Cinta Berbekal Matre?

Cinta Berbekal Matre?
Sweet Moments


__ADS_3

... “Kejutan manis buat Cantika semakin tersipu, sangat bruntung memiliki bingkai dua puluh empat januari dalam hati.”...


🥇🥇🥇


Hubungan mereka sudah masuk beberapa minggu dan Randy menyampaikan agar besok di sekolah bawa laptop, katanya ada sesuatu ingin di kasih.


Cantika bingung sendiri, tanpa mau bertanya lebih hanya mengangguk saja lalu duduk sendiri diatas tangga. Tidak tahu kenapa, biar sudah pacaran dengan teman sekelas, masih beta duduk sendirian yang selalu di tegur baik itu guru atau teman sekelasnya.


Tapi, kali ini berbeda saat Randy ikutan duduk sambil bercanda bersama di atas tangga, kadang harus meminggirkan diri, ada kakak kelas mau lewat.


Dito yang melihat dari kejauhan merasa cemburu. Jadi, selama menolak cintanya sudah ada satu nama dalam hati Cantika? Tidak tahu, yang jelas Dito begitu cemburu.


Teman sekelas sudah pada tahu hubungan mereka resmi jadian dan Dito baru tahu hari ini, melihat mereka berdua bermesra-mesraan di atas tangga.


Sepulang sekolah langsung melajukan motor itu ke tempat servis laptop, “oh, laptopnya mau di ambil kah, Dek? Masih belum selesai di servis.” Kata tukang servis tersebut.


Yah, membawa pulang sekantong kecewa, besok bagaimana? Randy tidak jadi kasih kejutan kah atau ada solusi lain?


Yang jelas saat ini Cantika pulang ke rumah dengan tumpang-tindih, penasaran campur kecewa.


Ada SMS dari cowok itu, mengingatkan lagi buat jangan lupa bawa laptop semakin buat dia frustasi sendiri. Sedangkan sudah dengar dari tukang servis komputer belum selesai di bikin.


Mau pinjam laptop punya Elvira, takut nanti di pake buat kerja tugas sekolah, rasa tidak enakan itu yang selalu mengurung dirinya dalam menyuarakan eskpresi sedang memerlukan bantuan. Kan, belum memastikan sudah berpikiran tidak bakal di kasih pinjam.


Padahal sahabat adalah saling melengkapi satu sama lain, pun Elvira pasti tidak bakal keberatan soal satu hari di pinjam, kan?


Cantika hanya mengalihkan pembicaraan supaya tidak kecoplosan kalau masih ada di tempat servis komputer.


“Eh, Can, tahu kah tidak? Kalau kamu itu pacar pertama Randy.” Pernah salah satu temannya mencetuskan kalimat itu.


Sempat meragukan, karena Randy bercerita tentang satu orang spesial waktu semasa SMP dan itu tidak mungkin cowok, kan?


“Ah, masa sih? Siapa bilang?” Cantika menimpali dengan penasaran.


“Jih, kalau tidak percaya, coba tanya sama pacarmu langsung toh.”


Hm, melihat hubungan mereka baik-baik saja cukup buat Cantika takut buat bertanya hal yang tidak seharusnya merusak simfoni tersebut.


Esok hari ..


Seperti biasa, duduk diatas tangga, menekuk wajah karena tidak bawa laptop. Dan tidak menyadari Randy sudah duduk di sampingnya, “Sayang, Sayang, bawa laptopnya?” Seru Randy.


Justru mendapati gelengan tak sesuai harapan cowok itu, “lupa bawa yah Sayang.” Begitulah penuturan Cantika.


Bisa melihat dari ekor mata, kalau Randy melihatkan sorot kecewa. Tapi selang beberapa menit berubah senyum sambil mengusap kepalanya dengan gemas.


“Kalau besok bagaimana, Sayang?” Kata Cantika.


“Yah, tidak bisa kalau besok, Sayang.” Balas Randy sedikit kecewa.


Hm, begitu juga dengan Cantika. Setelah itu melihat kepergian Randy ke kantor untuk ngambil infokus, karena hari ini belajar kejurusan dalam kelas bukan lab. Hanya di kasih materi bukan praktek, minggu depan baru masuk lab.


Gadis itu pun balik ke kelas dengan perasaan suntuk, tak menghiraukan bisik-bisikan yang mungkin sedikit heboh mengarah ke dia. Duduk dengan berbaringkan kepala yang di jadikan tangan sebagai bantal.

__ADS_1


Samar-samar melihat ke arah Randy, ada senyum tipis di lemparkan lalu balik tidur.


