
Liyura terlihat bosan. Dia terus mendengar celotehan dari ketiga anak remaja yang terdengar berbicara dengan ria dari posisinya yang lumayan jauh.
Entah kenapa, insting bertarung dan ke-5 indranya terlalu sensitif saat dia memasuki dunia ini. Bahkan dari jarak sejauh 10 meter dia dapat mendengar suara yang bersumber dari anak-anak itu.
Liyura juga bosan karena dia terlalu lelah untuk meladeni setiap cerita yang dibicarakan ketiga anak itu.
Tapi, justru karena dia pasti akan lebih bosan lagi, Liyura akhirnya menghampiri mereka untuk bergabung. Dia terlebih dahulu memasukkan Evol ke dalam Dunia Segelnya karena Jaquin itu terlihat sangat kelelahan hingga tertidur.
Saat nereka melihat Liyura datang, mereka menghentikan pembicaraan masing-masing dan berada dalam mode hening. Liyura menaikkan salah satu alisnya tinggi, seakan memberi kode pada mereka untuk melanjutkan pembicaraan tanpa menghiraukannya.
Ryan terlihat membaringkan dirinya di dekat pohon yang menjulang. Dia menatap daun-daun pohon yang berjatuhan menimpa wajah dan pakaian yang digunakannya.
Zayn dan Kei juga berhenti bersuara. Yang terdengar mungkin adalah suara angin semilir yang menerpa rambut mereka.
Tidak lama, Ryan bangun dalam posisi duduk seketika dan menghadap ke arah Zayn. Sedangkan Zayn yang terlihat terkejut langsung terjungkal ke belakang membuat dirinya dalam posisi tertidur diiringi suara teriakan terkejutnya itu.
Dan Liyura yang melihatnya hanya tersenyum. Ternyata seru juga jika seperti ini. Andaikan di dunia yang ditinggalinya sementara ini sama seperti di Real World, yaitu sama sekali tidak ada masalah dan selalu damai meskipun tidak selamanya dan hanya sesaat.
Liyura tahu jika kedamaian memang tidak akan pernah benar-benar ada di dunia manapun. Tapi, tidak ada salahnya 'kan jika kita santai sedikit?
Liyura menghela nafas panjang. Sedangkan Ryan yang sejak tadi tertawa bersama Kei karena tingkah lucu dari Zayn saat terkejut.
Zayn terlihat marah dan membenarkan posisinya dalam posisi duduk bersilanya lagi dan memarahi Kei serta Ryan dengan suara cemprengnya itu.
"Dasar emas karat! Begitu saja kau terkejut!"
Ryan terbahak dan menatap Zayn dengan pandangan yang lucu. Sedangkan Kei hanya tertawa canggung. Wajar saja karena anak itu sama sekali tidak pernah merasakan hal yang namanya tertawa setelah dia kehilangan orang yang sangat berarti untuknya---keluarganya sendiri, dan mungkin juga adiknya. Karena adiknya 'kan telah menadi Vampir, Kei ragu jika adiknya itu dapat di ubah kembali menjadi manusia.
Kei menunduk, dia terlihat resah. Liyura yang menyadari hal itu segera menepuk punggungnya keras membuat anak itu terlihat hampir terjungkal ke depan.
"Kau jangan memikirkan bebanmu untuk saat ini. Nikmatilah waktu-waktu yang seperti ini yang nanti pasti akan menjadi kenangan untukmu, karena waktu seperti ini tidak akan terulang."
Liyura tersenyum setulus mungkin agar dapat menenangkan Kei. Sedangkan Kei hanya mengangguk dan mengiyakan.
Zayn dan Ryan berhenti bertengkar, Ryan terlihat berpikir dan menanyakan sesuatu.
__ADS_1
"Ah ya, aku dan Kei sudah menceritakan hal-hal tentang kami, bagaimana denganmu? Bagaimana bisa adikmu terbunuh?"
Ryan terlihat khawatir dan terlihat penasaran secara bersamaan. Karena perkataan Ryan, kali ini, Zayn berekspresi muram dan menunduk dalam hingga wajahnya tidak terlihat.
"Hmm, saat itu, aku sedang dalam tugas pertamaku sebagai seorang Pemburu Vampir. Nama adikku Leo. Aku memiliki firasat buruk di hari itu, tapi aku tidak pernah menghiraukannya. Aku tersenyum pada Leo sebelum pergi dan menyuruhnya untuk mengunci pintu dan tidak boleh membukanya sebelum aku datang. Dia masih berumur 9 tahun saat itu. Aku tidak tahu jika hari itu adalah hari terakhirku bersamanya."
