
...“Diksi-diksi melukai hati, apa yang salah hingga menyayat seorang anak gadis orang lain lewat omongan, matre?”...
🥇🥇🥇
Bukan sebuah bualan semata, bahwa Yesil, Mamanya Randy meneliti sang mantan kekasih sebagai cewek matre, hanya karena kesalah pahaman beliau di balik Randy sering minta jatah uang pulsa berlebihan di orang tua.
Serius, pengen jujur, Cantika sangat bruntung sempat di ratukan oleh cowok itu, sebelum adanya kalimat pepisahan, atas dasar pengamatan lewat cover, di katai matre.
“Kenapa sih di katain matre segala, dari sudut mananya, hah?!” Gusar sendiri.
Sembari menatap wajah di cermin kamar, ada getir-getir tercetak di sana, terluka penuh dramatis yang bahkan cover jauh lebih menarik di banding melihat isinya penuh ketulusan, bukan ingin mengambil rupiah-rupiah yang bahkan Cantika tahu porsi jajan cowok itu tidak banyak, terbatas.
Kenapa juga sih harus minta lagi, kalau sudah habis pulsanya hanya untuk bertukar kabar dengannya, hah?!
Salah kah kalau jujur?
Please deh, sangat kesel, belum trima di katai matre oleh orang asing yang belum melihat detail, bahwa menerima anaknya dengan tulus, apa adanya, bahkan diam-diam isikan pulsa loh.
Hm. Membuang napas sangat gusar, yang biasa setiap pagi selalu di bangunkan oleh seseorang namun sekarang terasa beda vibes, sesuatu telah hilang dalam hati.
Telah lama pergi dari jemari dua puluh empat januari, namun bekas kenangan masih duduk bincang ramah dalam kepala Cantika, masih belum sepenuhnya pulih apalagi satu kelas sampai lulus nanti.
Hah. Berat sekali, selalu melihat kedua bola mata sangat di rindukan untuk berenang lagi dalam simfoni paling manis tak pernah terdengar masalah atau bertengkar hebat, itu pun kalau Cantika lagi bad mood pasti lampiaskan ke Randy dan di perlakukan sangat ramah tanpa terkelilingi oleh amarah.
Ke mana lagi bermanja bebas dan cerita yang tak harus takut di hakimi, kalau bukan di mantan kekasih? Rumah paling nyaman di rasakan setelah bermalamkan broken home dan tak pernah merasakan apa itu sosok pahlawan bagi anak perempuan yang katanya sebagai cinta pertama mereka.
Jujur, Cantika seperti malas sekali buat ke sekolah, mati rasa dan kehilangan minat selain berasa tak berharga lagi, apalagi tahu porsi otak di bawah rata-rata, kan, biasanya Randy selalu berikan apresiasi walau tahu nilai tidak begitu memuaskan.
Bunga-bunga yang terlanjur patah tak sempat terawat lewat kejujuran, terbuka satu sama lain, tetap merasakan rindu dalam hati. Yup, belum ikhlas bunganya mati dan menyisahkan sebuah kenangan dalam bait-bait kepala, mengeja setiap moment yang belum benar-benar selesai di bola mata Cantika, setiap kali melirik diam-diam ke arah mantan kekasihnya itu.
“Can, kamu bawa motor ke sekolah?” Seru Wardah.
Menggeleng, “tidak, kenapa kah?”
Diingatkan lagi persoalan bawa atau tidak sebuah motor, untuk saat ini menginginkan dalam bernostalgia naik taksi ke sekolah dan pulang bareng juga pakai taksi sama Randy. Meringis, kalau memberitahui the girls-nya persoalan perasaan yang masih duduk bincang nostalgia.
“Pulang sama-sama yok? Tapi, singgah dulu di rumah Nining, makan bakso sambil ngerujak, mau ikut?” Kali ini Nila yang menimpali.
“Oh, ok, boleh tuh.” Menimpali santai.
Daripada langsung pulang ke rumah, pasti lebih ke arah mengeja sebuah bait-bait kenangan bersama dua puluh empat januari yang pergi mengemaskan sebuah kisah cinta berbekal matre dari sebuah pengamatan orang tua Randy, bisa kah, untuk menghampiri beliau dan menyampaikan kalau dirinya tak sama sekali memeras uang hanya buat diisikan pulsa.
“Bentar eh? Lagi tunggu anak-anak cowok nih, katanya mereka juga mau ikut makan bakso jadi.” Kata Risa.
Ternyata ada Randy ikut makan bakso, tujuan mereka apa nih? Jangan buat Cantika menerbangkan sebuah harap tinggi, dong, sudah sesak dengan keterlukaan mantan kekasih lebih memilih pamit dari kisah terbilang tak mencipta prahara melainkan kesalah pahaman ibunda, menilai nafsi matre.
