
“Selama berteman dengan orang baru itu, tangan panjang dan tidak mau mengakui kesalahan diri, kecuali menyembunyikannya dengan menuduh orang lain.”
📖📖📖
“Can, sini, kenapa duduk sendiri di sana?!” Seru Fandy.
Tatapan penuh bingung seperti orang bodoh, kenapa tiba-tiba memanggil bergabung dengan mereka, bukan kah dari putus sama Randy, semakin aksa juga tak peduli?
Malas bergabung dengan mereka lebih memilih berikan sikap cuek, justru tak menyerah masih terdengar panggilan Fandy hingga ke lima kali baru cair tuh es batu kepunyaan Cantika.
Tahu sedang bucin sama Ayu, kakak kelas mereka. Namun tidak lupa dengan keberadaan teman berasa keluarga itu, kok.
Satu hal yang selalu ada dalam batin gadis itu, kenapa saat setelah Randy mendapatkan kekasih baru pun jarang bergabung, baru mereka membuka obrolan, kasihan kah?
Cantika sendiri tidak bisa mengelak bahwa banyak luka-luka tercetak selama beberapa tahun pamit dari kisah terbilang manis tak pernah di tawari banyak prahara, hanya salah paham beliau menanggapi nafsi sebagai perempuan matre.
Kalau orang tua Randy tahu berpacaran lagi, apa respon mereka? Atau jauh lebih mendukung keduanya, karena cantik dan tidak bar-bar seperti gadis itu?
Selama beberapa minggu di habisi dengan bermain sama mereka, tanpa sadar sudah menjalin kedekatan bahkan sering main ke rumah sang kakak kelas, sekedar curhat tentang hati belum bisa lupakan mantan kekasih juga jalan-jalan. Tak lupa, ada I-Pad selalu di bawa ke rumah Ayu.
Sedikit lega, bisa menemukan tempat cerita yang memang sedikit kehilangan dua sahabat menjaga jarak begitu aksa tanpa sebab.
Ah, bukan karena itu, melainkan Cantika sendiri tahu apa penyebab mereka mengintimidasi hingga menghindari, kisah yang sama cukup buat dua telinga itu panas.
Capek juga sudah di berikan masukan atau mengalihkan perhatian dengan ngemall atau jajan kesukaan Cantika, tetap saja tak lepas dari bingkai dua puluh empat januari.
“Bagaimana kalau kita jalan ke gunmer saja?” Ayu mengusulkan.
Tunggu, kok ada pendengaran berbeda dari telinga Cantika, kakak kelasnya sumbing? Selama berteman seminggu hanya diam sesekali lempar tawa ketika berkumpul di sekolah. Untuk hari ini, baru menyadari bahwa Ayu memiliki penyakit kelainan dalam berbicara.
Cantika hanya bisa mematung, mengondisikan keterkejutannya itu.
Tidak berdua, ada Livy yang sudah dari setengah jam mengabari akan ikut ke gunmer atau bisa di bilang gunung merah, tempat orang-orang dinas saat pagi menjelang sore bisa terpakai buat olahraga, salah satunya ada bulu tangkis, ada juga yang jogging di sana.
Tujuan mereka ke sana, bukan olahraga melainkan cuci mata, lihat ada cogan bisa di gait untuk kenalan kah tidak, lumayan kan, daripada duduk dalam kamar, staler pacar baru Randy, hanya bikin sakit hati, kan?
“Kak, maaf, bisa bicara pelan-pelan? Supaya saya bisa mengerti apa yang kakak ngomong.” Sahut Cantika, dengan senyum memaklumi.
Syukur kakak kelasnya itu tidak baperan dan hanya tersenyum, mungkin sudah paham dengan keterbatasan di miliki. Bibir sumbing atau cleft palate adalah kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya celah pada bibir. Celah tersebut bisa muncul di tengah, kanan, atau bagian kiri bibir. Bibir sumbing sering kali disertai dengan munculnya celah di langit-langit mulut yang dinamakan langit-langit sumbing.
