
Liyura berada di restoran yang dimana dia di ganggu oleh dua orang lelaki yang salah satunya adalah Player membuat Liyura membunuh salah satunya.
"Kau, kau membunuhnya! Kakaknya tidak akan memaafkanmu!"
Kata lelaki yang lain yang menatap Liyura dengan tatapan merinding. Dia melihat ke arah temannya yang sudah terkapar tidak bernyawa dengan darah mengucur deras dari leher lelaki itu.
"Kalianlah yang lebih dulu salah! Aku tidak mengganggu kalian tapi kalian menjatuhkan makananku!"
Liyura menatap tajam ke arah lelaki yang menatapnya ketakutan.
"Entah apa alasanmu tapi kakaknya tidak akan pernah memaafkanmu karena telah membunuhnya! Kau akan menerima akibatnya nanti! Akan kuingat kau."
Sebelum Liyura menbalas, dia membawa mayat temannya dan segera melesat pergi. Liyura memandang datar dan segera membayar ke kasir.
"Berapa harga makananku?"
"A-aku tidak berani meminta uang darimu, Nona. Sebagai gantinya kau boleh pergi. "
Kata pelayan itu dengan takut gemetaran. Liyura hanya menghela nafas dan segera pergi melalui pintu depan restoran.
Liyura akhirnya memilih memesan kamar dan segera merebahkan dirinya.
***
Sedangkan di suatu tempat, seseorang yang membawa temannya akhirnya membaringkannya di kasur setelah masuk ke tempat yang berada jauh dari hutan.
"Apa yang terjadi pada adikku?"
Salah seorang lelaki dengan zirah hitam pekat yang ada di tubuhnya menjadi marah karena melihat salah seorang anggota Party membawa adiknya dalam keadaan yang mengenaskan.
"Aran, Cello dibunuh oleh seorang gadis di restoran. Tolong kau balaskan dendamnya!"
"Apa?! Bagaimana bisa dia dikalahkan oleh seorang gadis?! Siapa dia, Martin?"
"Aku tidak tau dia siapa. Tapi wajahnya sangat mencolok hingga jika kita bertemu kembali aku pasti akan mengenalnya. Aku akan mencarinya dan menyerahkannya padamu!"
"Baik, kuserahkan padamu. Jangan biarkan gadis itu lolos!"
"Ya Aran!"
Martin langsung bergegas kembali mencari Liyura sedangkan Aran menatap adiknya, Cello yang sudah tidak bernyawa.
"Tenang saja, Cello. Aku akan membalaskan dendang untukmu. Maafkan kakakmu ini tidak bisa menolongmu. "
Aran menunduk melihat wajah pemuda berwajah pucat itu. Dia kemudian memutar ulang memorinya dimana dia menemukan pemuda di depannya.
Saat itu Aran adalah Player pemula, dia bertemu dengan Cello saat dia melihatnya dikeroyok oleh sekumpulan NPC lain karena dirinya tidak memiliki kekuatan sihir maupun teknik bela diri.
Cello dianggap sampah, tapi Aran tidak memperdulikannya hingga dia menolong Cello dari orang-orang itu hingga pemuda itu mengangkat Cello menjadi adiknya.
__ADS_1
Aran kemudian mengajarinya teknik bela diri sedikit demi sedikit dan mereka berpetualang mengalahkan Magic Animal sebagai latihan mereka.
Sampai akhirnya mereka bertemu dengan orang-orang yang lumayan kuat hingga mereka memutuskan untuk membentuk Party.
Aran menamai Party itu menjadi Party Hero, karena mereka selaku menjalankan misi untuk menolong orang-orang yang kesulitan dan lemah dari mereka.
Mungkin alasan Cello mendekati Liyura karena dia menginginkan gadis itu. Cello sebenarnya punya sifat buruk akhir-akhir ini. Dia suka sekali meningggalkan misi dan berakhir di rumah bordil.
Aran selalu menasihatinya tapi Cello tidak peduli dan mungkin saat melihat Liyura, dia menjadi menginginkan gadis itu untuk kepuasannya sendiri.
Meskipun begitu, Aran tetap menganggap Cello sebagai adiknya.
***
Martin segera berlari bergegas ke arah restoran tadi dan menanyai pelayan tentang Liyura.
Pelayan itu tidak punya pilihan lain selain memberitahu Martin bahwa Liyura berada di penginapan Red Evil, penginapan untuk para Player.
Martin tidak menunggu lama untuk menemui gadis itu. Dia segera bergegas dan masuk begitu saja ke dalam penginapan dan menanyai kamar Liyura.
"Cepat panggil dia kemari atau kau akan mati!"
Pemilik penginapan dengan gemetar langsung mengirim pelayannya untuk menjemput Liyura.
Sedangkan di dalam kamar, Liyura terbaring lelah. Dia hampir memejamkan matanya tapi dia mendengar suara ribut di bawah lantai yaitu lantai tempat Martin mengancam pemilik penginapan.
