Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 89 Kutukan Kesendirian Kenzie


__ADS_3

****


Chapter ini mengandung kata-kata untuk mengheningkan cipta dari Liyura untuk kalian semua agar dapat mengenang kenangan masing-masing dan memikirkan kenangan-kenangan itu yang pernah terjadi. Chapter ini akan membuat kalian berpetualang ekspresi atau juga dapat membuat kalian ingat dengan kesedihan dan hal buruk yang pernah kalian lupakan...


****


.


.


.


"Cara menyembuhkannya adalah..." Ares terhenti sesaat dan menatap Liyura serta Aver bergantian. "Caranya adalah dengan melakukan 'Persatuan Jiwa'. Cara ini membutuhkan dua orang untuk melakukannya yaitu seseorang yang terkena kutukan dan seseorang yang bersedia menyembuhkan kutukan."


Liyura masih diam, seolah ingin Ares menjelaskannya secara detail. Ares pun lanjut menjelaskan.


"'Persatuan Jiwa' merupakan cara yang menggunakan Sihir Hitam sebagai unsur pentingnya. Karena itulah dalam beberapa abad yang lalu, 'Persatuan Jiwa' ini merupakan hal yang terlarang. Biasanya dua orang yang telah melakukan 'Persatuan Jiwa' akan memiliki sakit yang sama dengan seseorang yang terikat dengannya masing-masing. Jika kau dan pemuda itu ingin melakukannya, secara resmi, jika dia mati, kau juga akan mati, Liyura."


Liyura menghela nafas, "Lakukan, Aver. Itu bukanlah hal yang sulit. Jika 'Persatuan Jiwa' adalah cara satu-satunya cara untuk menyelamatkan Kenzie, aku bisa menyetujuinya."


Aver terlihat sangat menentang keputusan Liyura, "Tidak bisa. Hidupmu tidak boleh terikat dengan siapapun."


Liyura menatap ke arahnya dan masih dengan mata merah darahnya itu, "Kenapa tidak? Aku tidak bisa melihat seorang pengikutku mati lagi seperti Vyone."


Saat Vyone merasa terpanggil dengan ucapan Liyura, tiba-tiba saja Vampir itu muncul.


"Sebenarnya Master, ada satu cara lagi untuk menyelamatkannya."


Kali ini mereka semua menatap Vyone, "Dengan menjadikannya Vampir sempurna, maka Kutukan Kesendirian akan menghilang seutuhnya. Dan jika Master tidak ingin dia meminum darah manusia, Master bisa membuat Kontrak Darah seperti yang kita lakukan."


Liyura menjadi dilema. Dia terlihat bingung untuk memilih salah satunya, namun gadis itu dengan cepat memilih karena tidak mau melihat Kenzie menderita lebih lama.


"Apapun itu akan kulalukan. Namun, hanya Kenzie sendirilah yang dapat memutuskannya."


Liyura melihat ke arah Kenzie yang terlihat juga menatapnya. Saat Liyura melihat ke arah Kenzie, tepat saat itulah Ryan tersadar membuat semua perhatian beralih padanya.


Arend terlihat menghela nafas saat melihat Ryan sadar. Ryan membuka matanya dan melihat ke arah Arend membuat Ryan memaksa tubuhnya untuk bangun.


Arend membantunya untuk bangun dan duduk dengan bersandar di dinding gua di belakangnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa kita di sini? Bukankah kita seharusnya telah masuk ke dalam Portal?"


Ryan melihat ke arah Liyura dan Erza serta Arend. Melihat ekspresi wajah mereka sama sekali tidak Ryan mengerti.


"Ryan, kita memang berhasil membuka dan masuk ke dalam Portal, namun kami semua tidak bisa bertahan dengan lama di dalam sana karena dimensi para Vampir adalah hal yang bertentangan dengan dimensi kami."


Arend dengan sabar menjelaskan agar Ryan mengerti. Sepertinya pemuda itu terlihat masih sakit karena tangannya terus memegangi lengannya secara tidak sadar.


Ini memang pertama kalinya namun saat Liyura melihatnya, tentu saja dia tahu benar kebiasaan Ryan yang tengah menahan sakitnya maka dia akan memegangi lengannya secara tidak sadar.


Liyura kemudian melihat ke arah Kenzie yang memejamkan matanya. Kenzie juga terlihat kesakitan karena 'Kutukan Kesendirian' yang ada pada tubuhnya.


"Ryan, sebenarnya kita tidak bisa mencari keberadaan para Jenderal dulu..."


