Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 26 Liyura VS Aran


__ADS_3

 --


[ Aran menantang anda berduel satu lawan satu,


Apakah anda menerimanya?


Tidak / Ya ]


 --


Liyura akhirnya memutuskan untuk menekan tombol 'Ya' di sisi kanan notifikasi.


Liyura dan Aran segera berada di tempat yang seperti hutan yaitu area khusus bagi dua orang yang ingin berduel.


Liyura segera menyiapkan pedang dan segera mempersiapkan kuda-kudanya.


Aran juga terlihat mengangkat pedang panjang dan besar di punggungnya. Melihat pedang itu, Liyura akhirnya memilih mengeluarkan pedang Excalibur dari System Room.


Aran Terlihat begitu terkejut saat melihat Liyura mengeluarkan pedang emas itu dari ruang hampa. Dia meneliti lebih teliti gadis di depannya yang memang bukan gadis biasa.


Liyura menggunakan Pedang Exacalibur di tangan kanannya dan pedang Bulan Sabit di tangan kirinya.


Aran terlihat begitu takjub karena gadis di depannya dapat menggunakan dua pedang. Andai orang sepertinya bergabung dalam Party pasti akan menguntungkan organisasi tersebut dengan bertambahnya anggota kuat.


Aran hanya menghela nafas karena orang seperti Liyura malah di singgung oleh Cello. Aran tidak punya pilihan lain selain mengalahkan gadis tersebut dan segera memintanya bergabung dalam Party.


Keduanya melihat Panel Console di atas mereka menunjukkan tanda detik dimulai untuk memulai duel.


5


4


3


2


1


GO!


Aran menyerang terlebih dahulu hingga Liyura terpaksa dalam pisisi bertahan. Liyura sedikit bersemangat karena dia dapat meningkatkan kembali kekuatannya dengan duel ini.


Liyura menahan pedang besar Aran dengan kedua pedang panjangnya hingga serangan Aran terhenti. Mereka bertukar belasan teknik pedang hingga suara berdentang terdengar di seluruh tempat.


Liyura menggunakan berbagai macam Skill dan taktik miliknya untuk mengalahkan Aran.


"Crescent Slash!"

__ADS_1


Liyura menebas hingga tebasannya berupa bentuk Bulan Sabit dan segera menyerang Aran.


Aran segera menahannya dengan pedang besarnya hingga dia termundur beberapa langkah karena tekanan Skill Liyura yang tidak dapat di remehkan.


Aran akhirnya balas menyerang Liyura dengan Skill yang di milikinya juga.


"Dragon Slash!"


Aran menyerang dengan beruntun ke arah Liyura membuat Liyura termundur ke belakang sambil mempertahankan posisi bertahannya.


Liyura juga sesekali menangkis pedang Aran dengan kedua pedangnya. Dentingan pedang kembali terdengar, Liyura akhirnya mundur sedikit jauh dari posisinya.


"Kau lawan yang cukup tangguh."


Aran berbicara dengan serius karena jika dipikir, hanya Liyura lah yang dapat mengimbangi teknik berpedangnya.


"Kau lawan yang cukup kuat untukku. Sayangnya aku sudah bertarung dengan banyak makhluk yang lebih kuat darimu."


Liyura berkata hal benar, dia sempat melihat level dari Aran yang ternyata berlevel 70. Dia adalah Player yang cukup hebat karena tingkatan levelnya yang cukup tinggi.


"Aku lebih kagum denganmu! Aku tidak bisa melihat poin HP dan MP mu yang pastinya jumlahnya pasti sangat fantastis lebih banyak dariku."


"Itu adalah hasil kerja kerasku. Jika aku mau aku bisa bertarung melawanmu selama yang kau bisa."


Liyura juga tidak berbohong. HP nya terlalu fantastis karena angkanya yang berjumlah ribuan dan mungkin akan bertambah sedikit jika dia telah mencapai level yang cukup tinggi.


Aran terlihat semakin tertarik pada Liyura. Dia melihat Liyura seperti tantangan untuknya agar dapat mengalahkannya.


