
“Jemari-jemari sangat ramah kembali sembari bersiul manis di balik tindakan mengejutkan hati Cantika.”
📖📖📖
Sudah menginjak sebulan mereka berdua berpacaran, namun masih tetap sama, orang lama berada dalam hati.
Apakah boleh Cantika menerbangkan sebuah harap, bingkai dua puluh empat januari juga masih menyimpan rasa?
Kenapa tiba-tiba Randy terlihat berbeda di hari sebelum-sebelumnya. Memberikan perhatian kecil yang bahkan buat dia sedikit meringis, memikirkan bagaimana perasaan Rista, kalau tahu sang kekasih masih menunjukkan ketertarikan hati ke mantannya.
Sebentar, ada keki bermain-main dalam hati, meronta-ronta sangat brutal menginginkan memoar lama balik, setelah di berikan banyak harapan dari mantan kekasih.
“Tik, tumben datang pagi?” Sapa Elvira, di parkiran.
Ada tawa-tawa geli memenuhi isi perut gadis itu, serius. Hanya karena ada tugas pekerjaan rumah yang belum di selesaikan, mengharuskan dia melakukan gerakan cepat buat kerjakan di sekolah. Agar bisa di kumpulkan, tidak mau nilai itu bermasalah lagi.
“Eh, haha biasa lagi ada mood, makanya datang cepat.” Cantika membalas dengan cengiran.
“Kita ke panggung sekolah yok?” Elvira mengajak.
Kalau sudah ada panggung sekolah akan ada cerita ingin di kisahkan, tidak tahu tentang apa. Yang jelas bukan mengenai Darel.
“Boleh..boleh, tapi bentar, saya kunci stank dulu motorku.”
Saat sudah duduk di bagian kursi panjang, di samping kiri, “Tik..” Mulai obrolan pertama, sangat terdengar lirih tertangkap daun telinga.
“Hm, why?”
“Enak loh kalau jadi kamu, tidak ada tuntutan buat jaga warung atau ajarin ade-ade di rumah saat pulang sekolah, bisa istirahat tenang.”
Cantika tertawa. Sangat miris, apa yang harus di irikan coba? Bodoh, tidak bisa di handalkan dalam hal apa pun. Bahkan memiliki riwayat penyakit PTSD yang memang belum terlalu parah, setidaknya Elvira jauh dari kata penyakit trauma mental.
“Kenapa lagi di rumah?” To the point.
Jujur, apakah Cantika bodoh atau sekedar santai dalam menyikapi permasalahan yang ada dalam hidup? Apa dengan setenang itu di rumah tak memiliki tuntutan keras dari orang tua atau keluarga, bisa memelihara mental dan batin dengan sehat, kah.
Tidak sama sekali. Orang bisa menilai dari sikap, kebiasaan tapi tidak dengan mental kita.
Ok. Trauma mental tidak bisa terlihat apabila tanpa adanya sebuah diagnosa, itu pun tidak ngebantu mencari solusi melainkan olok-olokkan semakin buat jiwa meronta brutal, bukan pulih melainkan memperparah sebuah kondisi mental yang memang butuh pertolongan medis dan di bantu juga dengan lingungan tidak toxic.
“Nggak. Hanya iri saja, bisa setenang itu di rumahmu, bisa rebahkan capek.”
Setenang itu kah? Sudah tahu sendiri mengenai penyakit gadis itu, apa yang perlu di irikan coba.
“Kalau mau istirahat, ke rumahku saja, biar nanti mau pulang saya temani.”
Oh, mungkin dengan adanya Elvira dalam sisi hidup, sedikit mengangkat beban trauma mental dalam batin. Serius, apa pun itu jika bersama dengan sahabat berasa saudara, ada ketenangan walau sedikit menyebalkan karena sering kali mencetuskan persoalan kecantikan yang di dasari dari fisik.
“Bukan itu yang saya maksud, Tik, tapi saya pengen punya orangtua kek mamamu begitu. Orangnya asik diajak ngobrol.”
__ADS_1
“Haha, kenapa jadi dengan mamamu? Baik juga kok orangnya.”
Melihat wajah dipenuhi rasa tersinggung, dengan pelan menghentikan tawa canda tersebut.
“Gini, El, kalau memang kamu mau ngobrol sama mamaku, ngomong saja. Paling nggak di marah kok. Santai saja.”
“Pikir saya ini kayak kamu? Yang main blak-blakkan begitu saja, ih..tidak sopan tahu!” Elvira menyemburkan protes.
Hm. Kok, sedikit tersentil dengan ucapan sahabat sendiri yak? Kentara ada getir campur sesak di wajah Cantika.
“Hehe, benar juga sih. Trus, nanti kalau istirahat mau makan di mana nih?” Berusaha menetralkan perasaan getir itu.
Tampak Elvira berpikir, “bagaimana kalau makan gado-gado di kanjang?” Serunya.
“Aih, malas yah, bakso boleh, atau cilok gitu kek?” Cantika tidak mengindahi permintaan sahabatnya.
“Tidak bosan kah?”
Beberapa menit kemudian, bel masuk sekolah pun berbunyi, cepat-cepat Cantika berlari ke arah kelas, “sebentar istirahat makan bakso, titik!” Teriak gadis itu.
Sedangkan Elvira hanya menggeleng-geleng.
🧭🧭🧭
Belajar kejurusan, susah apa bilang yang cukup menguras otak Cantika, saat menatap lamat-lamat buku catatan itu.
