
Semilir angin yang menerpa tubuh mereka, bagaikan jam pasir yang terus turun untuk menentukan waktu. Anak laki-laki itu juga demikian, dia akhirnya menceritakan semuanya, awal dari segalanya.
"Sebenarnya kak, kami dulu sebelum ada Vampir, mungkin saat aku berumur 4 tahun, aku masih ingat betapa harmonisnya hubungan keluarga kami, seakan hari itu menjadi hari yang normal."
"Ah iya kak, namaku adalah Kei, dan adikku bernama Nica. Kami dulu sangat bahagia tanpa adanya Vampir seperti sekarang. Andai saja mereka tidak pernah ada, mungkin sekarang kami masih ada di rumah sambil menjalani hidup dengan normal."
"Aku sangat benci mereka semua. Saat itu adalah hal pertama yang membuatku sangat marah, sedih, kesal, dendam, dan tersakiti karena Vampir itu. Apa lagi jika karena bukan aku melihat ayah dan ibuku dibunuh begitu saja di hadapanku dan adikku yang baru saja tiba di rumah setelah aku pulang dari rumah temanku saat itu."
"Saat melihat semuanya, aku menjadi sangat marah, sampai mereka akhirnya membawaku dan Nica. Padahal aku sudah memerintahkan dia untuk pergi, tapi dia malah memilih ikut denganku. Dia itu anak yang keras kepala. Sejak dulu dia tidak bisa menuruti sepatah katapun yang aku ucapkan. Sebenci-bencinya aku pada adik sendiri, aku malah lebih benci pada Vampir ****** itu."
"Setelah aku dan Nica di bawa, kami ditempatkan bersama anak-anak lainnya. Mereka semua gemetaran saat melihat para Vampir itu. Aku juga melihat di setiap leher mereka mempunyai dua tanda aneh yang ternyata adalah bekas gigitan, di setiap leher semua anak yang seumuran maupun lebih tua dan lebih muda dariku maupun Nica."
"Nica yang melihatnya tentu saja juga ikut takut. Pada malam itu, kami semua tidak tertidur, lebih tepatnya tidak bisa tidur dengan tenang setiap malam yang kami lewati. Karena di setiap aku dan Nica hampir tertidur lelap, kami selalu mendengar teriakan dari anak-anak yang selalu dipanggil dari ruangan kami setiap malam. Terkadang juga ada suara geraman yang menakutkan."
"Entah apa yang dilakukan para Vampir itu, jika itu terjadi padaku maupun Nica, tidak akan kubiarkan. Begitulah pikirku saat itu. Tapi hari kedua tiba, dan kali ini Nica lah yang terpanggil, aku berusaha menghentikannya, tapi Vampir itu membiusku dengan obat penenang membuatku lumpuh sesaat."
"Hari itu, aku menangis karena mendengar kali ini adalah suara teriakan pilu Nica sampai aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan terus memukul pintu yang tertutup sampai tanganku penuh darah. Mereka semua---yang ada di dalam bersamaku langsung saja menghentikan perilakuku dengan sekuat tenaga. Aku sangat terpukul mendengar teriakan Nica yang begitu pilu."
"Andai saja---andai saja aku dan Nica lari hari itu dan tidak mementingkan egoku, mungkin kami dirawat oleh manusia lain saat ini dan bukannya di tempat seperti itu. Aku bodoh, sangat bodoh, kak. Aku tidak bisa membiarkan hal itu ketika Nica disiksa. Aku berjanji akan membuat mereka musnah, bak mereka tidak pernah ada dan diciptakan sebelumnya."
"Aku tidak mau mereka ada di dunia ini!! Aku tidak mau dunia ini hancur karena makhluk hina seperti mereka. Hanya karena Ras Manusia itu lemah bukan berarti kita dipandang remeh bahkan diperlakukan seperti ternak!"
Kei menangis keras, dia masih mengoceh panjang awal mula dia tertangkap dan berbagai cerita yang menyedihkan saat disuguhkan.
"Saat keesokan harinya, barulah Nica dilepaskan dan dikembalikan ke ruangan kami seperti anak yang sebelumnya. Kali ini, aku melihat kantung mata di sekitar bawah matanya dengan sangat jelas, jejak-jejak air matapun masih terlihat juga, penampilannya sangat berantakan, rambutnya sangat kusut setelah aku menyentuhnya, aku percaya jika Nica di jambak oleh para Vampir itu!"
__ADS_1
"Dan kali ini, dia terlihat menyembunyikan sesuatu dariku, yaitu adalah tanda dua titik bekas gigitan yang ada di lehernya. Aku saat itu tentu saja sangat marah. Tapi aku tahu jika aku tidak bisa berbuat apa-apa soal hal itu."
"Aku hanya merangkulnya, mengatakan semua akan baik-baik saja, aku berbohong untuk pertama kalinya agar aku menenangkan adikku. Aku tidak mau dia sedih, seandainya jika ada pilihan, aku mau menggantikannya tapi semua sudah terlambat."
"Saat itu juga, ada sesuatu yang terjadi. Para Vampir kali ini bermigrasi ke tempat lain saat mendengar para Jenderal Wisteria mengepung wilayah mereka. Jadi aku tidak membuang kesempatan itu untuk lari. Padahal aku sudah mengajak mereka semua, tapi tidak ada yang mau melarikan diri bersamaku dan adikku."
