Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 61 Roh Bunga Wisteria


__ADS_3

Liyura tidak menjawab pertanyaan Aver tapi langsung menunjukkan Aver ke arah sebuah tongkat emas yang sangat berkilau.


Aver yang melihatnya sanggt terkejut, "Tunggu dulu, bagaimana bisa ini ada di sini? Kau menemukannya dimana?!"


"Kau tahu apa ini, Aver?"


Aver mengangguk dan segera menyentuh tongkat itu tapi dia medapatkan stun selama beberapa saat karena tongkat itu sepertinya di lindungi oleh hal semacam sihir hingga membuat Aver meletakkannya kembali.


"I-ini tidak salah lagi adalah Tongkat Cahaya yang pernah digunakan oleh salah satu leluhur asal-muasal sihir. Bagaimana kau bisa mendapatkan ini, Liyura?"


"Aku mendapatkannya dari kediaman Vampir Bulan. Entah kenapa itu ada di sana, aku ragu jadi aku menanyakannya padamu, tapi Aver aku tidak terkena stun seperti kau memegangnya tadi."


Aver terlihat berpikir, Liyura tidak mungkin dapat memegang Tongkat Cahaya tanpa alasan khusus. Pasti ada suatu hal alasan dibalik itu.


"Coba kau peganglah lagi, Liyura."


Liyura mengangguk dan langsung menyentuh Tongkat Cahaya. Tapi tidak ada reaksi apa-apa, bahkan Liyura tidak terkena stun saat memegangnya.


"Aku memiliki persepsi dan kesimpulan akan hal ini. Sepertinya kau ditakdirkan untuk menjadi tuan kedua dari Tongkat Cahaya itu tidak salah lagi. Karena tongkat itu tidak memiliki reaksi apa-apa ketika disentuh olehmu."


"Apa?! Aku menjadi tuan dari Tongkat ini?! Kau tidak salah, Aver?"


"Sepertinya begitu. Aku tidak mungkin salah dalam hal ini, Liyura."


Liyura terlihat berpikir, "Tapi kenapa ini bisa terjadi, Aver?"


"Aku tidak tahu, tapi ada dua kemungkinan yaitu kau mungkin punya inti sihir yang lebih kuat dari milik Ryan atau kau memang terpilih untuk menjadi tuan selanjutnya dari Tongkat Cahaya."


"Apa aku punya inti sihir di dalam diriku ini? Sepertinya itu tidak mungkin. Tapi ini sedikit janggal karena aku sekarang merasakan jika kekuatanku terasa melemah. Aku masih tidak tahu penyebabnya."


"Coba aku lihat dalam dirimu terdapat inti sihir apa tidak..."


Liyura hanya mengangguk dan membiarkan Aver memeriksanya dengan mantra sihir yang dimilikinya.


"Magica Nigra - Deprehendatur!-?


Aver mengeluarkan semacam cahaya dan kedua tangannya dan cahaya itu melesat dan menyelimuti Liyura hingga Liyura merasakan hal yang aneh.

__ADS_1


Saat cahaya menghilang, Aver terlihat menggeleng.


"Sepertinya inti sihirmu tidak dapat dilihat dengan sihir seperti biasanya. Mungkin karena sihir di dalam dirimu terlalu kuat. Aku menyarankan agar kita mencari tahu dulu apa inti sihir ini. Setahuku karena aku pernah menjelajahi lantai, kau harus pergi ke lantai 4 karena di sana ada semacam perlombaan sihir dan juga ajang bagi Penyihir atau Elf jenius untuk bertanding. Kau juga bisa sekalian mengecek sihirmu dengan alat yang ada di sana. Tapi, aku tidak yakin karena sihir pendeteksiku saja tidak bisa mendeteksi inti sihir yang ada di dalam dirimu, mungkin kita harus ke lantai 30."


Liyura menghela nafas dan menjawab, "Aku ikut kau saja, Aver. Aku tidak begitu mengerti tentang sihir."


"Aku yakin Tongkat Cahaya memilihmu bukanlah hal yang wajar. Pasti ada suatu alasan di balik ini. Jika memungkinkan ketika kita menyelesaikan urusan di lantai ini kita harus secepatnya menuju lantai berikutnya tapi masalahnya, kita tidak tahu siapa Administrator dari lantai 2 ini."


"Aku yakin jika Administrator dari lantai ini adalah Raja Vampir yaitu Nuzan Kyoro, dia sudah menjajah lantai ini lebih dari ribuan tahun dengan menyiksa dan membunuh para manusia."


"Jika kau benar, Liyura kau harus membunuhnya secepatnya dan tentu saja kita harus ke lantai berikutnya."


Liyura hanya mengangguk dan segera mengeluarkan Aver dan dirinya ke dunia luar dari System Room.


