
Keesokan harinya, Liyura terbangun seperti biasa dan langsung menjalani rutinitas paginya dengan perasaan campur aduk. Dia memakai kembali Gold Equip nya seperti biasa. Rencananya hari ini dia dan yang lainnya akan mencari Ras Turkien yang menjadi satu-satunya kunci untuk menuju ke dalam Portal Sihir di mana Para Jenderal Wisteria yang sebenarnya berada.
Liyura keluar dari kamarnya dan bergegas ke pohon Wisteria sesuai janjinya kemarin pada Ryan. Saat tiba, dia melihat Ryan sedang menunggunya dengan Katana Hitamnya yang tersarung rapi, Ryan juga mengenakan setelan khusus yang menandakan dirinya adalah seorang Pemburu Vampir dari Lembah Wisteria.
Melihat kedatangan Liyura, Ryan tersenyum, "Jadi kita akan mencarinya kemana, Nona?"
Liyura membalasnya dengan senyuman lembut, "Kita harus berpencar agar lebih luas jangkauan untuk pencariannya. Aku akan mencarinya di luar Lembah, serangkan kau cari saja di dalam Lembah ini, siapa tahu Vampir yang membawa Ras Turkien itu ada di dalam Lembah."
Ryan mengangguk dan akhirnya bersiap memulai pencarian, "Tapi Nona, apa Nona yakin jika Vampir yang mrmbawa Ras Turkien itu ada di dalam Lembah? Aku merasa jika Vampir itu akan membawanya ke suatu tempat yang tidak dapat kita jangkau."
Liyura tersenyum miring, "Seperti katamu, Ryan. Aku juga berpikir begitu. Tapi kau juga harus tahu jika bisa saja kan tempat yang tidak bisa kita jangkau sebenarnya adalah tempat yang sangat mudah kita temukan. Jadi, ikuti saja kata-kataku, dan kau harus waspada dengan para Vampir yang menyamar menjadi Jenderal Wisteria."
Ryan menghela nafas, "Ahh, ini seperti main petak umpet saja. Tapi baiklah aku akan mengikuti perkataan Nona. Semoga saja dia cepat di temukan."
Liyura mengangguk, "Aku pergi dulu. Tugasmu itu lebih sulit dariku yaitu menangani Vampir yang hampir sama kuatnya dengan Vyone. Jadi kau harus berhati-hati setiap saat, Ryan. Sedangkan aku, aku akan mengerahkan pasukanku sendiri untuk mencarinya."
Ryam terlihat merinding, "Jangan-jangan Nona ingin mengerahkan pasukan Nona yang ada di Dunia Segel?"
Liyura tersenyum menyeramkan, "Apa boleh buat. Aku tidak mau jika pencarianku lebih lama karena kita tidak punya banyak waktu sebenarnya. Jadi aku aku akan menyelesaikannya dengan cepat."
Ryan terlihat berpikir, "Lalu apa yang harus kukatakan jika salah satu Vampir yang menyamar menjadi Jenderal menanyakan keberadaan Nona?"
Liyura dengan tegas berucap, "Katakan saja bahwa aku sedang membantai para Vampir di luar Lembah."
Liyura langsung melesat secepat kilat setelah mengatakan itu membuat Ryan masih bertanya-tanya apa maksud Liyura memgatakan hal itu. Memang benar jika ingin memahami Liyura itu sangat tidak mudah bahkan dengan ke-pintaran Ryan sekalipun.
Ryan akhirnya berjalan untuk mencari Ras Turkien itu bahkan di sela-sela ruangan sekalipun. Tapi saat dia berada di taman Wisteria, Ryan mengumpat dalam hati karena bertemu dengan Sena, salah satu Vampir yang menyamar menjadi Jenderal Wisteria.
__ADS_1
Sena yang melihat Ryan langsung saja menghampirinya.
"Bukankah kau adalah Ryan yang lulus dalam Ujian Menjadi Pemburu Vampir? Kenapa kau tidak menjalankan misi pertamamu bersama gadis bernama Celine?"
Ryan menatapnya, "Itu karena misinya di batalkan." Dan menjawabnya dengan singkat.
Sena terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya dan langsung menyuruh Ryan pergi tanpa curiga sama sekali.
Setelah Ryan berjalan lebih jauh dari Sena, dia memanggil Arend yang berada di dalam Katana Hitamnya. Sosok Arend muncul dengan kehendak Ryan dan hinggap di pundak pemuda itu dengan wujud burung Elang Harpa kecil.
"Ada apa memanggilku, Ryan?"
"Itu... aku ingin Arend membantuku untuk menemukan Ras Turkien."
Mata Arend membulat sempurna dan wujudnya berubah menjadi sosok manusia, "Apa katamu?! Bagaimana kau bisa tahu dengan Ras Turkien?!"
Ryan tersenyum, "Nona Liyura yang memberitahuku dan juga Guru Aver."
