
Liyura melihatmya menjadi terkejut diiringi yang lain. Liyura melihat sekawanan para Vampir yang terlihat lebih tua umurnya dari gadis itu.
Liyura terlihat kesal karena kawanan Vampir itu lumayan banyak.
"Dimana kediaman Vampir Bulan?"
"Berani manusia ternak sepertimu menanyakan kediaman dari Tuan kami?!"
Salah satu Vampir menerjang maju ke arah Liyura membuat gadis itu segera menarik pedang dari sarungnya dan langsung menebas leher Vampir itu.
"Jika tidak mau menjawab, katakan saja daripada kalian membayarnya dengan nyawa."
Liyura melihat darah Vampir yang menetes di ujung pedang. Warna merah pekat kali ini yang terlihat dan bukannya warna darah yang pernah dilihatnya yaitu berwarna hitam.
"Jangan-jangan ini adalah penguluran waktu lagi? Katakan sekali lagi dimana kediaman Vampir Bulan atau kalian akan menerima akibatnya!"
Para Vampir menggeram marah pada Liyura, tapi mereka terlihat tetap diam. Ryan merasakan keanehan hingga dia menggunakan semacam mantra yang diajarkan Aver baru-baru ini hingga dia terkejut.
"Ternyata begitu... Nona Liyura! Mereka hanyalah ilusi! Kediaman Vampir Bulan sudah tidak bertempat di sini lagi. Karena itulah Vampir ilusi ini ada di hutan ini untuk mengelabui kita dan para Jenderal Wisteria sebagai pengalihan! Kita cari kediaman Vampir Bulan di luar hutan!"
Ryan berteriak keras membuat Liyura terkejut mendengarnya. Ryan terlihat kesal hingga dia merapalkan matra untuk membuat Vampir itu menghilang.
"Lux Magia - Eliminare!"
Para Vampir berteriak dan menjadi butiran cahaya Zayn dan Kei terlihat takjub dengan pemandangan di hadapan mereka. Sedangkan Liyura tidak terkejut sama sekali karena dia menganggapnya biasa saja.
Liyura menatap Ryan. Andaikan jika sistemnya masih berfungsi pasti dia akan tahu seperti apa status Ryan meskipun sedikit karena tanda tanya yang selalu ada di jendela status.
Liyura juga cukup penasaran berapa banyak Mana yang dimiliki Ryan sekarang? Dia sedari kemarin menggunakan sihirnya terus-menerus tanpa henti dan terlihat tidak kelelahan.
Liyura akhirnya mengedarkan pandangan ke arah lain dan mengkode ketiganya untuk melanjutkan perjalanan menuju keluar hutan lagi.
Ryan mengangguk dan menggunakan sihir pencariannya lagi seperti sebelumnya. Zayn dan Kei terlihat menatap sekitar untuk mengantisipasi serangan musuh.
Liyura menatap ke arah Ryan yang ada di depan mereka sebagai pemandu jalan, karena hanya dialah yang tahu dimana jalan keluarnya.
***
__ADS_1
Satu jam telah berlalu, Liyura kelama-lamaan menjadi bosan karena mereka seperti berputar-putar di sekeliling hutan saja sedari tadi.
"Apa harus kupanggil Aver lagi? Dia pasti tahu akan sesuatu."
Ryan berhenti berjalan. Dia melihat jalan yang ada di depan kali ini adalah jalan buntu. Yah, jalan yang ditutupi oleh bukit.
Ryan akhirnya mengehela nafas, "Entah siapa yang membantu Vampir Bulan ini dengan sihir, tapi dia sangat jenius dan pintar, saat kita dikelabui oleh Vampir ilusi, dia juga membuat ilusi lagi di hutan ini untuk mengelabui kita kembali, dan karena sepertinya dia juga tahu kemampuanku, dia menghilangkan jejak sihir yang ada padanya hingga mungkin guru Aver sekalipun juga mustahil menemukannya. Aku sangat salut padanya, darimana dia mempelajari hal seperti ini?"
"Jika itu mungkin, pasti dia adalah salah satu Ras tetentu seperti Penyihir atau juga bisa Elf seperti yang pernah diajarkan guru Aver."
Liyura menjadi sedikit pusing, jika mengenai hal tentang sihir, dia tidak begitu paham hingga penjelasan dari Ryan tidak dapat dimengerti olehnya sama sekali.
Zayn dan Kei terlihat menggaruk kepala mereka yang tidak gatal karena mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ryan. Seakan mungkin anak itu menjadi orang lain.
"Yosh, sepertinya aku dapat tahu keberadaan mereka dengan cara membuat persembahan di Altar Sihir. Ini memang yang pertama bagiku tapi ini mungkin berhasil karena pengorbanan adalah bentuk jika kita menyerah dan mengakui bahwa kita ini lemah dihadapan-Nya. Kalian setuju?"