Liyura dengan penasaran membuka pintu dan melihat pelayan penginapan menatapnya dengan pandangan panik, keringat bercucuran di wajahnya.
"N-nona, kumohon anda ke bawah terlebih dahulu. Ada seseorang yang mengancam pemilik penginapan jika kami tidak menyerahkan anda."
Liyura nengernyit tapi segera mengerti. Dia mengangguk dan segera turun ke bawah lantai.
Saat tiba, pandangan Liyura tertuju pada pemuda yang menodongkan pedang ke leher pemilik penginapan. Pemuda yang sangat Familiar di matanya.
"Urusanmu denganku, 'kan. Jadi lepaskan orang yang tidak ada kaitannya dengan kita."
Martin akhirnya tersenyum, dia segera melepaskan pemilik penginapan dengan kasar dan segera menerjang menyerang Liyura tanpa aba-aba.
"Kau sudah membunuh Cello! Tak akan kumaafkan!"
Martin mengayunkan pedang panjangnya ke arah Liyura yang masih tidak bergeming. Martin tidak menyia-nyiakan hal itu dan langsung menyerangnya tanpa keraguan.
Saat pedang itu hampir mengenai tubuh Liyura, Liyura menghilang bagai kilat dan muncul di samping Martin dengan mudahnya.
Martin terbelalak, dia menoleh ke arah Liyura yang tidak tergores pedangnya pun saat diserang dengan kecepatan tertingginya.
"Kau sudah menyinggung orang yang salah. Lagipula bukankah aku sudah memberitahumu jika kalianlah yang salah jadi jangan ganggu aku lagi!"
"Aku tidak akan pernah tenang sebelum membunuhmu! Kau sudah membunuh Cello di hadapanku sendiri dan aku tidak terima itu!"
__ADS_1
Martin segera menebaskan pedangnya lagi akan tetapi Liyura kali ini menangkisnya hanya dengan satu tangannya hingga pergerakan pedang terhenti.
"Kau ingin mati juga? Jika kau mau kenapa tidak bilang?"
Liyura segera menarik pedangnya membuat aura pembunuh keluar begitu saja. Martin segera mundur 3 langkah agar tidak tertekan dengan aura itu.
Liyura kali ini terlihat serius, dia ingin sekali mengakhiri ini daripada masalah ini akan menjadi bebannya suatu hari nanti.
"Cih, yang akan mengalahkanmu bukan aku tapi Aran!"
Liyura mengernyit mendengar nama asing dari mulut pemuda itu.
"Apa maksudmu?"
"Heh, jika aku mati, anggota Party kami tidak akan pernah melepaskanmu!"
"Oh, jadi kalian adalah anggota Party? Baiklah, tunjukkan dimana jalan menuju ketua kalian."
Martin sedikit tersenyum meremehkan, "Aku akui kau itu kuat, tapi mungkin dihdapannya kau tidak akan berkutik."
Liyura tidak menjawab, dia hanya menunggu waktu untuk Martin membawanya ke orang yang dikatakannya.
Tapi, sebelum hal itu terjadi, seorang berpakaian zirah lengkap dengan wibawanya turun dari seekor Magic Animal dan segera masuk ke dalam penginapan.
Melihat kehadiran Aran, Martin menjadi senang dan segera berlari ke belakangnya.
"Jadi kau yang membunuh Cello?"
"Hmm, bukan salahku. Dialah dulu yang menjatuhkan makananku dan menggangguku seenaknya."
Aran hanya menghela nafas, tebakannya tidak salah ketika menyangkut Cello, dia tau jika adiknya lah yang bersalah tapi kelakuan Liyura juga tidak dapat dimaafkan karena dia sampai membunuh Cello.
"Begitu ya. Aku tau jika adikku salah, tapi kau tetap tak bisa dimaafkan karena membunuhnya!"
Liyura tidak menjawab, keadaan menjadi hening.
"Aku tidak tertarik untuk bertarung, aku akan pergi daripada aku harus menguras HP ku."
Martin yang ada di belakang Aran terlihat kesal, dia menggeram dan segera berteriak.
"Apakah kau pengecut? Kau takut saat aku bilang bahwa Aran akan dapat mengalahkanmu?! Dimana keberanianmu dan tatapanmu itu saat membunuh Cello?!"
Liyura segera menatap tajam Martin yang hampir tidak terlihat oleh tubuh Aran. Liyura terliahat tersenyum.
"Aku tidak pengecut, tapi aku tidak ingin bertarung untuk sekarang."
"Kalau begitu aku menantangmu berduel denganku satu lawan satu!"
Perkataan Aran mengundang kesunyian di penginapan. Liyura terlihat berpikir dan akhirnya dia melihat Notifikasi Layar Virtual muncul di hadapannya.
__ADS_1