
Suasana hari itu terisi dengan bebagai ekspresi saat mereka bersama-sama berbincang mengenai masa lalu mereka.
Masa lalu adalah suatu kenangan seseorang di masa lampau, masa lalu mengisahkan kita tentang sebuah arti hidup yang sebenarnya. Meskipun masa lalu kita sangat kelam dan membuat kita tidak mau mengingatnya.
Masa lalu adalah masa-masa sebelum kita menjadi yang sekarang. Masa lalu sangatlah berharga, karena tidak dapat diputar kembali seperti sebuah Film yang selalu kita tonton.
Masa lalu selalu membuat kita mengenang segala hal pahit, menyenangkan, sedih, dan berbagai macam ekspresi.
Seseorang yang membenci masa lalunya adalah seseorang yang tidak pernah bersyukur. Sebenci-benci apapun kita pada masa lalu, bukankah hal itu sudah berlalu?
Angin bertiup ke arah yang berlawanan dengan tempat mereka sekarang. Liyura terlihat merasa tenang dengan keadaan sekarang ini karena beban di pundaknya seakan menghilang begitu saja.
Dia menatap ketiga anak itu, yang sedang berbincang ria dengan sesama lainnya. Tapi, yang mereka bicarakan hanya masa lalu kelam mereka.
Dan kali ini mungkin mereka akan bergiliran menceritakan masa lalu mereka sendiri. Lebih tepatnya hal yang mereka lakukan sebelum saling mengenal seperti sekarang.
"Dan yah, Ryan, bagaimana ceritanya sampai adikmu, Naomi berubah menjadi Vampir?"
Perkataan Zayn seakan membuat semangat dan senyum di bibir Ryan menjadi luntur. Ryan terlihat berekspresi muram karena mengingat hal yang terjadi padanya beberapa waktu yang lalu.
"Ahh, jika kau tidak mau menceritakannya tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja sih, tolong jangan terlalu dipikirkan jika kau tidak mau mengingatnya, kau tidak usah---"
"Dulu, ketika aku dan keluargaku masih ada. Kami semua hidup dengan tentram..."
Perkataan Zayn terpotong begitu saja dengan cerita yang mengalir dari mulut Ryan sendiri. Kei yang merasa tertarik segera mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman dengan posisi bersila dan mendekatkan dirinya ke arah Ryan.
"...Saat itu adalah hari yang membahagiakan. Ayahku memang sudah tiada saat aku belum lahir dan masih di kandungan ibuku, tapi aku sama sekali tidak mengeluh akan hal itu, meskipun aku terkadang iri dengan teman-temanku yang punya keluarga yang lengkap."
"Meskipun begitu, aku juga tidak patah semangat dalam menjalani hidupku. Aku dan Naomi adalah adik dan kakak yang akan selalu bersama sampai akhir, tidak peduli rintangan yang menghalangi. Aku punya 3 bersaudara dengan aku sebagai anak sulung."
"Aku punya 2 adik yang harus aku nafkahi agar mereka bisa makan dengan enak setiap harinya. Aku dan ibu bekerja di pagi sampai sore hari kala itu. Tapi, aku tahu ibu mulai sakit-sakitan hingga akhirnya dia terbaring sakit. Dan, hanya akulah yang bekerja sebagai tulang punggung keluarga. Kala itu, aku setidaknya berumur 13 tahun dan sekarang umurku masih tetap sama. Ketika aku bekerja di kota, di rumah, Naomi dan kedua adikku akan mengurus ibu sampai aku datang ketika petang."
"Tapi hari itu adalah hari yang sangat sial bagi keluargaku. Saat itu, aku pulang dengan tertatih-tatih menuju rumah yang ada di kaki gunung. Saat itu, hanya rumahku lah yang ada di sana, lebih tepatnya aku tidak memiliki tetangga. Paman Sero, dia memiliki firasat aneh. Dan yah dia adalah orang yang selalu baik padaku setiap aku bekerja. Dia kala itu menyuruhku untuk bermalam di rumahnya karena saat itu aku tidak menyadari jika hari telah malam."
__ADS_1
"Dan malam itu, aku menanyakan alasannya. Dia bilang jika di sekitar kota telah tersebar rumor beberapa orang yang menghilang dan ditemukan dengan tubuh yang kerempeng seperti darahnya di hisap oleh sesuatu. Dan Paman Sero bilang yang melakukan hal tersebut adalah seorang Vampir. Kalian tahu apa yang kupikirkan?"
Zayn dan Kei menatap dengan bingung, "Memangnya kau berpikir apa?" Tanya Zayn dengan bingung.
"Tentu saja aku tidak percaya hal itu! Mana ada di dunia ini ada Vampir? Vampir yang biasanya hanya terdengar di dongeng. Aku 'kan sungguh tidak akan pernah percaya dengan takhayul, apalagi tentang hantu."
"Dan hari itu akhirnya aku bermalam di rumah Paman Sero karena dia memaksaku. Dan setelah keesokan harinya, Paman Sero mengizinkanku pulang tapi berpesan padaku untuk berhati-hati. Aku hanya mengiyakan dan akhirnya pulang."
"Dan setelah aku sampai di rumah, aku mencium bau darah yang menyengat dari dalam rumahku. Aku terkejut saat itu dan akhirnya sesuatu di dalamnya membuatku marah dan syok."
"Jangan-jangan itulah alasan kenapa Naomi menjadi Vampir?"
Zayn terlihat empati mendengar cerita Ryan. Dia merasa ikut sedih mendengarnya, karena dia juga memiliki kenangan kelam yang juga berhubungan dengan Vampir.
