
Sore hari tiba dengan cepat kembali seperti kemarin. Tidak ada yang berbeda dari hari ini dan kemarin.
Untuk pertama kalinya bagi Liyura yang selalu aktif melakukan sesuatu menjadi malas mengerjakan sesuatu.
Dia hanya membaca dan juga berjalan-jalan di sekitar taman yang di penuhi Bunga Wisteria. Liyura terduduk di kursi dekat jendela sambil melihat matahari tenggelam di barat.
Tidak tahu apakah matahari itu asli atau palsu karena dunia ini hanyalah dunia buatan. Dan lagi Liyura menjadi rindu dengan hiruk-pikuk kota ketika dia merasakan ketenangan di sini.
"Kenapa kau jadi galau begitu? Bagaimana jika kau berkunjung ke Magic Forest? Kau tidak perlu kesepian lagi Liyura karena aku berjanji akan banyak hal yang akan terjadi padamu kedepannya."
Setidaknya meskipun Liyura sendiri, dia selalu di temani oleh Aver maupun Ares dan Eden. Mereka adalah pengikutnya mulai sekarang.
Liyura jadi memikirkan soal 4 Pendekar Kembar yang di ceritakan Aver. Dia merasa jika dia merasakan firasat yang aneh mengenai ini.
Liyura menghela nafas dan akhirnya menidurkan dirinya di tempat tidur yang empuk dan nyaman untuk di tiduri.
Liyura menutup mata dan memikirkan untuk ke Magic Forest. Saat Liyura menutup mata, dia bagaikan tersedot oleh lubang hitam dan masuk ke dunia yang berbeda.
Kali ini dia membuka kedua mata indahnya membuat bola mata berwarna hijau cerah terlihat.
Liyura mengedarkan ke arah sekitar dan melihat berbagai macam Magic Animal ada di sekitarnya sedang menunduk hormat padanya.
Ada yang bersiaga untuk mengantarkan Liyura ke arah goa tempat tinggal Aver dan yang lainnya.
Liyura hanya mengiyakan dan akhirnya dia menunggangi seekor Kuda Poni bersurai putih, bulunya sangat halus saat di sentuh oleh kulit tangan Liyura.
Kuda Poni itu membawa Liyura ke arah sebuah goa dan ketika sampai barulah kuda Poni itu menurunkan Liyura.
Liyura tersenyum dan mengelus dengan lembut surai putih yang di miliki seekor Kuda Poni. Dia akhirnya masuk ke dalam mulut goa setelah Kuda Poni itu pergi.
Kali ini Liyura tidak melihat ajang latihan antara Aver dan Ryan yang biasanya berlatih pedang di halaman depan mulut goa yang menimbulkan suara yang amat berisik.
Saat Liyura masuk, pandangannya di sambut oleh keramaian yang ada di dalam. Liyura menjadi menghela nafas dan menghampiri para pengikutnya.
Liyura melihat jika yang mengajari Ryan sekarang adalah Ares. Dia mengajarkan sebuah sihir pada Ryan yang tentunya pemuda itu tidaklah mengerti.
Sedangkan Aver dan Eden berada dalam posisi hening. Eden yang biasanya bertengkar dengan Ares menjadi bosan karena Ares sedang dalam mengajari Ryan.
Dan Aver terlihat membaca sebuah buku tua kuno, bahkan Liyura dapat melihat lembarannya sudah menguning karena termakan usia dari jarak yang lumayan jauh dari posisi pria setengah baya itu.
Liyura akhirnya menghampiri Naomi yang tertidur dengan lelapnya dan tetap pada posisi ketika dia meninggalkan Magic Forest.
"Kau sudah datang rupanya."
Aver melihat ke arah Liyura sambil menutup buku yang ada di tangannya. Dia menghampiri gadis itu dan ikut melihat Naomi yang tertidur.
"Gadis Vampir itu sudah tertidur sejak dia ada di sini dan tidak pernah bangun. Sepertinya dia tidur untuk memulihkan kekuatannya karena dia tidak menghisap darah manusia sejak dia menjadi Vampir. Karena itulah aku memberikannya sebuah ilusi pada mimpinya untuk melindungi manusia dan agar dia tidak menghisap darah kakaknya sendiri."
Liyura mengangguk, "Terima kasih, Aver. Aku berjanji akan mengembalikan Naomi menjadi manusia kembali."
Aver hanya mengangguk mengiyakan dan kembali ke tempatnya semula dan membuka bukunya lagi, melanjutkan membaca.
Sedangkan Liyura hanya ikut duduk di dekat Aver maupun Eden. Dia melihat dengan teliti apa yang di lakukan oleh Ryan yang pastinya sedang belajar sihir dari Ares.
