Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 81 Masa Lalu dan Dendam


__ADS_3

Liyura terbangun karena suara bisikan yang terdengar sangat jauh, namun saat dia membuka matanya, suara itu menjadi lebih keras dan gadis itu menyadari jika itu adalah suara Ryan yang tengah membangunkannya.


"Nona Liyura, sampai kapan akan tidur? Ini bukan tempat yang cocok untuk Anda beristirahat."


Ryan terlihat khawatir. Liyura melihat kedua tangan Ryan tertutupi oleh bekas tanah yang kotor. Ryan yang melihat tatapan Liyura ke arah tangannya segera saja membersihkan kedua tangannya itu dengan menepuk-nepuknya hingga bekas tanah yang tertinggal menghilang tanpa di cuci.


"Sebaiknya cuci tanganmu, Ryan. Kau tidak mau kan jika ada kotoran yang tidak terlihat menempel dan akan membuatmu sakit."


Ryan mengernyit tapi terlihat mengangguk, "Baiklah."


"Kau sudah menguburnya?"


Ryan terdiam sesaat. Kali ini pandangannya begitu suram dan terlihat tidak mengenakkan. Tapi Liyura yang menunggu jawabannya hanya tersenyum.


"Kau marah?"


Ryan tersentak dan menatapnya dengan serius. Marah? Apakah dia punya hak untuk itu?


"Iya, Nona. Aku merasa marah atas apa yang terjadi pada rekan ku yang sama-sama mengikuti Ujian Kedua untuk menjadi Pemburu Vampir."


Ryan menunduk serasa mengheningkan cipta. Meskipun dia tidak begitu kenal dengan sosok remaja yang terakhir kali di temuinya saat Ujian Kedua yaitu memilih senjata khusus di Ruang Senjata Mistis, dia ikut bersimpati apa yang terjadi terhadap remaja itu yang mati di bunuh oleh Vampir.


"Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi." Ryan terlihat sangat muak, "Aku tidak mau ada yang mengalami hal ini lagi. Sudah cukup adikku menjadi korban dan menjadi satu-satunya dan terakhir yang di ubah menjadi Vampir, asalkan orang lain tidak mengalami hal yang sama!"


Liyura terdiam. Dia tidak ada satu niat pun untuk menenangkan Ryan. Dia yang paling mengerti akan situasi Ryan lebih dari siapapun untuk saat ini. Memang pilihan dirinya yang merekrut dan membuat Ryan menjadi bagian dari kelompok mereka adalah hal yang benar. Jika mungkin, Aver dan yang lainnya pun tidak akan melepaskan Ryan dan akan membawa remaja ini ke Lantai berikutnya.


Potensi Ryan sudah kita ketahui saat dia ternyata berbakat dalam hal sihir daripada pedang. Apalagi dirinya memiliki dua unsur sihir secara bersamaan membuat dirinya seperti pedang yang harus di asah dan di tempa dengan baik.


Liyura menepuk-nepuk punggung Ryan untuk menenangkannya. Rasanya dia punya adik laki-laki yang sangat lucu saat sedih seperti ini. Liyura merasa sangat prihatin juga. Kelakuan para Vampir memang melewati batas akhir-akhir ini, bahkan mereka juga sudah mengalahkan para Jenderal dan menguasai Lembah Wisteria dari dalam tanpa menyerangnya dengan terang-terangan.


Entah dimana keberadaan para Jenderal dan bagaimana mereka bisa di kalahkan, Liyura dan yang lainnya akan segera mengungkapnya sesegera mungkin. Dan karena itulah, mereka akan menemui 'Si Ketua Misterius' yang memimpin Lembah Wisteria dan sekaligus para Jenderal nya secara di balik layar.


***


Sedangkan di dalam Dunia Segel milik Liyura, Aver dan yang lainnya masih berbincang-bincang bersama gadis Vampir yang ingin masuk ke dalam bagian dari mereka. Meskipun begitu, Aver masih tidak berhenti untuk waspada padanya.


"Jadi gadis yang tertidur ini dulunya adalah manusia?"


Gadis Vampir itu bertanya lagi membuat Ares mengangguk.

__ADS_1


"Kalian berkata jika kakaknya sedang berjuang mati-matian untuk membuatnya jadi manusia lagi? Apakah kalian tidak mengerti jika hal itu adalah mustahil? Mengubahnya menjadi Vampir itu memanglah sangat mungkin, tapi mengubahnya kembali menjadi manusia itu adalah kemungkinan yang sangat mustahil."


Gadis Vampir itu duduk di samping Naomi yang sedang tertidur. Dia memperhatikan dengan teliti wajah gadis itu sedemikian rupa dan terlihat menghela nafas.


