
“Ternyata menjadikan orang asing sebagai kepercayaan, merobek-robek hati hingga bermalamkan luka, Rista menanggapi jelek mengenai nafsi.”
📖📖📖
Apakah boleh menceritakan sebuah memoar lama di adik kelas yang memang kebetulan bertemu tak sengaja lewat workshop kepenulisan mendadak yang di adakan oleh guru bahasa indonesia Cantika di sekolah?
Nurul, nama adik kelas itu. Pun, sangat mengagumi karya terbilang abal-abal kepunyaan Cantika, bahkan menceritakan saat melihat gadis itu ketika sedang mencari Bu Triana di kelas jurusan keperawatan, mengekori sampai di kantin.
“Eh, ade cari siapa?” Begitulah yang tercetus dari mulut Cantika, saat terkejut mendapati adik-adik kelasnya membuntutinya ke kantin.
“Eng..maaf, ini benar dengan Kak Cantika penulis yang sering di ceritakan sama Bu Triana kah?” Kata salah adik kelasnya.
Mengangguk pelan sambil tersenyum kecil yang langsung mendapat respon sangat di luar dugaan Cantika, begitu girang dan duduk juga di samping kakak kelasnya.
Bercerita bebas mengenai karya sambil menunggu beliau selesai ngajar di kelas Akuntansi.
Hm. Sampai beberapa minggu berteman dengan mereka, ah lebih tepatnya sama Nurul saja, dekat. Bahkan sudah di bawa ke rumah, bermain di sana.
Sambil berbaringan di kamar Nurul, menceritakan tentang sesal bisa di garis bawahi kalau tidak sedang menjelekkan sosok Rista di adik kelasnya yang di temui tak sengaja di workshop kepenulisan. Jadi, jangan salah paham dulu.
Akan tetapi, ada tatapan yang berbeda di sana. Menilai begitu jelek saat mendengar penuturan di luar pikiran gadis itu.
“Saya ketemu Kak Cantika pas pramuka, dia orangnya memang baik, kak.” Kata Nurul.
Hm. Iya, baik, tapi sudah salah sangka karena lebih terpancing dengan omongan sahabat sendiri yang di yakini akan menunjukkan ke jalan benar justru mempermainkan diri, hingga buat boomerang dan Elvira selamat dari permainannya, menjadikan gadis itu sebagai korban.
Setelah menceritakan tentang masa lalu dengan mantan sama, kok mendadak ada yang meledak di chatroom whatsapp milik Cantika.
Melongo sangat bingung, ada apa dengan sosok adik kelasnya ini?
Sangat nyalang penuh kebingungan saat membuka beberapa chat dari Rista, bisa langsung di simpulkan bahwa dalang di balik kemarahan Rista adalah Nurul.
“Dasar, mulut bocor nih!” Gerutu Cantika.
Menyesal, kenapa duduk bincang memoar lama yang bahkan musuh sangat nyata dan berbahaya, memanipulatif sebuah cerita tak sesuai fakta.
Prahara baru menghantam-hantam jiwa cukup melukai hati, tahu Nurul sebatas mencari informasi dalam memanipulatif sebuah cerita sesal bukan menjelekkan Rista.
Gadis itu mengira bahwa di balik kerahaman kepunyaan adik kelas tersebut, takkan mampu terpancing atau cepat percaya dengan omongan orang lain. Ternyata persepsi itu salah, kenapa manusia jauh lebih menyakini ucapan peran pengganti di banding peran utama?
Maaf, dek, bukan bermaksud bikin ade marah. Wallahi, kakak tidak cerita apa-apa selain menyesal, karna sempat percaya sahabat kakak, kalau ade tidak seburuk yang di omongin Elvira.
Sudah mengetik sangat yakin, namun terhapus begitu saja, tahu tidak dengan gampang menghapus rasa benci pun amarah telah meledak-ledak yang diciptakan oleh Nurul, manipulatif sebuah cerita.
__ADS_1
Bisa di analisa kalau ada sebuah dendam pribadi di balik cerita adik kelasnya itu. Tapi, dendam karena apa, kalau menyangkut persoalan salah paham tentang Rista, bukan hak Nurul terlalu dalam masuk ke privias orang lain.
Heran. Kenapa mereka paling senang melihat sekitar meledak sekedar menyenangkan jiwa dalam sesaat.
Ah, benar sekali. Saat sedang kebingungan dan hilang arah seperti ini, teman semasa kecil menjadi salah satu tempat pelarian sesak-mendesak dada.
Ok. Sudah tiba dalam kamar, dengan pelan Cantika menceritakan ulang mengenai kenapa adik kelasnya itu memuntahkan semua amarah tanpa sebab.
“Jiah, kita tuh tidak boleh langsung main menilai begitu dari omongannya orang. Harus bisa pintar menilai dari berbagai sudut pandang kita, jangan hanya tahu nilai satu sudut pandang, salah itu sebenarnya.” Kata Ana.
Apa yang di sampaikan oleh teman semasa kecil gadis itu, benar, dan tidak boleh langsung menyimpulkan segala sesuatu dari ucapan orang ketiga. Apalagi tahu, mereka berdua adalah satu mantan yang sama.
Cantika juga tidak bisa menelusuri lebih dalam mengenai isi hati adik kelasnya itu, apakah ada dendam tersendiri, sebab dulu Randy selalu menjadikan diri sebagai pelarian semata dengan beralasan mencintai?
Menganggak kedua bahu, buntu.
“An, menurutmu dia ada dendam nggak sih, sama saya? Tentang Randy yang dulu jadikan dia sebagai pelampiasan?” Akhirnya keluar juga kalimat yang sejak tadi mengusik isi kepala.
