
Aver dan yang lainnya telah selesai mengaktifkan Sihir Teleportasi dengan bantuan Erza. Aver segera saja mengumpulkan yang lainnya untuk masuk ke dalam lingkaran Pentagram yang terlihat bercahaya menandakan mereka berhasil mengaktifkan Sihir Teleportasi.
Liyura merangkul Fiona dan Amon yang masih terlihat canggung dengan semuanya. Mereka akhirnya juga masuk ke dalam lingkaran Pentagram hingga Aver segera saja mengucapkan mantra dalam bahasa Latin untuk membuat Sihir Teleportasi bekerja dan membawa mereka ke tempat tujuan.
Sekali lagi, seperti saat mereka memasuki Portal, mereka merasakan berada di perputaran waktu ketika mereka merasakan perpindahan tubuh mereka secara paksa.
Lingkaran Pentagram bercahaya sangat terang, lalu membuat mereka yang berkumpul dalam lingkaran tersebut tiba-tiba saja menghilang.
***
Liyura merasakan dirinya di hempas dengan paksa ke suatu tempat, dalam sesaat---kakinya tidak berpijak ke tanah membuatnya menutup mata erat. Tapi tidak sampai 2 detik saja, gadis itu merasakan kakinya menginjak tanah datar hingga gadis itu memberanikan diri untuk membuka matanya kembali.
Liyura dan yang lainnya tepat berada di ruang tahta. Liyura merasa Deja Vu. Dia merasa seperti saat melawan Boss Monster di Lantai 1. Bedanya, tahta yang berdiri agung dan menjulang seolah hanya dapat di duduki oleh seorang Raja itu berwarna emas asli yang lebih istimewa dari perak yang paling indah.
"Tempat ini adalah tempat yang Vyone katakan. Aku tahu tempat ini lebih dari yang para Vampir itu tahu. Karena dulunya, Ras Vampir adalah salah satu Ras yang tunduk pada Tuan-ku."
Liyura hanya terdiam, sedangkan yang lainnya menjadi penasaran dengan Tuan Aver kecuali Arend, Ryan, dan Liyura sendiri.
"Mereka ada di sebelah Tahta yang bertahtakan emas, di Penjara Suci yang mengekang erat roh mereka. Aku mengerti maksudnya itu. Bukankah Nona Liyura bilang jika arti dari hal itu adalah jika Jenderal Wisteria di jaga sendiri oleh Raja Ras yaitu Nuzan Kyoro?"
Ryan mengatakannya dengan serius, dia tidak akan pernah melupakan saat dimana Vyone memberikan teka-teki dan di jawab dengan mudah oleh pemuda itu sendiri, Liyura, dan Aver.
"Itu benar, Ryan. Dan kali ini kita berada di tempat yang tepat seperti kata Aver."
Aver terlihat tidak berniat untuk kembali ke Dunia Segel Magic Forest dan malah melihat sekitarnya dengan fokus untuk mencari detail penting ataupun petunjuk di mana keberadaan Raja Ras Vampir dan juga para Jenderal Wisteria.
"Tapi, ada di mana mereka?"
Kali ini Liyura dan yang lainnya melihat ke arah Celine yang menatap sekitar seperti Aver. Meskipun mereka berada di tempat yang tepat, mereka menyadari jika orang yang mereka cari tidak ada.
"Kira-kira ada di mana?"
Liyura menanyakannya pada mereka membuat semua orang berpikir keras. Entah sampai kapan mereka akan terus memecahkan teka-teki tanpa bertarung.
"Kita ada di tempat yang tepat namun seperti yang kalian lihat---"
"Maksud Guru, kita di jebak, kan?"
Ryan terlihat memotong perkataan Aver membuat Undead itu langsung saja menjitak kepala Ryan membuat pemuda itu mengaduh.
"Aduh! Sakit!"
Mereka semua terkikik geli dengan ekspresi Ryan dan ke-akrabannya dengan Aver.
"Aku belum selesai bicara, dasar murid tidak berbakti!"
Ryan mengelus pelan kepalanya, entah kenapa suasana yang tadinya tegang menjadi lebih tenang diiringi tawa dari Liyura dan Arend yang menertawakan Ryan.
"Akan kuulangi lagi. Kita sebenarnya ada di tempat yang tepat, namun seperti yang kalian lihat orang yang kalian cari tidak ada. Meskipun kita ada di tempat yang tepat sekalipun..."