***


Saat Liyura dan Aver kembali ke dunia luar, mereka langsung menghampiri Ryan yang sepertinya telah tertidur lagi. Yah itu terlihat wajar karena Ryan pasti dapat tertidur nyenyak karena luka bakar yang dialaminya telah sembuh, atau lebih tepatnya Aver telah menyembuhkannya tadi dengan sihirnya.


"Baiklah, Aver sepertinya kau harus kembali ke Magic Forest."


Saat Liyura berhasil mengirim Aver, dia segera kembali ke kamarnya juga. Entah kenapa hari ini dia masih merasa lelah padahal dia yakin telah beristirahat dengan cukup sedari kemarin.


Liyura terlihat memijit kepalanya yang terasa nyeri, dia tidak mengerti akan hal ini. Jika dia tidak sadar jika dia sekarang ada di dunia game Chronicle Online, dia mungkin akan menyembuhkannya dengan obat-obatan normal di Real World.


Liyura keluar dari kamar Ryan dan segera kembali ke kamarnya. Liyura menatap ke arah taman di depan kediaman Rachel dari koridor yang telah dilewatinya untuk menuju kamarnya.


Liyura melihat Bunga Wisteria yang bermekaran dengan begitu indahnya. Liyura entah kenapa merasa tenang membuat rasa nyeri di kepalanya menghilang begitu saja.


Liyura akhirnya memilih menghampiri salah satu pohon yang teduh dan duduk di bawah pohon itu. Angin yang berhembus dengan begitu kencang tapi entah kenapa membuat perasaan Liyura menjadi tenang.


Liyura terlihat tersenyum begitu saja seakan berada di sana membuatnya merasa senang. Liyura menikmati setiap kuncup Bunga Wisteria yang jatuh menimpa tubuhnya dan jatuh di sekitarnya.


Liyura menyentuh bunga ungu itu dan terlihat sangat menatapnya intens. Liyura merasakan hembusan angin menerpa wajahnya hingga membuat anak-anak rambutnya bergerak beterbangan mengikuti irama angin.


Liyura menutup natanya, dia menikmati setiap detik duduk di tempat tersebut. Liyura merasakan perasaan yang Familiar setelah dia berada di sana. Perasaan itu rasanya sangat Ia kenal seperti Deja Vu akan tetapi gadis itu yakin dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.


"Liyura..."

__ADS_1


Sesuatu berbisik tepat di telinga gadis itu membuat Liyura membuka mata indahnya perlahan hingga bola mata berwarna hijau zamrud terlihat.


"Liyura..."


Liyura menatap ke arah sekitar tapi dia tidak menemukan siapa-siapa di sekitarnya, bahkan rasanya dia ada di tempat lain sekarang hanya berdua dengan pohon Wisteria yang menjadi sandarannya.


Angin masih berhembus kencang membuat Liyura merasa semakin nyaman.


"Siapa?"


Liyura merasa dia tidak bisa untuk waspada, bahkan indranya untuk bersiap mengantisipasi serangan menjadi menghilang. Instingnya juga tidak berfungsi sama sekali.


"Liyura..."


Liyura hanya menghela nafas, dan terkejut melihat seseorang ada di hadapannya.


"Liyura, akhirnya kau datang."


Liyuaa akhirnya menjadi waspada dan segera menjauh dari seseorang itu.


"Aku tidak akan menyakitimu, tenanglah."


Sosok itu terlihat mengulurkan tangan dan ingin menyentuh wajah Liyura. Liyura seakan tidak bisa menghindar akhirnya dia merasakan sentuhan yang sehalus kapas di pipinya. Dia merasakan perasaan Familiar tadi, hingga rasanya dia ingin menangis, entah kenapa.


"Siapa? Siapa kau?"


Sosok itu seperti seorang wanita, tapi Liyura juga tidak bisa melihat wajahnya. Wajahnya sangat bercahaya, Liyura melihat tubuhnya juga transparan.


"Aku adalah Roh Bunga Wisteria. Aku merasakan kehadiran seseorang yang akan membawa takdir yang besar yang dapat mengubah tatanan seluruh lantai. Dan ternyata itu adalah kau. Aku sangat menantikan kedatanganmu. Aku hanya ingin bilang, kau harus bersiap-siap, karena hidupmu akan berubah 180° karena suatu hal yang akan datang padamu. Kau harus memghadapi berbagai macam tantangan setelah kau dapat menemukan 4 orang penjagamu."


Liyura merasakan jika sosok itu tersenyum, dan menghilang begitu saja membuat Liyura seakan kembali ke kekenyataan.


Bagaikan sebuah mimpi, dia membuka matanya tiba-tiba dengan terkejut. Liyura kemudian berdiri dari duduknya dan menatap pohon yang terdapat Bunga Wisteria yang masih berjatuhan.


"Apa...Itu tadi?"


Liyura merasakan hembusan angin semakin kencang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya dan segera berjalan ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2