Tapi apa yang di ajarkan Ares membuat Liyura terkejut. Ares mengajarinya Sihir Kegelapan. Sedangkan pemuda polos itu yang tidak mengerti hanya mengikuti perintah Ares dengan taat.
Liyura akhirnya menghampiri mereka, "Ares, kau tidak salah mengajari Ryan dengan sihir Kegelapan?"
Setelah mendengar perkataan Liyura, Ryan menjadi terkejut hingga aliran sihir yang di pelajarinya menjadi tidak beraturan dan meledak tiba-tiba.
__ADS_1
Ruangan itu di penuhi asap berwarna hitam tebal membuat Ryan terbatuk-batuk karena asap itu. Entah sihir apa yang di pelajarinya tapi Liyura menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pengajaran yang diberikan oleh Ares.
"Sihir Kegelapan? Guru mengajariku sihir Kegelapan?"
Ryan menjadi gemetar membayangkannya, dia melihat ke arah telapak tangannya dan melihat ke arah Ares dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Yah, baiklah, tapi aku mengajarkan Sihir Kegelapan dan juga Sihir Cahaya padamu secara bersamaan agar sihir itu seimbang. Kau itu memiliki sesuatu yang spesial, Ryan. Aku mengajarimu sesuatu bukanlah tanpa alasan yang jelas apalagi mencelakakanmu."
"Aku memiliki sesuatu yang istimewa?"
Liyura yang sedari tadi diam menjadi berpikir keras saat mendengar perkataan Ares. Liyura akhirnya tersenyum dan menatap Ryan sekali lagi.
'Aku tidak sia-sia menjadikannya pengikutku.'
Liyura akhirnya menghampiri Ares saat asap hitam telah hilang diterpa angin. Liyura menepuk pundaknya membuat Ryan refleks menoleh.
"Berlatihlah dengan keras. Aku tidak tahu bagaimana cara adikmu kembali menjadi manusia tapi aku akan mengusahakannya, aku akan melawan seorang Vampir bernama Nuzan dan kau mungkin dapat ikut denganku jika kau ingin melihat dunia luar. Lagipula di sini sudah berjalan sekitar 3 bulan, sedangkan di luar masih 3 hari."
Ryan menatap Liyura dan akhirnya mengangguk, dia menatap Ares dan menunduk hormat.
"Terima kasih Guru karena telah mengajariku, mohon Guru lanjutkan mengajariku apa saja dan murid ini tidak akan membantah apapun yang guru ajarkan."
Ares terlihat tersenyum dan memegang kedua pundah Ryan untuk membuatnya berdiri tegak.
"Aku hanya mengikuti kata-kata gadis itu. Lagipula bukan cuma aku yang menjadi Gurumu. Dan yah, baiklah ayo kita lanjutkan latihannya."
Ares melihat ke arah Liyura dengan pandangan yang sulit di artikan dan berkata, "Kali ini kau jangan mengganggu."
Perkataannya membuat Liyura kesal dan jengkel, bahkan gadis itu tidak takut dengan aura yang di keluarkan oleh Ares yang bahkan membuat Ryan sedikit gemetar.
"Baiklah, kalian bisa lanjutkan sesuka hati, aku serahkan Ryan padamu, Ares. Terima kasih telah mengajarinya."
Liyura akhirnya berjalan ke arah tempat duduk di dalam goa di dekat posisi Aver dan Eden yang dalam kesibukannya masing-masing.
Liyura yang merasa bosan segera berbincang dengan Aver membuat Raja Undead itu sekali lagi menghentikan aktivitas membacanya.
"Aver, aku ingin bicara padamu mengenai 4 Pendekar Pedang Kembar."
Aver melirik Liyura dan mengangguk mengiyakan.
"Katakan saja, lagipula aku tahu hal ini wajar padamu jika kau menanyakannya, karena aku tahu kau pasti penasaran dengan mereka."
"Sebenarnya siapa mereka itu? Dan sekuat apa?"
Perkataan Liyura membuat suasana tiba-tiba menjadi sunyi dan terlihat mencekam.
"Mereka adalah seorang yang sangat agung dan kuat. Bagiku, mereka adalah seseorang yang sangat aku kagumi, padahal usia mereka tidaklah berbeda denganmu. Dan mereka mempunyai kedudukan yang akan membuatmu terkejut."
Hening sejenak, dan Aver melanjutkan.
"Aku tidak bisa mengatakan hal yang banyak tentang mereka karena itu akan melanggar janjiku. Setidaknya kau sudah mengumpulkan dua diantara dua pecahan dari 4 Pedang Kembar. Kesimpulannya, kau jangan sampai menyinggung mereka sedikitpun karena mereka memiliki banyak sekali sebutan yang tidak enak karena mereka selalu berperang."
