
“Selalu mengiramakan nestapa perulangan, kali ini adik kelas datang beri sikap pongah.”
📖📖📖
“El, sepertinya Randy kira saya berjilbab karena nyari perhatiannya? Gara-gara mereka tuh semuanya dalam kelas, asal main nyeblak sudah tidak kasih mie seblak, hanya mulut yang pedas.” Gerutu Cantika.
Elvira hanya tertawa, “sudah..sudah, kasih biar saja. Yang penting ada allah lihat prosesmu bukan manusia.”
Biar bagaimana pun di biarkan, mereka semakin menjadi-jadi, keterlaluan, melunjak.
Ok, fine, tahu kok semenjak gadis itu berpisah dan merengek terus-menerus agar bisa mendapatkan kalimat balikan, nihil, apalagi di tambah ada Rista yang menggantikan posisi, tidak bisa menjamin Elvira menampilkan sifat ramah.
Dan, memang butuh waktu panjang dalam mengembalikan ikatan persahabatan mereka. Hanya Elvira saja yang mau berteman baik, sedangkan Rina? Sudah lepas peduli, saat melihat kedatangan gadis itu di kelas saja, membuang muka, cuek.
Sempat ada rasa tersinggung tapi di sisi lain ada kelegaan, perempuan hijabers tersebut masih merentangkan tangan, menerima hangat ulang.
Kemarin masih ingat betul, saat sebelum mereka berdua balikan ..
“Pagi, Can?” Sapa Fandy.
“Yo..” Singkat padat dan jelas.
Fandy tertawa kecil, bukan mengejek melainkan bingung semenjak lihat Cantika pisah dengan teman dekatnya, berubah ketas-ketus.
Padahal, kan, bukan hanya Fandy ingin membuka silaturahmi melainkan satu kelas. Hanya terlalu takut untuk mengajak ngobrol, kalau di sapa ramah saja sudah di balas sungut seperti itu.
Sebenarnya, Fandy juga tidak setuju kenapa bisa Randy menjadikan adik kelas sebagai pelampiasan, tidak bisa balikan dengan teman sekelas, hanya menjadikan sakit hati suatu hari nanti Rista tahu kebenarannya.
Randy masih ada rasa dengan mantan kekasih, apalagi tahu nama mereka sama.
“Menurutmu, kenapa anak itu pacaran dengan nama yang sama dengan saya, eh?” Kata Cantika, sangat hati-hati.
Takut nanti menjemput sunyi dan tertekan batin menghadapi masalah seorang diri lagi tanpa Elvira di samping.
“Haha, kasih biar sudah toh. Randy, kan, memang masih belum bisa lupa sama kamu, Can. Masa kamu tidak peka sih?”
Eh, di balas dengan ramah loh.
“Hm, begitu kah? Tapi, akhir-akhir ini saya jarang lihat dia dalam kelas, kalau masih pagi-pagi kelas belum di buka, biasanya juga dia ada di atas, tapi sekarang sudah jarang kelihatan.” Cantika menginfokan.
“Oh, biasa. Lagi ngedate paling dengan Cantika Rista.” Sahut Elvira dengan santai.
__ADS_1
Kalau memang masih ada rasa, kenapa menjadikan anak orang sebagai pelampiasan saja? Kasihan, bagaimana perasaan Rista kalau tahu pacarnya masih menyimpan satu nama yang belum sama sekali di lupakan.
Apalagi sempat mendengar dari adik kelasnya, ingin menyamakan suara dan tingkah laku seperti Randy.
Apa yang akan di sampaikan oleh Elvira kalau tahu hal tersebut? Sembari mengangkat kedua bahu, tak tahu. Biarkan rasa penasaran dalam benak di simpan rapi, takut nanti ada kalimat berbalut bengis berasal dari mulut sahabat sendiri.
Cukup sudah melukai diri dengan memasukkan dua macan dalam hidupnya, kehilangan I-Pad sangat mengundang amarah apalagi yang mencuri tidak mau mengaku.
“Eh, sebentar sore ada liqo, Mbak Hanin nanyain kamu trus tuh.” Kata Elvira.
Rifleks ada desir-desir hangat dalam hati, membicarakan seputar halaqoh saja mengingatkan Cantika pada proses pembelajaran mengenakan hijab, yah walaupun sering lepas-pakai, setidaknya kali ini sudah mempertahankan itu semua dengan dorongan dan dukungan dari sahabat sendiri, tidak menggurui atau memaksa pun menyuruh, melainkan prantara seperti ngajak kajian, temani beli jilbab itu yang membisikan dalam hati dan bisa jemput hidayah prantara sahabat.
Dan, di tambah dalam proses itulah yang buat mereka mengira berjilbab karena cinta dan menginginkan Randy balik.
Dengan santai penuh tawa-tawa menggelikan dalam hati, membenarkan omongan mereka, supaya menang dalam menjatuhkan nafsi yang memang bukan karena cinta atau pun paksaan melainkan dari hati Cantika sendiri.
