
Happy reading
Kevin berlari menuju mereka berdua, menatap wajah keduanya satu persatu. Pria itu menaruh Lisa kebelakang kemudian menggenggam erat tangan Lisa.
"Apa yang kau lakukan dengan Lisa?!" sentak Kevin pada Alisya dengan wajah marah.
"Tidak ada. Ia menangis sendiri, karena aku mengatakan. Kalau ia cocok sebagai pembantumu!"
"Kau gila? Dia ini istriku!" ungkap Kevin dengan lantang. Alisya menatap Kevin dengan tidak percaya. Matanya kini beralih menatap Lisa yang menunduk ketakutan.
"Huh, kenapa tidak bilang dari awal sih! Kalau tidak, aku kan jadinya tidak terlalu berharap padamu."
Kevin menatap malas Alisya dengan wajah meledeknya. "Karena mulutmu itu tidak bisa dijaga."
Alisya terdiam. Sedikit sakit hati dengan pernyataan Kevin, namun ia menyadari kalau kata-kata Kelvin ada benarnya juga. Mungkin nanti ia akan menceritakan hal ini tanpa ia sadari.
"Tenang saja, rahasiamu aman denganku. Tapi, apa tidak lebih baik kita masuk dulu? Akan ada banyak yang mendengar kita disini," ujar Alisya bertahan untuk tetap tegar.
Ia menatap sekilas kedua pasangan tersebut kemudian berjalan duluan memasuki gedung.
Genggaman dan ungkapan Kevin membuat Lisa merasa hangat. Sungguh tidak mungkin jika Lisa tidak menyukai Kevin dengan perilakunya yang hangat.
Kevin menoleh kearah Lisa dan mengusap air mata gadis itu dengan lembut. "Jangan menangis lagi ya! Alisya memang begitu, Tapi dia sebenarnya baik kok," ujar Kevin berusaha menghibur Lisa.
Lisa tak menangis lagi, melainkan pipi gadis itu sangat merah sekarang.
Kevin yang menyadari hal itu langsung menggoda Lisa dengan wajah pura-pura tidak tahunya. "Masih sedih?" Lisa menatap sekilas wajah Kevin, kemudian menoleh kesamping.
"Tidak kok."
"Iyah, aku tahu kau bahagia. Dari wajahmu yang merah."
"Iyakah?" Lisa memegang wajahnya dan berlari menuju kaca spion mobil. Pria itu mengulum senyum. Melihat tingkah Lisa yang seperti ini, ingin rasanya ia mengurung Lisa satu harian dikamar.
Kevin menarik lengan Lisa. Dengan lembut ia berkata, "Sudahlah, ayo kita masuk!"
"Duluan saja, aku akan mengikut dari belakang."
Kevin menautkan kedua alisnya bingung. "Memangnya kenapa?" Sejenak Lisa terdiam, bingung alasan apa yang akan dibuatnya kali ini. Tapi gadis itu lebih memilih untuk jujur.
"Kalau kamu terus didekatku, yang ada pipiku lebih memerah lagi nanti."
"Pfft," sedikit tawa yang tertahan, terlihat dari wajah Kevin. Lisa dibuat jengkel dengannya. Ia mendorong punggung Kevin agar pria itu berjalan duluan.
......................
Masih menetap di dalam sebuah ruang yang gelap dan sepi. Sella kini tinggal satu atap dengan Devan. Dengan bertubuh dua, tentunya berat bagi Sella untuk berjalan secara leluasa.
__ADS_1
Devan mengulum tawanya, melihat gadis yang berada dihadapannya berdiri sambil memegang punggung. Sella semakin jengkel dibuat sikap Devan.
Gadis blasteran Belanda-indo itu menatap Devan dengan tatapan mematikannya.
"Hei! Ayolah kau menakutkan seperti itu," ucap Devan dengan sedikit gelak tawa.
"Tidakkah kau melihat, aku kesusahan karenamu!" Kesal Sella.
"Ya, itu kan tidak sengaja. Jadi apa rencanamu sekarang?"
"Aku akan menggungurkan bayi ini setelah rencanaku berjalan lancar—"
"Tidak!" potong Devan. Wajahnya yang semula tersenyum berubah menjadi marah bercampur seram. Baru kali ini Sella melihat ekspresi Devan seperti itu kepadanya.
Sella tertawa garing sambil berkata, "Apa aku tidak salah dengar? Sadarlah Dev, kau itu hanya anak dari seorang pembunuh. Sejak kapan kau berbelas kasihan seperti ini?"
Masih pada ekspresinya, Devan menatap tajam kearah gadis yang bertubuh dua di depannya. "Kalau kau berniat membunuhnya, biarkan aku yang menjaganya."