Selama makan dan pulang bareng mereka untuk cari taksi, Cantika hanya diam sesekali lempar senyum tipis.
Setelah masuk dalam taksi,
“Oh iya, Can, saya baru ingat kalau ada lagunya ST12 judulnya Cinta tak Direstui. Mau kah saya nyanyikan buat kamu?” Sahut salah satu temannya sangat santai, tak berperasaan sama sekali.
Sisi lain, ada sakit tak bisa mendeskripsikan sebuah melodi mengalun di balik mulut teman sekelasnya tersebut, seperti sengaja mengejek perasaan belum usai dari masa-masa nestapa. Bukannya menghibur justru meledek di balik lagu Cinta tak Direstui.
Langsung menyambar kunci motor dalam kamar, harus bersua dengan sahabat yang berada di jalan bandara, rumahnya.
__ADS_1
“Tik..” Kata Elvira.
Sejak datang beberapa menit lalu, hanya sibuk melamun sembari berbaringan.
“Ok, kalau ada PR Fisika, jan datang ke sini eh? Kerja sendiri saja sana..” Kesal Elvira, karena di kacangin.
Hm. Fine, membuang napas sangat gusar, “menurutmu Randy masih sayang kah sama saya?” Sahut Cantika, dengan tatapan kosong.
“Masih toh, tapi yang buat saya bingung dengan mamanya anggap kamu matre nih parah sekali.”
“Tapi, katanya Randy minta putus bukan itu sih alasannya tapi ingin fokus belajar.”
Elvira pun kembali terdiam, memikirkan bagaimana cara dalam mengembalikan senyum juga cerewet sahabatnya itu. Sudah lama sekali, semenjak mereka menyelesaikan cerita di balik tanggal dua puluh empat januari, tidak ada minat menjalani hidup dan kehilangan semangat sekolah.
“Kalau memang itu alasan Randy, kamu harus terima sih.”
“Mamanya juga marah-marah lihat nilai sekolahnya turun karena pacaran sama saya.”
Nilai sekolah, menjadi momok dalam hati Cantika, sebab seperti di salahkan sepenuhnya oleh beliau, bukan hanya bergandeng cerita cinta berbekal matre melainnkan salah satu hal serius tersebut.
Dan, diksi-diksi melukai hati, apa yang salah hingga menyayat seorang anak gadis orang lain lewat omongan, matre?
Benar. Kalimat tersebut keluar dari teman dekat Randy, bukan orangnya langsung yang semakin melukai hati Cantika.
“Hm, berarti kamu tidak paksa buat Randy bertahan dengan hubungannya kalian, kan? Ada bagusnya juga sih, kamu mengalah demi kebaikannya. Dia mau kasih lihat kalau bisa dapat nilai bagus, toh?”
Masih terdiam, tanpa menjawab sepatah kata. Sebab masih ada ruas patah yang tidak bisa dijelaskan juga fakta menerangkan Randy harus fokus belajar bukan pacaran.
🧭🧭🧭
“Tik, buang sudah pemberian Randy, yang ditahan-tahan begitu bikin kamu susah lupa dia.”
“Ah, enak aja! Kasih biar saja, disimpan, tidak baik kalau di buang. Sama saja kita tidak menghargai pemberian orang.” Cantika sempat protes.
Map yang berisikan semua pemberian dari Randy sudah saling tarik-menarik dengan sahabat sendiri. Dan, dengan tanpa ijin sudah merobek sebuah gambar berbentuk hati bersayap.
“Stop! Kenapa sih, kau seenaknya rusak orang punya barang, hah?!” Emosi itu meledak-ledak.
Fine. Tidak masalah belum bisa move on, tapi bukan seperti ini dalam melepaskan sesak dalam dada, merusak semua pemberian dari mantan kekasih, sama saja tidak menghargai kenangan. Apalagi Cantika garis terdepan mengoleksi semua kenangan dalam bentuk apa pun itu. Bahkan screen shoot SMS dengan teman-temannya masih di simpan, karena ada kalimat memotivasi dan makna kalau sedang kehilangan arah.
Sayang, tidak dijadikan sebuah arahan saat benar-benar malas membaca ulang teks SMS lama tersebut, bertengkar hebat saat masih SMP namun masih di simpan baik kenangan tersebut.
Cantika lebih baik memilih culik sahabatnya saja, tidak ada hal menarik dalam kelas selain emosi terus bertumpuk kalau melihat tawa-tawa tanpa beban dari mantan kekasih.
“Misi..ada Elvira kah?” Tanya Cantika dengan suara sedikit keras.
Kebisingan dalam kelas sahabat beda jurusan, hingga suaranya tenggelam.
“Cantika?!” Tetiba ada seruan dari bangku Elvira.
Bersorak senang, bisa bercengkrama lewat kisah nestapa masih belum juga selesai dari Cantika.