"Ibu telah meninggal setelah melahirkan Leo, sedangkan Ayah tewas dalam menjalankan tugasnya sebagai Pemburu Vampir. Untuk itulah dari kecil, kami selalu saling bergantung."
"Dan aku pun pergi dari rumah itu, dan tidak mengetahui jika itu adalah terakhir kalinya aku melihat adikku. Anggap saja, saat aku berpamitan padanya dan dia menyuruhku hati-hati seperti biasanya sebenarnya adalah ungkapan selamat tinggalnya padaku saat itu."
"Aku...Aku yang tidak menghiraukan perasaanku yang buruk saat itu langsung membantai Vampir sebanyak-banyaknya agar aku dapat menyelesaikan misiku dengan cepat. Tapi, di perjalanan pulang, aku menemui masalah. Ada seorang Vampir yang kuat, dia menghalangi jalanku menuju rumah tempat adikku tinggal seorang diri. Aku mulai curiga padanya karena dia seperti terlihat akan mengorbankan nyawanya agar aku tidak pulang."
"Aku yang tidak peka terhadap hal itu hanya bisa fokus bertarung dan bertarung sepanjang waktu, anehnya Vampir itu seperti menahan kekuatan yang sesungguhnya untuk menyerangku, hingga dia benar-benar mati di bunuh olehku."
"Aku langsung berlari sekuat tenaga menuju rumah dan saat aku tiba," Zayn menggeleng lemah, ekspresinya mengandung kesedihan mendalam. Bahkan Liyura dan yang lainnya dapat melihat ketika Zayn mendongak, air matanya seakan dapat tumpah kapan saja.
"Adikku pingsan dengan berlumuran darah di sekitar lehernya. Tapi sayangnya aku tidak bisa menemukan Vampir yang telah berbuat hal seperti itu pada adikku. Aku bersimpuh di hadapannya dan mendekapnya erat.. aku.. aku.. aku tidak bisa merasakan detak jantungnya.."
"Tapi kemudian, dia terlihat kejang-kejang membuat tanganku semakin gemetaran. Air mataku tumpah begitu saja ke arah wajah adikku yang terlihat mengeluarkan urat-urat berwarna merah yang terlihat mengerikan."
"Dan... dan... dan.... aku melihat dia ingin menyerangku membuat diriku segera memeganginya sekeras mungkin. Aku sangat sedih ketika melihat tampang polos Leo sudah tidak ada lagi. Yang kulihat di mata merahnya itu, hanyalah hasrat untuk menghilangkan dahaganya akan darah."
"Leo menggeram sekeras mungkin, tapi aku tetap menahannya agar dia tidak menyakitiku. Aku sangat sedih akan hal itu. Meskipun dia adikku, aku tidak bisa menbiarkannya hidup jika dia sampai menghisap darah manusia."
"Hingga terpaksa aku menggunakan teknik yang ku pelajari untuk membuat seseorang pingsan. Aku mengikat Leo di kamar agar dia tidak kemana-mana dan tetap ada di dalam kamar yang hanya ada satu di rumah. Leo yang tidak sadar, penampilannya kembali berubah menjadi seperti manusia."
"Dan akhirnya... Keesokan harinya datang. Aku tidak menyadari jika aku tidur di lantai yang terlihat keras, tapi tidak ada hal yang lebih penting daripada Leo untukku saat itu."
"Dia masih tertidur, aku ingin sekali menyentuhnya tapi ada yang mengetuk pintu rumah. Setelah kubuka ternyata yang datang adalah Ray. Dia adalah salah satu Jenderal Wisteria. Aku tidak tahu kenapa dia ada di sana tapi dia bilang, ada perintah untukku."
"Apa perintahnya adalah hal yang baik?"
Ryan terlihat penasaran, sedangkan Kei terlihat menabak-nebak perintah yang akan di dapatkan Zayn.
Tapi, Zayn menggeleng, "Tidak, kau salah, Ryan. Perintah itu bukanlah hal yang baik. Tapi adalah perintah jika aku harus membunuh Vampir yang ada di rumahku---yang tentu saja tidak lain adalah adikku sendiri. Aku tidak tahu dari mana para Jenderal Wisteria tahu akan hal itu---tragedi tadi malam, tapi aku segera menolak keras perintah itu."
__ADS_1
"Ray bilang jika aku tidak melaksanakan tugasnya, maka aku harus berhenti menjadi seorang Pemburu Vampir. Aku terlihat takut, karena aku tidak mau berhenti menjadi Pemburu Vampir. Ray terlihat tidak peduli hingga dia masuk ke rumahku tanpa Izin dan membuka pintu kamar yang di dalamnya adalah Leo yang sedang tertidur."