"Dev. Kau tahukan pekerjaanmu yang sekarang? Kau menjual wanita dan kau menjual organ tubuh—"
"Ya, aku tahu itu. Tapi, biarkan aku menjaga anak yang berada dikandunganmu itu," ucap Devan sembari menunjuk perut buncit Sella.
Sella tergelak melihat Devan. Dirinya hampir bungkam tak percaya dengan ucapan Devan saat ini. "Kau tidak sedang mabuk bukan? Atau karena ini anakmu?"
"Iya. Karena yang kau kandung itu adalah anakku."
......................
"Baiklah, coba kita lihat. Apa dia yang akan menggantikan main female dalam syuting kita?" ujar Jefri menunjuk Lisa yang saat ini berada di samping kursi Kevin.
Sementara gadis yang ditunjuk ini malah menundukkan kepalanya karena takut. Kevin menatap Lisa sejenak kemudian beralih menatap Jefri yang berada dihadapannya.
"Memangnya kenapa? Kau keberatan," tanya Kevin dengan suara penuh penekanan dan tatapan yang mengintimidasi.
Jefri tersenyum sembari memasang ekspresi tak mengertinya. Apa Kevin datang bulan sekarang? Ia lebih sensitif dari biasanya. Layaknya seorang gadis yang tengah datang bulan.
Padahal ia tak ada niat meremehkan gadis itu. Malah, ia merasa gadis itu menarik dan menawan tentunya.
"Tidak. Kenapa aku harus keberatan? Dia sangat cocok sebagai pengganti main female kita. Hanya saja aku kurang yakin dengan kemampuan aktingnya," jawab Jefri dengan jujur.
Kevin lega, ia terlalu berpikir negatif pada Jefri. Padahal temannya ini tak mungkin akan meremehkan orang-orang begitu saja.
Lucunya Lisa secara tiba-tiba saja mengangkat kepalanya dan mengangguk setuju dengan kata-kata Jefri diakhir.
Dengan cepat Kevin menyela perkataan Jefri, "Tidak, kau salah. Lisa mempunyai bakat alamiah di dalam dirinya. Ia hampir bisa melakukan apa saja," balas Kevin sambil menatap gadis yang berambut panjang tersebut.
Lisa sedikit salah tingkah, dan membalas tatapan Kevin dengan senyum yang terpaksa berharap Kevin menghentikan omong kosongnya.
__ADS_1
"Kenapa, memang benarkan?" Sambungnya lagi. Seolah-olah Kevin mengerti dengan yang dipikirkan Lisa saat ini.
"Ah, tidak kok," balas Lisa, kali ini menatap Jefri yang hanya tersenyum melihat mereka.
"Hahaha, mungkin Kevin benar. Kalian terlihat sangat dekat. Apa diantara kalian ada hubungan?" tanya Jefri. Sedikit rasa ingin tahu berkabung dalam pikirannya saat ini.
Lisa dan Kevin saling bertatapan. Gadis itu mengodekan untuk tetap merahasiakannya. Akhirnya disetujui oleh Kevin dengan langsung menjawab "tidak."
Untungnya Alisya sedang tidak berada didekat mereka. Jadi, mereka tak terlalu perlu takut dengan jawaban mereka sekarang.
"Hah syukurlah," sambut Jefri.
"Syukur?" tanya Kevin bernada tidak terima.
"Iya, syukur. Setidaknya masih ada kesempatan untuk mengambil hatinya," balas Jefri sembari tersenyum manis dengan lesung pipinya menghadap Lisa.
Lisa membalas senyuman itu dengan kikuk. Sementara Kevin merasa tidak nyaman sekarang.
Kevin melirik ke kanan dan kiri untuk menarik perhatian keduanya.
"Oh iya, ada yang lihat Alisya dimana?" ujar Kevin dengan memasang ekspresi bingung, berusaha seakan-akan ia seperti kehilangan temannya itu.
"Ntahlah, tadi ia mengatakan ingin ke toilet. Mungkin dia di toilet sekarang," jawab Jefri.
"Yasudah, biar aku cari. Sebentar lagi waktu makan siang," ujar Kevin.
"Tidak, biar aku saja."
Jefri berjalan menuju toilet yang di tuju Alisya. Pintu tidak tertutup, tampaklah gadis itu dengan mata sembab seperti baru menangis.
"Lisya, kamu kenapa?"
"Gapapa Jef."
"Aku nanya betulan Lis, kamu kenapa nangis ha?"
"Kevin Jef"
"Kevin kenapa?"
"Dia dah nikah Jef."
"Sama?"
"Lisa. Nama gadis itu Lisa Jef," ceplos Alisya sambil menangis.
"Apa? Gadis yang duduk disamping Kevin?!
__ADS_1
TBC