Cinta Berbekal Matre?

Cinta Berbekal Matre?
Angka buatmu Manja


__ADS_3

...“Cinta bukan tentang bincang bahagia melainkan mengimbangi cita juga.”...


 


🥇🥇🥇


Sebulan terlewati sangat cepat namun tidak meruntuhkan rasa justru semakin menumbuhkan cinta dalam hati satu sama lain. Yang buat mereka berdua di juluki pasangan ibaratkan lem dan prangko, tak bisa terpisahkan.


Randy juga memprilakukan gadis itu sebagai ratu. Walau sering mendapatkan sikap ngambek dari Cantika di balas sangat baik, mengalah dan senyum ramah.


“Sayang..udah selesai marahnya?” Begitulah yang bisa di dengarkan oleh Cantika, kalau selesai meluapkan emosi ke Randy. Tutur kata sangat ramah penuh kelembutan.


Hanya anggukan kecil. Lalu mengusap-ngusap gemas kepala gadis itu. Lucu sih.


Pernah ngambek parah, Randy menemani kekasihnya untuk jalan kaki dan tak berhenti untuk membujuk supaya naik taksi, karena sudah merasa pening di kepala walau sudah mengenakan topi.


Sempat menawarkan ke Cantika, “apa kah?! Pakai sudah sana!” Tolak gadis itu sangat ketus.


“Nanti Sayang kepanasan, tidak masalah kok, kalau saya nanti pucat lagi. Bakal cepat sembuh kalau sudah istirahat.” Begitulah yang sudah di katakan oleh Randy.


Memangku tangan depan dada sambil memanyunkan bibir, “MALAS! Kenapa sih masih ikutin saya, hah?! Pulang sana!” Bentaknya.


Tidak membuat Randy meninggalkan gadis itu sendirian di bawah terik matahari siang sangat menusuk kulit. Merutuki kebodohannya, kenapa tidak pakai jaket?


“Sayang, naik taksi yok? Nanti kamu sakit, gimana? Besok sekolah loh.” Randy berusaha membujuk.


Membuang muka sambil terus berjalan tak menghiraukan ocehan pacarnya itu. Walau sudah sedikit merasakan pusing di kepala, tetap mempertahankan pondasi gensi dan amarahnya agar tidak naik taksi.


Tak terasa, melihat ada lampu merah Pasar Lama, sedikit jauh sih, sudah tidak merasakan ada keberadaan Randy.


Hm, kecewa, mungkin sudah balik duluan pakai taksi.


“Say, Sayang?!” Sontak suara itu muncul tidak tahu pemiliknya dari mana, berbalik sekilas dan memasang wajah sungut lagi.


“Hm..minum dulu, haus pasti?” Menyodorkan sebotol fresh tea rasa melati.


Masih tak bersuara walau tangannya mengambil minuman tersebut dari Randy. Setelah sampai di Pasar Lama, baru melunak sekian lama mendiamkan cowok itu.


“Sayang pulang ke rumah?” Kata Cantika dengan intonasi ramah.


Ada gelengan di sana, “nanti mau singgah saja ke rumah Fandy. Kalau begitu, saya pergi dulu yah, Sayang? Daa..” Randy pamit, melambaikan tangan.


Dan, Cantika pun menyebrang jalanan dan melangkah kecil-kecil, karena rumah sudah dekat.


Tidak ada rasa capek, karena sudah terbiasa waktu SMP pulang bareng teman dengan jalan kaki, sambil ditemani cerita-cerita random yang menyenangkan. Mengingat masa SMP, buat Cantika merindukan mereka.


Sampai di rumah, menyimpan botol itu ke dalam kulkas, kayak sayang sekali di habiskan.


Cantika memberikan kabar jangan lupa makan dan istirahat, karena diam-diam tak menghiraukan ada rasa peduli dalam hati, wajah Randy pucat dan bercak kemerahan ada lagi.


Berasa sangat bruntung bisa menjadi kekasih pertama dalam hati cowok itu yang bahkan tidak pacaran sama sekali selain fokus belajar.


Bukan hanya sibuk pacaran tapi tidak lupa untuk mengingatkan Randy buat belajar, takut karena dia nilai-nilai pelajarannya menurun. Sudah tepat menemukan tambatan hati, mengerti diri, tidak ingin semua kebahagiaan juga bakal ikut pergi.


Belum, belum siap untuk kehilangan sosok seperti Randy yang tidak ada di orang lain.


Bisa merasakan arti di jaga, ratukan, perhatian, sweet seperti kakak kandung laki-laki sendiri. Namun yang membedakan adalah umur mereka. Lebih muda Randy.


Tidak tahu kenapa, merasakan sangat diperhatikan sekali, selayaknya seorang kakak kandung berlabel pacar.