"Tapi, Leo terbangun, dia segera melesat cepat seperti menggunakan teknik langkah kilatku hingga dia mencapai posisi Ray dengan sekali gerak. Aku terkejut, tapi Ray hampir menebasnya jika aku tidak segera mengambil Katana ku dan melindungi adikku darinya."
"Aku menahan serangannya tapi tetap saja aku kalah padanya. Dia terlihat sangat marah dan segera menghunuskan Katana miliknya lagi ke arah adikku. Tapi adikku kabur keluar rumah."
"Aku begitu terkejut dan langsung mencarinya keluar, hari itu adalah hari yang sangat panas, tapi anehnya, Leo tidak terbakar sinar matahari. Leo akhirnya sampai di sebuah desa yang letaknya di dekat rumah kami. Aku segera menghentikannya. Tapi dia tidak menghiraukanku hingga akhirnya dia hampir membunuh seorang gadis remaja yang berpapasan dengannya membuat Katana ku bergerak sendiri.... Dan..."
Ryan terlihat sedih, dia menatap Zayn iba. Sepertinya jika mereka membahas soal Vampir pasti yang akan terjadi akhirnya bukanlah hal baik, tapi malapetaka.
"Dan...Aku membunuhnya dengan Katana itu dengan tanganku sendiri. Aku menebas kepalanya agar taringnya itu tidak menyentuh permukaan leher si gadis. Leo akhirnya tumbang dalam sekali serang dan tidak meregenerasi seperti Vampir lainnya. Karena dia baru pertama bangkit."
"Aku menangis sekencang-kencangnya dan segera menjatuhkan pedangku. Aku tidak tahu jika saat itu pula, tiba-tiba hujan datang melalui guntur, seakan alam juga ikut bersedih. Aku sungguh menyesal akan perbuatanku. Tapi aku sunguh tidak punya pilihan, jika aku tidak menghentikannya, maka gadis remaja itu akan menjadi korban."
Ryan terlihat berekspresi mengerikan, "Aku tidak akan pernah memaafkan Vampir seperti mereka!"
Semuanya langsung menoleh ke arah remaja itu. Ryan menggeram dengan keras, cerita mengenai Vampir yang dibawakan oleh kedua orang di depannya, serasa membuat semangat juangnya untuk menghabisi para Vampir menjadi membara.
"Dan setelah itu, aku bisa melihat tubuhnya seperti menghilang dengan sendirinya karena terbakar matahari, meskipun cuacanya agak dingin karena guyuran hujan."
"Tangisanku bercampur dengan air hujan yang mengalir di wajahku dari langit. Aku menatap langit itu seakan aku ingin meminta pertanggung jawaban dan alasan kenapa para Vampir diciptakan jika hanya akan merugikan."
"Ray datang pada saat itu dan melihat tubuh adikku sudah tidak ada membuatnya tahu jika aku telah membunuhnya. Ray menyentuh pundakku dan membawaku ke Lembah Wisteria. Dan mulai saat itu, aku tinggal di kediamannya, aku di urus dan dianggap seperti adiknya tapi aku hanya menganggapnya seniorku."
Cerita Zayn berakhir. Dia menatap yang lainnya dan mengusap air mata yang mulai jatuh di antara pelupuk matanya.
Ryan menatap empati sedangkan Kei menunduk dalam. Mereka bisa dikatakan memiliki nasib yang sama sial jika berurusan dengan makhluk bernama Vampir.
Liyura menatap ketiganya lama dan menghela nafas lagi. Dia sebenarnya cukup bosan untuk mendengar cerita yang sedih. Tapi apa boleh buat, gadis itu akhirnya diam dan menikmati angin semilir.
"Kei, Ryan, dan Zayn. Apa kalian membenci hidup karena kalian mengalami hal yang pahit?"
Ketiganya sontak menoleh ke arah Liyura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kami membenci hidup kami yang seperti ini. Tapi kami juga tahu jika kami tidak punya pilihan lain selain tetap menjalani hidup dan membalaskan dendam mereka---orang-orang yang berharga bagi kami masing-masing."
__ADS_1
Liyura tersenyum, "Sebagai seorang guru, maupun kakak, atau senior bagi kalian tentangku, aku hanya punya nasihat jika apapun yang terjadi, hidup akan tetap bergulir, jadi tidak ada salahnya jika kita memohon, meminta, dan merasakan apa yang menggambarkan hati kita sendiri. Tapi, ingatlah jika kita tidak sendirian dalam menghadapi hal yang sulit. Aku tahu kalian membenci hidup karena pengalaman kalian yang pahit, tapi, ketahuilah jika kalian tidak mengalaminya sendiri. Dunia ini adil bagi kita semua."