
...“Kenapa harus besemuka lagi pada angka-angka yang tidak pernah berdamai dengan porsi otak Cantika? Dasar Randy tidak peka.”...
🥇🥇🥇
Setelah balik dalam hubungan baik-baik saja, kenapa harus di suruh ke sekolah lagi untuk, “Matematika lagi,” ketus Cantika.
Walau jengkel dengan pelajaran yang satu itu, kenapa masih menuruti keinginan Randy sih? Kan, ada Elvira buat minta di buatkan.
Besok harus di kumpulkan, tidak bisa menunda lagi.
Melihat Randy lagi main bola, saat sudah melihat keberadaannya, menginjak bola itu, “bro, saya ke sana dulu. Kalian lanjut main sudah!” Seru Randy, pamit.
“Ciee..” Yang di tanggapi gelengan malas dari cowok itu.
“Sayang bawa bukunya, kan?” Kata Randy, buka obrolan saat sudah menghampiri kekasihnya.
“Huf..matematika lagi.” Cantika lesu sambil memanyunkan bibir.
Bersandar di pundak Randy, selalu seperti itu kalau sedang kalut persoalan angka, manja.
“Haha, Sayang-Sayang, belum di coba juga sudah lemas gitu. Tuh, lihat..mukanya jadi jelek haha.”
Ada saja cara dalam mencarikan suasana, salah satunya mengejek Cantika juga tak lupa mencubit gemas pipi gadisnya.
Bosan mendengar ledekan Randy, berdiri sambil berdecak pinggang. Sudah tahu, Randy juga berdiri dan mereka langsung jalan-jalan keliling sekolah sambil tertawa lepas sebelum mengerjakan PR Matematika.
Seandainya bisa seperti ini, pulang sekolah jalan bersama, sayang terlalu sibuk di rumah, jaga toko.
Mereka berhenti di depan UKS sekolah, “ok, kalau begitu sekarang bisa kerja tidak?” Kata Randy.
Cantika mengendus lesu, “sudah, ayo semangat, ada saya nanti bantu Sayang kok.” Randy berusaha menyemangati.
Sambil mencari tempat yang nyaman buat dia kerja, “di kelas Akuntansi sudah Sayang.” Menunjuk ruangan itu.
Randy mengangguk dan berjalan pelan ke sana, tidak jauh dari posisi mereka berdiri.
Lengkap. Buku cetak dan catatan di keluarkan cowok itu.
“Nah, coba Sayang tunjuk yang bagian mana susah, biar nanti saya bantu.”
Ma, otaku mual lihat pangkat, akar, rumus ini, jiwa-jiwa Cantika meronta.
Padahal belum memulai kerja, sudah lebih dulu terserang oleh angka paling di benci oleh gadis itu. Hanya bergeming sih, tidak ada kalimat susah dan gampang.
“Nggak bisa Sayang, susah..” Cantika merengek, berharap pacar peka.
Sudah memegang kepala, frustasi sendiri, tidak mau meledak kedua kali, karena besok sudah harus di kumpulkan dan harapannya hanya ada di Randy.
“Sudah, sini biar saya yang kerja saja sudah. Sayang duduk saja yah.” Pungkas Randy akhirnya.
__ADS_1
Tidak tega dengan wajah sudah menyerah sebelum mulai. Benar kata Fandy kemarin, pacarnya sangat membenci pelajaran Matematika, tidak bisa semudah itu memaksa buat memahami apalagi di cintai.
“Makasih Sayang?” Sahut Cantika, sangat manja.
Bingung dengan sikap tak menentu cowok ini, kenapa tiba-tiba mau kerjakan PR Matematikanya sedangkan kemarin saja menegaskan buat mengerjakan sendiri tanpa bantuan, ah sedikit, mengarahkan kalau ada yang bingung dan susah.
Tapi, justru meledak, tidak bisa memaksa otak yang memang payah sama Matematika.
Penasaran, sesosok paling tegas berhubungan dengan pelajaran apalagi bersangkutan dengan angka, tidak pernah mau memanjakan untuk dikerjakan, namun hari ini ada angin apa buat Randy mengerjakan dengan serius.
Sangat terbantu, tidak ada drama-drama ngambek lagi. Ada senyum lebar muncul di sana, Cantika sangat senang.
Apa ini ada hubungannya dengan kemarin ngambek dan marah karena Randy terus mendesak dan memaksa buat kerjakan PR Matematikanya sendirian?
Jelas tergambarkan bahwa menikam sebuah pelajaran yang menjadi musuh bubuyutan bagi otak, tetap keuhkeuh memaksa, syukur sih ada kesadaran untuk bantu.
Memerhatikan dalam diam, Randy begitu terlihat ganteng kalau serius begini. Serius, bikin debaran hati Cantika lompat-lompat nakal di dalam.
“Sudah selesai, Sayang.” Kata Randy.
Mendadak salah tingkah dan tergugu membalasnya.
Randy bengong dengan tingkah pacarnya itu lalu mencubit gemas pipinya, “sudah, simpan bukunya ke tas trus kita samperin mereka di lapangan.” Hanya di angguki cepat oleh Cantika.
🧭🧭🧭
Pembagian raport kenaikan kelas XI dalam ruangan masing-masing jurusan.
Tidak tahu kenapa ada yang berbeda saja dari semester kemarin, terutama wali kelas sambil senyum penuh arti.