Aver akhirnya menghela nafas, dia menjauh dari kerumunan kelompok pengikut Liyura dan berjalan-jalan ke sekitar Tahta Emas. Kali ini Aver menggunakan Sihirnya lagi, namun Liyura yang melihatnya dari jauh tidak bisa mendengar mantra yang di ucapkannya.
"Apa yang mau di lakukan Aver?"
Ryan menghampiri Liyura bersama Arend yang berubah wujudnya menjadi Burung Elang Harpa kecil terlihat bertengger di pundak kanan Ryan.
"Nona, sepertinya Guru ingin mendeteksi sekitar. Apa mungkin Nona tahu keberadaan Vampir dan Jenderal Wisteria?"
Liyura hanya menggeleng tapi dia mengeluarkan Kenzie dan Vyone dari Dunia Segelnya.
__ADS_1
"Vyone, tunjukkan keberadaan Raja Ras Vampir sekarang. Aku yakin di antara kami hanya kau lah yang tahu."
Vyone mengangguk dan segera menutup matanya seolah berfokus pada sesuatu.
"Aku akan menghubungkan jiwaku pada Raja Ras melalui Twilight karena aku masih lah Elder dari Ras tersebut, maka tidak sulit untuk menemukan keberadaannya."
Liyura terlihat berharap jika Vyone menemukannya lebih cepat agar urusan tentang Vampir ini dapat di selesaikan secepat mungkin.
Kenzie hanya berdiri di samping Liyura hingga gadis itu memerintahkannya untuk mencari hal yang mencurigskan seperti yang di lakukan Aver. Kenzie hanya mengangguk dan menuruti dan menjalankan perintah Liyura.
Sambil menunggu Vyone yang terlihat menutup mata dengan fokus untuk mencari keberadaan Raja Ras Vampir beserta Jenderal Wisteria yang mungkin berada di tempat yang sama. Liyura memerintahkan Ryan, Arend, Celine, Erza, Fiona, dan Amon untuk waspada akan sekitar.
Saat berselang 15 menit, Vyone membuka matanya kembali dengan cepat hingga perhatian semuanya menatap ke arahnya, kecuali Aver dan Kenzie yang sibuk mencari hal yang mencurigakan di antara Tahta Emas yang kosong.
Vyone menatap Liyura dengan keringat membasahi seluruh wajahnya dengan tiba-tiba, "Raja Ras, " Vyone menatap semuanya dengan nafas yang tidak teratur, "sedang bertarung di Dunia Luar dan sedang menghabisi para Manusia di hadapan Para Jenderal Wisteria."
Sontak hal itu membuat mata Liyura berubah menjadi menyala se-merah darah mendengar perkataan Vyone. Warna matanya yang tadinya memang berwarna merah kali ini terlihat lebih mengerikan.
"S****n!"
Erza mengumpat dengan keras membuat Celine yang berada di dekatnya terkejut. Liyura mendongak dan segera memerintahkan Aver untuk mendekat.
"Kita ke Dunia Luar sekarang. Manusia di sekitaran Lembah telah di bantai."
Mendengar kata itu, Aver hanya menghela nafas, "Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang akan kita hadapi."
Tepat setelah itu, Liyura menyadari jika sejak tadi, mereka tidak seorang diri.
Kawanan Vampir berhasil memojokkan mereka.
***
Sedangkan di Dunia Luar, tempat yang akan Liyura tuju saat berada di tempat di mana Tahta Emas berada.
"S**l! Mereka berhasil membantai semua Vampir dan menghancurkan Tempat Pelelangan, tidak bisa di biarkan!"
Vampir yang menyamar menjadi Ray terlihat sangat kesal dan marah hingga menendang sebuah kursi yang di dudukinya. Mereka yang melihat hal itu tidak terlalu peduli.
Yah, mereka bisa di bilang berada di dalam Lembah Wisteria, yang tadinya mereka menemui Raja mereka namun mereka kembali lagi ke Lembah tersebut untuk berjaga-jaga Liyura dan yang lainnya kembali.
"Tidak cukupkah Elder saja yang berkhianat?! Ternyata Elder juga menjadi Slave dan memberikan Twilight nya pada Makhluk itu!"
Seseorang dengan tudung yang menutupi seluruh tubuhnya terlihat menggebrak meja membuat perhatian para Vampir yang menyamar menjadi Jenderal mengalihkan pandangan ke arahnya.
Seseorang yang bertudung tersebut juga adalah Vampir tapi tidak di ketahui dia Vampir seperti apa. Lalu, bukan hanya Vampir itu yang bertudung menutupi seluruh tubuhnya, di samping Vampir itu juga, ada seseorang yang lebih rendah tingginya dari Vampir tersebut dan terlihat diam saja tidak bereaksi seperti yang lainnya yang langsung kesal.
