
...“Masih belum percaya mengenai rasa tersemat pada dada, akibat terlalu lama nyaman pada curhat menjadikan nafsi tumbuhkan kidung.”...
🥇🥇🥇
Semenjak melihat senyuman berbeda dari Randy, hari ini sikapnya juga berubah, perhatian diam-diam dari teman sekelas tentunya, karena malas mendapatkan godaan lagi.
Tanpa sadar ada sebuah dentum aneh berasal dari Cantika.
Ran, jangan buat gadis itu salah artikan lewat perhatian kecil yang diam-diam di sematkan dalam hati untuk di semogakan menjadi kekasih.
“Can, PR-mu yang kemarin sudah?” Kata Randy, menghampiri meja gadis itu.
Syukur tidak ada teman-temannya dalam kelas, hanya beberapa saja itu pun tidak terlalu kepo dengan hubungan mereka berdua.
“Belum, susah yah..malas bikin.”
“Sini, saya bantu sudah, sebelum anak-anak lainnya datang.” Randy langsung menawarkan diri buat ajarkan buat pekerjaan rumah yang belum dikerjakan gadis itu.
“Ah, tidak usah, Ran. Biar mau diajarkan berkali-kali tidak bakal masuk di otakku.” Cantika berusaha menolak, sambil terkekeh, menertawai dirinya yang bodoh.
Porsi otak yang memang di bawah standart orang pintar apalagi dengan Randy, sesosok yang berhasil menyelusupi diam-diam dalam hati. Semakin insecure.
Randy tetap memaksa buat kerjakan PR dan lebih baik menyerahkan bukunya dan kembali ke bangku, “nanti kalau sudah selesai salin, langsung kasih ke saya saja.” Tutur Randy kemudian berjalan ke bangkunya.
Takut kedapatan teman-teman cowoknya yang sebentar lagi datang dari kantin bawah.
Hm. Membuang napas tenang, bisa dapat salinan PR Matematika dari cowok itu. Walau pun sudah di tolak sekali pun, tetap memberikan contekan tersebut.
Ada senyum terbit di wajah Cantika, senang bukan main.
Bagaiman jadinya kalau terus mengurung diri dengan kesedihan yang diberikan oleh mantan kekasih, jika masih ada sebuah kisah manis diberikan tak terduga dari teman curhat berasal di Randy.
Bukan hanya itu, ada dentum aneh setiap kali mereka bertutur kata pun bertabrakan bola mata secara diam-diam dalam kelas.
Sisi lain masih berharap mengulang kisah bersama Dito yang sudah lama berpergian dengan sikap cuek dan datar, karena cerita sesuka hati dengan sahabat sendiri jauh lebih menyenangkan di banding teman lain.
Karena Cantika tidak temukan di kelima temannya, hanya ada di Dito, menjadikan Cantika sebagai diri sendiri saat senang, sedih dan terluka.
Elvira pun begitu, terkadang kena amukan juga protes setiap kali ingin mengekspresikan perasaan.
“Ran, thanks?” Cantika langsung menyodorkan buku Prnya Randy.
“Can..” Panggil Risa.
“Hm?”
“PR-mu sudah kah belum?”
“Eh,” spontan langsung membuka buku pekerjaan rumahnya.
Menepuk jidat, astaga sejak tadi itu bukan sebuah obrolan-obrolan nyata melainkan delusi milik Cantika sendiri?
Melirik ke arah Randy yang sibuk ngobrol sama teman cowok, merutuki kebodohannya.
Haha..Miris sekali, Cantika menertawai dirinya sendiri yang mengharapkan obrolan nyata sedekat itu, sedangkan perhatian manis di berikan oleh Randy sebatas SMS atau bicara sekilas saja itu pun kalau sepulang sekolah.
Untuk kali ini baru nyata, karena dari teman-teman ceweknya yang memberikan salinan tugas pekerjaan rumah.
Ah, menyebalkan memang harus bertemu sama pelajaran Fisika. Syukur masih ada teman yang ingin bahu-membahu kita sedang kesulitan dalam angka, salah satunya Cantika. Membenci pelajaran bersangkutan dengan angka.
Sudah, cukup. Malas memperpanjang sebuah penjelasan kalau dia sangat bermusuhan dengan pelajaran matematika dan fisika.
“Makasih, Ris.” Gadis itu memberikan buku pekerjaan rumah temannya.
“Iya, lain kali kalau ada yang susah, hubungi saya atau Wardah. Jan malu-malu, sama teman sendiri juga kok.” Risa menimpali sangat ramah.
