Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 87 Wilayah Perbatasan


__ADS_3

Akhirnya, pagi datang kembali di Lembah Wisteria. Liyura terbangun dengan meregangkan tubuhnya, dia merasakan tubuhnya sangat segar pagi ini sehingga gadis itu tidak menunda lagi untuk rutinitas paginya.


Liyura hampir melupakan jika dia sedang berada di dalam sebuah game karena perbedaannya di dunia nyata hanya sedikit saja.


Sedangkan Kenzie di kamar lain juga terlihat bangun saat mendengar kicauan burung dan sinar matahari yang menerangi kamarnya. Pemuda itu serasa sedang bermimpi tentang kejadian kemarin.


Ras nya yang telah musnah dan seseorang yang menolongnya dari Vampir. Hanya sekarang inilah satu-satunya tidur yang paling nyenyak yang pernah ia rasakan.


***


Liyura telah selesai dengan setelan Gold Equip dan pedang Excalibur yang terpaut di pinggangnya. Hari ini rencananya seperti yang telah di sepakati dengan yang lainnya, mereka akan ke wilayah dimana Portal Sihir berada.


Hari ini adalah waktu yang tepat untuk menemukan para Jenderal Wisteria. Tapi, yang menjadi permasalahan, apa yang harus menjadi kunci untuk membuka Portal tersebut? Bukankah Kunci satu-satunya adalah Kunci Air Mata Darah yang di berikan pada Ras Turkien?


Namun, Liyura dan yang lainnya juga sepakat untuk tidak mengorbankan Kenzie hanya untuk membuka Portal saja. Mereka tidak menemukan cara bagaimana Portal itu akan terbuka tanpa mengorbankan Kenzie, bahkan dengan Altar Persembahan sekalipun itu hanya memiliki kemungkinan yang mustahil.


Liyura menghela nafas ketika memikirkannya, dia merasa sangat tidak berguna jika berkaitan dengan Sihir. Yang dapat membantunya menyelesaikan masalah itu hanyalah Aver dan Ryan saja untuk sekarang.


Liyura dengan cepat telah sampai di bawah pohon Wisteria, dimana mereka sepakat untuk bertemu di sana. Dan sesuai kesepakatan, Liyura melihat Ryan, Arend, Celine, serta Erza juga telah sampai. Hanya Kenzie saja yang masih belum hadir.


"Eh? Kupikir Nona akan bersama dia."


Liyura hanya menggeleng, "Aku akan menjemputnya. Mungkin dia masih butuh adaptasi hingga dia lupa akan jalan menuju kemari. Mungkin saja Kenzie tersesat."


Liyura segera saja pergi lagi ke kamar Kenzie. Tapi, tidak sesuai dugaan, pemuda itu datang lebih cepat daripada kepergiaannya membuat Liyura berhenti untuk melangkah.


"Kita bisa mulai sekarang."


Liyura mengkode Ryan dengan pandangan matanya hingga pemuda itu mengangguk.


"Aku telah memeriksa letak koordinat dari Portal Sihir seperti yang di ajarkan Guru Aver tadi malam. Dan tempat itu berada di Wilayah Perbatasan antara Lembah Malam dan Lembah Wisteria. Tepatnya di sebuah Hutan Belantara. Kita akan berangkat menggunakan Portal yang telah kubuat dengan susah payah agar aku dapat mencapai tempat itu."


"Portal ini akan muat untuk kita semua. Tapi, masalahnya adalah Portal ini sungguh-sungguh akan membuat kita sampai ke sana atau tidak. Tapi Guru Aver telah mengatakan jika peluang kita selamat dan sampai ke tempat tujuan adalah 90%, sedangkan peluang kita sampai di tempat yang antah-berantah adalah 80%."


Celine mengangkat tangannya membuat perhatian Ryan menoleh ke arahnya, "Aku ingin bertanya, kenapa tidak Erza saja yang mengirim kita ke sana? Kemampuan Erza lebih mumpuni dalam Sihir dan persentase kita selamat dan sampai ke tujuan mungkin akan lebih besar."


Ryan menjawab dengan tegas, "Baiklah, itu mungkin bisa tapi apakah Nona Erza tahu di mana Wilayah Perbatasan? Jika tidak tahu, maka peluang persentase kita akan ke tempat lain malah akan semakin besar karena Si pembuat Portal tidak mengetahui dengan jelas kemana arah tujuan Portal yang di buatnya."


