
Seorang remaja perempuan dengan rambut berwarna merah terang dan menggunakan jubah berwarna hijau, matanya yang berwarna oranye melihat ke segala arah, sekarang Ia sedang berlari menyusuri sebuah ruangan sambil melihat beberapa senjata mistis yang sangat indah.
Sampai Ia melihat sebuah Busur dan alat panah yang menarik perhatiannya. Dia berhenti berlari dan melihat Busur itu.
Busur berwarna emas tapi terlihat lebih gelap. Busur itu mengeluarkan aura yang sangat indah dan membuat hatinya tenang. Gadis itu tersenyum dan akhirnya menyentuh Busur itu dan menjadi patung.
Gadai itu terdiam cukup lama dan kemudian dia merasakan pusing yang menderanya memnuatnya jatuh tertidur di lantai Ruang Senjata Mistis.
***
Seorang gadis membuka matanya dan melihat sekelilingnya yang merasa sangat Familiar.
Gadis itu melihat sekitar, tidak salah lagi dia ada di tempat yang sangat Familiar baginya. Gadis itu melihat dirinya yang masih kecil sekitar berumur 5 tahun sangat senang berlari dengan menuntun tangan seorang gadis perempuan yang terlihat lebih tua darinya yang berumur 9 tahun.
Mereka bermain bersama bunga-bunga yang bermekaran dan membuat mahkota dengan bunga yang bersusun darinya. Seorang gadis yang terlihat lebih tua memasangkan mahkota itu pada adiknya di atas kepalanya.
Adiknya terlihat sangat senang dan memeluk kakaknya. Seorang gadis yang melihatnya dari kejauhan merasa sedih. Di pipinya telah mengalir air mata entah sejak kapan.
Adik dari gadis itu kemudian bermain ayunan yang menggantung di ranting pohon yang tumbuh dari batang pohon.
Adik dari gadis itu menaikinya dan kakaknyalah yang mengayunkan ayunan itu membuat adiknya tertawa senang.
Seorang gadis yang melihat itu segugukan sambil menangis, dia menghampiri adik dan kakak itu.
Gadis itu ingin sekali menyentuh kakaknya tapi itu semua tidak bisa Ia gapai maupun menyentuhnya. Tangannya seakan menyentuh angin.
Mereka terus bermain seolah-olah tidak menyadari ada sosok yang meperhatikan mereka.
Gadis itu mengusap air matanya dengan menutup matanya. Saat gadis itu membuka mata kembali, suasana berubah.
Dia terkejut melihat ke arah ayunan yang indah tadi sekarang hancur seperti rongsokan.
Gadia itu melihat ke segala arah dan mencari kedua gadis yang bermain tadi. Gadis itu melihat ke arah sebuah rumah yang sedikit reot hingga dia masuk ke dalamnya.
Dari dalam dia mendengar suara isakan tangis dari seorang gadis yang berumur 10 tahun.
Dan gadis itu adalah dirinya, gadis berumur 10 tahun itu menatap kakaknya yang terlihat terbaring sakit keras.
Kakaknya yang masih sakit memaksakan senyum agar tidak mengkhawatirkan adiknya. Dia menggenggam tangan adiknya yang menangis di sisi ranjang dengan erat.
Adiknya berkata sesuatu yang tidak gadisi itu mengerti. Adiknya kemudian berbalik dan berlari keluar ruangan dan menembus tubuh gadis itu.
Gadis itu ingin ikut menyusul gadis yang tadi tapi dia mendengar suara batuk dari kakak yang ditinggalkannya itu. Kakaknya itu mengeluarkan batuk darah dan menutupinya dengan satu tangannya.
Tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang sepucat mayat hanya bisa pasrah dengan penyakitnya.
Gadis itu bingung, dia ingin menyusul adiknya tadi tapi dia merasa jika hatinya menuntunnya untuk tetap berada di tempatnya itu, dia merasa akan ada suatu rahasia yang terungkap.
Gadis itu akhirnya menghela nafas dan menghampiri kakak berumur 14 tahun yang terlihat sekarat.
Kakaknya itu kemudian menangis setelah dia berhenti batuk darah. Entah dia menangis karena apa, sebab gadis itu tidak tahu apa yang dikatakan oleh seorang kakak itu yang terlihat mengatakan sesuatu.