"Mereka pengecut karena lebih memilih bertahan hidup menjadi ternak para Vampir daripada mati. Aku mengutuk dan menyumpahi mereka untuk mendapatkan karma, dan segera pergi dengan menggendong adikku di punggungku."
"Aku berlari dan berlari tak tentu arah di lorong yang sangat pannjang seakan tak berujung dan akhirnya aku menemukan jalan keluar yang tembus ke hutan, hingga aku lebih memilih jalan itu daripada masih bingung."
"Dan akhirnya aku bertemu kalian, hingga kalian tahu kejadian selanjutnya. Untung saja para Vampir itu tidak mengetahui jika ada yang kabur, jadi mereka pastinya tidak tahu jika kami telah pergi dari sana."
Kei menatap kesemuanya dengan tersenyum, dia mengusap pipinya yang berlinang air mata.
"Terima kasih karena telah menolong kami, kalian sangat baik padaku dan Nica. Sayangnya aku tidak punya sesuatu untuk diberikan untuk saat ini."
Dia merasa jika emosinya tertalu naik akhir-akhir ini tanpa bisa ditahannya. Bahkan tanpa sadar dia mengeluakan aura pembunuh yang dimilikinya saat membunuh Magic Animal yang menyerangnya, dan juga sebagai ajang untuk naik level.
Sedangkan Ryan serta Zayn tetunduk menyembunyikan ekspresi wajah mereka masing-masing.
Saat mereka mendongak, mereka terlihat dengan ekspresi mengerikan. Ekspresi penuh amarah. Karena mereka sama-sama tahu bagaimana perasaan Kei dan Nica.
Mereka pernah menjadi korban para Vampir. Bahkan mereka setuju dengan idealisme Kei yaitu berharap bahwa Vampir itu tidak pernah ada dan di ciptakan.
"Kami setuju denganmu, Kei. Bagaimana jika kita bekerja sama dengan para Jenderal Wisteria untuk menjadi Pemburu Vampir?"
__ADS_1
Zayn dengan sangat yakin berkata, "Tapi aku sudah menjadi Pemburu Vampir, dan yah, bagaimana denganmu, Ryan?"
Ryan terlihat berpikir, "Aku akan terus ikut bersama Nona Liyura. Karena aku sudah berjanji akan menjadi pengikutnya jika dia dapat mengembalikan adikku menjadi manusia. Dan sekarang kami sedang dalam proses hal tersebut."
"Ahh, kau tidak seru! Bagaimana kalau kau ikut denganku saja, Kei? Kita bunuh para Vampir itu bersama!"
Zayn terlihat bersemangat, sedangkan Kei sedang mempertimbangkan keputusannya. Dia akhirnya mengagguk, dan sepakat untuk menjadi Pemburu Vampir.
"Kalau begitu, aku lah yang akan mengajarimu! Begini-begini aku sudah terpilih untuk menjadi Jenderal Wisteria berikutnya. Kau siap menerima pelatihanku?"
"Emm, tapi aku ingin sekali kakak cantik itu yang mengajariku. Dia terlihat lebih tua darimu, jadi dia pasti lebih mahir kemampuannya."
Liyura menoleh begitu saja setelah Kei mengatakannya, "Aku mengajarimu? Ryan, kau tidak apa-apa?"
Ryan terlihat terkejut, "Eh, bukankah itu adalah keputusanmu saja, Nona?"
Liyura menghela nafas, "Baik-baik. Aku akan mengajari kalian, tapi terkecuali untuk Zayn. Aku akan mengajari kalian berdua bagaimana cara menyerang musuh, tapi pelajaran itu untuk Ryan, khusus untuk Kei, kau harus latihan fisik dulu seperti yang dilakukan oleh Ryan sebelumnya."
"Ryan, karena kau sudah lebih paham dasar ilmu pedang, aku akan mengajarimu sekarang dan bukannya ketiga pengikutku lagi. Kau siap? Karena pelatihan ini berbeda dari pelatihan yang kau lakukan. Karena ini adalah inti dari teknik pedang itu sendiri."
Liyura menoleh ke arah Kei, "Dan untukmu, kau harus diajari terlebih dahulu cara memegang pedang. Dan Zayn lah yang akan mengajarimu untuk itu. Jadi setelah kau dapat menguasai dasar pedang, kau boleh bergabung dengan Ryan yang akan kuajari cara untuk menyerang dan membunuh langsung."
"Kami mengerti!!"
Liyura tersenyum dan akhirnya memulai semuanya dari awal lagi. Semuanya tidak akan pernah berubah, meskipun di sini adalah dunia yang bukan di Real World, tapi dia tetap senang dengan semua hal yang terjadi padanya.
__ADS_1
Setidaknya hal seperti ini sudah pernah dia impikan akan tetapi semuanya tidak seindah mimpi, 'kan. Jadi kita hanya akan mengikuti arus takdir yang akan menuntun kita, kemanapun itu.
Liyura lanjut berbincang-bincang dan saling mengungkap kenangan masing-masing.