"Altar persembahan? Maksudmu, Ryan?"
Liyura tidak mengerti apa yang diakatakan pemuda itu. Ryan menghela nafas, "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus cepat melakukannya sebelum kita semakin terjebak dalam ilusi."
Ryan mengambil ranting kayu di tanah dan menggambar sesuatu hingga membentuk sebuah pola sihir yang dinamakan Pentagram.
Setelah Ryan selesai membuatnya, Pentagram itu bercahaya merah dengan Ryan merapalkan mantra aneh.
"Noster, Velimus Vobis Vicem Tibi Aliquid Mali tramite Superandae.....!"
Mantra itu terus diucapkan berkali-kali oleh Ryan hingga Pentagram bercahaya kembali dan kali ini lebih terang, hingga Ryan menyuruh Liyura mendekat.
"Nona Liyura, maaf aku harus mengatakan ini, sebagai persembahannya, seseorang menginginkan darahmu, kita tidak punya waktu jadi kumohon berikan setitik darahmu untuk persembahan! Kumohon lakukanlah karena kita tidak punya jalan lain!"
Liyura terlihat menelan salivanya, dia terlihat takut tapi dia menyembunyikannya, Liyura menghampiri Pentagram dan segera melukai tangannya, dia meneteskan darah itu hingga saat darahnya menyentuh ke Pentagram, semuanya meledak membuat mereka menutup mata.
***
Mereka seperti terlempar di ruang mesin waktu dan dikeluarkan begitu saja dengan begitu cepat dari kegelapan yang tidak berdasar.
__ADS_1
Saat membuka mata, mereka telah melihat jika mereka ada di luar hutan karena mereka melihat pedesaan dan rumah-rumah dari warga, dan hari itu juga sudah menunjukkan telah malam hari.
"Hah! Untung saja! Jika Nona tidak cepat tadi, kita bisa dilahap oleh Pentagram itu sendiri. Hah! Aku sangat takut..."
Ryan terjatuh terduduk begitu saja di tanah yang tidak gersang lagi seperti di hutan yang mereka injak dari kemarin.
"Hah, tapi kenapa darahku yang dipersembahkan?"
"Itu karena, Seseorang yang ingin kita untuk ditolong, menginginkan darahmu. Jadi sebagai gantinya, kita dapat keluar dari hutan itu."
Ryan melihat ke arah Zayn dan Kei yang terlihat muntah darah. Ryan menghela nafas.
"Kupikir kau akan sembuh Zayn karena telah melewati portal pertamamu, ternyata tidak ya. Dan untuk Kei maafkan aku."
"Tunggu Ryan, kenapa kita tidak pakai portal saja untuk keluar?"
"Tidak, tidak bisa. Karena di hutan itu ada ilusi, kita mungkin jika menggunakan portal, saat keluar tubuh kita akan hancur karena eksistensi portal dan ilusi tidak sama. Bagaimana ya menyederhanakannya, pokoknya seperti itu. Lebih baik menggunakan portal dari bantuan Altar persembahan."
"Jadi, Aver dan yang lainnya selama ini mengajarimu seperti ini?"
Ryan mengangguk, "Aku sama sekali tidak merasa takut akan diriku yang mempunyai kedua sihir bersamaan dalam diriku yaitu Sihir Cahaya dan Sihir Kegelapan. Karena yang terpenting adalah jika aku bisa menggunakan dengan baik kekuatanku, maka kekuatan tersebut tentu dapat kukendalikan seperti tadi."
Liyura hanya mengagguk karena tidak punya pilihan. Yah, jika pelajaran mengenai sihir dia tidak terlalu mengerti. Jadi dia hanya setuju saja dengan perkataan Ryan tanpa pikir panjang.
"Uhuk...Uhuk!!"
Zayn dan Kei terlihat buruk karena selalu muntah darah akibat menerima risiko dari melewati portal tadi.
Wajah mereka menjadi pucat seketika membuat Liyura merasakan khawatir. Dia langsung memasukkan keduanya yang terlihat sekarat ke dalam Dunia Segel Magic Forest.
"Dan sekarang bagaimana? Karena kita sudah di luar, pasti akan mudah bagimu Ryan untuk mencari mereka."
Ryan mengangguk, dia mengehela nafas kemudian dan berkata, "Hah...tapi kita istirahat dulu lagipula ini juga sudah malam. Aku yakin mereka tidak jauh dari sini. Mungkin kita bisa memberikan informasi ini pada siapa itu katanya Zayn? Yang pasti adalah para Jenderal."
"Ohh Jenderal Wisteria maksudmu? Baik, ok, kalau begitu kita istirahat dulu."
Mereka berjalan menuju Lembah Wisteria untuk menemui para Jenderal Wisteria di malam itu.
__ADS_1