Dia menangis terisak, dia berusaha menghentikan air matanya yang berjatuhan tanpa henti. Dia ingin sekali meredakan tangisnya tapi dia merasa tidak bisa menghentikannya.
Entah beban apa yang ditanggungnya tapi mungkin itu terlalu berat baginya. Gadis itu terlihat menatap sedih.
Suasana sialnya berubah lagi. Kali ini gadis itu tiba-tiba saja ada di luar rumahnya. Dia melihat adiknya yang berlari dan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa tapi sebuah batu yang mencuat dari tanah menghentikannya berlari hingga dia jatuh.
Gadis berumur 10 tahun itu menangis keras dan terdengar pilu. Dia menatap Rumah yang ada di depannya yang terbakar tersulut api.
Gadis itu melihat ke arah dalam rumah dan melihat kakaknya terlihat berlumuran darah dengan seseorang yang menancapkan taringnya di leher gadis berumur 14 tahun itu.
Gadis berumur 10 tahun terkejut dan segera masuk ke dalam kobaran api yang mengelilingi rumahnya.
Dia tidak memikirkan apa-apa lagi dan terlihat berlari menghindari kayu-kayu yang jatuh dari atap yang terkena api. Dia berlari sambil menggenggam pisau dapur yang diambilmya tadi dan menancapkannya pada seseorang yang menatapnya seperti menatap makanan.
Bahkan dia dapat melihat seseorang itu mengeluarkan air liur ketika melihat gadis yang berlari ke arahnya.
Dia mengeluarkan taringnya dari leher gadis berumur 14 tahun dan melemparkan gadis itu ke dalam kobaran api dengan kasar.
__ADS_1
Waktu seakan berhenti, gadis itu melihat kakaknya yang dilempar ke dalam kobaran api menatapnya dengan sedih dan tersenyum untuk terakhir kalinya.
Gadis itu berteriak dengan keras menyuarakan nama kakaknya membuat gadis yang lain itu terkejut karena dapat mendengarnya.
"Kak Erza!"
Gadis itu mengubah arah larinya untuk menangkap kakaknya. Tapi jarak yang jauh dan waktu yang terus berjalan menghentikannya.
Kakaknya terlempar ke dalam kobaran api dan tentu saja akan meninggalkannya untuk selamanya. Gadis yang melihatnya juga menangis dan meringkuk di tanah dengan gemetaran.
Gadis berumur 10 tahun langsung menatap Vampir itu dengan tatapan kebencian. Matanya yang berwarna merah menyala lebih terang daripada api yang ada di sekeliling mereka.
Gadis itu menyerangnya dengan pisau yang ada di tangannya. Dia menancapkan pisau itu ke tubuh Vampir dengan sangat dalam tapi Vampir itu hanya tersenyum.
Gadis berumur 10 tahun yang melihat itu terlihat takut setela menyadarinya. Dia melihat darah yang mengucur di tubuh Vampir itu yang berwarna hitam pekat.
Gadis itu terlihat takut dan gemetaran hingga Ia terlihat mundur beberapa langkah dan tidak mengeluarkan pisau yang tertancap di tubuh bagian dada dari Vampir itu.
Vampir itu terlihat menunjukkan taringnya yang panjang dan bersiap memangsa gadis berumur 10 tahun di hadapannya diiringi dia mencabut pisau yang ada di dadanya.
Vampir dengan senang hati langsung menangkap gadis yang mundur perlahan untuk kabur dan segera menancapkan taringnya ke leher gadis itu dengan keras hingga sampai merintih pilu.
Gadis yang lain yang mendengarnya hanya gemetaran, Ia ingin sekali pergi dari sini tapi kakkinya tidak mampu untuk bergerak.
"Semua ini gara-gara kau! Celine kau jahat! Kau pembunuh! Jika saja kau tidak dilahirkan Kak Erza tidak akan mati menyedihkan seperti itu! Kau lihat! Kau lihat!!! Kau adalah pembunuh, Celine!"
Gadis bersama Celine melihat gadis berumur 10 tahun yang menatap dirinya, sedangkan Vampir tadi menghilang.