Liyura kali ini menghindar karena dia tidak mau poin HP nya terkuras hanya dengan serangan seperti itu.


Kali ini, Liyura juga mulai serius karena jika di lihat pertarungan telah berjalan selama 1 jam jika di lihat di layar Console melayang di atas mereka yang menunjukkan waktu mereka berduel.


Liyura kali ini menggunakan kuda-kuda nya dan segera menggunakan Skill andalannya.


"Light Movement!"


Liyura menghilang menjadi siluet cahaya yang tidak dapat dilihat pandangan nata membuat Aran sedikit terkejut dengan gerakan Liyura.


Aran berdecak kagum dan berusaha agar dirinya tetap waspada akan serangan mendadak Liyura.


Liyura berlari secepat cahaya dan akhirnya dia menebas Aran tanpa keraguan dengan kedua pedangnya.


Aran yang tidak siap dengan serangan itu akhirnya mengenai telak ke tubuhnya. Darah keluar dari tubuh Aran yang tersayat oleh kedua pedang Liyura.


Aran terlihat memegangi tubuhnya yang terluka dan menatap kagum pada gadis di hadapannya.


Liyura bisa dibilang telah membuatnya ingat perasaan sakit ketika tertusuk pedang. Karena Aran selalu bertarung tapi tidak pernah kalah hingga dia bosan sendiri dengan kemenangannya.

__ADS_1


Yah meskipun terdengar aneh, dia sama sekali tidak membenci Liyura karena telah melukainya tapi dia malah memuji kekuatan Liyura yang bahkan mungkin teknik pedangnya lebih hebat darinya yang sama sekali belum pernah kalah itu.


Liyura melihat ke arah Aran yang sedang terluka tapi memandangi dirinya dengan pandangan tertarik membuat Liyura sedikit bingung dan mengernyitkan dahi.


"Hah, rasa sakit ini sangat familiar. Aku tidak menyangka kau akan dapat mengalahkanku semudah itu. Teknik pedangmu itu sangat baru bagiku yang seorang Player ini. Siapa namamu, Nona?"


"Namaku Liyura. Jika di dunia ini kau bisa memanggilku begitu. Aku akui kau hebat juga dapat mengimbangiku meskipun sesaat. Karena teknik pedangku di dunia nyata mungkin hampir sama dengan seorang Master. Apakah kau juga pernah berlatih pedang sebelumnya?"


Liyura terang-terangan mengatakannya karena Aran juga adalah seorang Player sama seperti dirinya yang dari dunia nyata.


"Itu benar, tapi aku terlalu bodoh jika belajar di dunia nyata. Dibandingkan dunia ini yang memang di penuhi sihir maka apapun dapat di wujudkan sesuai mimpi."


"Kau benar, aku merasa aku sangat kuat tapi aku juga tidak tahu apakah ada yang bisa menandingiku saat aku masuk ke dunia ini, begitulah pikirku dulu. Aku akui jika aku memang sangat meremehkan orang lain dan seakan lupa dengan pepatah 'Di atas langit masih ada langit.' Mungkin di dunia mimpi ini memang ada yang lebih kuat dariku."


"Itu benar, aku juga merasakan hal yang sama. Mungkin hal ini dapat di jadikan pelajaran agar kita tidak meremehkan orang-orang dari dunia ini. Meskipun hanya seorang NPC sekalipun."


"Hah, rasanya kita berbicara bukan sebagai musuh saja."


Aran menaikkan alisnya, "Bukankah kita memang bukan musuh. Kita berduel seperti ini aku hanya ingin menguji kemampuanmu apakah kau benar-benar membunuh Cello atau tidak. Tapi sepertinya kau memang benar-benar membunuhnya, ya. Apakah kau tidak bisa memaafkannya?"


Liyura terlihat menunduk, dia akui sejak datang ke dunia ini, dia seperti pembunuh berdarah dingin. Dia sama sekali tidak takut dengan darah yang muncrat dari tubuh dan organ yang terpotong maupun hancur karena pedang maupun senjata lain.


