Change You

Change You
Pangeran Tampan Jun


__ADS_3

Happy reading


"Aku melihatmu setiap harinya. Kau menolak mereka berkali-kali. Dengan alasan, kau terlalu muda untuk menikah. Tapi, aku mendengar saat pertama kali kau menerimanya. Dimana ayahmu akan segera menjalankan operasi.


"Aku terdiam. Saat itu aku terlalu egois dalam berpikir. Kalau kau, adalah wanita murahan sama dengan wanita lainnya yang mengejarku mati-matian.


Aku mencari tahu tentangmu dan berusaha menyingkirkanmu. Kuharap kau tidak membenciku setelah ini," sambung Kevin dengan sedikit penyesalan di kalimat akhirnya.


"Maafkan aku," balas Lisa.


Kevin menaikkan sebelah alisnya. Ia memiringkan kepala menatap Lisa yang setengah duduk.


"Minta maaf, atas apa?"


"Atas semua yang telah kuperbuat. Aku hanya wanita murahan, yang datang dikehidupanmu."


"Huh, jangan katakan itu lagi. Aku tidak suka!"


Cklekk


"Kevin!" seru Jefri.


Jefri menjadi sosok perhatian mereka sekarang. Keduanya terfokus menatap Jefri yang datang menghampiri mereka. Kevin dan Lisa saling melirik satu sama lain, berharap Jefri tak mendengar kata-kata mereka.


"Jefri? Gimana Lo tahu gue disi—"


"Lisa, kau sakit apa? Bagaimana sekarang sudah baikan? Apa Kevin membetakmu tadi?"


Jefri mendorong Kevin kebelakang memegang lengan Lisa dengan khawatir. Kevin yang tak suka melihat tatapan Jefri menyentuh Lisa langsung menarik tangan Jefri dari lengan Lisa.


"Apa yang Lo lakuin Jef?! Jangan ganggu Lisa dulu, dia sedang sakit."


"Harusnya gue yang nanya, Vin. Gue dengar Lo bentak Lisa tadi!'


"Tadi itu bukan bentak Jef. Cuman peringatan buat Lisa."


"Tapi tetap sa—"


"Bisa kalian keluar dari sini? Aku tidak mau ada keributan disini" potong Lisa.


Kevin dan Jefri saling menatap satu sama lain kemudian beralih kembali menatap Lisa yang menarik selimutnya sebatas dada untuk berbaring semula.


Jefri memutuskan untuk keluar duluan dari kamar yang diikuti Kevin dari belakang. Keduanya duduk dibangku ruang tunggu tanpa berbicara sedikit pun.


Suasana terlihat canggung. Dimana, baru kali ini Jefri marah pada Kevin soal wanita.


"Kenapa kau bisa tahu aku ada disini?" tanya Kevin berusaha memecah keheningan. Jefri memutar tubuhnya mengarah ke samping menghadap Kevin.

__ADS_1


"Aku dan Alisya, pergi ke apartemenmu tadi. Kami bertemu dengan para penjaga rumahmu. Mereka mengatakan kalau kau sedang di rumah sakit sekarang," jawab Jefri.


"Lalu, dimana Alisya sekarang?" tanya Kevin kembali.


"Sedang mengurus sesuatu."


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Saat ini Alisya berada di luar apartemen sambil melirik jamnya berkali-kali. Gadis itu mengelilingi lapangan luas yang berada di depan mansion Kevin.


Tidak ada seorang pun yang memperbolehkannya untuk masuk apartemen. Itu sebabnya gadis ini berkeliling mencari ide.


Beberapa menit ia berputar, hingga para satpam yang berada di depan apartemen menatap aneh kearah gadis tersebut.


Jun melihat gadis itu dari jendela atas, sambil tersenyum ia turun dari lantai atas menghampiri Alisya.


"Sebentar, apa itu pangeran tak berkuda?" monolog Alisya, menatap kagum dengan ciptaan Tuhan yang berada di depannya saat ini. Gadis itu terpaku melihat wajah Jun yang terlihat bersinar terang.


"Gantengnya terlihat hangat. Bukan seperti Kevin yang dingin," gerutu Alisya.


Jun melambaikan tangannya di depan mata Alisya, berusaha menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "Halo, nona?"