"Lalu, dimana keberadaan Raja sekarang?"
Vampir yang menyamar menjadi Ray terlihat menatap ke arah seseorang yang bertudung dan langsung menjawabnya.
"Raja dan para Jenderal ada di suatu tempat yang aman saat ini. Namun sepertinya mereka yang kita jebak sekarang telah menyadari jika di Tahta Emas itu tidak ada apapun. Aku yakin mereka akan menuju ke sini sebentar lagi."
Vampir yang menyamar menjadi Ray hanya tersenyum, "Jangan remehkan Ras Vampir. Kami sudah menyiapkan beribu-ribu pasukan di sana, dan lebih buruknya lagi, mereka yang berkerumun mengelilingi Tahta Emas adalah Manusia yang kita jadikan Vampir. Jadi, bagaimanapun mereka semua tidak akan bisa membunuh mereka."
Vampir itu terlihat tersenyum mengerikan setelah mengatakannya, Vampir yang menyamar menjadi Sena terlihat ragu.
"Apa kau yakin, Al?"
Itulah panggilan mereka semua pada Vampir yang menyamar menjadi Ray, salah satu Jenderal Wisteria yang paling kuat.
__ADS_1
Vampir yang menyamar menjadi Sena meneruskan, "Mereka bukan Manusia. Jika saja mereka tetap membunuh para Manusia yang kita jadikan Vampir itu dan sampai ke sini tepat sebelum kita siap, maka tamatlah kita. Kalian semua tahu? Kita tidak ada apa-apanya di bandingkan salah satu maupun beberapa dari mereka jika saja kita tidak di bantu oleh Ras lain."
Vampir yang menyamar menjadi Sena menatap seseorang yang menggunakan tudung di dekat Vampir yang juga menggunakan tudung yang sama dengannya.
Vampir yang menyamar menjadi Ray berdecih, "Diam saja lah. Tugasmu hanya menaati perintahku. Ingat kata Raja, aku yang memimpin, Lil."
Lil adalah panggilan mereka semua pada Vampir yang menyamar menjadi Sena. Gadis tersebut hanya menghela nafas.
"Kau tahu Vampir Bulan Sabit, Nona Rena, kan? Dia sekarang tidak dapat di andalkan lagi di karenakan adiknya katanya di jadikan Undead oleh pengikut Makhluk itu. Eksistensi dirinya saja sudah bisa menekan kita. Apa kau lupa, Al?! Raja kita saja mengabdi pada seorang Undead karena di kalahkan oleh Sang Dewa Kematian dulunya! Hanya karena Sang Dewa Kematian sekarang telah tiada lagi, maka bukan berarti kita akan bebas, bukankah ada yang bilang jika mereka hanya tersegel saja?"
Vampir yang menyamar menjadi Ray menggeram dan menampar Vampir yang menyamar menjadi Sena hingga ambruk di lantai.
"Sudah cukup, Lil! Aku kakakmu, jadi kau harus mengikuti seluruh perintahku, apalagi ini adalah perintah dari Raja Ras, maka itu adalah perintah mutlak!"
Vampir yang menyamar menjadi Sena terlihat memegangi pipinya yang memerah, yang di tampar oleh Vampir yang menyamar menjadi Ray.
"Kakak?! Kakak apa yang kau bilang, hah?! Aku bukan adikmu, Al!"
Vampir yang menyamar menjadi Sena segera berdiri dan menunjuk tepat di wajah Vampir yang menyamar menjadi Ray dan mengatakan sesuatu dengan keras.
"Ras Vampir pantas musnah dari Mozart karena bahkan kita lupa daratan kita sendiri akan eksistensi lebih besar dari kita! Aku tidak mau bergabung dengan kalian yang telah menghianati sumpah kalian pada Sang Dewa Kematian! Mulai sekarang, aku Keluar dari Ras Vampir dan menjadi Vampir yang bebas!"
Vampir yang menyamar menjadi Sena terlihat berubah ke bentuk aslinya yaitu seorang gadis yang sangat cantik dan lebih muda dari Liyura dan umurnya sekitar 15 tahun.
Vampir yang menyamar menjadi Ray menggeram kencang dan menjambak rambut hitam legam milik Lil hingga gadis itu mengerang. Mata biru Lil ketika menyamar menjadi Sena terlihat berubah menjadi merah darah kembali.
"Kau berani padaku, Lil?! Kau mau keluar dari Ras hanya karena takut pada Sang Dewa Kematian?!"
