
...“Sejak makan bersama, tiba-tiba ada ruas patah apa menanggapi teman biasa saja kah?”...
🥇🥇🥇
Hari ini mereka pulang dari JJS bersama sekitar Sentani. Tidak tahu kenapa ada usulan dari Cantika buat sekedar mampir dulu di rumah, mengisi perut.
Di luar dugaan, mereka mengindahkan permintaan Cantika yang buat dia sangat senang bukan main.
Tidak ada dari salah satu mereka buat pulang cepat, semua ikut pergi mampir isi perut di rumah gadis itu. Senyum-senyum pun mengembang di wajah Cantika, sudah lama sekali, menginginkan moment indah ini dan hanya bisa di dapatkan lewat family multimedia.
Satu ratakan dalam berteman, itulah kelebihan yang dimiliki oleh mereka, bahkan jurusan lain iri karena keharmonisan yang terjalin dalam kelas.
Walau seperti itu, terkadang masih saja minder dengan teman yang pintar. Oke tahu kok, kalau tidak ada dari temannya meninggalkan hanya tahu tidak pintar, saling bahu-membahu bahkan soal menyontek sekalipun, ups, jangan di tiru yah.
Girls multimedia berada dalam dapur sedangkan boys? Duduk santai menunggu makanan selesai di masak oleh mereka, sambil berbincang hangat pun tawa terdengar dalam dapur.
“Cie, kenapa, Can? Senyam-senyum dari tadi?” Ah, Nila selalu saja peka dengan gerak-gerik temannya yang satu itu.
“Ah, tidak ada kok. Eh, mangkuknya kurang atau lebih? Biar saya ambilkan lagi sudah di lemari piring.” Cantika langsung mengalihkan topik pembicaraan.
Tahu debaran dalam dada sangat berpacu seperti lari maraton.
“Bagaimana, Can? Siapa yang kamu pilih nih? Antara Dito atau .. ehm.. Randy?” Seru Nila dengan nada berbisik.
“Ah, kenapa bahasa mereka? Tidak kok.” Alibi Cantika, berusaha mengontrol detak berpacu maraton.
“Cie..siapa nih, Can? Randy kah?” Kali ini Nining buang suara.
“Cie..Cantika..” Uhuk, Wardah lagi yang tambah menggodai teman sekelasnya itu.
Irsya cuek tapi tetap melempar senyum menggoda.
Haish, dia sekarang sudah tidak bisa leluasa bergerak dalam merasakan simfoni diberikan tanpa sengaja oleh Randy. Sebab, salah satu teman ceweknya sangat peka dengan gerak-gerik sedang jatuh cinta dalam diam.
Membuang napas gusar, bagaimana lagi menyembunyikan perasaan itu, kalau bakal perlahan terkuak oleh mereka, bakal di godai habis-habisan nih.
Tahu kok, hubungan mereka berdua tidak ada kemajuan selain sebagai teman curhat, tapi tanpa sepengetahuan Randy, gadis itu sudah bisa mengendus banyak perubahan dari sikapnya, masih menerka-nerka saja, apakah ada rasa yang sama?
Hm. Begitulah yang bisa ditafsirkan Cantika saat ini soal hati Randy.
Percaya diri dalam memegang mangkuk itu, “we..teman-teman, lihat, ini makanan buat calon pacarku nanti.” Seru Cantika, sangat lantang.
Tapi kenapa ada rasa menjalar ke seluruh badan? Padahal sekedar iseng doang, kok debaran semakin kencang?
Cantika langsung merutuki kebodohannya, karena melihat tatapan Dito tak sekedar biasa, melainkan langitkan asa dalam menjemput kidung yang memang sekedar candaan dari gadis itu sendiri. Karena, terlalu bosan mendapati pernyataan rasa lewat dinding facebook pun SMS dari Dito.
__ADS_1
Kan, lewat canda itu menyelipkan satu keinginan dalam ikatan pertemanannya balik lagi seperti dulu, tidak kaku kayak kanebo.
“Ini buat kamu.” Menyodorkan ke cowok itu dengan ekspresi seperti kepiting rebus.
“Ciee..” Kenapa kalau giliran Cantika bertutur kata dengan Randy, selalu berakhir kalimat ciee dari teman-temannya?
Jujur, gadis itu juga melihat bagaimana wajah Randy saat menerima mangkuk isi mie rebus tersebut, tersipu malu.
Yang menjadi kesenangan dalam batin Cantika.
Maaf kalau sudah suka sama kamu, desir gadis itu dalam batin.
Bisa di deskripsikan lewat tatapan bingung campur tersipu milik Randy, sangat risi kalau diberikan perhatian kecil melewati batas pertemanan.
Hanya sebuah rasa suka yang datang tanpa di undang, apakah boleh mengusirnya begitu saja? Setelah melihat bola mata sangat risi kepunyaan Randy barusan?
Memekik dalam batin, seorang diri, ingin sekali memuntahkan semua keluhan itu pada Dito, sayang mereka berdua adalah sahabat dekat. Tidak mungkin, kan, mematahkan harapan Dito buat kesekian kali hanya untuk menyandarkan kekesalan juga menceritakan perihal rasa itu dengan, “Dit, saya sebenarnya suka sama Randy,” yang ada luka dalam hati cowok itu semakin parah.
Ternyata makan bareng family multimedia bukan sekedar senang melainkan ada selip rasa tersembunyi di balik ekspresi Randy tanpa sadar bisa di tangkap oleh Cantika.