"Ah Iya. Ada apa?" tanya Alisya dengan tatapan yang masih sama terhadap Jun. Jun menyadari atas kekaguman gadis yang dihadapannya saat ini. Jun langsung tersenyum manis terhadap Alisya. Gadis ini lucu menurutnya.


"Apa ada seseorang yang anda tunggu?" tanya Jun sedikit memiringkan kepalanya sembari tersenyum hangat.


Mata Alisya bahkan tak bisa berkedip, sama saat pertama kali ia melihat Kevin. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya tanpa sadar dan meringis setelah beberapa detik saat ia jatuh.


Jun yang merasa kaget membelalakkan matanya menatap Alisya khawatir. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Alisya yang terjatuh.


"Nona, apa anda baik-baik saja?"


Jun menarik lengan Alisya perlahan membantu gadis itu untuk berdiri. Ia membawa Alisya menuju ke dalam apartemen.


Beberapa satpam melarang Jun untuk membawa gadis itu, namun Jun menyakini mereka bahwa semua akan baik-baik saja.


Ia menuntun Alisya menuju sofa mansion dan mendudukkan gadis itu dengan lembut. Alisya tak bisa berhenti menatap Jun yang sangat tampan dengan wajah khawatir.


Seandainya Kevin memperlakukannya seperti ini, mungkin Alisya adalah orang terbahagia sekarang.


"Tunggu sebentar disini," ucap Jun berlari meninggalkan Alisya disofa.


"Demi apa, aku bertemu dengan pangeran tampan disini? Kevin jahat. Menyembunyikan pangeran tampan selama ini. Hah, melihatnya saja membuatku melupakan tujuanku kesini."


Selang beberapa menit, Jun kembali dengan membawa kotak pertolongan pertama. Ia mengambil beberapa plester dan obat merah.


"Boleh aku obati?" tanya Jun.

__ADS_1


"B-boleh."


Jun tersenyum, kemudian menarik tangan Alisya dengan lembut. Tangannya yang lembut mulai mengelap darah itu begitu telaten sampai Alisya tidak bisa berpaling dibuatnya.


"Sudah! Apa sudah baikan?" tanya Jun dengan lembut.


"Belum."


"Belum?"


"Ya, belum. Belum baikan jika kau tidak memberitahuku namamu."


"Jun—"


"Ah Jun rupanya. Aku sering mendengar Kevin memanggil namamu dalam teleponnya. Tapi..., Aku memanggilmu pangeran saja."


"Pangeran? Tapi, nama panjangku tidak ada sebutan pangeran."


"Bukan begitu tampan. Kau polos sekali ya? Aku memanggilmu pangeran, karena kau adalah salah satu yang berhasil merebut hatiku, dan kau tahu itu berati apa? Berati kau itu sangat beruntung disukai seorang aktris cantik sepertiku," ujar Alisya dengan penuh percaya diri.


"Nona seorang aktris? Ah aku tidak mengetahuinya," ucap Jun dengan wajah polosnya.


Alisya tertawa dengan mulutnya yang terbuka lebar. Alisya seperti tertohok mendengar ucapan polos dari seorang Jun yang begitu jujur.


"Kau tidak pernah melihatku? Aku sering tayang di televisi, bahkan bioskop!"


"Entahlah, mengkin saja aku pernah melihat anda, tapi aku tidak menyadarinya."


"Tatap aku!" paksa Alisya.


Pria itu hanya menurut dan menatap Alisya. Dengan gerak perlahan, Alisya memegang dada bidang Jun dan memasukkan sebuah kertas disaku bajunya.


"Mulai sekarang, lihatlah filmku setiap harinya. Jika kau tertarik, kau bisa meneleponku kapan saja," ujar Alisya mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.


Jun hanya menggelengkan kepalanya menatap Alisya sambil tersenyum. Meskipun, gadis itu aneh menurutnya.


"Bye bye tampan," ucap Alisya sembari melambaikan tangannya yang dibalas senyuman hangat dari Jun.


......................


"Yaudah gue pulang dulu, Vin. Jaga Lisa baik-baik," salam Jefri sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


"Tenang aja. Gue bakal jaga Lisa disini sampai dia benar-benar sembuh." Ucap Kevin sambil mengangkat jari jempolnya.


"Gini baru Kevin yang gue kenal. Awas aja lo ngebentak Lisa seperti tadi, gue pukul lo!"


"Iya iya bawel amat lo! dah cepat pergi!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2