Belum sama sekali mengerti. Hanya memerhatikan dengan tatapan kosong sedangkan tangan sibuk mencorat-coret sembarang di sana, asal tidak kelihatan bodohnya. Hah, biar buat kesibukan apa pun itu, sudah kentara dan terpampang kalau porsi Cantika di bawah rata-rata kok.
Mengingat itu saja, ada desir-desir dalam dada.
Melihat teman lain sudah pada ngantri, sepertinya Randy sudah sangat paham sampai-sampai bertumpukan di mejanya. Ada senyum miring tertampil, coba dia juga bisa menyerap ilmu secepat itu, mungkin takkan bisa sesusah ini menjawab.
“Can, belum kerja sama sekali kah?” Duh, teman paling terpeka sekali.
Justru menyibukan diri dengan buku tulisannya.
“Can?” Lagi, Dito memanggilnya.
“Hm.” Dehaman saja sebagai jawaban dari gadis itu.
Tidak mau terlalu kentara dalam memperlihatkan kesusahan lihat tugas kejurusan. Langsung menetralkan wajahnya dengan santai.
“Tadi saya tanya, kenapa belum kerja?” Dito memang sabar, dan bertanya ulang lagi.
Sekilas melihat ke arah bola mata teman sekelas yang sempat menembak berulang-ulang, tidak sekedar bertanya melainkan ingin ngebantu sampai selesai.
Senyum-senyum menghiasi wajah Cantika.
“Belum mengerti sama sekali, makanya dari tadi saya tidak kerja tugasnya.” Kata Cantika terkekeh.
__ADS_1
“Sini sudah, saya bantu. Soalnya tadi Randy yang ajarin saya sih, hehe.”
Sangat tulus sekali. Yang lain sudah pada sibuk mengerjakan tugas masing-masing tanpa bertanya seperti Dito berikan ke nafsi.
Jadi teringat, “Randy minta putus karena mau fokus belajar, Can.” Mendadak ada yang gemetar di bibir, sangat bergetir tahu fakta tak sesuai keinginan mantan kekasih.
Biar bagaimana pun sangat susah di serapi Cantika, dengan pelan dan sabar terus mengajarinya sampai benar-benar mengerti. Saat sibuk belajar dengan Dito, sudah ada Randy tak disadari oleh gadis itu sendiri.
Spontan buat kedua pipi merona, tersipu.
Kenapa datang saat-saat sedang buntu ilmu seperti ini sih? Terdengar suara Randy mengusik keseriusan Cantika.
Mendongak sekilas lalu kembali sembari mendengarkan penjelasan, kok, saat di ajari oleh mantan kekasih baru masuk ke dalam otak?
Kedekatan mereka tak terduga, saat jemari-jemari sangat ramah kembali sembari bersiul manis di balik tindakan mengejutkan hati Cantika. Yah, Randy datang mengembalikan moment sudah lama dirindukan gadis itu.
Mengajarkan pelajaran yang tidak di mengerti sama sekali oleh Cantika.
Bukan hanya persoalan kejurusan melainkan Matematika. Namun yang menjadi keterkejutan campur kejutan adalah datang tanpa aba-aba memberikan perhatian sudah lama hilang dan tenggelam oleh ketakrestuan ibundanya.
“Can, kalau mau pinjam buku catatanku, bawa pulang sudah, biar nanti kapan begitu baru kamu bawa ke sekolah.” Intonasi terdengar lembut, seperti dulu masa merawat bingkai dua puluh empat januari.
Aroma-aroma kenangan sedang duduk bincang asa sudah lama berkemas lagi bertamu lewat tutur kata sebatas mengajarkan pelajaran kejurusan.
Sejak di kasih pinjam buku, kedetakan mereka semakin menumbuhkan denyut-denyut rindu. Sangat dekat, bahkan teman sekelas mengira keduanya sudah balikan.
“Ciee..” Sorakan sudah lama tenggelam, kembali terdengar di permukaan.
Hari Rabu ..
Cantika menepuk jidat, hari ini kan ada pemeriksaan rutin dari guru BK, atribut pakaian sekolahnya ada kelupaan, dasi hitam ketinggalan di rumah.
Seperti memahami isi kepala gadis itu, melepaskan dasi hitam lalu menyodorkan ke Cantika. Tak masalah Randy kena hukuman dari guru BK asal jangan Cantika.
Walau tahu tertutupi oleh jilbab, tidak memungkinkan dalam lolos dari guru BK terkesan killer itu, kan?
Setelah pemeriksaan atribut, Randy minta kembali tapi rasa iseng jauh lebih mendominasi dalam hati gadis itu. Sampai terjadi tarik-menarik hingga Dito megabadikan moment takkan terulang lagi.
“Dit! Hapus kah tidak?!” Randy berteriak, sangat tidak terima.
Sedangkan gadis itu sedang mengontrol pacu jantung yang beriramakan tak normal, sangat berdegup kencang.
His, apa sih dasar Randy labil. Tadi marah sekarang bersemu saat sudah melihat potret yang diambil oleh Dito.
“Can, kasih sudah, eh? Besok saya mau pakai lagi.” Pinta Randy.
“Malas. Coba, kalau bisa ambil, saya kasih.” Tolak Cantika, dengan kekehan.
Terima kasih Dito sudah buat kedetakan kita semakin mendenyut rindu yang tersampaikan lewat canda pun kejailan tercipta begitu saja. []
__ADS_1