Randy sangat bersyukur tidak ketahuan sama sekali oleh Cantika, melihat gadisnya sedang sibuk tidur menunggu guru datang ngajar.


Berhubungan beliau masih sedikit lama untuk masuk, memanfaatkan waktu yang tidak banyak tersebut untuk menunjukkan sesuatu tertuju ke kekasih.


Kehabisan tenaga begitu sudah yang bisa dirasakan Cantika, tahu bahwa laptop belum bisa diambil. Mungkin sudah buat kekasihnya kecewa makanya hanya memberikan senyum tanpa mau mengobrol di bangkunya.


Bisa di lihat begitu jelas oleh Randy, kalau kekasihnya sedih tidak bawa laptop. Sedikit malu kalau menampilkan sebuah kejutan depan teman sekelas, tetapi mau gimana lagi? Kalau harus hari ini di berikan. Moment sweet di tanggal spesial bagi cowok itu sendiri, berkesan.


Sudah terlihat isi folder dengan nama Cantika. Langsung dapat tegur dari Dyka, saat infokus sudah selesai terpasang, takut kejutannya gagal kalau gadis itu lihat tanpa aba-aba mereka.


Ada senyum tipis di berikan oleh Randy, masih melihat Cantika murung dengan tidur berbantalkan lengannya itu.


Setelah semua siap, Dyka memberikan kode ke cowok itu untuk membuka satu folder dalam menampilkan kejutan tesebut ke gadis itu yang masih belum menyadari.


Sontak satu kelas heboh dan brisik lalu sibuk memanggil-manggil nama Cantika, namun terabaikan dengan sibuk tidur enak di tempat duduknya.


“Can..Cantika?! Itu bukannya namany yah, yang di depan?!” Seru Tresia.


Risi, sedari tadi di usik ritual bernestapa seorang diri, dengan malas dan wajah ketus melihat ke arah papan tulis yang sudah terpasang infokus oleh ketua kelas, satu hal yang bisa dirasakan, tersipu bukan main, salah tingkah campur senang.


Memandang sebuah whiteboard depan kelas yang menampilkan sebuah vidio baru saja terputar sedangkan Randy sibuk memerhatikan gadisnya sedang tersipu malu.


Mau melanjutkan tiduran, tapi bola mata masih tertarik dengan isi vidio tersebut dan mendapatkan sorak riuh dari teman sekelas, semakin buat jantung berdebar abnormal.


Kejutan manis buat Cantika semakin tersipu, sangat bruntung memiliki bingkai dua puluh empat januari dalam hati.


Memang sudah sepakat untuk buat kado di hari valentine semalam lewat SMS, ternyata dari kemarin Randy menyuruhnya bawa laptop ini kejutan yang diberikan?


Oh yah ketika masuk di gambar emoticon bertulis I love you mereka semakin heboh, padahal kelas sebelah lagi belajar. “Wih, sadap! Randy saja, so sweet apa bilang. Ciee..” Sorak mereka.


Randy tertunduk malu begitu pula dengan gadis itu. Setelah vidio selesai di tampilkan, memanggil kekasihnya, untuk memberikan kado juga.


“Ciee..” Lagi di soraki mereka.


“Nih, ada hadiah juga buat kamu.” Menyodorkan kado lumayan besar ke Randy.


“Ini..buat saya?” Justru di balas heran, belum menerimnya.


Mengangguk mantap dan menarik tangannya untuk menaruh kado tersebut.


“Thanks yah, sayang..” Ucap Randy.


 🧭🧭🧭


Cantika masih belum move on soal moment sweet kemarin di berikan oleh sang kekasih, seperti mimpi mendapatkan pengganti dari Arsha, jauh lebih baik dan romantis.


Cih, kenapa romantisnya di bagi-bagi ke orang lain juga? Kan, bukan coklat silverquuen.


Menggandeng ransel, tidak sabar buat ke sekolah, bersiul-siul riang sembari mengenakan sepatu dan keluar buka pagar rumah, untuk hari ini tidak mau pakai motor, mau pulang bareng Randy pakai taksi berbarengan dengan teman lainnya juga kok.


Saat sampai dalam kelas, apa pergi terlalu kecepatan atau gimana? Belum menemukan Randy sama sekali.

__ADS_1


“Pagi..” Tiba-tiba saja Randy menyapa, sudah datang setelah menunggu sepuluh menit lamanya.


Kenapa di sekolah seperti bukan sepasang kekasih melainkan sahabat dan itu tidak di permasalahkan oleh Cantika. Karena tahu pacarnya tipekal pemalu, wajar saja.