"Begitu, ya. Aku jadi semakin penasaran. Sesungguhnya aku ingin sekali mencari dua pecahan lainnya jika itu bisa membuatku menjadi kuat dan mempunyai banyak pengikut. Dan Aver, Bagaimana caranya aku menemui 4 Pendekar Kembar ini?"
"Mereka selalu ada bersamamu jika kau mempunyai keempat pecahan. "
Liyura terlihat berpikir dan terkejut, "Maksudmu mereka tersegel di dalam sebuah senjata seperti pedang emas yang kupunya?! Dan bisa di bilang roh yang menghuni keempat pedang adalah salah satu dari empat pendekar itu sendiri?!"
Aver terlihat terkejut sesaat karena perkataan Liyura yang tepat sasaran. Aver menghela nafas dan segera menggangguk.
__ADS_1
"Kau bisa menganggapnya begitu."
Liyura terlihat membulatkan mata, Aver melihat mata hijau sehijau zamrud itu terlihat berbinar memancarkan sesuatu yang tidak lazim.
"Yosh, baiklah, setidaknya aku punya tujuan untuk ada di sini. Aku janji akan mempertemukan kalian dengan 4 pendekar ini."
Liyura tersenyum, dan dia kemudian melihat ke arah Aver lagi.
"Oh ya Aver, kenapa aku merasa aneh ya? Kita seakan ada di tempat yang berbeda dari tadi."
Aver mengernyit mendengarkan perkataan Liyura, "Kau tidak tahu?"
Liyura terlihat memiringkan kepalanya dan menggeleng polos.
"Kita memang seperti berpindah tempat, kita sekarang ada di tempat ke-2 atau lantai ke-2 di Mozart ini."
Liyura terkejut hingga berdiri membuat semua orang yang ada di dalam goa melihat ke arahnya.
"Tunggu dulu! Kita sudah ada di tempat ke-2 di Mozart?! Kapan?!"
Aver kali ini menghela nafas, dia merasa manusia itu aneh karena memiliki banyak ekspresi bahkan mungkin melebihi bintang di langit.
"Kita ada di lantai ke-2 sejak kau menolong pemuda itu."
Liyura terlihat mengerjapkan mata, dia memikirkan sesuatu yaitu kenapa System Alpha tidak memberitahunya?
Padahal jika dia memasuki Dungeon sekalipun System Alpha akan setia memberikan dia informasi tentang dirinya berada.
"Tunggu dulu Aver! Kenapa bisa aku ada di lantai ke-2?"
"Kau 'kan sudah mengalahkan Boss Monster. Jadi tentu saja kau ada di lantai ke-2 sekarang. Apa kau tidak tahu?"
Liyura menggeleng sekali lagi. Ini rumit, Liyura memang merasakan keanehan sejak dia menolong Ryan.
"Bagimana dengan yang lainnya? Dan Guild Black Knight atau Sebuah Party yang ikut menmbantai Boss Monster?!"
"Tentu saja mereka masih ada di lantai pertama. Yang mengalahkan Boss Monster itu 'kan kau. Jadi mereka harus menyerang Boss Monster itu lagi."
"Tunggu dulu! Kenapa hal ini bisa terjadi?"
"Ck! Liyura, kau yang mengalahkan Boss Monster itu dan karena kau tidak terikat sebagai anggota Guild maupun Party jadi kau seorang dirilah yang berada di lantai ke-2."
"Maksudmu hanya aku yang ada di lantai kedua ini?"
"Kenapa kau menanyakan itu padaku! Aku hanyalah Undead penjaga Nagic Forest dan bukan penjaga seluruh Mozart. Jadi aku tidak tahu siapapun yang naik ke lantai ke-2 selain dirimu."
Hening sesaat. Liyura akhirnya memikirkan semua hal yang terjadi tentang keanehan yang menimpanya.
Hilangnya System Alpha apakah itu adalah semacam Bug atau ke'eror'an dari sistem permainan ini dan mungkin apakah itu adalah suatu hal lain?
Rasanya aneh juga jika dirinya tidak memiliki kesulitan yang cukup akhir-akhir ini menjalani berbagai misi tingkat A maupun S. Dan apakah itu hanyalah sebuah kebetulan??
Dan lagi tambahan dari semua keanehannya, dia tidak bisa membaca detail status seseorang maupun Evolnya. Bahkan dirinya saat ini seakan kehilangan System Alpha di lihat dia tidak bisa melihat status orang lain seperti Rachel dan beberapa yang lainnya sejak dia ada di latai ke-2.
Ada apa sebenarnya ini???
***
Woah, semakin rumit yah ceritanya, bagi yang telah membaca novel ini dengan setia, Arigatou.
__ADS_1
Terima akasih juga untuk yang mendukung cerita Author.
Oh ya tunggu dulu, ada yang kelupaan nih tentang satu kehadiran di Magic Forest??? Ayo tebak siapa**~~