Ryan melihat ke arah Arend yang tengah menatapnya dan menyuruh Ryan menatap ke arah Liyura dan Kenzie. Saat melihat keduanya, Ryan langsung mengerti.


"Baiklah. Apa yang terjadi pada mereka?"


"Buruk sekali. Kenzie terkena kutukan yang akan memperlambat kita untuk mencari keberadaan Jenderal. Dan alasan dia mendapatkan kutukan itu adalah bentuk dari pengorbanannya agar Portal Sihir terbuka."


Perkataan Arend selanjutnya membuat Ryan terkejut, "A-apa? Dia terkena kutukan karena berkorban untuk membuka Portal? Kupikir pengorbanannya adalah kita semua akan mengalami luka yang parah."


Ryan hanya diam setelah itu. Dia memaksa dirinya bangun dan berdiri, tapi saat kakinya akan berjalan, Ryan ambruk membuat Arend segera menangkapnya.


Arend memapah Ryan untuk berjalan. Luka dalam yang di alami pemuda itu juga tidak kalah parah seperti Kenzie. Ryan dengan tertatih-tatih memuju ke arah Liyura dan Kenzie.


"Maaf, Nona Liyura. Aku gagal untuk membuka Portal Sihir dan membiarkan semua orang terluka. Jika saja Ritual itu berhasil tanpa kita mengorbankan sesuatu, pasti tidak akan seperti ini..."


Ryan dengan sekejap menunduk seolah menyembunyikan ekspresinya. Liyura yang mendengar hal itu menatap Ryan dan memegang pundak kanan dan kirinya.


"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah berjuang dengan keras untuk mempelajari Sihir bersama Aver. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktumu untuk belajar hanya karena kesalahan kecil yang bukan salah siapapun ini. Semua orang, pasti bisa saja salah, Ryan, begitupun juga aku. Aku lah yang seharusnya di salahkan di sini."


Liyura hanya melepaskan tautan tangannya dan menatap Kenzie, "Aku akan melakukan 'Persatuan Jiwa' saja daripada harus membuat Kenzie menjadi Vampir sempurna seperti Vyone. Aku tidak butuh pengikut yang setia, tapi aku butuh pengikut yang juga dapat ku ajak berbicara dengan normal tanpa embel antara Tuan dan Bawahan atau Master dan Slave nya."


Liyura menunduk, dia juga tidak mau menunjukkan ekspresi wajahnya pada siapapun, "Aku hanya butuh pengikut yang rela berkorban dan dapat mengerti perasaanku selayaknya teman dan saudara. Meskipun aku anggap jika perasaanku telah hilang setengahnya sekalipun, aku masih seorang manusia, dan masih setara dengan manusia lainnya juga."


Mereka semua bungkam. Seakan perkataan Liyura adalah bentuk mengheningkan cipta.


"Untuk itulah, jika ada yang salah, maka itu adalah salahku sedari awal."

__ADS_1


Liyura mendongak saat merasakan tangan Kenzie menggenggamnya lagi. Diiringi Ryan yang terlihat ambruk dan duduk di samping Liyura dan Kenzie yang masih tertidur.


"Tidak ada yang bersalah di sini. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri jika memang nasib kita seperti ini. Dan tidak boleh ada yang menyesal dan membenci apa yang telah terjadi, karena sedari awal kita tidak akan tahu jika hasil dari perbuatan kita akan seperti ini. Untuk itulah, semua makhluk di ciptakan dengan logika agar kita dapat mengandai-andai kemungkinan yang akan terjadi."


Kenzie tersenyum meskipun tidak sempurna karena sakit yang di rasakannya di sekujur tubuh, "Liyura, jadikan aku Vampir saja. Aku tidak rela jika kamu menanggung sakit yang sama denganku. Lebih baik sampai akhir, hanya aku saja yang merasakannya."


Liyura terdiam. Lebih tepatnya dia tidak bisa menangis seperti saat di Real World, hati dan perasaannya benar-benar telah membeku hampir seutuhnya. Dia hampir kehilangan semua perasaan manusianya.


"Apakah yang seperti ini adil?"


Liyura bergumam namun semua yang ada di ruangan itu dapat mendengarnya. Bahkan Celine sekalipun yang memiliki indra yang sangat tajam. Sedangkan yang seperti Kei yang berada di dalam Goa bersama adiknya dan Naomi, adik Ryan sama sekali tidak mendengarnya.