Randy kadang menghampiri meja gadis itu sambil ngobrol dan tertawa bersama tetapi setelah lihat teman-teman sudah pada berdatangan, bakal buat Randy melepaskan cengkrama bersama kekasihnya, masih malu-malu dalam menampakkan kemesraan depan mereka, walau tahu teman rasa keluarga, tetap saja, kan, belum siap berduaan saja.


Oh yah, sempat takut kalau menjalin romansa di bingkai dua puluh empat januari bakal merasakan kaku dan tidak ada romantis-romantisnya justru asumsi Cantika salah, pacarnya jauh lebih romantis dan sweet memperlakukannya begitu baik.


Belum berbunyi dan mereka langsung keluar dari kelas, mengikuti apel pagi depan kantor sekolah, tepatnya di lapangan basket.


“Sayang..pake topiku, biar nanti tidak kepanasan.” Randy memasangkan topi itu di kepala Cantika.


Melihat ke arah atas kepalanya, “yakin?” Justru dibalas ragu oleh gadis itu.


Takut Randy bakal kepanasan dan melihat wajahnya ada bercak kemerahan karena terpapar matahari pagi.


“Hm, yakin toh.”


Cantika tidak pernah dengar kalimat romantis melainkan langsung lewat tindakan, cukup membuktikan memberikan yang terbaik. Prilaku sweet itu sudah selama ini dicari-cari oleh Cantika dan ternyata ada pada sosok Randy.


“Sstt, Sayang..” Bisik Cantika, tanpa mengubah posisi berdirinya.


Mereka berdiri berdampingan, sebelah kiri cewek dan kanan cowok, jadi bisa dengan jelas melihat wajah Randy sudah mulai kemerahan, apalagi sudah merasa gelisah sambil ngelap bulir-bulir keringat sudah bercucuran di wajahnya.


Ah, dongkol sendiri, kenapa keras kepala sih pakaikan topi itu ke Cantika?


Apa elergi dengan paparan sinar matahari pagi? Sudah tampak pucat sedikit dari wajah Randy, sudah di panggil justru hanya memberikan senyum tipis, menoleh sebentar lalu balik ke posisi semula.


Dasar, pacar kepala batu! Greget Cantika dalam batin.


“Nih, pake sudah topinya.” Cantika langsung menyodorkan dengan pelan, justru di tolak sangat halus dari Randy.


Ais, begini sudah yang paling malas, keras kepala sekali, lebih mementingkan urusan orang lain di banding diri sendiri yang memang lebih membutuhkan bantuan.


Ok, fine! Tahu kok kalau Cantika juga tidak bisa terlalu lama-lama di bawah sinar matahari, walau tidak begitu lama seperti upacara bendera, setidaknya sebagai pacar bisa menjaga sigap sang gadisnya itu, agar tidak kenapa-napa.


Setelah apel pagi, pengen mengeluh sedikit kunang-kunang seperti kurang ajar, nggak sih? Sudah di kasih pakekan topi tapi masih mengeluh kurang enak badan ke Randy?


Ah, cepat-cepat menghempaskan rasa manja itu, karena yang lebih butuh perhatian itu Randy bukan sebaliknya.


“Sayang, ih! Kepala batu sekali kah, sudah tahu tidak bisa kalau lepas dari topi, gegayaan lagi kasih ke saya. Jadinya begini toh, pucat!” Bukannya kasih kalimat perhatian, justru Cantika langsung memuntahkan protes.


Hanya di balas senyum dan mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas.


Mengerucutkan bibir dengan manja, “makan yok, Sayang?” Selalu mengalihkan topik untuk duduk sebentar di kantin sebelum pelajaran di mulai.


Membuang napas kasar, ingin sekali menjambak rambutnya itu, serius.


Pengen bilang, “Sayang, lain kali tuh kalau ada apel pagi, biar sudah saya tidak pake topi, daripada Sayang yang sakit begini?!” Namun tertahan saja di tenggerokan, karena di berikan sikap manis dan hangat dari pacarnya hari ini.


“Sayang juga pucat tuh, makan dulu eh, sebelum ke kelas?” Kata Randy, membuka obrolan.


Deg. Sangat detail sekali memerhatikan dirinya, bahkan keluarga sendiri tidak pernah seperhatian itu. Wajar saja sih, sejak kecil kan di labelkan sebagai anak bodoh dan tidak berguna sama sekali untuk memberikan yang terbaik untuk mereka kecuali menyusahkan.

__ADS_1


Kehadiran Randy di chapter hidup menambahkan semangat belajar dan belajar menerima diri, kalau masih ada memerhatikan kita sebagai manusia bukan terus disalahkan karena payah dalam pelajaran. []


 


__ADS_2