Cinta Berbekal Matre?

Cinta Berbekal Matre?
Buku IPA


__ADS_3

“Perhatian kecil tersembunyi, berbisik dalam hati apakah ada kidung dalam selip asa lewat pesan dalam buku IPA?”


🥇🥇🥇


Kemarin tidak menemui Randy pas sepulang sekolah, karena masih dongkol dengan sikap pongah diberikan beberapa waktu lalu, bekasnya masih terasa sampai sekarang.


Tadi, Elvira juga tidak terlalu mementingkan ketemu atau gagal yang penting perut kenyang dan istirahat tenang di rumah gadis itu sebelum balik ke rumah buat jaga warung.


Hari ini datang ke sekolah dengan wajah-wajah tak biasa, sedikit menggoda Cantika.


Ada apa lagi nih? Senyum mencurigakan dari kelima temannya itu.


Walau sudah berteman baik lagi dengan Randy, tidak menyakinkan hati bisa menjalankan ikatan melebihi dari teman.


Namun, ada kecurigaan di balik tingkah teman satu kelasnya tersebut. Disambut oleh pemikiran-pemikiran penasaran, justru tidak terjawab langsung oleh mereka apalagi Nila, hanya tersenyum menggoda.


“Kenapa sih?” Sedikit ikut terkekeh, geli sendiri.


Daripada merayapkan sebuah penasaran, lebih baik keluar kelas saja deh, menghirup oksigen segar.


“Cantika?!” Seru seseorang yang baru datang.


Menceritakan kenapa dengan perubahan sikap mereka dalam kelas, justru lawan bicara hanya mengangkat kedua bahu, tidak tahu apa-apa.


“Coba pikir dulu, ada kesalahan apa yang sudah kamu bikin sama mereka?” Kata Elvria.


Ah, masa ada salah sih? Selalu berpikir jelek yang berdampak buruk juga buat Cantika berteman dengan sosok sahabat di temui lewat media sosial, bermodal mantan sama itu.


Selama ini baik-baik saja kok berteman sama mereka. Yang membingungkan adalah kenapa tiba-tiba senyum jail begitu?


Apa ini ada hubungannya dengan Randy? Atau, kemarin ada sesuatu yang sudah di sampaikan ke teman sekelas, karena tidak datang ketemu cowok itu kah.


Haish, buntu. Tidak menemukan apa-apa selain hanya penasaran. Mau bertanya, terlalu gensian, karena tahu mereka bakal menyoraki bukan memberikan apa diinginkan gadis itu.


“Besok ada pelajaran IPA, bingung eh?” Sahut Cantika tiba-tiba.


“Katanya ada mereka berlima yang bantu kalau susah?”


Ok, tahu kok kalau tugas pekerjaan dari guru IPA tidak terlalu susah hanya berhubungan dengan materi, hanya sedikit bingung memahami pertanyaan dalam buku cetak IPA.


Mendadak ada ruas meletup sangat kesal dalam hati Cantika, sejak tadi ngobrol tidak nyambung sama sekali selain nyari gelut.


Syukur bel masuk menyelamatkan emosi nyaris meledak ke arah Elvira.


Langsung beranjak dengan gerakan kasar, cukup buat Elvira bingung sendiri ada apa lagi dengan sahabatnya itu?


“Can..Can, sini. Ada sesuatu yang saya mau kasih tahu ke kamu.” Panggil Fathur.


“Apa sih?” Merasa risi tapi tetap berdiri menghampiri teman sekelasnya itu.


“Sudah tahu belum? Kalau Randy mau nembak kamu?”


“Hah? Masa sih?” Pekik Cantika tanpa sadar, syukur lagi depan kelas, jadi tidak terlalu terdengar obrolan mereka, apalagi teriakan gadis itu barusan.


Mengangguk sangat mantap.


“Ah, berhenti bercanda sudah. Anak itu mau fokus belajar yah bukan pacaran.” Mengelak sangat kuat.