"Apa yang seperti ini adil? Apakah tidak ada jalan keluar yang benar-benar logis kecuali dua pilihan saja saat ini?"


Secara tidak sadar, Liyura mengeluarkan air mata darah. Dan itu bukan Twilight, tapi bentuk dari segala kesedihan dan ke-frustasiannya saat mengalami semua hal yang pernah di alaminya. Dan kali ini adalah yang paling parah dari kenangan paling buruknya.


"Apakah seperti ini adil? Orang yang telah menderita, dan hanya merasakan bahagia sesaat saja lalu menderita lagi? Apakah tidak ada yang namanya keadilan bahkan di Mozart? Lalu, apakah kita memang lebih baik mati saja? Mungkin mati akan lebih baik daripada hidup dengan menelan semua jarum dan tertusuk oleh ribuan pedang?"


Liyura menatap mereka semua dengan tatapan yang amat menyayat hati. Air mata darahnya terlihat mengalir dengan mengerikan dari mata merah menyalanya yang sekarang malah terlihat berbinar dan menjadi rapuh.


Kenzie juga ikut terdiam. Sekarang dia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menenangkan Liyura. Apa yang harus di lakukannya untuk mengungkapkan pada gadis di depannya jika semua hal yang terjadi bukanlah salahnya?


"Liyura..."


"Kenzie, apakah semua yang terjadi ini adil? Tentang kejadian para Vampir yang merenggut kehidupan orang tidak bersalah hanya karena mereka menganggapnya sebagai makanan mereka. Dan apakah adil jika kita mengalami semua ini sedangkan para Vampir itu hanya bersenang-senang dengan merenggut nyawa tidak bersalah? Dan apakah ini semua adil bagi dirimu yang telah berjuang untuk kita tapi kau malah mendapatkan kutukan? Dan, Ryan apakah ini demua adil jika adikmu yang dulunya adalah manusia malah menjadi Vampir namun tidak bisa lagi menjadi manusia kembali? Lalu, Aver apakah adil jika aku nanti mati sebelum bertemu dengan ke-empat Tuanmu, Pendekar Pedang Kembar? Dan Ares serta Eden, apakah adil jika kalian tidak menemui seseorang yang ingin kalian temui melalui diriku padahal kalian telah mengharap-harapkannya..."


"Dan... apakah adil jika semua hal ini terjadi padaku? Tidak terhitung lagi nyawaku hampir saja menghilang hanya karena berbagai hal yang kualami. Aku... aku tidak bisa berhenti begitu saja dari posisiku sekarang saat aku memikirkan kalian. Aku tidak bisa menyerah, namun, ada sesuatu, sesuatu yang di luar kemampuanku untuk menanganinya."


"Tidak semua beban orang lain dapat kuangkat dengan bebas seperti mengangkat anak kecil, aku hanya ingin terlihat kuat saja, karena jika aku lemah, maka aku akan mudah untuk di manfaatkan dan terinjak."


Liyura akhirnya terdiam. Dia menunduk lagi dalam keheningan yang sesak. Sedangkan semua orang terlihat menahan nafas karena tidak berani merusak keheningan yang telah di ciptakan oleh gadis itu.


Kenzie juga kehilangan kata-kata, begitu juga dengan Arend dan Ryan. Apalagi Aver, Ares, dan Eden. Namun Eden tetap saja tertawa karena hal di depannya terlihat lucu, lebih tepatnya lucu sampai membuatnya menangis seolah ikut sedih dan berbagi perasaan dengan semuanya.


Tidak ada yang mau berbicara. Bahkan Erza terlihat tersenyum tipis dengan miris, sedangkan Celine ikut menangis dalam diam seolah hatinya tersayat saat mendengar perkataan Liyura.


Mereka semua secara tidak sadar telah mengingat hal yang bahkan hampir mereka lupakan sebelumnya hanya karena perjuangan dan pertarungan mereka sesaat.


****

__ADS_1


Untuk semuanya, Author merasa tidak menyesal karena hanya sedikit saja yang membaca karya Author. Author hanya memulis bukan untuk bersenang-senang namun untuk berbagi perasaan Author melalui cerita. Bagi kalian yang membaca tapi tidak merasakan suatu perasaan yang mengena, harap maafkan karena Author hanyalah penulis Amatir saja dan hanya belajar membuat kata-kata. Tapi Author membuat kata-kata bukan untuk mendeskripsikan tentang hal perasaan seperti cinta, namun suka duka kehidupan. Maaf juga jika genrenya melenceng dari genre Action dan Game.


__ADS_2