🧭🧭🧭
Melihat tatapan datar yang diberikan oleh Randy di kelas hari ini, seakan tak terjadi apa-apa semalam di rumah gadis itu. Padahal Randy sendiri yang menerbangkan sebuah asa dalam jemput kidung bersiul-siul manis dalam hati.
Benar. Tidak ada ruang lagi untuk bisa menggapai kalimat kita dalam kisah yang tergariskan sebagai sahabat, tidak lebih.
Cowok itu ngobrol dengan teman lainnya, sangat asik sekali tanpa mengungkit lagi persoalan semalam kenapa sikap Cantika sangat manis depan teman-temannya.
“Apa itu yang dia pegang?” Cantika bingung sendiri.
Seperti menahan kesakitan dan benda itu yang menolong agar terlepas dari sesak diri. Meringis sendiri lihat temannya ternyata menyimpan penyakit.
Pengen sekali bertanya, “sakit apa?” Sayang cowok itu sudah berubah.
Yang bisa di lakukan Cantika hanya satu, mendoakan kesembuhannya saja. Selama berteman dengan Dito tidak pernah menceritakan penyakit di derita.
“Tik..Cantika,” seru Elvira yang berdiri di mulut pintu kelas.
“Hm, bentar.” Sambil membereskan buku-buku itu dalam tas.
Saat sudah mengambil dompet, “mau makan apa nih?” Seru Elvira.
“Di kantin panjang sudah, soalnya di kantin bawah pasti rame sekali.” Sahut Cantika santai.
Dalam perjalanan ke kantin panjang, ada sesuatu ingin di ceritakan, “eh, kamu tahu soal benda yang dimasukkan ke dalam mulut itu apa sih namanya? Di semprot?”
Sedikit berpikir, “siapa yang sakit?” Cielah malah bertanya balik, cukup buat Cantika memutar bola mata jengah.
“Sih Dito, tadi dia sibuk sembunyikan benda itu, trus semprotkan ke dalam mulut.”
__ADS_1
“Oh, mungkin sakit asma kali?” Elvira menebak-nebak saja.
Cantika hanya mengangguk paham.
“Mau pesan apa?” Kata gadis itu, saat sudah sampai di kantin panjang.
“Eng..bakso saja deng, bosan makan sate.” Seru Elvira.
Karena setiap kali ke kantin selalu pesan sate, soal bakso tidak bakal pernah bosan melainkan ketagihan yang terkadang dapat teguran dari grandma jangan sering-sering konsumsi bakso.
“Kenapa?” Langsung ngeh kalau sahabatnya lagi tidak mood hari ini.
Hanya membalas dengan gelengan kecil dari Elvira, lalu mengalihkan kalau mentraktir gadis itu. Memicingkan mata tak suka, selalu saja menutup diri kalau di tanya ada masalah apa.
“Kalian enak eh? Kompak.” Elvira membisik sangat lirih.
“Hm, begitu sudah.” Di balas cuek oleh gadis itu.
Sebenarnya apa masalah lagi dipendam sahabat sendiri? Kenapa tiba-tiba membicarakan teman jurusan yang kompak? Aneh.
Kalau mendapatkan sikap tidak jelas seperti ini, bagaimana mau menceritakan soal Randy dan kejadian semalam lucu campur debaran tak menentu ke Elvira, kalau orangnya saja tidak bersemangat hidup.
Apalagi di tambah tadi lihat sahabat sekelas ada penyakit asma, seperti tidak berguna sama sekali, walau tahu sudah menolak perasaannya, masih ada rasa prihatin dalam hati Cantika, ingin bertanya sejak kapan memiliki penyakit itu, takut nanti Dito justru menghindarinya.
Selesai makan, saat mau mengeluarkan uang dari dompet, “sudah, simpan saja, hari ini saya yang traktir.” Kata Elvira dengan cepat mengeluarkan lembaran merah satu dalam saku baju sekolahnya.
Heh, mendadak sekali cukup buat Cantika bingung.
Ada apa sebenarnya sih?
“Thanks? Nggak usah antar ke kelas, sudah mau bel masuk juga nih,” Cantika langsung mencegah langkah sahabatnya buat ngantar ke kelas.
“Oh, ok deh, nanti kalau pulang cepat, jemput eh?”
Hanya di balas anggukan serta senyum tipis lalu dia melangkah kecil-kecil ke arah kelas.
Sesampainya dalam kelas, nunggu guru datang sambil main laptop sendiri, tiba-tiba suasana kelas kembali di hebohkan karena ..
“Cie.. Randy diam-diam sering SMSan sama Cantika yah? Dekat sekali kah. Cantika tidak masuk saja, kau khawatir sekali.” Nila bersuara, menggoda keduanya yang memang sibuk dengan rutinitas masing-masing.
Spontan buat kedua pipi mereka berdua bersemu merah.
Sempat gadis itu melihat ekspresi Randy salah tingkah di tempatnya, tidak bisa menutupi rasa tersipu karena teman berbadan gumpal itu menggodai mereka berdua.
Oh tuhan, apakah benar cowok itu ada rasa denganku? Bisik Cantika dalam batin, sangat menerbangkan asa.
Untuk kali ini tidak menginginkan sebuah ruas patah berulang kali, setelah lihat ekspresi salah tingkah Randy. Please .. []
__ADS_1