Saat sudah sampai dalam kelas, melirik ke arah Randy sedang sibuk ngobrol ringan beriringan dengan tawa kecil tanpa sadar ada senyum getir tercipta di wajah Cantika. Sesak.


Duduk sambil kembali dengar penuturan Fathur barusan, apakah benar Randy akan segera melabelkan hubungan mereka dengan sayang atau sekedar bualan saja untuk menyenangkan hati?


Selama pelajaran berlangsung, tidak terlalu fokus melainkan pikiran ke mana-mana. Ingin segera balik ke rumah dan menenggelamkan semua harapan kembali muncul.


Bosan bermain dengan luka dan kepalsuan diberikan oleh Randy.


Kira-kira kemarin ada hal apa yang ingin disampaikan? Terlalu meninggikan gensi, sekarang penasaran hebat dan mengganggu isi kepalanya, kan.


Cantika begitu, suka penasaran tapi tidak mau mencari tahu.


“Siapa suruh sempat bikin saya sakit hati,” cetus gadis itu tiba-tiba, bicara sendiri.


Lebih tepatnya sih sangat kecewa dengan Randy, langsung main ceplas-ceplos hal menyebalkan sampai luka-luka masih tercetak lewat tindakan Cantika, belum juga mengerti dan tidak peka buat mengejar dan bertanya ada apa justru ngomong hal-hal semakin buat dia dongkol sendiri.


Dalam kamar, sudah melihat langit gelap, masih bisa mengerjakan tugas dan belum mengantuk lebih baik langsung kerja tugasnya saja. Karena jawabannya bercabang-cabang.


Can, bsk plg sklah jgn plg dlu, tnggu sy

__ADS_1


SMS itu bersamaan saat Cantika sudah selesai kerjakan PR IPA-nya, lalu membuang napas gusar, kenapa lagi sih?


Esok hari, tidak bakal mengingkari atau menghindari.


Sudah duduk dalam kelas, grasak-grusuk ransel, mendadak membeku di tempat, “duh..lupa bawa! Sial sekali.” Kesal Cantika sendiri.


Mau pinjam tugas pekerjaan teman ceweknya, sedikit ada rasa ragu dalam batin. Gegara SMS semalam dari Randy, buat gadis itu lupa masukkan buku cetak serta catatannya dalam tas.


“Teman-teman! Masuk dulu di kelas, saya mau kasih tahu kalau tugas IPA dikerjakan di rumah, minggu depan baru kumpul.” Dyka menginfokan, selaku ketua kelas multimedia.


Hah. Mengusap-ngusap dada, sangat lega sekali. Nilai IPA kali ini bisa terselamatkan.


Cantika tidak berdua melainkan minta ditemani Nila, ragu untuk memanggil lebih dulu, “Nil, panggil Randy dulu.” Kata Cantika degan degup jantung berdebar kencang.


“Oh, ciee..tunggu sudah.” Berbalik ke arah di mana Randy duduk, “Ran..Cantika panggil nih, ciee..”


Mereka sudah pada selesai pelajaran, pulang sekolah dan teman lainnya pada nunggu di bawah kantin.


“Mau ngomong apa, Ran?” Kata Cantika, langsung ke intinya.


Loh, semakin bingung saat Randy menggandeng ransel lalu keluar melewati dia tanpa kata, hanya meninggalkan jejak-jejak simbol lewat jemarinya.


“Hah?” Cantika semakin bingung.


“Can, kamu artikan yang saya tunjukkin tadi.” Berkata sambil berlari kecil meninggalkan keduanya.


Dengan cepat Nila merespon setelah beberapa saat berpikir, “Randy..saya tahu maksudmu, itu kan, i love you to haha..Can, ciee..” Nila tertawa menggodanya.


Sedangkan Cantika mematung, bergeming campur bingung.