Cantika rasa selama ini biasa-biasa saja kok. Kenapa harus melemparkan sebuah apresiasi tersebut?
Sambil nunggu orangtua dalam pengambilan raport, family multimedia berkumpul di kantin. Melihat wali kelas memanggil mereka untuk bantu ngankat barang-barang untuk di pindahkan, barang dari kantor ke lab.
Dengan santai, ikut masuk ke dalam laboratorium, karena teman cewek juga ke sana.
“Cantika..selama ini kamu belajar dengan baik yah? Apa karena Randy?” Kata wali kelasnya.
Mendadak kedua pipi menjadi merah, malu.
Kok bisa sampai terdengar oleh beliau sih?
“Bapak senang lihat perubahan dalam diri kamu belajar. Randy, jangan lupa selalu bantu Cantika kalau dia rasa ada yang belum mengerti.” Salut beliau.
“Baik, pak.” Kata Randy.
Teman-teman yang berada dalam ruangan, sedikit tertegun, tahu Randy berhasil buat meningkatkan semangat belajar seorang teman terkesan cuek dan ogah-ogahan sekolah bisa meningkatkan kualitas nilai jadi baik.
“Ran, kantin kah? Lapar nih.” Seru Dyka.
“Say, mau ikut makan juga?” Kata Randy yang beralih ke pacarnya itu.
__ADS_1
Mengangguk dan tersenyum manis. Tidak tahu kenapa semenjak berada dalam bingkai dua puluh empat januari, sangat senang bukan main, berenergi dari hari-hari sebelumnya ke sekolah selalu berwajah ketus. Sekarang banyak senyum, walau sedikit pendiam sih, tidak ada perubahan dari pendiamnya selain sikap ketus sudah menjadi ramah.
Beberapa menit berlalu, saat ibunda melihat anak gadisnya sedang sibuk ngobrol dengan mereka, melempar senyum apresiasi. Ada rasa haru, bisa merasakan berarti dan berguna setelah bertahun-tahun di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di rutuki bodoh.
Sekolah begitu ramai, karena pembagian raport.
Menghampiri sang potret surga dengan manja, “Ma, saya mau nongkrong dulu sama mereka di sekolah, boleh?” Seru Cantika.
“Hm, jangan lama-lama.” Sahut beliau lalu pulang dengan Mamanya Diva, sepupunya.
Diva jurusan Sekertaris, namun Mamanya menunggu di kantin setelah raport ananda sudah diambil dan melihat gadis itu ngobrol lepas dengan temannya.
Masih belum menyangka, sebuah angka berbaris manis di raport, seperti mimpi bisa mengembangkan kualitas belajarnya selama berpacaran dengan Randy. Benar, di balik ketegasan cowok itu mendatangkan apresiasi baik dari wali kelas pun ibunda.
Yang awalnya ke sekolah sekedar dapat ijazah dan kerja, sekarang mindset itu berubah dan pernah berseru heboh ke sahabat beda jurusan, mengenai ..
“Jadi programmer susah kah?”
Elvira mendadak terkejut, di hadiahi pertanyaan yang menurut dirinya Cantika sangat malas belajar.
“Kalau saya bilang gini, mau dengar kah tidak?” Memastikan dulu.
Lalu diangguki kecil.
“Kalau kamu mau jadi programmer harus kuliah dulu, Can. Karena ijasah SMK saja tidak cukup buat bisa jadi programmer.”
Sempat kok, sebelum berdebat hebat dengan Randy persoalan PR Matematika, hanya membalas dengan hembusan kasar, dan merutuki kenapa harus kuliah lagi sih?!
Bukan sekedar menginginkan jadi programmer melainkan animator, karena tertarik dengan dunia anime, sejak kecil sudah di ajak nonton Naruto oleh sepupu cowoknya, setiap jam delapan malam.
“Sayang?” Randy menyadarkan gadis itu.
“Kenapa melamun lagi?” Tambah Randy dengan wajah bingung.
“Eng, kenapa?”
“Katanya mau makan, kok bengong sih?” Kata Randy.
Terkekeh geli dan masuk ke kantin, melihat ada makanan apa saja yang masih nangkring.
“SAYANG! Jangan makan sambel banyak!” Randy langsung memekik, sangat geram.
“Yey! Tidak kena cup, haha.” Cantika berusaha lari dari pacarnya yang mau ambil alih mangkuk sambel dari tangannya.
“Awas eh, kalau ngeluh sakit,” Randy pun mengancam dengan wajah sangar.
Setelah membuang napas dengan panjang dan kasar, mengambil tempat dan makan nasi goreng disamping pacarnya.
Melirik pelan, sudah tahu pedis, masih saja di paksa makan. Hah, keras kepala juga sih, tidak bisa mau mengurangi makan sambel.
Jangankan dirinya yang menegur, Elvira saja sudah mengenal lebih duluan, tidak bisa apa-apa selain membiarkan.
__ADS_1
Sempat ada aksi ambil paksa pop mie itu, tidak tega lihat Cantika kepedisan justru terus di bentak-bentak, “jangan ambil mieku!” Begitulah yang dituturkan kekasihnya.
Hah. Lagi, menghelakan napas pasrah, daripada perang mulut lebih lanjut dan Cantika bakal mendiamkan dirinya, lebih baik membiarkan saja. Walau dalam hati sangat tidak tega lihat pacarnya kepedisan. []