“Sini, masuk saja!” Elvira berteriak, menyuruh masuk saja, karena lagi sibuk mencatat.
Masih di posisi sama sampai sahabatnya datang jemput dan duduk di sampingnya baru bercerita tentang hal sama, tak pernah bosan.
“Kenapa lagi sih?”
__ADS_1
“Semalam saya mimpiin dia. Kok sweet sekali sih?” Getir Cantika.
Ada gelengan malas dari Elvira. Sangat jengah mendengar nama yang sama, bosan, hanya kalau bukan sahabat, mungkin sudah malas dan lepas tangan dalam meladeninya susah move on itu.
“Sampe kapan kamu bikin diri tersiksa hanya karna cowok brengsek seperti Randy, Tik?” Gemas Elvira.
Mengangkat dua bahu, tidak tahu.
“Yang jelas saya tidak mau dengar kamu malas belajar atau nilai ulangan harianmu anjlok, hanya karna cowok brengsek itu!” Tegas Elvira, tak terbantahkan lagi.
Fiuh, membuang napas kasar, kembali lagi berenang dalam memoar pun teringat saat tangan sahabatnya berhasil merobek salah satu hvs yang tertempel di dinding kamar, selepas kepulangan Elvira, dengan iseng membuka ulang map berisikan kenangan pemberian dari Randy.
“Eh?” Lagi, diingatkan dengan kertas hvs sudah terjilid rapi.
Yah, masih ingat betul saat itu usia hubungan mereka baru menginjak beberapa hari pacaran, mereka dapat satu kelompok dan tugas materinya adalah hacker. Dan, tidak tahu kenapa sebelum berangkat ke warnet, ada inisiatif buat foto berdua.
Saling tersipu, tapi tidak sekaku seperti wajah Randy.
Dalam perjalanan, benda pipih itu bergetar, berdecak kesal, “siapa sih yang nelpon, ganggu konsentrasiku bawa motor saja!” Ketusnya.
Oh, ada dentum-dentum senang. Lalu menerima panggilan tersebut tanpa berpikir panjang lagi.
“Kamu di mana sekarang ini, Cantika?”
“Di jalan toh, kenapa kah?” Menimpali dengan ketus, walau sisi lain, sangat senang bisa di perhatikan begini.
“Mau ke mana kamu? Kenapa ndak tinggal saja di rumah?”
“Jih, mau kerja tugaslah di warnet, kenapa kah?”
“Kenapa ndak kerja saja di rumah? Ada ji toh modem-mu yang mama belikan?”
“Ah, malas yah, mau kerja saja di warnet. Sudah ah, saya mau pergi nih, bye!”
Ada rasa haru campur senang, bisa merasakan perhatian dari sang kakak cowok kandung yang memang sudah lama tidak berkomunikasi walau sedikit menyebalkan di suruh tetap tinggal di rumah menggunakan fasilitas modem yang memang di belikan oleh ibunda. Tapi, Cantika lebih senang kerjakan tugas di luar rumah, tidak tahu kenapa, suka saja sih.
Apa kah boleh tetap begini saja? Dapat notifikasi spesial dari kakak kandung cowok, menegur kalau sedang melakukan hal buruk seperti keluar malam dan mendapatkan sebuah ruang manja tanpa perlu memprioritaskan gensi satu sama lain?
Dan, itu sebabnya kenapa Cantika masih belum bisa move on dari sosok mantan kekasih yang sempat meratukan nafsi, kehilangan pintu-pintu paling tertunggu untuk terbuka dengan obrolan sangat ramah dan tawa-tawa menghiasi cerita random mereka.
Pun, saat sampai di warnet, ngambil dua bagian tempat duduk. Belum ada beberapa menit di tinggal Randy, sudah asik bermain dan melupakan kewajiban kerja tugas kelompok.
“Say, kenapa main FB? Bikin tugas dulu, nanti tidak selesai-selesai lagi.” Randy pun memergoki sang kekasih sedang main facebook.
Tersipu dan memamerkan senyum tak berdosa, “bentaran doang kok Sayang, tidak lama?”
Membuang napas lelah, “ok, tidak lama-lama eh? Awas.” Lalu Randy pun pergi ke sebelah lagi, melihat bagian mereka apa.
“Ran, kenapa di sini? Kerja sudah, kita lagi cari yang bagian kelebihan dan kelemahan hecker nih.” Wisnu menengur sembari pasang wajah bengong.
Hanya terdiam sambil melihat mereka kerja tugas tersebut.
“Sayang..kerja tugas dulu sudah, nanti biar lanjut main di rumah saja.” Randy berkata dengan tegas lalu mengambil alih mouse tersebut.
Belum juga puas main sosmed, sudah diambil alih. Huf, meniupkan rambutnya dengan kesal tapi tak digubris sama sekali. []
__ADS_1