
...“Mengendus banyak kecurigaan yang banyak harap masih tergeletak di pintu dua puluh empat januari, namun Randy memilih pamit.”...
🥇🥇🥇
Masih ingat betul, semalam tidak bisa bantu apa-apa selain kalimat maaf, belum menjadi terbaik hanya menyusahkan, suka ngambekkan pun sama sekali tidak bantu naskah pidato untuk acara perpisahan kakak kelas nanti di sekolah.
Randy basa-basi bertanya apakah bisa ngebantu buat naskah tersebut, namun tiba-tiba moodnya berubah lagi, “tidak usah, Sayang, biar saya sendiri yang bikin. Maaf.” Begitulah yang di katakan pacar labil lewat SMS.
“El, Randy kenapa akhir-akhir ini berubah eh? Kamu tahu sesuatu kah?” Kata Cantika beberapa hari lalu di rumahnya.
Elvira hanya melirik cuek dan tidak menanggapi bahkan hilang rasa peduli dan malas mendengarkan lagi mengenai cerita tentang dua puluh empat januari milih sahabat sendiri.
Kenapa? Huaa..Mama, jerit gadis itu dalam batin.
Ke sekolah pun dengan perasaan berbeda, mengantongi banyak penasaran juga sesak dalam dada, tahu fakta pacar labil berubah tanpa alasan jelas. Karena memang selama ini selalu bergendeng ramah, romantis tanpa adanya prahara hebat menghantam dua puluh empat mereka.
Cantika ingin merasakan setiap denyut-denyut romantis di tawari kekasih, bukan justru sebaliknya, sikap sangat datar, asing seperti tak saling mengenal.
Pengen sekali buat pulang ke rumah saja, merebahkan diri diatas kasur, malas buat ngikut pelajaran hari ini dengan perasaan jelek, bikin pikiran berkeliaran ke mana-mana, kurang fokus belajar nantinya.
Memang perpisahan kakak kelas bakal di gelarkan besok, masih dalam keadaan belajar normal kok. Tapi, Cantika sudah meronta buat pulang saja tanpa takut absensi semakin banyak.
Ah, jangan tanya soal absensi selama melihat perubahan sikap Randy yang buat mood gadis itu brantakan. Kembali ke sifat lama, malas sekolah, tidak ada semangat baik belajar pun menjalani hidup.
Marah. Karena tidak bisa menebak isi kepala Randy, kenapa dan ada masalah apa yang buat ia harus menjauhi Cantika tanpa sebab?
Sebelum melihat keberadaan guru masuk dalam kelas, dengan langkah panjang-panjang menuju kelas Elvira.
“Eh, Tik, kenapa ke sini?” Elvira sambil melihat ke sana-sini, memastikan belum ada guru masuk dalam kelas.
“Randy..” Getir gadis itu, saat sudah duduk berada di samping sahabatnya.
“Kalian kenapa lagi sih?”
Bisa ndak penuturan kalimat itu jangan tercetus, ingin sekali rasanya Cantika cubit tuh isi dalam tubuhnya, minimal ginjal-lah yah, gemes sekali.
Sempat tak peduli karena sudah tahu Randy berubah, masih saja bertanya dengan tampang bodoh yang tak tahu apa-apa. Ih, kesal sekali.
Bruntung, bisa merasakan intonasi humble setelah beberapa hari di diamkan oleh sahabat sendiri, “telingaku panas, Tik. Berhenti sudah bahas dia, kan, kamu sendiri tahu, kalau Randy mau fokus belajar, bukan pacaran?!” Setelah mendapatkan kata-kata itu dari Elvira yang rifleks buat Cantika pergi dari rumahnya.
Sekarang, bisa mendapati ruang ramah dan bebas bercerita. Namun, kesenangan itu terjeda saat melihat ada bu guru masuk dalam kelas Elvira.
Dengan langkah buru-buru keluar dari sana dan mendapati kode dari mata sahabatnya bahwa sebentar selepas belajar bersua lagi untuk mendengarkan setiap nestapa di rasakan Cantika di panggung sekolah.
Balik ke dalam ruangan penuh kenangan manis itu sedikit menyelip sebuah luka tercetak jelas di wajah Cantika, ketika tak sengaja melihat sosok pacar labil lagi sibuk bercerita tanpa beban sama sekali.
Dan, ada dentum tidak enak dalam hati, kembali diingatkan persoalan naskah pidato buat besok. Apa Randy marah ada kaitannya dengan itu? Biar sekali pun berusaha untuk menampiknya, selalu gagal ketika feel lebih kena di hati Cantika.
