
“Ternyata kenangan itu menyelip sebuah ketaksukaan, mencari tahu persoalan nostalgia dua puluh empat di orang lain.”
📖📖📖
Menghalau sangat dingin, lupa bawa jaket bukan kebiasaan pikun melainkan malas saja dan senang mengumpulkan penyakit.
Kan, dari kecil tidak pernah mendapatkan perhatian, makanya menginginkan semua itu di orang asing biar sekali pun sudah menjadi mantan.
Beberapa minggu lalu sudah di acc oleh guru bahasa indonesia, mengenai penulisan laporan prakerin selama beberapa bulan di kantor. Serius, mencetak sejarah apresiasi buat diri sendiri, karena saat pengumpulan laporan yang sudah di jadwalkan oleh beliau. Hanya Cantika sendiri menyodorkan, masih ingat masuk dalam laboratorium, karena kebetulan guru bahasa indonesia sedang meet dengan Bu Stin, yang lagi ngajar KKPI dalam laboratorium.
Dan, bukan hanya jurusannya saja belum kumpul, semua jurusan.
“Sudah benar semua ini, Can. Kamu tinggal perbaiki spasi dan tata letaknya saja yah? Trus, teman-temanmu yang lain gimana laporannya, nak? Sudah pada buat belum, kenapa hanya kamu sendiri saja yang kumpul ke ibu?” Kata beliau.
“Eng, kurang tahu, bu. Kayaknya masih bingung sih.”
Hari ini, mendadak menjadi orang terpenting dalam kelas, karena teman-temannya pada membutuhkan ilmu itu. Padahal hanya mengarang sebuah kalimat formal bukan sebuah imajinasi dalam novel loh, kenapa mereka kesulitan buat?
Ada Randy juga yang ikut bertanya, sudah di jelaskan berulang-ulang, cowok itu masih bingung.
Biar sekali pun sudah pulang, masih tertahan depan kelas. Duh, cuaca sangat dingin bekas hujan tadi siang lagi.
“Kamu kedinginan, Can?” Tanya Randy.
Hanya mengangguk singkat, sambil memerhatikan laporan Randy dalam laptop, serius sekali sampai tidak sadar ada jaket yang dipakaikan cowok itu.
“Eh?” Melongo sendiri.
“Sudah, pakai saja dulu, kasihan, kamu kedinginan begitu. Masih cek laporanku juga, kan? Maaf jadi merepotkan gini.” Sahut Randy langsung.
“Tapi, nanti pulangnya bagaimana?” Cantika membalasnya dengan bingung.
“Sudah. Pakai saja.”
Setelah beberapa menit mengoreksi kembali laporan prakerin punya Randy. “Hm, nanti perbaiki bagian yang sudah saya catat eh? Besok bawa lagi sudah ke saya, nanti di cek ulang.” Kata Cantika, sembari menyodorkan laptop itu ke Randy.
“Eh, jaketmu?!” Seru Cantika, mencegat langkah cowok itu.
Hais. Sudah menghilang begitu saja, dengan barang-barang brantakan sama sekali belum di masukkan dalam ransel.
Tidak berdua, Randy di temani sama Dito. Mau di bilang, mereka berdua konsultasi laporan ke gadis itu. Menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan mantan kekasih yang labil seperti cuaca.
Sampai di rumah, sudah melihat hari terbungkusi gelap, bisa langsung jalan-jalan ke sekitar Sentani City Square, siapa tahu ada jajanan bisa di bawa ke kantong plastik gitu?
Memakai headset di balik jilbabnya, ke mana pun tak pernah terlepas.
Saat sibuk jalan-jalan bagian baju, “eh..Kak Agung?” Sapa Cantika.
“Sendirian, dek?”
Di balas dengan anggukan. Lalu ada Vhivi yang tidak jauh dari posisi mereka berdua berdiri.
“Kalian berdua kenal?” Kata Vhivi, sedikit heran campur kaget.
