
Ryan terlihat sedang berada di tempat tidurnya, dia menatap langit-langit kamar. Tidak beberapa lama dia bangun dari tempat tidur dan terlihat keluar kamar.
"Hah, sangat sulit untuk memata-matai Nona Rachel. Aku merasakan firasat jika kita akan menghadapi masalah besar. Aku harap aku, Zayn, dan Nona Liyura dapat mengatasinya. Masalah Vampir ini mungkin akan sulit untuk di selesaikan."
Ryan berbicara sendiri sambil berjalan, dia kemudian bertemu dengan Celine yang juga berjalan dengannya ke arah yang sama.
"Kau mau ke Aula?"
Ryan menatap Celine dengan pandangan tajam, Celine tidak takut dengan tatapan itu tapi dia memiringkan kepalanya.
"Ya, aku akan ke sana untuk melaksanakan ujian keempat."
Celine dan Ryan nerjalan beriringan tapi sesekali Celine terlihat tertinggal karena langkah Ryan yang lebar dan lebih cepat darinya.
Tinggi mereka saja berbeda, Celine saat melihat Ryan haruslah mendongak, meskipun mereka sama-sama baru berusia 13 tahun, tapi perbedaan tinggi mereka tidak sama.
Mereka berjalan tanpa adanya suara, mereka sama-sama tenggelelam dalam pikiran masing-masing hingga tidak menyadari jika mereka telah sampai di Aula.
Mereka melihat Rachel yang sedang berbincang dengan Sena. Ryan tidak melihat Liyura membuat pemuda itu beranggapan jika Liyura ada di kamarnya.
"Oh kalian akhirnya datang, kali ini yang akan menjadi pengawas kalian adalah kami berdua. Kami akan menunjukkan dimana kalian akan memilih Dobutsu sebagai ujian terakhir kalian."
Rachel berkata dengan senyuman lebarnya seperti biasa membuat Ryan terlihat bosan dengan ekspresinya.
Sena dan Rachel menunjukkan jalan menuju Hutan yang masuk melalui sebuah pintu. Sepertinya Hutan ini hanyalah simulasi untuk para Dobutsu menyukai tempat ini seperti tempat tinggalnya.
Rachel dan Sena menutup pintu masuk agar tidak ada Dobutsu atau binatang yang keluar.
"Nah kalian bisa mulai. Sebelum itu kami akan memberikan informasi peraturan di tempat ini."
kata Rachel yang berucap dengan senyum di wajahnya.
"Yang pertama, peraturannya tidak akan sama lagi seperti ujian ketiga. Kali ini binatang yang ada di sinilah yang akan memilih kalian sebagai tuannya. Caranya adalah kalian harus mengalahkan binatang yang kalian pilih."
"Yang kedua, setelah kalian berhasil mengalahkan Dobutsu maka kalian akan mengunakan kontrak darah di kertas yang akan kami berikan."
__ADS_1
Sena terlihat memberikan dua kertas putih kosong yang terlihat bersih dan polos. Mereka menyentuh kertas itu dan melipatnya lalu memasukkannya dalam saku masing-masing.
"Kalian bisa bertarung di sini sampai kapanpun. Tidak ada yang akan melarang kalian menggunakan apapun asalkan kalian tidak merusak properti. Kalian sudah pasti tahu 'kan jika ini adalah simulasi dan bukanlah hutan sungguhan. Jadi kami harap kalian menyelesaikannya dengan baik."
Rachel terlihat tersenyum lagi dan menarik Sena untuk keluar melalui pintu masuk tadi.
"Saat kalian lulus, kalian akan otomatis keluar bersama Dobutsu kalian."
Mereka pun meninggalkan Ryan dan Celine di dalam. Ryan menghela nafas tapi dia segera menjelajahi hutan.
"Kita akan berpisah di sini. Kuharap kau juga lulus nanti..."
Ryan terlihat tersenyum miring ke arah Celine membuat Celine hanya mengangguk menjawab ucapannya.
Setelah melihat jawaban Celine, Ryan tidak menunggu lama lagi langsung berlari ke arah timur sedangkan Celine ke arah barat.
Ryan terlihat sangat kesusahan memilih Dobutsu yang akan bertarung dengannya. Karena ini tidak ada pembatasan waktu jadi dia hanya berjalan-jalan dengan santai.
Banyak sekali Dobutsu di sini. Dan juga ada macam jenis Dobutsu yang hampir sama dengan Magic Animal. Tapi jika di bandingkan, Magic Animal terlihat lebih kuat di bandingkan Dobustu yang ada di sekitarnya.