__ADS_1
Sepulang sekolah melihat Dito mengisyaratkan tunggu ke gadis itu, spontan buat dia mengernyit bingung tapi mengindahkan keinginannya.
Di dekat tangga Randy menunggu, dengan senyum sukar diartikan.
Ada apa lagi sih ini? Bisik Cantika dalam batin, penasaran.
“Can, saya mau bicara soal perasaanku,” ada jeda diambil, “fine, kalau kamu sempat tolak dan tegaskan kalau kita sebatas teman, tapi..masih ada kesempatan kedua?” Lanjut Dito dengan diakhiri hembusan pelan, simpan asa.
Menyipitkan satu matanya, “Dit, sudah berulang kali saya bilang kan, kalau kita ini hanya teman, karena perasaanmu ke saya, buat persahabatan kita brantakan. Dan, satu lagi,” sambil menatap lekat-lekat, penuh penegasan ke arah Dito, “ke mana tempat buat saya pulang kalau lagi ingin bercerita bebas. Kamu orang yang saya percaya buat curhat bebas tanpa takut di hakimi.” Sesak menjalar ke seluruh tubuh Cantika.
Nyaris menumpahkan bulir air mata, kalau saja Randy tidak memanggil cowok itu segera cepat pulang.
Melihat kepergian Dito ada yang salah, bukan karena perasaannya di balas melainkan kehilangan sahabat satu-satunya yang bisa menjadi tempat bebas cerita tanpa terhakimi.
Tadi, sebelum menghampiri Randy, “oh, makasih, maaf sekali lagi, kalau saya terkesan maksa buat dapatkan hatimu, Can. Makasih.” Dito pamit.
Masih belum ada kejelasan mengenai persahabatan mereka bagaimana nantinya? Berharap dengan menjelaskan isi hati, Dito tidak berubah dan kembali seperti yang Cantika kenal.
“Kenapa bro?” Randy menepuk bahunya dengan ramah.
“It’s okay, langsung mau balik ke rumah atau mau main ke rumahnya Fandy?” Berusaha Dito mengalihkan perasaannya yang berkabut pekat itu.
Randy terlihat berpikir, “hm, boleh. Tapi, mereka sudah pulang kah belum eh?”
Saat sudah berada di lantai bawah, melihat teman-temannya pada menunggu mereka berdua.
“Wih, saya pikir kalian sudah pada balik ke rumahnya Fandy.” Randy berseru.
“Kita tunggu kalian, bikin apa sih di atas?” Fandy bingung sendiri.
“Ah, biasa urusan pribadi.” Sahut Randy dengan santai.
Cantika yang melihat mereka dari atas, menghembuskan napas lega, sudah bisa turun ke bawah, langsung ke parkiran dengan tatapan datar.
Dalam perjalanan diatas motor, bingung dengan sikap obsesi Dito ingin mendapatkan hatinya yang sudah jelas di tolak tegas, masih menembak ulang.
“Tumben ke sini tidak bilang-bilang?” Heran Cantika, menyambutnya.
“Hm.” Hanya dehaman ini diberikan.
Setelah masuk ke dalam kamar, leluasa Elvira cerita.
“Kenapa?” Kata Cantika, buka obrolan saat sudah berbaringan diatas kasur.
“Nilai ulanganku jelek.” Sahut Elvira dengan menekuk wajahnya.
“Ulangan apa jadi?” Tanya Cantika dengan cuek.
“Fisika.”
Oh, tidak di timpali lagi selain sibuk mengeluarkan HP dalam tasnya. Elvira salah tempat buat curhat mengenai pelajaran yang jelas sangat di bencinya.
“Be the way, Dito nembak lagi.” Kata Cantika, setelah beberapa menit hening.
“Kapan?”
“Barusan, pas pulang sekolah, trus ada Randy.”
“Hah?! Randy juga dengar kalau Dito nembak kamu?”
Menggeleng kuat, “tidak, dia tunggu depan kelasnya kita sedangkan kita berdua paling pojok,”
“Dan, saya nolak dia lagi trus kasih tahu kalau dia orang yang penting buat saya saat mau curhat, tapi responnya datar dan kecewa gitu sih pas dengar saya tolak kedua kalinya.”
🧭🧭🧭
Arg. Mengacak rambut frustasi, kenapa Dito tidak berhenti mengirim facepoon dan puisi di dinding facebook gadis itu?
__ADS_1
Fix. Cowok itu tidak bisa mengartikan tentang Cantika lebih memprioritaskan persahabatan, terbukti masih saja kirim puisi.
Mau blokir, takut Dito benar-benar membencinya dan tidak mau melihatnya lagi.