Setelah obrolan singkat itu selesai, adik kelasnya mengajak main dulu ke kost. Sampai di sana, sangat malu bukan main. Kartu merah di sekolah terbuka tanpa filter.
__ADS_1
“Masa toh, Mas, Kak Cantika punya nilai ulangan dapat empat puluh ke bawah trus tuh? Yah, dia remidial.” Vhivi menyampaikan dengan nada terkesan pongah.
Benar, kan, kalau adik kelas ini senang sekali menjatuhkan orang lain depan teman dekatnya yang tidak lain adalah keluarga Vhivi.
Sepulang dari rumah adik kelasnya, Kak Agung ngechat kalau jangan terlalu di bawa ke dalam hati soal omongan adiknya itu.
Haha sudahlah, kak. Memang sy orgnya bodoh kok.
Kakak kelas yang ditemui tak sengaja lewat dinding facebook itu tidak pernah menilai orang dari porsi otak melainkan hati, terbukti saat dek, kk juga itu bodoh loh. Hnya rjin mknya ade lihat kk sprti org pntar. Gak boleh insecure sama diri sndri.
Esok hari ..
“Kak, tadi Rista tanya soal kedekatan kakak sama Kak Randy.”
Ah, kenapa sih harus mengorek sebuah hubungan sudah lama berpisah. Yang ngundang ketaksukaan Cantika ketika mendengar hal itu berulang kali.
“Trus, ade bilang apa ke dia?”
“Yah, saya sampaikan saja sih kalau Kak Randy belum bisa move on dari kakak.”
Sangat tidak suka, ada orang lain menyelusupi sebuah bingkai favorit yang sekarang menjadi frame nostalgia. Apa mengharuskan mencari jalan pintas dengan menyusun keping per keping masa lalu Randy, supaya bisa memenangkan hati cowok itu kah?
Serius, sangat marah. Bukan sikap adik kelas itu ingin memenangkan hati Randy melainkan terus-terusan mengumpulkan kepingan mengenai masa lalu mereka.
Kenapa tidak memberikan kidung-kidung itu secara versi Rista saja, kenapa harus mencari dari masa lalu dua puluh empat januari, coba?
“Aduh, kenapa ade bilang begitu kah? Kasihan dia.”
Kasihan sih, sisi lain tidak bisa membohongi kalau sangat senang.
Haduh. Cantika memukul jidat, jujur sekali.
Di tempat lain, saat Rista menemui Vhivi di tempat biasa depan perpustaakan sekolah.
“Kak, betul kah, Kak Randy pakekan jaketnya ke Kak Cantika?” Ucap Rista, sekuat tenaga menahan tangis.
Melihat sebuah bening-bening di kelopak mata hampir banjir, tetap menganggukkan kepala. Membenarkan ucapan adik kelasnya itu.
“Iya, Dek. Mereka mesra sekali.”
Senyum. Hanya ini bisa menutupi luka yang sudah sangat bersarang dalam dada. Benar, pacarnya masih menyimpan rasa ke mantan pertamanya itu.
“Kak Cantika sama Kak Randy punya hubungan dulu seperti apa? Kenapa Kak Randy belum bisa move on dari Kak Cantika?”
Vhivi berpikir agak lama, “dulu tuh mereka ke mana-mana selalu berdua, lengket trus mungkin itu yang buat Kak Randy belum bisa lupakan Kak Cantika.” Sahutnya.
“Oh, begitu toh. Pantas, Kak Randy terlihat sayang sekali sama Kak Cantika.”
Yang tidak bisa Rista bayangkan adalah kenapa harus memakaikan jaket segala ke kakak kelas itu, sedangkan sisi lain sudah punya kekasih.
🧭🧭🧭
Bergetir, saat tidak bisa mengandalkan otak sendiri, namun setelah beberapa menit berlalu mendengar kicauan heboh dari salah satu teman sekelas.