Tidak mau pusing, langsung berjalan ke bawah meninggalkan Nila begitu saja. Lalu secepat mungkin disusuli oleh teman berbadan gumpal itu, sejajarkan langkahnya.


Untuk hari ini mereka pulang cepat ke rumah masing-masing.


Saya cinta sama kamu, Can.


Cantika baru memainkan benda pipihnya itu, karena ada razia di sekolah beberapa minggu ke depan. Ada tawa sumbang berasal dari gadis itu.


Oh, kamu sayang sebagai sahabat yah, Ran.


Sudah cukup untuk berharap tinggi mendapatkan hati seorang yang sekedar fokus sama pelajaran bukan sibuk menembak dirinya dengan romantis. Sebab, tahu sendiri kalau Randy salah satu teman terkesan pemalu, tidak mungkin bisa seromantis itu, kan?


Penuh penekanan dan serius dari jawaban Randy, sedikit bingung, harus kasih kalimat apa selain berdebat begitu lama dengan isi hati sendiri.


I love you


“Haha, stop gombal sudah, Ran.” Tawa derai terdengar lirih.


Hmm


Setelah membalas tidak ada niat sama sekali, lagi cowok itu menyakinkan Cantika ..


Saya sayang sama kamu, Can.


Tidak merespon, lalu tiba-tiba Randy menelpon, bertanya tentang tugas sekolah. Semakin buat Cantika bingung dengan sikap tak menentu dari Randy. 


🧭🧭🧭


“Ran!” Teriak Cantika, saat melihat cowok itu ingin melenggang keluar dari kelas.


Masih pagi, belum bel masuk. Selalu nongkrong di kantin menunggu bel pelajaran masuk.


Berbalik dengan tatapan bengong.


“Kenapa?”


“Sini dulu?” Sambil mengibas tangannya, memanggil.


Randy pun berjalan ke arah tempat duduk gadis itu.


“Yah? Ada apa, Can?”


“Bisa pinjam buku IPAmu?” Kata Cantika, sedikit ragu.


“Oh, tunggu sudah, saya ke kantin dulu sama anak-anak, nanti saya kasih kok.”


Cantika bisa lihat ada garis-garis senyum tak bisa diartikan, lalu mengangguk.

__ADS_1


“Oh, ok, makasih.”


Sisi lain saat Randy berkumpul dengan mereka, ada ide-ide untuk tidak terlalu kaku dengan menyampaikan perasaannya ke Cantika.


“Ran..” Suara yang sedang memenuhi isi kepala Randy, memanggil.


“Hm, kenapa?”


“Yang tadi.” Mengingatkan lagi.


“Oh, iya nanti jam istirahat kedua baru saya kasih. Masih mau pake jadi.”


Bisa saja sih beli buku cetak itu, bahkan buku cetak yang kemarin hanya pinjam punya Elvira, karena bakal jadi figuran saja dalam kamar.


Mau minta lagi tapi orangnya ngamuk karena minjamnya lama, tidak di kasih kembali tepat waktu, saat Elvira mau kerja tugas harus kebingungan buku cetaknya lagi di tangan Cantika.


Bel pertama pun bunyi, Seni Budaya pelajaran pertama mereka.


Setiap kali masuk pelajaran itu, kebanyakan dengar curhatan dari guru bersangkutan di banding dengarkan materi. Padahal pelajaran Seni Budaya, bukan Sejarah, yang mengenang masa lalu.


“Ok, kalau sudah selesai di catat. Kumpulkan ke meja ibu! Minggu depan sudah harus punya kuas dan cat air.” Titah beliau.


Yang paling menyebalkan adalah siswa-siswi asik mendengarkan curhatan beliau, saat sekertaris kelas mencatat di depan, tiba-tiba meminta mereka mengumpulkan catatan mereka. Syukur selama bu guru curhat, Cantika serius mencatat. Main aman.