Mengingat penjelasan dari dokter sudah cukup menyayat perasaan Ayu, bahwa mengharuskan untuk bergandengan dengan penyakit berkelainan dalam diri. Tidak malu atau tersinggung, kalau ada orang yang meminta untuk bicara sepelan mungkin, agar di mengerti apa penyampainnya ke mereka, seperti salah satunya Cantika.
__ADS_1
Walau sudah melakukan operasi sekali pun, masih belum ada perubahan dari nada bicaranya. Sempat frustasi tapi pelan-pelan menerima dengan ikhlas, sebenarnya masih belum terima dengan garis takdir diberikan.
Setelah sampai di gunung merah, mereka selfie. Kadang heran, kenapa teman seangkatan Ayu sempat mau memukuli Cantika, hanya karena lepas-pakai jilbab di sekolah? Emang perempuan itu siapa, tidak memiliki hak dalam ikut campur kepribadian orang.
“Jangan pukul dia, kasihan, anak itu ada penyakit.” Sempat Ayu melarang temannya buat ingin melabrak adik kelasnya itu.
Cantika tahu informasi itu dari Ayu, sedikit geram. Kenapa juga harus diam tidak membalas dengan kalimat pedis?
Seperti salah satu contohnya, “emang kakak itu ada hak apa, buat ngurusin hidup orang, hah?! Jilbab yang saya pakai dan lepas, bukan buat narik perhatian kalian satu sekolah! Saya ini lagi proses belajar, lagian dia itu mau apa, sok-sokan mau pukul saya. Kalau saya lapor ke polisi, gimana?! Malu nggak tuh, dia itu bukan tuhan untuk menilai baik-buruknya saya. Bilang dia, jangan terlalu sombong jadi manusia, pakai jilbab juga paling hanya sekedar fashion. Apa?! Dia juga sering lepas-pakai, tapi membedakan dia lepas saat di luar sekolah, iya, kan?”
Tapi, kembali lagi, buat apa menghabiskan waktu hanya untuk meladeni balik orang yang memang tidak tahu diri dan merasa sudah cukup baik di mata tuhan?
Rasulullah saw bersabda : “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” HR. Muslim.
Bukan teman Ayu saja dalam mencari-cari keburukan gadis itu, melainkan dirinya sendiri, “kenapa kamu tidak main lagi sama sahabatmu, sih, siapa lagi..Elvira?” Kata Ayu.
Nah, terbukti kalau mereka berteman hanya kasihan bukan benar-benar peduli atau menganggap ada di sekitar mereka.
Berbanding terbalik dengan Elvira dan Rina, menerima apa adanya. Hanya karena egoisme diri selalu menceritakan hal serupa, cukup mengundang emosi yang buat mereka bertengkar lagi.
Hanya membalas dengan senyum simpul, persoalan prahara dalam persahabatan mereka, tidak mau sekali sampai di kasih tahu ke orang luar, karena penasaran bukan ngebantu cari solusi.
“Kamu juga sih, Can, kenapa sih tidak bisa lupakan Randy?! Jelas-jelas dia sudah lupakan kamu, masih harapin dia balik.” Kesal Livy, penuh tak berperasaan.
Tidak terlalu lama di sana, sudah mau masuk senja.
“Eh, kita balik sudah? Lagian kalian coba datang jemput tuh jangan terlalu sore begini.” Livy mengajak pulang ke rumah masing-masing.
Ngantar teman sekelas ke rumah baru berpisah di sana.
El, salah nggak sih kalau saya main sama mereka apalagi dengan kakak kelasnya kita? Gumam Cantika, berpikir.
🧭🧭🧭
Hari ini datang jemput Ayu sebelum pergi ke rumahnya Livy. Duduk dulu dalam kamar, sambil bercerita bebas mengenai Randy, karena tahu kalau sudah ada teman sekelasnya itu, bakal di damprat kalimat pedis tak berperasaan.
“Tidak, dek. Percaya sama kakak, kalau Randy tuh masih sayang sama kamu. Hanya saja dia terlalu menutupi perasaannya ke kamu.”
“Ah, masa sih kak? Kok dia cuek yak kalau ketemu sama saya?” Justru Cantika melongo, protes dengan pendapat kakak kelasnya itu.
“Duh, Can, percaya sama saya. Kalau Randy itu masih sayang, hanya saja dia tidak brani bilang, kamu tahu sendiri juga kan, kalau dia takut sama mamanya?”