"Memang itu tidak mungkin, tapi aku yakin manusia yang di ubah menjadi Vampir dapat kembali ke wujudnya semula. Untuk itu, kami masih meneliti dan mencari titik terang bagaimana caranya hal itu dapat terjadi."


Aver berbicara dengan tenang. Di setiap katanya selalu mengandung penekanan dan keyakinan. Gadis Vampir yang mendengarnya hanya menahan senyum.


"Jika manusia yang di ubah menjadi Vampir dapat di ubah kembali menjadi manusia itu hal yang tidak mungkin, tapi bagaimana bisa manuisa berubah menjadi Vampir? Bukankah itu juga mustahil sebenarnya? Kalian para Ras Vampir kenapa bisa mengubah manusia menjadi bagian dari Ras kalian. Sedangkan manusia yang di ubah menjadi Vampir itu tidak bisa kembali ke bentuk awalnya?"


Gadis Vampir itu kemudian tertawa keras dan terbahak sampai air matanya sedikit menetes di sela-sela matanya. Dia mengusapnya setelah berhenti tertawa dan menatap Aver yang menanyakan hal tersebut.


"Sungguh, ya. Jika kalian tidak tahu apa-apa tentang Ras ku janganlah beranggapan seperti orang yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai seluruh Ras."


Gadis Vampir itu tersenyum dan melanjutkan, "Ras Vampir adalah Ras yang berbeda daripada Ras lainnya. Ras Vampir dapat mengubah manusia menjadi bagian dari mereka karena itu adalah salah satu eksistensi kami yang tidak bisa bereproduksi. Jadi kami mengubah makhluk lain sebagai bagian dari kami untuk membuat Ras Vampir tidak punah. Maka dari itu, aku mengatakan jika manusia yang di ubah menjadi Vampir oleh kami tidak akan bisa berubah kembali ke bentuk awalnya yaitu manusia. Masih belum pernah ada, karena biasanya cara kami membuat manusia itu menjadi Vampir seperti kami cukup istimewa."


Aver berdehem. Yang lainnya menjadi serius hingga suasana seakan sangat mencekam seperti terjadi perang dingin.


"Kalau begitu, apakah kau juga sebenarnya dulunya adalah manusia?"


Gadis Vampir itu berubah menjadi muram dengan pandangan yang gelap dari wajahnya. Setelah mendengar pertanyaan Eden, dia menjadi menatap dengan tatapan datar.


Sekejap kemudian, bibirnya tersenyum.


"Saat aku pertama kali meminum darah, aku menjadi semakin tidak manusiawi dan melupakan semua hal yang kuingat dulu sebagai manusia. Satu-satunya yang kuingat adalah jika aku adalah gadis yang pandai meramal nasib seseorang. Aku mengabdikan diri pada Raja ku yang sesungguhnya dan menjadi Kesatria yang dia inginkan dengan membantai semua manusia dan mempersembahkan darah mereka semua padanya. Tidak terlewatkan juga aku membawa manusia yang masih berguna agar di ubah menjadi Vampir sepertiku untuk membuat Ras kami semakin banyak."


"Dan tidak terasa sudah bertahun-tahun tapi aku tidak bertambah tua dan nafsu meminum darahku meningkat. Aku bahkan tidak mengingat apa-apa lagi sejak aku menjadi penguasa ke-2 setelah Raja setelah menjadi kaki tangannya seumur hidupku ini."


"Gelar yang kupunya tentu saja sangat berguna. Sampai aku di tugaskan menjadi Jenderal di Lembah Wisteria bersama para anggota yang lain. Aku juga bertugas untuk memindahkan mayat seorang remaja yang kubunuh dengan tanganku sendiri dan meminum darahnya untuk membuatku tidak menua dan meningkatkan kekuatan Vampirku. Saat itulah aku bertemu gadis bernama Liyura dan mendapatkan sebuah penglihatan yang kupunya saat menjadi Peramal."


"Dan kalian sudah tahu kelanjutannya. Ini sebagai bentuk aku benar-benar ada di pihak kalian tanpa ada satupun rencana tersembunyi karena aku adalah yang paling dekat dengan Raja."


Setelah itu, tidak ada yang berani bicara satu kata pun. Bahkan Aver merasa sangat frustasi. Apakah dia bisa percaya pada gadis Vampir ini? Bisa saja dia adalah intel dari si Nuzan Kyoro, kan? Orang yang di sebut sebagai Raja nya.


Dan bukan hanya Aver lah yang memikirkan hal yang sama. Semuanya juga berpikir demikian mengenai gadis Vampir di hadapan mereka ini. Kemungkinannya sangat kecil dan alasannya seperti tidak masuk akal jika dia benar-benar ingin berpindah haluan dan malah menghianati Raja nya sendiri.