Sedikit berpikir, “kayaknya sih tidak. Karna lihat Cantika saja sudah berubah, hijrah, mana mungkin ada pemikiran buat simpan dendam. Dia hanya terprovokasi sama omongannya si Nurul.”
Seandainya sedikit memiliki keberanian dalam menyampaikan tentang kesalah pahaman itu, kemungkinan takkan melihat sebuah luka di bermalamkan dalam hati. Pun, telah terluka Rista menanggapi jelek tentang dirinya.
🧭🧭🧭
Tak hanya sekedar di benci dan marah oleh Rista, anggota PKS Muda inti pun sama.
Bahkan merencanakan supaya gadis itu bisa tertendang dari grup inti, ternyata berteman dengan Nurul membawa banyak bencana tak terduga.
Yang membuat masalah justru anteng, tenang, kalem dalam grup. Well, Cantika yang menggandeng tangan adik kelasnya itu agar bisa masuk juga dalam grup.
Sebelum itu, masuk ke sana, ngajak liqo sekedar mancing kecemburuan sahabat justru di tikam tak berperasaan oleh adik kelas tak tahu diri, manipulatif sangat keki.
Kenapa tidak bawa Nurul?
Pertanyaan itu di lontarkan mereka ke Cantika, saat baru tiba di tempat rapat.
Dan, semenjak di berikan kalimat menyayat dada, lebih baik sekalian bermalas-malasan pergi syuro. Kan, sekarang menjadi pusat perhatian adalah biang masalah.
Suka heran, lebih menyukai musuh di banding teman yang terbentang nyata hanya sebagai korban.
Ah, Rista..ingin sekali mendekati adik kelasnya ini sambil bicara empat mata dengan ketenangan, justru tak mendapati ruang dalam berbagi cerita. Tertawa miring, hanya menjadi pemantau dalam grup inti.
Kenapa juga sih harus ngajak Nurul, saat ngambek sama sahabat, kala gagal pergi ke acara panahan yang di adakan oleh PKS Muda?
__ADS_1
Ok. Sangat menyenangkan kok, ketika liqo mereka duduk santai di kafe yoka, waena, hanya berasa canggung campur kalut, tidak bisa bersitatap dengan kakak kelas memiliki lagu nasyid sempat menghiasi story whatsapp Cantika beberapa waktu lalu.
“Can, kenapa? Marah kah sama saya? Sori..” Elvira berusaha membangun komunikasi, nihil, tak mendapati respon sama sekali.
Hanya duduk sambil memerhatikan kamera canon sesekali memotret tak memedulikan omongan sahabat sendiri yang berhasil ngajak menyelami hidayah-Nya dengan cara menjuntai jilbab di kepala. Walau belum sepenuhnya seperti Rista, hijrah dengan baik, setidaknya menutupi kesalahan dulu.
Lah, kan, orang belajar harus di dukung bukan di cibir pedis.
Ah, yang berlalu dijadikan sebagai pembelajaran saja, hanya kenapa melihat kelakuan sahabat belum bisa berubah dalam tidak menjelekkan keburukan orang lain?
“Can..di panggil sama murobbi tuh, katanya makan di atas.” Kata Elvira.
“Hm.” Hanya memberikan dehaman singkat.
“Hm, maaf, kalau saya bikin salah. Saya mau ke sana dulu, foto sama mereka, mau gabung kah tidak?” Perempuan itu menunjuk ke arah akhwat-akhwat sedang asik mengambil gambar tak jauh dari arah mereka duduk.
“Tidak, makasih.” Jawab Cantika dengan datar.
Elvira membuang napas panjang, sedikit kesal, ada apa lagi dengan gadis itu yang tiba-tiba ngambekkan?
Oh, “sori, kalau kamu jengkel sama saya. Gara-gara saya, kamu tidak bisa ikut panahan.”
Jleb. Yang langsung di respon dengan tatapan terkejut oleh Cantika, namun setelah itu langsung menetralkan keterkejutannya.
Kenapa masih saja gensi dalam mengungkapkan sebuah rasa sesak yang sudah di buat oleh adik kelas mereka?
Sangat. Sangat menginginkan dalam mendekap begitu manja, seperti biasa di lakukan oleh Cantika, ketika di sekolah mendapatkan nilai jelek. Pasti ada pundak Elvira yang menenangkan jiwa sembari berintonasi manja tanpa takut terhakimi.
Rindu suasana kedekatan mereka tak seperti sekarang sangat kaku, datar, canggung pun emosi bercampur jadi satu dalam dada. Hanya permasalahan sepeleh doang.
Bisa kan, di bicarakan baik-baik, hanya karena penyakit di gandeng cukup menyulitkan Cantika dalam memulai interkasi duluan dengan sahabat berasa keluarga itu.
Juga, tak lupa dalam menyampaikan hal tentang amarah Rista yang meledak hanya dengan mendengarkan omongan Nurul yang mungkin tidak sesuai makanya meledak-ledak di chatroom whatsapp.
Pasti, bakal menemukan solusi.
Hanya masih tersisa rasa jengkel karena beberapa hal mengenai Elvira yang mengulang-ngulang menceritakan buruk sifat orang, terutama Rista.
El, ternyata toh, Rista tidak buruk kok, dia baik sekali, serius!
Kalimat ini ingin sekali di sampaikan tanpa harus menunda-nunda lagi yang suatu hari bakal mendengarkan hal tak sesuai penilian dari satu sudut pandang Elvira.
Sangat menginginkan dalam mengubah cara pandang, mindset sahabat sendiri tak seharusnya berada di satu sudut pandang melainkan ada berbagai banyak sudut yang harus di nilai. []
__ADS_1