Mau main ke rumah Elvira, menceritakan keseruan hari ini, sudah berhasil buat Randy temani sampai ke Jalan Pasar lama, sepertinya tidak ada tenaga selain ingin segera istirahat. Lelah.

__ADS_1


Apalagi pacarnya sudah tidak ada kabar, mungkin istirahat juga kali?


Hm, menyimpan benda pipih tersebut dan memeluk guling dengan perasaan nyaman, sudah bertemu pulau-pulau mimpi.


Kalau Cantika sempat dulu cemburu dengan sahabat sendiri, bisa merasakan arti cinta seorang pemimpin di rumah, sekarang sudah ada yang memberikan kidung bersiul manis lewat tindakan tanpa kalimat romantis setiap kali bersua di sekolah, sudah sangat cukup buat dia yang memang membutuhkan kasih sayang seorang Ayah yang tidak pernah teranggap.


Luka batin di berikan oleh laki-laki itu cukup menutup pintu hati, mati rasa, dalam merasakan arti keberadaannya sebagai Ayah. Di tambah pondasi awal selalu mengintimidasi, menceritakan kebodohannya tidak pernah berhasil bawa nilai terbaik, selalu menjadikan si bungsu cerita paling apresiasi, ada hati tersayat-sayat tanpa kata.


Menyimpan semua itu seorang diri hingga merasakan perubahan sikap, emosian, marah yang meledak kalau mendengar kalimat nyinggung perasaannya, kadang menangis sendirian dalam kamar, karena mereka tidak mau merangkul untuk mendikte tata letak kesalahannya dalam belajar justru asik mematahkan terus mental citanya.


Syukur, ada Randy menghiasi hidup gadis itu, sedikit memberikan warna pun tawa setiap kali bersama dalam kelas atau pun belajar dan pulang sekolah.


 🧭🧭🧭


Randy memberitahui kalau sebentar sore datang ke sekolah, ada PR Matematika harus di kerjakan gadis itu, belajar bersama.


Dan datang ke sekolah tapi tidak melihat keberadaan pacarnya, “Can, cari Randy kah?” Fandy berteriak, bertanya dari arah lapangan basket.


Cantika yang sudah duduk lasehan depan ruang UKS Sekolah Dasar hanya mengangguk dan memberikan senyum tipis.


Tidak lama kemudian, Randy datang dari koridor menuju ke kantin panjang.


“Lama kah nunggunya?” Randy menyapa.


“Baru kok. Jadi, kapan nih Sayang kerja PR Matematikaku?”


Belum ada jawaban selain memberikan tatapan datar.


“Sayang,” Cantika memanggil.


“Em..saya tidak mau kerjakan saja, tapi..sayang harus belajar, biar bisa kerja sendiri, gimana?” Randy mengusulkan sebuah tawaran terbaik.


Mendadak buat dia berdiri dengan rasa dongkol lalu meninggalkan pacarnya itu spontan buat Randy langsung mengejar langkah Cantika.


Menghentak sangat kasar, masih marah.


Sudah tahu pelajaran melukai otak Cantika, kenapa harus diajarkan lagi sih, hah?! Kalau minta tawaran the girls, tidak bakal mendapatkan kalimat barusan di lontarkan pacarnya itu.


Bersembunyi sekali pun dari Randy, bisa ditemukan cepat, gadis itu duduk depan kelas Akuntansi.


“Hei, kamu kenapa sih, Sayang?” Mengelus puncak kepalanya dengan lembut.


Masih ngambek, malas bicara.


“Kan, bukan berarti saya biarkan Sayang kerja sendiri. Nanti saya bantu sedikit kalau Sayang rasa ada yang susah.”


Angka buatmu manja, pikir Randy sedikit gemas.


Randy sudah mengeluarkan buku dan ngajak gadisnya duduk dalam kelas. Hanya bisa pasrah dan menghembuskan napas kasar.


“Ayo, Sayang pasti bisa kok.” Berusaha membujuk, kerja PR Matematika tanpa bantuannya.


Belum ada beberapa menit duduk dalam kelas, “bruk!” Mendobrak kasar meja itu rifleks buat Randy terlonjak kaget.


“Sayang kenapa?” Berusaha menetralkan detak berpacu cepat, karena kaget.


“Ah! Kenapa kah, bukan Sayang saja yang kerjakan, susah nih Say!” Rengeknya.


Memukul-mukul meja, karena isi otak tidak berkerja dengan baik, tidak memahami sama sekali apa yang sudah di jelaskan panjang lebar dari Randy.


“Sampai kapan Sayang mau saya yang kerjakan? Belajar dong, kan, kalau ujian nasional tidak mungkin kan kalau saya yang kerja soalnya Sayang?” Kata Randy dengan lembut.