__ADS_1
Cantika menaruh I-Pad itu diatas kasur, lalu mengode buat berhenti cerita dulu karena mendengar ada yang mengetuk pintu pagar rumah di depan.
Setelah balik ke kamar, mendadak Ayu terlihat ingin buru-buru keluar, belum mengendus sebuah kecurigaan di balik ekspresi yang memang memasang ketakutan. Gelisah dan tidak mau menatap ke arah bola mata Cantika.
Justru di balas dengan tampang bodoh, ada apa dengan kakak kelasnya itu? Begitulah yang ada dalam benak Cantika.
“Hm, ayo sudah, kak. Saya antar pulang.”
Balik ke rumah, ada sesuatu yang hilang. Panik, I-Pad hilang dalam kamar.
I-Pad tercuri oleh kakak kelas selama ini di percayai sebagai teman dekat Cantika. Tidak menutupi kemungkinan juga, kalau feel dan dugaan itu Ayu pelaku dalam mengambil yang bukan haknya.
Selama berteman dengan orang baru itu, tangan panjang dan tidak mau mengakui kesalahan diri, kecuali menyembunyikannya dengan menuduh orang lain.
Yah. Cantika langsung to the point, SMS kakak kelasnya menggunakan HP yang satunya lagi.
Ah, bkn sy yg ambil, Can. Mngkin org yg km bukakan pntu di luar.
Oh, sudah mencuri tidak mau mengaku kesalahan diri malah menuduh orang yang tidak tahu apa-apa. Mana mungkin orang itu masuk dalam kamar, hanya berdiri depan pagar loh.
Hingga amarah sudah tak terbendung lagi, menyindir telak di sosial media. Justru kakak kelas yang berteman dengan Ayu, mengirimkan inbox sambil mengata-ngatain Cantika terlalu berburuk sangka, semua pada melemparkan kata-kata pedis tak manusiawi ke gadis itu.
Jelas, Ayu adalah orang terakhir berada dalam kamar. Mana mungkin I-Pad gadis itu punya kaki buat jalan keluar dari kamar, kan?
Tak berhenti sampai di situ, ada pertengkaran mulut saat sampai di sekolah. Bahkan Fandy teman sekelasnya pun ikut menjaga jarak, salah paham karena lebih percaya omongan sang kekasih?
Lebih percaya mulut ular di banding teman sekelas yang memang sudah menghapal betul sifatnya seperti apa.
Hah. Terkadang cinta membutakan segalanya. Termasuk kepercayaan dalam menerima semua omongan dari pihak teman dekat dan pihak orang luar.
Cantika sedikit kecewa, kenapa lebih memercayai omongan kakak kelas yang jelas sudah panjang tangan itu?
Apalagi si kakak kelas berbadan gumpal, bernama Putri menghujamin ade bilang Ayu yang curi I-Pad-mu? Ade salah orang, Ayu orangnya tidak seperti itu.
Bukan hanya membela si pencuri melainkan ingin melabrak Cantika yang syukur terbatalkan, semakin buat nafsi marah adalah kmu selamat, dek, karna Ayu bela kmu slma ini sy mau labrak ade, krna kmu lpas-pkai jilbab di skolah.
Hoh. Perpeloncoan bukan hanya saat mos maupun ospek, melainkan dalam lingkungan sekolah, kalau mau dibilang mereka itu usia diatas Cantika, kok, kelakuan tak bermanusiawi dan kekanakan?
Di berikan otak kenapa di pakai sekedar menghina orang lain? Yang bahkan tidak mengusik hidup mereka sama sekali. Apa karena ingin di katai jagoan, brani, di segani?
Oh, tidak sama sekali bagi Cantika, mereka terlalu bodoh dalam porsi sebagai kakak kelas. Mencontohkan yang buruk bukan baik.
__ADS_1
Sekarang, sendiri lagi. Kembali pada sifat lama tanpa perlu penjelasan lagi, sudah duduk melamun, bukan berarti pikiran kosong hanya berdebat dengan overthingking. Tahu sekitar selalu menawari banyak keindahan tapi tidak lupa berikan jejak luka paling dalam. []