Lil terlihat menangis, tapi bukan air mata darah ataupun Twilight nya namun cairan bening seperti air mata biasa.
"Kita tidak boleh sia-sia kan diri kita yang telah menjadi Vampir! Jangan bilang kau lebih baik menjadi Manusia rendahan seperti orang di luar Lembah ini dan memilih menderita lagi?! Kau mau hidup yang seperti Neraka itu?!"
Vampir yang menyamar menjadi Ray terlihat marah besar, dia terlihat tidak peduli dengan para Vampir lain yang melihat urusan privasi dirinya bersama adiknya.
"Aku akan melakukannya daripada harus menjadi musuh dari Sang Dewa Kematian, Al! Aku siap keluar dari Ras dan aku tidak mau menjadi Vampir yang mengikuti perintah Raja lagi, aku akan pergi, mulai sekarang, jalan kita... akan berbeda."
Lil terlihat menangis tersedu-sedu, bagaimana tidak? Dia terlihat sangat tersiksa dengan sikap kakaknya sendiri pada adik kandungnya sendiri. Mereka dulunya adalah manusia namun karena mereka tidak sengaja bertemu dengan Vampir Bulan Setengah Lingkaran yang masih misterius saat ini membuat mereka dapat menjadi Jenderal dari Raja Ras Vampir setelah mereka di ubah menjadi makhluk tersebut dengan siksaan yang mengerikan di setiap prosesnya.
Tapi, apa kalian tahu mengapa mereka menjadi Vampir? Mereka tidak tahan dengan semua hinaan dan semua siksaan saat menjadi manusia. Tidak terhitung lagi jumlah luka yang mereka rasakan di fisik maupun yang masih tertinggal dalam jiwa mereka. Memiliki keluarga adalah suatu hal yang sangat mereka impikan karena mereka hanya hidup sebagai manusia yang tanpa tempat tinggal maupun orang tua.
Mereka hidup dengan saling menghidupi satu sama lain. Mereka di hina oleh manusia lain dan hanya di jadikan mainan oleh manusia lainnya karena mereka sama sekali tidak punya apa-apa dan sesuatu yang berharga. Bahkan hanya untuk makan satu hari sekali saja mereka tidak mampu karena sama sekali tidak punya uang sepeser pun yang dapat di tukar menjadi makanan.
Hidup mereka memang lebih menyedihkan saat Vampir datang dan memporak-porandakan seluruh Lantai 2. Namun karena adanya para Pahlawan yang membantu di Lantai tersebut mereka berhasil menekan Vampir yang selalu meminum darah manusia.
Dan para Pahlawan itu adalah Jenderal Wisteria dari generasi ke generasi sampai ke generasi yang sekarang. Salah satu cara ampuh untuk melawan dan melindungi diri dari para Vampir adalah dengan mendekati Pohon Wisteria yang sakral dan hanya tumbuh di Lantai 2 saja.
Vampir yang menyamar menjadi Ray atau yang di paggil Al itu langsung melepaskan tautan tangan yang menjambak rambut adiknya sendiri.
"Pergilah. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal dalam Ras ini lagi. Tapi jika kau berubah pikiran, kau bisa kembali ke sini, Ras Vampir dan aku akan membuka lebar pintu kami saat kau datang, Lil."
Lil segera saja bangun dan berdiri, "Kakak, maaf, tapi aku tidak akan kembali lagi. Jalan kita berpisah sampai di sini."
Vampir yang menyamar menjadi Ray terlihat membuang pandangannya seolah tidak terima adiknya akan pergi.
"Semoga kakak bahagia tanpa aku."
Vampir yang menyamar menjadi Ray terlihat ingin menghampiri Lil namun tiba-tiba saja gadis Vampir itu menjadi butiran cahaya dan menghilang seutuhnya.
Bisa di bilang itu adalah kemampuan yang di milikinya saat menjadi Vampir. Dia bisa berteleportasi kemanapun asalkan dia tahu tempat yang akan ia tuju bahkan jika itu sangat-sangat jauh.
__ADS_1
Vampir yang menyamar menjadi Ray terlihat duduk kembali di kursi yang di bawa oleh Vampir lain setelah Vampir yang menyamar menjadi Ray tersebut menghancurkannya menjadi rusak.
Mereka semua tidak berani bicara saat Vampir yang menyamar menjadi Ray duduk kembali ke kursi barunya di hadapan meja bundar. Tidak ada yang berani untuk bicara sampai akhirnya... seseorang datang.