Erza terlihat menghela nafas dan menjawab, "Sayangnya aku tidak tahu. Untuk itulah aku setuju saja dengan usulanmu, anak muda. Aku merasa salut denganmu, kau mempelajari Sihir dengan tekun seperti itu, jika kita bertemu lagi selama beberapa tahun ke depan, aku yakin kau mungkin bisa menandingiku."


Ryan tersenyum dan berterima kasih pada Erza, "Jadi, apakah kalian siap dengan kemungkinannya?"


Liyura tersenyum, "Aku akan ikut denganmu, Ryan. Tidak peduli apa yang akan kita hadapi, aku akan tetap bersamamu."


Sedangkan yang lainnya hanya mengangguk dengan mantap. Hanya Kenzie yang tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


"Aku ikut dengan pendapat Liyura saja. Aku akan pergi kemanapun Liyura pergi."


Mereka yang sepakat akhirnya bersedia untuk pergi. Arend yang sedari tadi dalam wujud Burung Elang Harpa kecil terlihat tenang bertengger di bahu kanan Ryan.


Ryan memusatkan Mana nya dan memusatkan pikirannya dalam suatu tempat. Wilayah Perbatasan pernah ia kunjungi sebelumnya saat mencari Vampir Bulan bersama Liyura dan Zayn. Jadi, tidak akan sulit bagi Ryan untuk mengingat kembali tempat itu saat mengetahui jika letak koordinat atau keberadaan Portal Sihir berada di sana.

__ADS_1


Tangan Ryan terlihat bercahaya membuat semuanya mundur, tidak butuh waktu lama hingga cahaya itu membentuk suatu pusaran seperti lubang hitam yang tidak berdasar. Ryan menjauhkan tangannya dan memerintahkan mereka semua untuk masuk ke dalamnya secara bergiliran.


Ryan tidak perlu mengucapkan mantra karena sebenarnya membuat Portal adalah suatu hal yang sederhana. Namun kita hanya perlu mengetahui letak tempat yang akan kita kunjungi dan harus memusatkan pikiran ke tempat tersebut dengan fokus.


Setelah itu, aliran Mana akan terbentuk sesuai kehendak kita dan akan membentuk sebuah Portal sebagai tali penghubung dan jalan masuk kita menuju tempat yang kita inginkan.


Celine masuk terlebih dahulu lalu Erza selanjutnya, dan berlanjut pada Kenzie, hingga Liyura terakhir. Setelah mereka masuk, Ryan juga masuk dengan cepat agar Portalnya tidak menghilang lebih dulu.


***


Mereka seperti masuk ke dalam pusaran yang tidak berdasar hingga akhirnya mereka seperti terlempar dan di keluarkan dengan paksa saat mereka telah sampai di tempat tujuan.


Liyura terlihat biasa saja saat mereka tiba di tempat tujuan---Wilayah Perbatasan. Liyura dan yang lainnya melihat pohon-pohon menjulang tinggi di antara mereka. Ryan yang juga telah sampai menjadi tersenyum karena telah berhasil membawa mereka dengan selamat ke tempat tujuan.


"Selanjutnya adalah, kita akan melakukan sebuah Ritual. Dan Ritual ini berbeda dengan Ritual lain seperti menggunakan Altar Persembahan. Kali ini aku membutuhkan Nona Erza untuk melaksanakannya, kata Guru Aver Nona Erza adalah seseorang yang di cintai oleh Mana atau Sihir, maka dari itu keuntungan kita berhasil pasti akan lebih besar."


Erza terlihat mengangguk saja. Dia benar-benar yakin dengan kemampuan Ryan hanya dengan melihat perkembangannya dalam Sihir itu sendiri. Liyura, Kenzie, dan Celine hanya terdiam dan menunggu.


"Tunggu dulu, Ryan. Apa yang akan kau pertaruhkan untuk membuka Portal Sihir?"


Ryan tersenyum, "Itu... aku masih belum memikirkannya. Aku sudah mendiskusikannya dengan Guru Aver tapi kami masih belum menemukan jawabannya. Ini memang sulit untuk membuka Portal tanpa mengorbankan Kenzie sebagai awal dari kunci Portal tersebut. Mungkin bisa di bilang aku akan meretas dan membuat Portal itu terbuka secara paksa tanpa harus menggunakan Kenzie sebagai kunci untuk membukanya."