Ryan mengangguk dan menunduk, "Aku melihat di dalam rumah sudah bukan seperti rumah lagi. Aku melihat adik-adik dan ibuku sudah dibunuh dengan tragis."
Ryan berekspresi ingin menangis tapi dia tetap menahannya.
"Aku menangis setelah melihatnya. Dan saat itulah aku melihat di setiap leher mereka terdapat dua titik seperti darah mereka dihisap oleh sesuatu."
"Luka yang di alaminya sangat serius, tapi tidak separah luka yang dimiliki oleh ibu dan adikku. Aku menggendongnya di punggung dan langsung berlari cepat di antara salju yang mulai turun. Aku menangis di setiap jalan, seakan aku mengatakan pada diriku sendiri jika itu adalah mimpi dan aku akan terbangun saat itu juga."
"Tapi, saat itulah aku menyadari bahwa semua yang ku alami saat itu adalah nyata. Aku merasakan Naomi menggeram membuat jalanku oleng dan hampir terjatuh ke jurang jika seandainya aku tidak menurunkannya dengan segera."
"Naomi saat itu berperilaku aneh hingga dia menyerangku membuatku dan dia hampir saja terjatuh ke jurang yang aku hindari. Naomi menggeram keras hingga urat-urat berwarna merah terlihat di seluruh tubuhnya. Aku melihat Kimononya yang berlumuran darah akibat luka yang disebabkan Vampir itu hilang seketika. Aku tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi sebelum ada orang yang datang dengan tujuan membunuh adikku."
"Aku tidak tahu dia siapa. Mungkin salah satu Pemburu Vampir. Aku segera saja memohon dan menangis serta bersujud padanya agar dia mengurungkan niatnya itu."
"Aku tidak peduli lagi akan harga diriku ini yang terpenting adalah aku dapat menyelamatkan satu-satunya keluargaku sekarang agar tidak dibunuh hanya karena alasan bahwa adikku telah menjadi bagian dari para Vampir."
"Dan aku melawan laki-laki itu dengan segenap kemampuanku. Aku punya pisau belati di sakuku untuk ku gunakan agar aku berjaga-jaga. Aku menyerang dia dan memanah pisau itu ke arahnya meskipun aku tahu jika itu tidak akan melukainya. Laki-laki itu berkali-kali ingin membunuh Naomi tapi aku menghentikannya dengan menangkis pedang itu dengan pisauku yang lain."
"Tapi apa yang terjadi kemudian membuat laki-laki itu terkejut. Saat Naomi melepaskan diri dari kekangan seseorang itu, dia terlihat melindungiku."
__ADS_1
Ryan tersenyum mengingatnya, "Aku sangat senang karena dia terlihat berbeda dengan Vampir lainnya. Laki-laki itu akhirnya terlihat berpikir dan melepaskan kita, tapi dia membuat aku dan Naomi pingsan saat itu."
"Hah?! Terus apa yang terjadi selanjutnya?!"
Zayn terlihat penasaran membuat Ryan akhirnya meneruskan ceritanya.
"Dan saat aku sadar kembali, tau-tau aku sudah ada di dalam Dunia Segel milik Nona Liyura. Ternyata dia lah yang menolongku dan membawaku ke sana. Aku berlatih di dalamnya dalam kurun waktu yang lama. Sekitar aku sudah berbulan-bulan belajar di sana tapi di sini masih terlewat beberapa hari."
"Adakah dunia seperti itu?"
Kei terlihat berbinar dan menunggu jawaban dari Ryan. Sedangkan Ryan yang tadinya sedih mulai tersenyum dan mengangguk.
"Aku juga tidak begitu mengerti. Tapi setelah aku bertemu dengan Nona Liyura, dia menawarkan aku untuk menjadi pengikutnya seperti 3 orang yang mengajariku hinggga aku menyebut mereka guru."
"Sugoi! Sangat menabjubkan! Dunia Segel itu seperti apa?"
Kei terlihat senang dan penasaran membuat Ryan sedikit salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yah, di sana sangat indah. Tapi aku tidak terlalu memperhatikan. Di sana banyak sekali hewan-hewan langka yang tidak pernah kutemui, bahkan hewan-hewan itu terlihat ajaib dan lebih besar ukurannya dari hewan-hewan yang pernah kutemui di dunia ini. Ke-3 guruku bilang jika mereka menyebut hewan-hewan itu sebagai Macig....Ani....apalah aku tidak tahu. Bahasanya terlalu tidak logis dan sulit di ucapkan apalagi dimengerti."
"Magic Animal, Ryan. Lain kali kau harus tahu agar kau tidak bodoh saat menjadi pengikutku."
Liyura berucap dengan tenang saat Ryan selesai bicara. Ryan langsung menoleh pada Liyura dan melihat gadis itu dari jauh.
Ryan tidak percaya jika Liyura dapat mendengar percakapan dari jarak jauh. Ryan hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan Liyura dengan tegas.
Liyura tersenyum dan menatap Evol yang tertidur di sampingnya lagi. Tangannya sedari tadi sudah terletak di atas kepala Jaquin itu.
'Hmph! Begitu saja tidak tahu...'
Liyura tersenyum lembut sekali lagi. Tapi jujur saja jika dia masih merasakan amarah dan kesal luar biasa saat mendengar cerita masa lalu Kei maupun Ryan tentang Vampir.
Jika begini, Liyura yakin jika dia tidak akan pernah mengampuni nyawa dari para Vampir itu. Apapun alasannya lagi, karena sudah terlalu banyak korban di luar sana selain mereka yang ikut menjadi sasaran santapan para Vampir di waktu malam hari.
__ADS_1
***