Benar kata Elvira, ada allah yang melihat keinginan itu dalam berhijab dan tidak membutuhkan penilaian dari manusia melainkan pencipta kita.
Omongan-omongan manusia hanya sekedar menjatuhkan iman, dan sebagi ujian dalam mempertahankan istiqomah berhijab.
Akan tetapi, kenapa Cantika paling senang sekali membenarkan omongan mereka yang semakin di olok-oloki, bukannya marah atau protes justru gadis itu senang, bisa melihat beberapa pembencinya sangat nyata terpapar depan mata.
Di balas tawa geli dari sahabatnya itu, “makanya itu, sebelum nanti sore kita ke liqo, saya jadi teman hapalan qur’an-mu, ganbate!”
“Eh, sejak kapan kamu suka bahasa jepang?! Biasanya juga nyinyir kalau saya lagi nonton anime.” Protes gadis itu, saat mendengar kalimat yang tak pernah di dengar dari mulut Elvira.
“Haha, kenapa jadi? Kalau saya bosan nonton drakor kerajaan, kan, masih ada anime.”
Hm. Tidak percaya sama sekali dengan omongan sahabatnya itu, apa karena ingin mengembalikan mood sedang kacau di sebabkan oleh mereka apalagi Ayu, si pencuri I-Pad-nya itu.
🧭🧭🧭
Cantika tidak melihat keberadaan cowok itu di kantin, hanya duduk sambil makan pop mie yang sudah di pesan di bude kantin.
Sambil menunggu pesanan di buatkan, duduk dulu di meja kantin luar.
Tidak sengaja mendengar sebuah penuturan bacaan quran dari adik kelasnya, bukan hanya itu, seakan-akan sengaja memancing emosi bagian ..
“Tadi malam mamaku kasih bangun saya kah, hanya suruh baca al-quran trus mereka rekam segala. Itu tengah malam kah, masih ngantuk parah.” Intonasi terkesan mengejek ke arah Cantika.
Nida, nama adik kelas yang ingin sekali di makan hidup-hidup oleh Cantika. Motif di balik ejekan itu apa, hah?!
__ADS_1
Hoh, ini sudah sebab kenapa terlalu meladeni mereka apalagi membenarkan hoaks yang sampai di telinga Nida tak berperasaan.
Percuma dong di bangunkan buat ngaji, kalau hati masih simpan rasa dengki, keki sesama manusia.
Emang kenapa jadi kalau di rekam? Nggak sekali di kirim buat memenangkan lomba, begitu.
Please deh, Cantika sudah mengupayakan tidak menanggapi, kenapa adik kelasnya masih saja melantur sangat pongah persoalan .. “Trus saya waktu pake jilbab tuh dari hati, bukan disuruh orang apalagi karna cinta.”
Oh, bukan hanya pandai dalam pelajaran, bacaan quran melainkan pandai sekali menjelekkan manusia?
Sangat muak sekali, di kelilingi oleh orang-orang toxic, tidak tahu dah motif di balik sikap mereka yang ingin menjatuhkan atau memancing emosi itu meledak dari Cantika, kah?
Untuk apa, coba, hah?!
Macam tidak ada kerjaan lain saja selain mengundang emosi.
Ini lagi si Nida, buat apa mengolok kakak kelas yang memang tidak pernah mengusiknya, hah? Sepertinya Cantika terlalu banyak fans, diam-diam membicarakan nafsi di belakang bahkan ada juga yang terang-terangan seperti adik kelas terkesan pongah tersebut.
Ok. Berjalan-lah dengan kepintaran kalian di sekolah dengan membawa segudang prestasi baik itu ranking menang lomba olimpiade akan tetapi jangan bawa juga dengan sikap sombong, pongah, keki saat ingin menjatuhkan orang lain yang di lihat tidak bisa apa-apa kecuali diam.
Diam-diam itulah yang diamati dan jangan meragukan orang itu akan meledak tanpa terkontrol.
Saat ini Cantika lebih memilih menghiraukan, walau tahu sisi lain sudah sangat terbakar karena omongan tak beretika berasal dari Nida.
Tidak ada angin, sudah main menjudge orang.
Apakah penampilan luar, cover, jauh lebih di minati dibanding dengan menganalisi lebih dalam? Lantas, kenapa selalu ada kesalah pahaman, setelah mengetahui lebih jauh tentang diri seseorang usai menjelek-jelekkan mereka?
Apakah masih ada tempat buat mereka untuk di maafkan?
Sepertinya bagi Cantika, memiliki dendam tersendiri. Sudah main hakim sendiri dan datang dengan tampang tak bersalah, begitu?
“Hei, bro!” Seru salah satu teman sekelas Cantika.
Rifleks pandangan itu mengarah pada sumber suara, “haha..biasa lagi ngedate sama pacar di kelasnya.” Dari Randy, yang memamerkan kemesraan depan teman dekatnya itu.
Oh, pantas. Gumam Cantika.
Cantika Rista, semoga kalian berdua selalu bahagia tanpa adanya perpisahan paling menyakiti perasaan satu sama lain. Saat masih sayang-sayangnya. []
__ADS_1