS_1
"Akh!" teriak Kevin melihat tangannya yang telah meneteskan darah.
Lisa menyusul mendekati Kevin. "Anda tidak apa-apa?" pria itu menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap wajah Lisa dengan penuh penyesalan. "Huh, maafkan aku."
Gadis itu meraih tangan Kevin, menatapnya dengan penuh khawatir. "Tidak apa-apa. Ayo kita obati dulu!"
"Terimakasih."
****************
"Sudah. Apa sudah lebih baik?"
"Sudah. Karena kamu yang mengobati," goda Kevin sambil mengedipkan mata. Lisa tak menanggapi, gadis itu tersenyum tipis dari belakang tanpa terlihat oleh Kevin.
Lisa merapikan kembali kotak obat yang telah digunakan berniat mengembalikan ketempatnya. Namun, Kevin mencegahnya dengan memegang tangan gadis tersebut.
"Aku minta maaf soal tadi. Apa kita lanjutkan saja sekarang."
"Tidak apa-apa. Lebih baik anda istirahat saja dulu! Aku akan menyiapkan makan malam."
"Jangan panggil anda! Aku tidak suka. Setiap kali kau mengatakannya, aku merasa...., Seperti jauh darimu.".
"Hah, baiklah. Maafkan aku," Lisa kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Wajahnya terus berseri-seri mengingat dirinya hampir saja berciuman dengan Kevin.
"Kau perlu bantuan?" sahut Kevin melangkah mendekati Lisa dari belakang.
"Hmm, kurasa tidak."
Kevin kembali mundur beberapa langkah, namun langkah itu terhenti ketika Lisa memanggilnya dengan suara kecil.
"Kevin."
"Ada apa? Kau perlu bantuan?"
"Aku rasa aku butuh bantuanmu. Bisa kau ikatkan rambutku? Ini sangat mengganggu."
"Dimana ikat rambutnya?"
"Aku menaruhnya di dekat meja tadi."
Kevin menoleh kearah meja. Ia sudah mencari disekitar meja bahkan di kursi-kursinya. Namun, masih belum ia temukan keberadaan ikat rambut tersebut.
__ADS_1
Pria itu menatap jengkel kearah Lisa yang tertawa secara tiba-tiba. "Kau menipuku?" kesal Kevin.
"Nggak, aku rasa aku menaruhnya disitu tadi," jawab gadis tersebut dengan jujur.
"Lalu, kenapa kau mentertawakanku?" Kevin memasang tatapan tajam seakan ingin memarahi Lisa sekarang juga.
"Hahaha. Kau terlihat lucu, Vin! Seperti anak kecil yang menghilangkan mainannya."
Lisa tak henti-henti tertawa dan Kevin semakin kesal dibuatnya. "Tadi, kau mengatakan barang itu ada dimeja, dan sekarang kau meledekku? Aku tak mau membantumu," kesal Kevin.
"Baiklah..., Baiklah aku minta maaf. Lupakan saja."
Kevin tidak pergi dari tempat tersebut. Ia masih berada di kursinya memperhatikan tangan-tangan terampil Lisa dalam memasak. Memang benar rambut Lisa sangat mengganggunya dalam memasak. Helaian rambut Lisa yang panjang, menutupi sebelah mata gadis itu.
Kevin mengambil sumpit dan melangkahkan kakinya kembali kebelakang Lisa. Walaupun Lisa tahu Kevin berada di belakang tubuhnya, tetapi gadis itu tetap fokus dengan pekerjaannya.
Kevin mulai menggulung rambut panjang Lisa keatas. Nafasnya tercekat tatkala melihat punggung leher Lisa yang mulus dan putih. Begitu juga yang dirasakan Lisa saat deru nafas Kevin berhembus di lehernya.
Masih bertahan seperti itu, hanya saja Kevin sadar saat gadis itu terlihat tak nyaman. Ia kembali melanjutkan menggulung rambut Lisa keatas dan menusukkan sumpit di tengah-tengah gulungan rambut tersebut.
****************
Ditempat yang gelap. Suasana terlihat mencekam tidak ada cahaya sinar matahari yang masuk. Hanya Devan dan beberapa pengawalnya berada di tempat tersebut. Devan mengambil ponselnya yang terus berdering.
"Dev, aku sudah sampai di Jakarta. Dimana lokasimu?"
"Aku ditempat persembunyian biasa. Jika kau hendak kesini, gunakan pakaian yang lebih tertutup-"
"Iya-iya, sebelum kau bilang aku juga sudah tahu!"
Devan mematikan ponselnya sebelah pihak. Sementara gadis yang meneleponnya tak lain adalah Sella, gadis yang berdarah Belanda-Indonesia.
Sella berdecak sebal melihat Devan mematikan panggilan. Padahal gadis itu ingin berbicara lebih banyak.
Devan masih berfokus pada amplop kecil yang berisikan sebuah kertas kecil namun isinya sangat penting. Dimana pengirim amplop itu adalah suruhannya yang berada di sekitar rumah Kevin.
"Seorang gadis berada di dekatnya. Wajah gadis itu familiar. Namun, wajahnya sudah lama tak terlihat. Sepertinya Kevin merayakan ulang tahun gadis itu kemarin."
Begitulah isi surat tersebut yang di temui Devan pagi ini. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil memikirkan suatu ide yang menarik untuk dilakukan. Tapi, Sella pasti mencegah perlakuannya, karena Devan yakin pasti Sella tidak mau terjadi sesuatu apapun pada Kevin.
"Kita lihat, apa kau berhak bahagia Kevin?" gumam Devan sambil mengeluarkan smirknya.
__ADS_1
TBC