Ryan terlihat berpikir tentang hal tersebut membuatnya bingung dengan pilihannya. Ryan melihat di saku terdapat kertas untuk mengontrak darah dengan Dobutsu.
"Roaarrrr!!!
Ryan di kejutkan dengan auman Singa yang melengking di sekitar hutan yang palsu akan tetapi terlihat asli ini.
Ryan mengikuti insting dan naluri nya untuk pergi ke tempat tersebut. Ryan menatap Katana berwarna hitam pekat yang di dapatkannya, dia teringat dengan Pedang Bulan Sabit yang biasanya menemaninya dan menjadi Partnernya bertarung.
Ini pertama kalinya Ryan menyerang dengan pedang itu. Ryan terlihat melihat dari semak-semak sekitar sebagai kamuflasenya.
"Rooaaarrrr!!"
Ryan mendengar auman yang lebih melengking daripada yang tadi membuatnya yakin jika dirinya sudah ada di dekat Singa itu berada.
"Apakah Singa akan cocok jadi Dobutsu ku? Aku takut dia tidak akan akrab dengan Evol milik Nona Liyura."
__ADS_1
Ryan berjalan di semak-semak yang tinggi yang dapat menghilangkan jejaknya dengan berkamuflase.
Ryan berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara. Saat Ryan berada di ujung semak-semak, dia mengintip sedikit untuk melihat keadaan sekitar.
"Sungguh menarik, ternyata Singa itu sedang bertarung dengan Serigala. Mereka sepertinya memperebutkan wilayah?"
Ryan terlihat menonton pertarungan itu yang menjadi hiburan tersendiri baginya. Ryan berpikir jika dirinya akan memilih salah satu dari mereka sebagai Dobutsu nya jika salah satunya menang.
"Tidak buruk siapapun pilahanku diantara keduanya, mereka sama-sama kuat. Bahkan pertarungan mereka membuat sekelilingnya bergetar sampai Dobutsu lain terlihat takut dan menjauhi area pertarungan agar mereka tidak terkena dampaknya. Sangat menarik."
Ryan terus memantau dengan baik setiap serangan dari Singa tersebut pada Serigala yang tidak mau kalah itu.
Mereka sama-sama tidak mau menyerah untuk menyerahkan apa yang mereka miliki. Mereka sama-sama menunjukkan keuatan mereka masing-masing sebagai Raja Hutan sesungguhnya.
Ryan terlihat berdecak kagum dengan semua aksi yang dilancarkan oleh dua Dobutsu itu. Sangat berhati-hati akan tetapi mematikan.
Mereka sama-sama mengaum membuat hutan serasa berguncang dengan suara auman mereka. Bahkan Ryan yang melihatnya dari jauh sampai menutup kedua telinganya agar dia tidak mendengar gelombang suara dahsyat itu.
Ryan berbinar dengan pertarungan itu seakan Ia tidak sabar dengan pertarungannya sendiri. Ryan terlihat sangat menantikan pertarungannya menghadapi Dobutsu yang kuat seperti mereka.
Pertangan dua Dobutsu itu berlangsung cukup lama membuat Ryan menjadi bosan sendiri.
Tapi ketika melihat mereka, Ryan terkejut karena Singa itu bisa kalah dari Serigala. Singa itu terluka parah di bagian punggungnya akibat cakaran yang digunakan oleh Serigala itu.
Sedangkan Serigala itu masih belum terluka tapi di tubuhnya juga ada semacam luka namun tidak separah yang dimiliki oleh Singa.
Ryan tidak menyangka akan hal itu. Tidak lama, Singa itu tidak bisa bertahan lama membuatnya langsung terpojok dan Singa itu melarikan diri.
Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Ryan kaget, Serigala itu menerkam Singa dengan taringnya dan meremukkan tulang Singa itu hingga bunyinya sampai terdengar di telinga Ryan dengan diiringi auman pilu dan kesakitan dari Singa tersebut.
Ryan ber'wow' sambil berdecak kagum, entah kenapa mungkin perasaan manusiawinya sedikit demi sedikit menjadi hilang saat dia melihat darah dan pertempuran.
Ryan sama sekali tidak merasa iba, empati, dan terlihat kasihan dengan Singa yang ada di hadapannya yang terdengar kesakitan dengan mengaum keras.
Ryan menghela nafas dan menghampiri mereka. Melihat seorang anak manusia, mereka jadi lebih waspada, bahkan si Serigala segera melepaskan tautan taringnya yang melukai sang Singa.
__ADS_1
"Aku ingin bertarung denganmu, Serigala! Aku sudah memutuskan kau untuk menjadi Dobutsu ku!"