Bukan kah sebelum ada bantuan buat naskah pidato, perubahan sikap pacar labilnya sudah terlihat jelas, bukan?
__ADS_1
Menunggu Elvira selesai belajar di kantin saja, karena sudah absen yang berarti guru tidak hadir. Setelah beberapa menit menunggu, melihat kedatangan sahabatnya dan memulai curhat panjang tak ada habisnya tentang sikap datar, asing milik Randy.
Setelah rasa cukup puas bercerita panjang, mereka pun pulang masing-masing ke rumah.
“Besok ke sekolah ndak eh?” Kata Cantika, saat sudah sampai di kamar.
Kembali diingatkan dengan perubahan drastis Randy saja masih banyak pikir buat datang atau tidak, lagian, kan, hanya acara perpisahan bukan belajar normal seperti biasa, tidak takut kalau absensi lagi.
Jadi, kemungkinan antara pergi atau tidur saja di rumah. Sebab, tak ada yang dinantikan dan bukan prioritas lagi selain menjadi asing di mata Randy.
Meronta-ronta tak terima sendirian dalam kamar, bingkai di rawat sangat indah mendadak lusuh tak terurus, serius, Cantika berasa kosong tak lagi di cari-cari atau di buat marah karena keisengan kekasihnya itu dalam kelas.
Sembari bertanya dan berbisik dalam hati, sangat berdesir lirih, “kayaknya kejutan sweet itu takkan bisa terulang lagi, deh. Iya, kan, Ran? Kamu saja berubah gini, dingin, datar, kaku udah kalah-kalah kulkas dua pintu di rumahku.” Berdialog sendiri.
Tanpa sadar bola mata terasa panas, napas tersengal-sengal, sesak mendominasi dalam dada, bingung ada sikap apa yang buat Randy marah sampai segitunya?
🧭🧭🧭
“Ran, yakin mau putusin dia?” Kata Fandy tiba-tiba.
“Belum sih, tapi kalau belum kasih bukti ke Ayah, pasti saya di marah lagi.” Terus terangnya.
Serius, masih sangat sayang gadis itu hanya perintah dari orang tua mengharuskan diri segera melepaskan romansa yang memang tak pernah ada pertengkaran menyapa hubungan mereka.
Bagaimana nanti dengan perasaan Cantika? Terluka bukan main, karena Randy juga bisa merasakan hal itu padahal belum mengumandangkan sebuah pamit dari jemari dua puluh empat januari.
“Yasudah, fokus buat hari ini saja dulu, be the way, Cantika datang kah tidak ke sekolah?” Sahut Dyka, dan mencari-cari sosok itu.
Gadisnya tidak matre, justru dirinya-lah yang sering di kirimkan pulsa, walau tidak jujur dan bertanya langsung ke Elvira, benar, dengan cuma-cuma membelikan pulsa itu diam-diam.
Harus dari mana menemukan sebuah pembelaan, kalau terlanjur ada sorot-sorot kecewa orang tua, terutama Mama.
Apakah hancur sebelum waktunya tiba, kah? Tidak tahu. Yang jelas, ingin menata kembali prinsip tersebut walau berperang hebat dengan isi kepala masih belum rela melepaskan Cantika, masih ada cerita dan jalan panjang harus di telusuri Randy.
Seminggu kemudian ..
Sudah fix buat mengetikan sesuatu di benda pipih itu, walau sedikit ragu dengan menghapus semua kalimat yang sudah di ketik panjang.
“Ah, harus bisa! Thanks for everything twenty four and good bye happiness.”
Jujur, kali pertama merasakan tegang seperti mau ikut ujian nasional, padahal hanya kirim kalimat perpisahan loh?
Sedangkan sisi lain .. Cantika sibuk dengan isi pikirannya, kalut.
Kenapa semua pada pergi dan Elvira juga sudah jarang datang main ke rumah, apa benar ini ada sangkut pautnya dengan naskah pidato?
Aih, mengingat itu saja cukup buat hati kembali bergetir, sudah tidak bantu dan esoknya kesiangan bangun, gagal lihat penampilan Randy yang berbicara depan umum.
Drrtt..Drrtt..
Sekian abad tidak ada kabar, bisa lihat notifkasi terfavorit dari Randy, lompat girang. Namun, setelah itu ada keraguan juga detak berpacu cepat, saat kalimat pertama di baca, sudah mengendus banyak kecurigaan yang banyak harap masih tergeletak di pintu dua puluh empat januari, namun Randy memilih pamit.