Dia memang dapat di lihat seperti Kesatria haus darah. Sejak dia memiliki banyak pedang di tangannya, semakin sedikit pula kemanusiaan yang tertanam di dalam dirinya.


Liyura seakan lupa dengan misinya dengan terus membantai dan membantai, apapun yang menghalanginya dia akan membunuhnya tanpa keraguan dan berkedip karena untuk mencapai sesuatu, kita juga harus mengorbankan sesuatu. Itulah yang dia pegang teguh dari ucapan kakeknya di Real World dulu.


Liyura sedikit menunjukkan ekspresi miris mengenai dirinya.


"Aku tidak terpikir untuk memaafkannya. Mungkin saat itu suasana hatiku sedang buruk hingga aku tidak bisa berpikir jernih. Lagipula aku sudah menanggung dosa ini sebelum aku membunuhnya dengan mengorbankan diriku sendiri dalam pertarungan yang tidak akan pernah berakhir."


Aran menatap Liyura, dia kemudian duduk di tanah yang jaraknya tidak jauh dari gadis itu dengan meletakkan pedang besarnya.


"Kau pasti sudah mengalami hal yang sulit ya? Ketika melihatmu aku teringat diriku. Aku sama sepertimu. Aku bermain Chronicle Online agar aku dapat melarikan diri dari Real World dengan melampiaskan emosiku dengan membunuh monster di Mozart ini."


"Heh, jika aku mendengar perkataanmu, aku dan kau itu sangat berbeda jauh. Memang aku adalah seorang gadis tapi mentalku sangat kuat daripada gadis lain yang cengeng hanya karena putus dari pacarnya. Tapi sekarang aku bukanlah aku yang dulu. Aku sudah memutuskan untuk memilih jalan penuh darah dan teriakan pilu orang-orang yang kubunuh. Bukan tanpa alasan agar aku dapat meraih apa yang ingin aku capai. Sedangkan dirimu, kau berjuang untuk apa? Untuk dirimu sendiri? Orang lain? Demi apa kau bertarung menggila di peperangan meneriakkan kata-kata semangat untuk berperang? Untuk kedamaian? Yang ada malah dunia akan semakin pedih dengan kesengsaraan karena harapan pun tidak akan bisa menolong lagi."


"Kau berbicara terlalu puitis. Tapi kata-katamu bagus juga. Itu benar, aku memang tidak punya tujuan untuk bertarung, tapi bukan berarti aku berjuang tanpa ada impian yang ingin kuraih. Bukankah akan tiba saatnya dimana kita akan behenti dan beristirahat dengan tenang?"


Kali ini Liyura memandang Aran dengan pandangan tak percaya. Pemuda yang selalu berperang di garis terdepan berbicara seperti ini? Mungkin benar jika dia adalah pejuang perang di Mozart. Tapi itu akan berbeda jika dia berada di Real World.


"Yah, perkataanmu tidak dapat dikatakan salah. Aku setuju denganmu tapi aku yakin jika pencapaian dan proses terakhir masih jauh dari apa yang kita lalui. Aku yakin kita berjuang masih berada di awal dan bukan berada di tengah-tengah menuju proses penyelesaian yang sesungguhnya. Aku akan menebus dosaku karena telah banyak membunuh di dunia ini dengan meraih impianku!"


Aran tersenyum, entah sejak kapan dia merasa setenang ini di hadapan seseorang. Gadis di depannya memberikan banyak sekali hal-hal mendasar yang tak dapat di lihat olehnya.


Gadis di depannya seakan membuka kembali matanya dan kesadarannya bahwa kita dapat menjadi apa saja, dan apapun itu ketika kita telah meraih impian kita.


Jika boleh diakui, dunia ini dengan Real World tidak berbeda jauh. Dan Aran rasa pasti lebih menyenangkan dan menenangkan berada di Real world untuk saat ini daripada bertarung mati-matian dengan sekelompok Monster.

__ADS_1


Hening berkepanjangan di anatara mereka, sampai akhirnya Aran tersenyum.


"Aku kalah padamu, Liyura."


__ADS_2