Erza terlihat terkejut, "Kau terlalu percaya diri, anak muda. Aku akhirnya tahu kenapa kau membutuhkanku untuk menjalankan Ritual ini. Kau mau mempertaruhkan nyawamu, bukan?"


Liyura membulatkan mata, "Kali ini aku tidak setuju denganmu, Ryan. Jika sampai kau melakukannya, apakah kau akan mati sebagai bayaran dari membuka Portal itu?"


Ryan menghela nafas, "Jangan membuat tekad ku pudar, Nona. Aku tidak tahu apakah aku akan berhasil atau tidak tapi aku harap aku berhasil dan semuanya selamat. Hanya inilah yang bisa kulakukan untuk membalas budi, aku merasa senang karena bertemu dengan kalian semua, dan aku tidak menyesal jika aku harus mempertaruhkan sesuatu bahkan jika itu adalah nyawaku sendiri jika demi kepentingan Nona."


"Meskipun aku yakin dengan kemampuanmu tapi aku masih tidak akan rela jika kau gagal. Karena jika kau gagal, maka nyawamu menjadi taruhannya, kan? Maka, sebaiknya tidak kau lakukan. Mungkin masih ada cara lain untuk membuka Portal itu tanpa mengorbankan Kenzie maupun dirimu!"


Kenzie yang merasa di bicarakan terlihat menghampiri Liyura dan Ryan, Kenzie terlihat berdiri di anatara Liyura dan Ryan yang saling berhadapan.


"Jika kamu ingin melakukannya, akan kubantu. Aku telah di berikan Twilight oleh Vampir Bulan Purnama, bukan hal sulit untuk membuka Portal untukku."


Ryan menatapnya, "Kau yakin? Biar aku saja yang menjadi jaminan untuk terbukanya Portal."


Ryan segera saja memulai dengan bantuan Erza di sampingnya. Liyura mengkode Kenzie untuk membantu Ryan membuat Kenzie yang mengerti akan tatapannya segera saja mendekat ke arah Ryan.


"Sayangnya Liyura memintaku untuk membantumu, maka aku harus mengikuti perintahnya."


Kenzie menyalurkan Mana nya pada Ryan dengan menyentuh tangan pemuda itu. Ryan terkejut namun dapat menyerap dengan baik Mana yang di berikan Kenzie. Karena unsur Mana mereka sama-sama Cahaya dan Kegelapan, maka tidak sulit untuk menyerap dan membagikan Mana mereka.


Ryan merasa jauh lebih bertenaga dan memiliki banyak Mana dalam tubuhnya membuat dia semakin yakin dengan keberhasilannya membuka Portal.


"Terima kasih."


Kenzie hanya diam, "Masih belum selesai, aku akan membantumu sampai akhir."


Kenzie terlihat duduk setelah Erza membuat sebuah Pentagram dengan darah gadis itu. Kenzie duduk di antara pola Pentagram dan menyuruh Liyura dan Celine untuk menjauh, memberi ruang untuk mereka.


Setelah Liyura dan Celine menjauh, Ryan juga ikut duduk di antara pola Pentagram. Erza terlihat tersenyum pada Kenzie maupun Ryan seolah mengingat masa lalunya.

__ADS_1


"Kita mulai. Ini bukan perkara mudah bagi kita untuk membuka Portal dengan paksa, tapi aku yakin jika kalian dapat melakukannya dengan bantuanku."


Erza terlihat memfokuskan pikirannya untuk menyalurkan Mana pada pola Pentargram. Ryan juga melakukan hal yang sama diiringi Kenzie.


Meskipun Kenzie Ras Turkien, dia juga mengetahui akan Sihir tapi tidak seperti Ryan dan Erza yang lebih tahu akan hal magis tersebut.


Mereka sama-sama menutup mata dan diiringi dengan itu, cahaya menyinari pola Pentagram dan membentuk sebiah formasi di sekeliling mereka.


Erza membacakan sebuah mantra dengan bahasa latin yang tidak di mengerti oleh siapapun.


"Cum Licentia Nec Tenebras Lucem Et Aperta Ianua Mundos Se Conjungat...!"