Sedangkan teman-teman lainnya pada panik sendiri, bahkan parahnya ada yang tidak catat sama sekali. Cantika yang melihat kehebohan itu hanya menggeleng tak habis pikir.


“Hore, istirahat!” Sorak mereka.


Bu Lilis hanya membuang napas pasrah dan meminta kumpul catatan ala kadarnya saja. Lumayan sih, ada dua setengah halaman.


“Yang sudah kumpul, boleh keluar istirahat. Bagi yang belum silahkan di catat sampai habis, kalau tidak nilai kalian di ibu bakal dikurangi!” Tegas beliau.


Dyka sudah mengumpulkan buku-buku mereka lalu di bawa ke ruangan Bu Lilis.


“Can, ke kantin yok?!” Seru Nila, menarik lengan gadis itu dengan pelan.


Justru menahannya, “tunggu dulu, saya mau pinjam buku IPAnya Randy. Takut pulang sekolah lupa ambil.” Balas Cantika cepat.


“Tadi Randy bilang nanti dia simpan di mejamu. Ayok ah, lapar nih.” Keuhkeuh Nila.


Teman lain juga pada ngangguk dengan tatapan memelas. Membuang napas gusar, takut nanti tidak bisa kerja tugas IPA yang kemarin baru di kasih lagi, walau guru tidak masuk, PR bakal ada yang baru lagi.


“Ayo sudah..” Kata Nila.


Ok. Mereka berlima tidak tahu tujuan utama Randy, hanya bakal simpan buku IPA di meja Cantika selebihnya tidak memberitahui.


Saat turun dari atas tangga, melihat Dyka sudah balik dari kantor, hanya melempar senyum.


“Ran..” Menghampiri temannya itu sudah dari tadi menunggu.


Cepat-cepat buka buku IPA lalu memasukkan secarik kertas yang sudah semalam Randy tulis. Lalu menaruhnya di meja Cantika dan menuliskan sesuatu di papan tulis.


BUKA BUKU IPA HALAMAN PERTAMA.


Buset. Huruf kapital semua. Tulisannya besar pula, kalau Cantika tahu bakal menyimpan rasa malu dengan cara Randy mengungkapkan perasaan sangat terang-terangan.


Saat Cantika dan ke lima temannya balik ke kelas, sudah bisa melihat menggunakan ekor mata, hati berdegup sangat kencang. Tanpa di kasih tahu oleh teman-temannya, cepat tangkap sinyal-sinyal di kirimkan Randy.


Temannya menyuruh buat lihat papan tulis, tapi di tolak mentah-mentah.


Pulang sekolah, “eh, tolong bilang ke Cantika eh? Buka buku IPAku di halaman pertama.” Randy berujar saat menemukan perempuan itu belum sampai di rumah Nining.


Sedangkan gadis itu sudah lebih dulu sampai di rumah temannya, malas berenang di bola mata Randy lama-lama. Memang senang tapi campur malu, nunjukin kode itu dengan cara terang-terangan, menyebalkan sekali.


“Memang ada apa kah?” Kali ini Nila bertanya balik.


“Hm, suruh dia saja eh? Daa..” Randy pun melambai pamit.


Nila langsung menyampaikan pesan teman cowoknya itu, Cantika lagi duduk di salah satu motor depan rumah Nining.


“Cie..Cantika, buruan buka! Siapa tahu ada ehm lagi.” Kali ini kok Nining dan Wardah paling bersemangat yak?


Cantika semakin tersipu dan membuka halaman pertama buku IPA punya Randy. Ah, benar saja, ada sebuah surat di sana.


Belum sempat di baca, sudah di rebut oleh mereka.


“Cie, kayaknya sih Randy mau nembak kamu deh, Can?” Kata Nila, gemas sendiri.

__ADS_1


Setelah mereka puas baca tulisan tangan Randy, langsung mengembalikan surat tersebut ke pemilik utamanya. []


__ADS_2