"Kau itu tidak pantas untuk hidup! Kau lihat kakakmu itu! Dia sangat membencimu! Kau adalah adik yang sangat tidak berguna! Kau itu lemah, Celine, jangan berharap kau menjadi seorang Pembunuh Vampir!"
Celine gemetar saat melihat dirinya yang berumur 10 tahun terlihat menatapnya benci dengan darah yang mengalir deras dari arah lehernya.
"Aku sangat membencimu, Celine! Kau sebaiknya mati saja! Kau tidak pantas untuk hidup! Kau harus menebus dosamu ini!"
Celine terlihat memegang kepalanya dengan kedua tangannya, "Berhenti!"
"Kau adalah Pembunuh!!"
"Kau adalah PEMBUNUH!"
"Berhenti!!!"
"KAU ADALAH PEMBUNUH, CELINE!"
"KUMOHON BERHENTI!!!!"
Celine terlihat sangat menderita. Dia menangis keras dan menunduk dengan gemetaran.
"Kumohon berhenti! Aku tidak mau seperti ini lagi, apakah ada cara agar aku bisa keluar dari penderitaan ini?!"
"Kalau begitu matilah Celine."
Celine menatap dirinya yang berumur 10 tahun, lebih tua darinya yang sekarang berumur 13 tahun.
"Jika kau ingin keluar dari penderitaan ini, kau harus mati. Itulah pilihannya, kau akan tenang saat kau mati."
Celine terlihat menunduk dengan pandangan kosong, "Itu benar, jika aku mati aku tidak akan merasakan penderitaan ini lagi, jika aku mati, aku akan merasa tenang karena aku tidak akan mati-matian berjuang lagi."
Diri Celine yang lain terlihat tersenyum menyeramkan. "Bagus, aku lah yang akan membunuhmu."
Celine tidak menjawab dan hanya pasrah. Dari tangan diri Celine yang lain muncul sebuah busur berwarna emas, dan kemudian menarik tali busur itu hingga anak panah muncul secara ajaib.
Celine hanya bersimpuh dengan tubuh yang bertopang pada kakinya. Dia menunduk dalam membuat wajahnya tertutup oleh rambut merahnya yang warnanya sama seperti kobaran api.
Diri Celine yang lain tersenyum mengerikan dan segera melepas anak panah itu dari busurnya ke arah Celine yang tidak berdaya.
Saat panah itu hampir dilepas, terdapat sebuah tangan yang menahan anak panah itu menuju Celine.
"Celine!! Kau tidak boleh menyerah! Bukankah kau telah berjanji pada kakak untuk menjadi Pemburu Vampir! Kau tidak boleh seperti ini! Kakak tidak akan memafkanmu ketika kau menemui kakak di alam baka!"
__ADS_1
Celine terkejut dan menatap kakaknya yang sedang menahan anak panah yang sedang diarahkan padanya.
Celine melihat kakaknya tersenyum dan menghampirinya. Celine terlihat terkejut melihat senyuman kakaknya, Erza yang sangat senang melihat Celine lagi.
Erza berhenti menlangkah saat dia ada di hadapan Celine yang sedang bersimpuh, dia ikut bersimpuh dan memeluknya, memeluk Celine dengan hangat dan erat.
"Kakak menyayangimu, Celine. Kau adalah adik yang kakak sayangi melebihi diri kakak sendiri. Kakak bersedia membayar apapun untuk bisa mendapatkan kebahagiaanmu. Kakak rela berkorban demi kau Celine, adik yang kakak sayangi sepenuhnya. Kematianku bukanlah menjadi salahmu. Kau harus berjanji untuk menjadi Pemburu Vampir dan..."
Erza terlihat bercahaya terang dan tubuhnya menjadi transparan dengan dikelilingi cahaya.
"Dan carilah teman-teman yang baik."
Erza tersenyum sebelum dia menghilang seutuhnya digantikan panah yang meluncur ke arah Celine dengan kecepatan cahaya.
Tapi, Celine yang melihatnya tidak bergeming sedikitpun, bahkan dia tidak takut sama sekali. Saat jarak dirinya dengan panah semakin dekat, Celine melihat kakaknya menghadang panah itu di hadapan Celine membuat anak panah itu mengenai Erza, kakaknya.