__ADS_1


“Yaya..bawel dah! Malas belajar lagi, pusing!” Cantika langsung melongos tanpa membereskan buku yang masih berantakan di atas meja.


Sedangkan cowok itu menggeleng malas sesekali tersenyum geli, lalu dengan cepat membereskan barang-barang pacanya dan di masukkan ke dalam ransel.


“Kebiasaan sekali.” Berdecak pelan, sambil tertawa kecil.


Cantika sudah duduk depan kelas Akuntasi, sambil menekuk wajah dan merutuki kebodohan yang memang melekat sembari membenarkan perkataan keluarga mengenai porsi otak di bawah rata-rata, tidak bisa bersanding dengan saudara-saudara yang pintar.


Tapi, kan, waktu bayi mengalami hal menyakiti yang nyaris menghembuskan napas terakhir, kalau tidak ada orang pintar menyembuhkannya. Itu yang memicu saraf otak sebagian di kepalanya tidak bekerja dengan baik, kenapa keluarga atau orang tuanya enggan untuk mencari tahu? Justru tetap menyalahkan dirinya.


Mau menangis tapi gensi masih di kawasan sekolah apalagi ada Randy. Pasti akan di hadiahi berbagai pertanyaan dan Cantika paling malas berbicara banyak persoalan privasi, sangat melukai hati, serius.


Cukup menjadi pacar dan berada di samping saat membutuhkan tawa, sangat meringankan beban mental Cantika. Tanpa harus masuk mengusik-ngusik privasi apalagi sampai tanpa sadar gadis itu menceritakan mengenai penyakit masa kecilnya.


“Say, ayo ke sana. Jangan duduk di sini sendirian.” Kata Randy, mengajak berdiri dari sana.


“MALAS! PERGI SANA!” Balas Cantika sangat lantang, bersungut paling emosi.


“Ayo sudah Say, jangan ngambek-ngambek gini dong.” Lagi, Randy berusaha membujuk.


Menggeleng sangat kuat.


“Ok, kalau gitu saya minta maaf udah paksa Sayang belajar MTK tadi.”


Arg. Menggerutu dalam batin, bukan itu yang ingin di dengarkan oleh Cantika melainkan oke, nanti saya kerjakan sudah, tapi Sayang jangan ngambek lagi dong.


“Sayang..” Randy memanggil dengan wajah memelas.


“Tahu ah! Sana..saya mau pergi! Jangan ikut saya!” Berdecak kesal sambil beranjak lalu pergi meninggalkan Randy sendiri.


Cowok itu melongo heran, bagaimana dan cara apa lagi untuk bisa merobohkan keras hati kekasihnya yang memang sudah terlanjur buat dia marah besar seperti ini?


“Sayang! Jangan ngambek.” Randy berusaha mengejarnya.


“BODOH!” Acuh gadis itu, masih berjalan cepat.


“Say, saya minta maaf sudah buat Sayang marah.” Ucap Randy yang sudah berada depan motor kekasihnya justru tak di gubris.


“MINGGIR! SAYA MAU PULANG!” Ketusnya sangat berwajah sangar.


Pasrah, membuang napas sangat panjang. Membiarkan Cantika pulang dengan perasaan bersalah masih bersarang dalam hati.


“Kenapa bro?” Fandy datang menghampiri, bertanya bingung sambil nunjuk pakai dagu ke arah Cantika yang sudah keluar dari halaman sekolah.


“Dia marah sama saya, karna tadi saya tidak kerja PR MTK-nya.” Timpal Randy dengan wajah lesu.


“Haha..makanya Ran, sudah tahu anak itu tidak suka dengan namanya Matematika, masih saja mau paksa dia kerja.” Justru di balas dengan tawa menderai oleh Fandy.


“Trus, saya harus apa nih?” Randy minta saran.


Fandy masih belum berhenti tertawa.


“Begini, sebentar habis pulang kamu langsung minta maaf trus bilang kalau PRnya nanti kamu yang kerja, biar kalian punya hubungan kembali baik.”


Sedikit butuh pertimbangan, Randy harus bisa buat kekasihnya belajar mencintai angka bukan hanya dirinya saja. Karena cinta bukan hanya bincang kebahagiaan melainkan mengimbangi cita, sampai kapan Cantika harus bergantung Matematika ke dirinya?


Pasti pacarnya lari ke rumah Elvira, mengadu. Membayangkan itu saja buat Randy menggeleng malas lalu bergabung belajar spanduk dengan teman-temannya.


“Ran, kalian tadi kenapa? Trus tadi juga saya lihat Cantika lari?” Kata Dyka penasaran.


“Biasa, ngambek.” Yang jawab bukan Randy melainkan Fandy.

__ADS_1


Dyka terkekeh pelan.


“Sudah ah, jangan bahas itu dulu, kita lagi belajar nih.” Tukas Randy. []


__ADS_2