Liyura terlihat menutup matanya karena sinar yang menyinari sekitarnya yaitu dari arah ketiga orang yang tengah melalukan Ritual khusus untuk membuka Portal.


Celine terlihat mendekat ke arah Liyura sambil menutup matanya. Sedangkan ketiga orang yang tengah melakukan sebuah Ritual khusus untuk membuka Portal terlihat sangat fokus dan serius dengan apa yang di lakukannya.


Liyura hanya berharap, jika mereka berhasil untuk membuka Portal dengan lancar tanpa harus mengorbakan seseorang.


Liyura melihat ke arah ketiga orang itu ketika cahayanya memudar sedikit dan melihat sekitar yang terlihat masih bercahaya terang. Tapi meskipun hanya sekilas, Liyura melihat retakan di udara sedikit demi sedikit dan hanya dia saja yang menyadarinya.


Liyura membulat dan segera saja mengeluarkan pedang Excalibur dari sarungnya dan menyerang retakan itu dengan sebuah Skill agar retakannya semakin melebar.


"Gold Wave!"


Liyura menembakkan aura berwarna emas dari arah pedang ke arah retakan kecil iru menjadi sebuah retakan yang amat besar saat serangannya berhasil. Tapi hal itu tidak membuat konsentrasi dari ketiga orang yang melakukan Ritual terlihat pecah. Namun malah semakin fokus dengan apa yang tengah di lakukan dan hanya harapan lah yang dapat membuat mereka berhasil.


Celine juga berdo'a agar semuanya cepat terselesaikan. Masalahnya, jika mereka gagal, maka nyawa lah sebagai taruhannya. Dan jika mereka gagal, maka tidak akan ada lagi yang dapat menemukan para Jenderal Wisteria dan mengalahkan para Vampir Bulan beserta Nuzan.


Bisa di lihat mulut Erza tiba-tiba saja mengalir darah. Tapi itu tidak membuatnya hilang fokus seolah dia menganggap hal itu menjadi ujian. Sedangkan Ryan sendiri, pemuda itu terlihat tersiksa karena ini pertama kalinya ia menjalankan sebuah Ritual yang berbahaya dengan nyawa sebagai taruhannya.


Lain lagi dengan Kenzie, pemuda itu saja yang nampak biasa-biasa saja dan seolah tidak ada dampak yang terjadi padanya. Tapi sekejap kemudian, mata Kenzie terbuka dengan tiba-tiba membuat retakan yang ada di udara terlihat meretak sempurna hingga menimbulkan suara seperti kaca yang pecah.


Erza terlihat membuka mata diiringi Ryan dengan nafas yang terengah-engah. Kenzie terlihat berdiri dari duduknya dan melihat retakan di udara yaitu sebuah Portal yang akan membawa mereka ke tempat para Jenderal Wisteria berada.


"Apakah berhasil?"


Liyura bertanya membuat mereka semua mengangguk. Erza terlihat mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Sedangkan Ryan sudah tidak mampu berdiri membuat wujud Arend yang berupa Burung Elang Harpa kecil menjadi ke sosok manusianya.


Arend terlihat menggendong Ryan yang terlihat kelelahan di punggungnya. Liyura terlihat khawatir tentang pemuda itu namum saat melihat Kenzie, kekhawatirannya bertambah.


Kenzie terlihat memuntahkan darah segar ke tangannya, ini mungkin juga efek karena telah membuka Portal dengan esensi Twilight yang di berikan oleh Vyone padanya. Namun, melihat pemuda Ras Turkien itu masih dapat berdiri tegak membuat Liyura terlihat meringankan perasaan khawatirnya.


Liyura lebih memilih menghampiri Kenzie karena Ryan tiba-tiba saja tertidur saat berada di punggung Arend yang menggendongnya.


"Apakah tidak apa-apa? Jika kau tidak kuat lagi, kau akan kukirim ke Magic Forest saja."


Kenzie menggeleng, "Ini bukan masalah yang besar. Aku masih bisa bertahan sedikit lagi. Liyura tidak perlu mengkhwatirkan aku."


Kenzie mengusap jejak-jejak darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangannya. Dia tidak ingin mencemaskan Liyura dan ingin membuat gadis itu percaya jika dirinya dapat di andalkan.


Mereka saling menatap ke arah retakan di udara dan masuk ke dalamnya secara bergiliran.

__ADS_1


__ADS_2