"Tapi menurutku Aver, aku merasa tidak nyaman dan merasa tidak adil jika kita harus mengorbankan Ras Turkien itu untuk menjadi tumbal hanya untuk membuka Portal sihir. Kupikir pasti ada satu cara lain lagi agar Portal sihir terbuka tanpa mengorbankan Ras Turkien itu."
Arend terdiam, "Begitu rupanya. Ras Turkien adalah Ras yang paling setia di seluruh Mozart, jadi pendapatmu tidak salah karena jika satu-satunya Ras itu di korbankan, akan terasa menyesal karena jika kita memanfaatkannya, kita akan mendapatkan suatu hal yang luar biasa. Apalagi saat di dalam tubuhnya tercampur dengan Twilight milik Vampir Bulan Purnama itu."
Arend terlihat berpikir keras, "Cara satu-satunya sebenarnya ada jika kita tidak mau mengorbankannya untuk membuka Portal sihir, namun bayarannya akan lebih mahal. Biasanya jika dulu, hanya 4 orang itu yang bisa melakukannya namun sekarang kita harus meminta bantuan pada Elder Ras Burung Hantu saja. Karena hanya dia lah satu-satunya yang mengerti akan Sihir lebih dari siapapun."
Ryan akhirnya mengangguk, "Baiklah jika itu caranya. Bukankah kita tidak punya waktu? Jadi ayo aku antarkan ke tempat di mana Celine dan Dobutsu nya berada."
Mereka akhirnya berjalan dengan cepat menuju kediaman salah satu Jenderal di mana Celine dam Erza berada.
__ADS_1
***
Saat sampai, mereka berdua di sambut dengan tatapan senang dan curiga. Erza menatap Arend dengan tajam sedangkan Celine terlihat canggung dengan Ryan.
"Ada apa kau ke sini, Raja Ras Elang Harpa?"
Erza langsung saja berbicara inti permasalahan tanpa berbasa-basi yang tidak penting. Itu membuat Arend langsung menjelaskan dengan detail penjelasan dari Ryan kembali.
"Jadi, maukah kau membatu kami mencarinya? Ada kemungkinan jika Si Pembawa Sial itu juga ada di sana. Kita harus menyelesaikan ini secepatnya karena kita punya dendam yang sama terhadap Vampir itu."
Erza terlihat berpikir dan akhirnya menatap Celine untuk meminta persetujuan. Celine hanya mengangguk karena dia merasa perlu untuk membantu.
"Ayo kita bantu mereka, Erza. Jika hal ini berkaitan dengan Vampir, kita tidak boleh menolaknya. Lagipula kita tidak melakukan apapun sekarang."
Erza akhirnya setuju untuk bergabung mencari Ras Turkien itu. Mereka semua berharap dapat mengakhiri masalah ini dengan cepat agar dendam mereka sama-sama dapat terselesaikan.
"Kita akan langsung mencarinya. Karena kita tidak tahu tentang wajah Ras Turkien itu, maka terpaksa kita harus menggunakan Sihir. Tapi kita tidak boleh bekerja sendiri atau secara Individu, kali ini kita harus mengandalkan kerja sama tim. Jika kita telah punya Erza yang mengerti akan Sihir, kita juga punya Celine dan Ryan yang akan mengatasi Vampir itu. Sedangkan aku akan membawa Ras Turkien itu saat Erza menemukannya. Apa ada pertanyaan?"
Erza tersenyum meremehkan, "Jadi itu rencanamu? Tidak buruk juga. Baiklah kalau begitu, untuk mencari Vampir itu kalian bisa mengandalkanku. Tapi bukan hanya kita yang mencarinya?"
Ryan mengangguk, "Nona Liyura yang kau selamatkan dengan melakukan Ritual Pembatalan Pembangkitan juga ikut mencari, tapi Nona mencarinya di luar Lembah karena ingin mengerahkan semua pasukan andalannya. Jadi aku hanya di tugaskan untuk mencarinya di dalam Lembah saja."
Erza dan Arend terlihat tertarik, "Pasukan andalan? Sepertinya 'Orang Terpilih' ini bukanlah gadis sembarangan..."
Mereka akhirnya sama-sama telah memutuskan untuk mencari Ras Turkien itu secepat mungkin sebelum Liyura menemukannya. Mereka bertekad jika mereka dapat menemukannya lebih dulu daripada Liyura.
Celine tersenyum, "Kita seperti sedang melaksanakan misi yang tertunda saja. Bukankah saat kita memulai misi, kita juga harus bekerja sama?"
__ADS_1
Ryan terlihat tenang dan mengangguk, "Anggap saja begitu. Kalau begitu tidak usah lama-lama, ayo kita cari secepat mungkin. Aku ingin membuktikan pada Nona Liyura jika aku dapat di andalkan dan aku tidak ingin dia menganggapku beban lagi."
Arend terlihat bangga pada Ryan, rasanya jika dia di suruh memilih, dia tidak ingin menjadi Raja Ras Elang Harpa, tapi ingin menjadi Dobutsu nya saja. Ryan benar-benar mengingatkannya pada Adiknya yang gugur dalam perang melawan Ras Naga.