Tapi panah itu bahkan tidak menyakitinya, malahan panah itu hancur dan hilang berkeping-keping sebelum mengenai Erza.
"Tidak!! Kau harus mati, Celine!"
Erza menatap adiknya dan tersenyum, dia kemudian melihat diri Celine yang lain yang terlihat mengerikan.
"Aku akan membawamu bersamaku ke alam baka agar kau tidak mengganggu adikku lagi!"
Erza terlihat menghampiri Celine yang lain dan menyentuhnya hingga Erza terlihat semakin transparan dan terangkat ke atas sedikit demi sedikit dengan membawa Celine yang lain dengannya.
"Lepaskan aku!! Celine kau harus mati! Kau harus mati!!!"
Celine telihat menatap Erza yang tersenyum sangat senang, Erza lalu menatap dengan sedih ke arah Celine yang masih bersimpuh.
"KAU HARUS MATI, CELINE!!"
lalu mereka menghilang sepenuhnya. Diiringi itu pula, Celine melihat cahaya yang terang dan turun seperti sebutir salju.
Celine merasakan sebutir emas seperti debu dan berkilau jatuh turun menimpanya hingga membuat rambutnya yang berwarna merah menjadi berkilau karena itu.
Celine melihat sebutir emas berkilau itu di tangannya, sangat indah bahkan lebih indah dan berkilau dari salju.
Celine menangis, dia menangis sekeras mungkin karena dia merasakan perasaan rindu yang mendalam pada kakaknya.
Kakak yang selalu menyayanginya melebihi apapun. Celine tidak bisa dan tidak akan kuat melihat penderitaan kakaknya selama ini.
Celine kemudian mengingat pesan kakaknya dan dia bergerak bangun dengan perlahan. Dia harus mandiri sekarang, saat dia jatuh seperti tadi dia harus bisa bangkit sendiri tanpa uluran tangan seseorang lagi.
Tidak peduli apapun yang terjadi, dia tidak akan mengecewakan kakaknya sedikitpun, dia akan berusaha sekuat tenaga karena itulah yang bisa Ia lakukan untuk saat ini demi membayar kasih sayang yang diberikan oleh kakaknya.
Celien terlihat menatap langit berwarna kuning dengan sebutir emas yang jatuh seperti salju, sedikit demi sedikit namun pasti.
Celine mengusap air matanya dan dia merasakan cahaya yang sangat terang setelah membuatnya menutup matanya.
Celine merasakan dirinya dipindahkan dengan cepat dan saat membuka mata, dia ada di dalam sebuah ruangan berwarna putih.
***
Celine memperhatikan sekitarnya dan melihat sebuah Busur berwarna emas yang mengambang di hadapannya.
Celine melihat sebuah aura yang mengelilingi Busur itu berwarna kuning membuat hatinya seakan menjadi tenang.
"Selamat karena kau telah berhasil menyelesaikan ujian ketigamu. Kau pantas mendapatkan Busur itu."
Celine terkejut saat dia mendengar sebuah suara tapi tidak ada orang di sekitarnya. Celine tidak berpikir lagi dan segera menyentuh Busur emas yang mengambang di hadapannya setinggi dadanya itu.
Saat menyentuh Busur itu, Celine melihat aura yang mengelilingi Busur masuk dan meresap ke dalam dirinya membuat hatinya seakan lebih tenang, bahkan dia tidak merasa sesedih tadi, saat dia kehilangan kakaknya.
Meskipun dia tahu jika dia tadinya ada di alam kenangannya tapi dia tetap merasa jika yang tadi itu seperti mimpi yang terasa nyata.
Celine berjanji bagaimanapun dia akan terus memegang teguh apa yang dikatakan kakaknya yang tidak sempat dikatakan olehnya di masa lalu.
Celine tersenyum senang, ketika telah menangis hatinya menjadi sangat lega, dia menatap busur yang ada di hadapannya dan mengelusnya, menyentuh semua inci dari bentuk busur itu.
__ADS_1
Celine tidak tahu harus berkata apa hingga cahaya terang membuatnya menutup matanya lagi, dan saat membuka mata, dirinya menyadari jika Ia sedang terbangun dari mimpi.