__ADS_1
Assalamualaikum, Can, maaf kalau sy harus ngomong ini ke kamu. Sy harap kamu baca sampai habis. Jujur, sy masih sayang sekali sama kamu. Tapi, Can, sy rasa hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Sy benar-benar minta maaf sama kamu. Maaf kalau kata-kataku ini melukai kamu. Sy tidak berkmaksud buat kamu menangis lagi. Tapi, kalau bertahan trus nanti berpengaruh di pelajaranku, Can. Semenjak kita pacaran nilai sekolahku berantankan dan ortuku juga tahu dan marah-marah. Sy harap dengan SMSku ini kamu ngerti, Can. Kita putus saja supaya sy bisa fokus belajar juga. Maaf yah Can, sy rasa kita tidak perlu bicara hubungan itu lagi. Jangan lupa sering makan tepat waktu, nanti kamu sakit kurangi sambelmu. Karna sy tidak bisa selalu ada disampingmu lagi. Wassalam.
Benar. Randy memilih pergi dari kisah terbilang manis di rawat bersama, dan mata yang panas menahan tangis juga kehabisan oksigen dalam berenapas seperti biasa, sesak menjalar ke seluruh tubuh.
Bulir sebesar kacang hijau pun deras di pelupuk mata, sesegukan dan tidak menyangka cerita mereka berhenti sampai di sini.
Di lain tempat, kenapa tidak rasa senang setelah mengumandangkan pamit dari dua puluh empat januari?
Lagi nongki, dengan Ayu, kakak kelas sebagai pacar Fandy sengaja ngajak kekasihnya juga sih, tidak hanya bertiga ada Dyka dan beberapa teman lainnya.
Mereka berikan saran, jangan menyakiti perasaan sendiri dan tetap berpacaran namun dengan syarat, ibunda tidak boleh sampai tahu. Justru Randy kalut, tak bergeming selain tatapan kosong.
Salah sendiri, kenapa harus minta jatah uang jajan lebih? Yang menjadikan diksi matre tertuju ke gadis itu terdengar telinga Randy.
“Kita duduk dulu di sana, Ran. Sambil kerja tugas ini.” Saran Fandy.
Mereka pun duduk di panggung sekolah. Dan hari sudah mau bertemu gelap, masih tetap berada di kawasan sekolah yang sepi.
Randy meletakkan HP di sampingnya, dengan pikiran ke mana-mana, melamun.
“Ran, fokus dulu.” Dyka menegurnya.
Tampak terlihat kusut wajah temannya itu, “hm, sori.” Sahut Randy dengan lirih.
“Orang mabuk we, bubar..bubar!” Dyka langsung panik, saat mendengar suara gemuruh dari arah koridor menuju kantin panjang yang mendengar langkah itu mengarak ke panggung sekolah. Langsung buru-buru mereka membereskan barang masing-masing.
Setelah mengamakan diri di kantin panjang yang dekat dengan kawasan pesantren, buat Randy seperti, “bro..bro, lihat HPku kah?” Merogoh kantong celana dengan frustasi, kehilangan ponselnya.
“Coba cek baik-baik dulu di saku celanamu atau tas?” Ayu bersuara, buat tenangkan adik kelasnya itu jangan panik.
Di luar dugaan langsung datang menghampiri orang mabuk itu dan bertanya apa mereka lihat HPnya yang ketinggalan di panggung sekolah?
Sebelum itu, sempat Fandy mencegat kasar, takut bakal di apa-apakan. Dan mereka kena masalah nantinya. Benar, nyaris kepalan tangan melayang ke wajah Randy. Syukur dengan sigap Dyka dan menarik cepat cowok itu lalu minta maaf ke orang mabuk tadi.
“Ran, gila kau! Kenapa harus tanya ke mereka?! Sudah jelas-jelas lagi mabuk berat begitu pergi tanya lagi ke sana.” Dyka sangat marah.
“Maaf, bro. Malam ini tidak tahu kenapa saya blank sekali, semenjak kasih putus Cantika, macam ada yang hilang.” Desir Randy.
Menatap iba namun setelah itu memutuskan untuk coba balik ke tempat tadi.
“KETEMU!” Seru Ayu sambil memungut HP yang ditinggalkan Randy.
“Thanks,” ucap cowok itu dengan perasaan kosong dan tatapan sendu.
“Kalau ada apa-apa, bilang saja, Ran. Dan .. Bila perlu kita bantu kalian berdua balikan juga bisa kok. Kalau begitu kita balik, jangan galau-galau terus.” Kata Dyka berikan semangat.
Tidak terlalu banyak bercerita selain anggukan kecil, masih ada bayang-bayang mengenai mantan kekasih dalam kepala. Belum berhasil terusir bahkan tadi kalut hebat, memberanikan diri dengan tatapan kosong menghampiri orang mabuk. []
__ADS_1