Aver dan yang lainnya yakin ada suatu alasan lain yang gadis Vampir itu sembunyikan dan tidak seorangpun mengetahuinya selain gadis Vampir itu sendiri.


"Jadi, siapa yang mengalahkan Jenderal?"

__ADS_1


Aver bertanya lagi membuat semuanya menatap ke aahnya. Gadis Vampir itu tersenyum miring.


"Tentu saja, Rajaku yang mengalahkan mereka tanpa ada yang mengetahuinya.."


Aver mengernyit. Jika begitu, bukanlah Liyura akan lebih waspada? Tapi apa mungkin Liyura tidak menyadari akan kehadiran Nuzan Kyoro?


"Kapan? Kapan dia mengalahkannya?"


Aver mengepalkan tangannya dengan erat. Seolah memaksa otaknya untuk berputar menemukan jawaban yang logis.


"Entahlah. Kalian yang harus mencari tahu kapan itu terjadi. Aku yakin kalian juga bukan manusia dan sama sepertiku, begitu juga dengan gadis bernama Liyura itu. Tapi kenapa kalian membantu para manusia?"


Ares menggeram dan Eden menatap tajam. Sedangkan Aver hanya mendongak menatap si gadis Vampir.


"Itu tidak ada urusannya denganmu."


Ares lah yang menjawabnya dengan sinis dan sarkasme. Dia tidak bisa memberitahukannya jika mereka membantu manusia atas kehendak Liyura dan membatu Ryan awalnya. Juga untuk mengalahkan Nuzan Kyoro yang berkemungkinan menjadi Administrator Lantai ke-2 ini.


"Kau dan Vampir lainnya sudah menyamar menjadi Jenderal Wisteria sejak kapan?"


Gadis Vampir itu hanya menggeleng, "Cari tahu sendiri. Aku akan memberitahu kalian hal lainnya jika kalian membuatku menjadi bagian dari kalian semua. Aku bersumpah demi nyawaku yang sudah tidak terhitung ini dan bersumpah setia untuk tidak berkhianat."


"Huh, kau saja sudah menghianati Ras mu sendiri, pasti kau juga akan menghianati kami nantinya. Jangan jadikan kami sebagai batu loncatan untukmu dan Ras mu. Meskipun Liyura menyetujui dirimu menjadi bagian dari kami, kami tetap akan mengawasi dan mencurigaimu dalam kondisi apapun."


Gadis Vampir itu sepertinya tidak keberatan dan hanya tersenyum. Memang wajar kan jika mereka ingin bekerja sama, haruslah ada rasa percaya satu sama lain terlebih dahulu.


***


Liyura terlihat berjalan-jalan di taman Bunga Wisteria bersama Ryan saat setelah menenangkannya. Mereka sebenarnya sedang menuju ke arah dimana Ryan menguburkan remaja yang mati terbunuh oleh Vampir.


Saat sampai, Liyura melihat gundukan tanah dengan bunga-bunga yang di taburi di atasnya. Liyura menghampiri makam itu dan berjongkok duduk di sampingnya. Liyura merasa prihatin atas apa yang terjadi namun dirinya merasa ikut marah dengan apa yang di lakukan oleh Vampir yang membunuh remaja itu.


"Nona, izinkan aku untuk membalaskan dendamnya. Aku akan membuat para Vampir mendapatkan ganjaran atas apa yang mereka lakukan. Bukan hanya demi dirinya, tapi demi semua anak-anak bahkan orang-orang yang pernah di bunuh oleh Vampir itu. Juga demi adikku yang telah mereka ubah menjadi makhluk menjijikkan seperti mereka."


Ryan terlihat sangat marah, matanya berkaca-kaca seakan merasa sakit dengan suatu hal yang tidak Liyura mengerti lagi. Jawaban dari gadis itu hanya mengangguk.


"Kau tidak perlu izin padaku, Ryan. Lakukanlah sesukamu. Aku akan mengiyakannya apapun itu, dan sama sekali aku tidak akan membantahmu jika kau melakukan hal yang benar."


Liyura menyentuh tanah dari gundukan itu dan bunga yang bertaburan seolah ikut gugur dan menjadi tidak berarti lagi. Seperti seseorang yang terkubur di dalamnya, menjalani tidur abadi selama-lamanya.

__ADS_1


"Apapun itu, lakukanlah sesuai nalurimu, Ryan. Dan kau tidak perlu izin padaku, kau bisa melakukan semua hal yang ingin kau lakukan tanpa kularang demi kebaikan semuanya dan dirimu sendiri."


Liyura tersenyum, tersenyum dengan tatapan yang sedih sambil menggenggam erat bunga yang bertabur di atas gundukan tanah, Bunga Wisteria ungu yang sudah nampak layu.


__ADS_2