Berdecak sangat kesal, dengan cara apa lagi supata Dito berhenti mengejar-ngejar cinta sudah di tolak tegas?!
Cantika, lgi apa? Sdh krja tgs kejurusan?
Eh, mendadak kesal itu berubah dengan senang mendapatkan SMS dari Randy, diingatkan pula dengan tugas kejurusan yang memang belum sama sekali di kerjakan oleh Cantika.
“Sebentar kan ada final tim sparta main,” girang gadis itu, langsung ingat kalau sore ada pertandingan teman sekelasnya.
Untuk kedua kali dentum-dentum aneh berdetak sangat cepat dalam dada. Tidak biasanya sekali Randy mengirimkan sebuah SMS seperhatian itu. Curiga kalau memang ada rasa juga, hanya di tutupi dengan cuek dalam kelas.
Benar dugaan Cantika, mereka berlima datang jemput dia di rumah, saat HPnya tidak berhenti bergetar yang pertanda ada panggilan masuk dari salah satu mereka.
“Yah, ini sedikit lagi selesai pakai baju. Kalian sudah di mana nih?” Kata Cantika.
“Sudah masuk pasar, Can. Oke sudah.” Nila menimpali.
Beberapa menit kemudian, sudah terdengar suara deru mesin motor depan rumah.
“Ma..Cantika pergi nonton futsal eh?!” Seru Cantika.
“Di mana?” Teriak ibunda dari dapur.
“Di..dekat sekolah, Ma.”
“Oh, hati-hati jangan bawa motor balap.”
Ada kekehan kecil lalu pergi mengeluarkan motor sporty putih itu yang disambut dengan senyum lebar dari teman-temannya yang sudah menunggu beberapa menit lalu.
Mau singgah beli minuman dan cemilan, takut membebankan mereka.
Kebiasaan sekali, ngemil. Coba tadi sebelum di jemput beli dulu kek, supaya tidak nahan lapar nanti pas nonton pertandingan teman cowok itu di lapangan.
Sampai di sana, celingak-celinguk, “cari siapa, Can?” Nila yang peka langsung bersahut penasaran.
“Eh, tidak cari siapa-siapa kok.” Ais, kenapa pasang wajah tersipu begini sih?
“Cie, saya kira cari Randy kah?” Celetuh Nila.
Apa mungkin Ayahnya tidak mengizinkan cowok itu buat keluar nonton pertandingan futsal hari ini, karena ada tugas dari sekolah kah?
Mereka berlima pun berjalan ringan ke arah tempat duduk, sambil melihat mereka pemanasan sebelum pertandingan.
Ada Fandy melambaikan tangan dari arah parkiran, lalu mencari tempat duduk tidak jauh dari posisi mereka, ternyata Randy bersama cowok itu.
Betapa senangnya hati Cantika, bisa lihat Randy datang hari ini. Mengira tidak bisa datang karena ada tugas dari sekolah.
Menit-menit waktu pun terlewati, tim sparta membawakan kemenangan hari ini. Dan sesuai janji, kapten tim mentraktir mereka di warung dekat sekolah, makan pangsit.
Lagi, bisa menikmati dalam memandang diam-diam ke arah sosok teman curhat yang tidak banyak bicara itu, tumben sekali Randy tidak ngomong.
Apa karena ada Cantika juga di warung ikut makan sama-sama mereka? Yang menjadikan cowok itu malu buat berbicara leluasa seperti biasa di pandang diam-diam oleh Cantika dalam kelas?
Bruntung sih mendapatkan sebuah pertemanan paling tulus dan nyata dalam menerima kita apa adanya tanpa harus menuntut lebih.
Bisa merasakan denyut ikhlas dari mereka, yang dulu semasa Sekolah Dasar tidak pernah mendapatkannya, hanya tatapan ketaksukaan dari teman sekelas, sekarang bisa menikmati moment tersebut.
Di sela-sela melahap mie ayam, mereka ngobrol ringan hingga tawa menghiasi tanpa kepalsuan di balik cerita di berikan.
Setelah makan gratis, mereka pulang masing-masing ke rumah, sampai dalam kamar, mengingat sesuatu yang hampir tidak dikerjakan Cantika.
Menepuk jidat, kalau besok tidak kumpul. Sudah dipastikan Randy menumpukan omelannya lewat SMS, bertanya kenapa bisa lupa kerjakan tugas kejurusan?
Satu hal yang pasti, sejak kenal cowok itu banyak hal positif di dapatkan dari perubahan malas sekolah, kerja tugas menjadi rajin, yang bahkan Cantika sendiri tidak sadari hal itu. []
__ADS_1