“We..we, kalian punya jawaban juga salah kah?” Teriak Fandy, heboh.
__ADS_1
“Hm, punyaku salah berapa nih, banyak sekali. Hampir semuanya salah. Padahal saya isi benar baru.” Dyka menimpali.
“Jih, kayaknya websitenya ada yang salah nih, masa kita isi benar di kasih salah tuh?” Kali ini Arni yang mengomentari.
Mendengar penuturan teman-temannya bisa bernapas lega lalu keluar kelas dan duduk di tangga yang terdiri dari tiga anak tangga. Eh, terkejut bukan main, mereka ikut bergabung.
Ada haru menyelimuti hati.
Gadis itu melihat Randy duduk dekat pertigaan ke arah kelas jurusan Akuntansi bersama Mirwan dan Dio. Kedua bola mata mereka berdua bertabrakan, cepat-cepat Cantika langsung memutuskan pandangan itu.
Samar-samar melihat senyum ramah Randy. Cukup mengundang rasa salah tingkah dalam hati gadis itu sendiri, pun degup jantung berpacu abnormal.
Lalu di buyarkan oleh keriuhan mereka ingin selfie ramai-ramai pakai HP Cantika. Hanya menghelakan napas pelan dan memberikan ke mereka.
“Can..Can, ayo gabung sini!” Seru Irsha.
“Foto ulang!” Kata Abyan.
Menggeleng kecil, kekompakkan dan tutur ramah ini akan dirindukan oleh Cantika, walau pun tidak memberitahu langsung ke mereka.
Kenapa lebih senang menikmati keramahan family multimedia dalam kejauhan pun diam? Sedangkan ruangan itu terbuka tanpa memandang dari porsi otak.
Tahu, masih terbayang-bayang prahara unfaedah dari teman sekelas yang bahkan dulu sedekat nadi, sekarang menjadi musuh nafsi.
Dyka yang selalu menjadi jembatan supaya tidak terpecah belah sebuah ikatan kekeluargaan multimedia, hanya sayang terlalu menutupi diri dengan sikap dingin tak tersentuh sama sekali kepunyaan Cantika, cukup buat mereka takut mengetuk berulang kali.
“Katanya nanti Randy mau ketemuan sama pacarnya toh di bawah?” Bisik salah satu teman sekelasnya.
Hm. Tidak sedang bicara dengan Cantika, tapi dengan orang lain namun sengaja di kasih dengar ke gadis itu, tujuan buat apa coba, kalau bukan cemburu.
Masih menyimpan jaket pemberian Randy, tidak mau sama sekali ada niatan balikin tuh barang. Kenang-kenangan sangat berarti saat nafsi menjadi terpenting dalam kelas termasuk cowok itu sendiri.
Tidak peduli omongan adik kelas beberapa hari lalu yang menyampaikan kecemburuan Rista pun nyaris nangis tahu kekasihnya memasangkan jaket begitu mesra.
Cantika bahkan tidak memintanya diperilaku manis seperti itu oleh mantan kekasih.
Susah, sama-sama masih sayang yang terhalang oleh ketakrestuan ibunda, menjadikan orang asing sebagai pelampiasan, namun tanpa sadar sudah saling menyakati satu sama lain.
Kembali melihat foto-foto itu, ada senyum terbit di wajah Cantika.
Coba ada Randy, sangat melengkapi album kenangan putih abu-abu dalam HP gadis itu, serius.
Saat sudah dibolehkan pulang oleh wali kelas, terlihat sangat buru-buru sekali buat turun ke bawah. Hm, ada senyum miring ditampilkan oleh gadis itu.
Cemburu lagi?
Tidak begitu jelas melihat keberadaan Rista di mana. Yang pasti, ada sesak menjalar lagi ke seluruh tubuh.
Menyeruak sangat iri campur cemburu, yang biasa sepulang sekolah selalu bergandeng ramah dan romantis, sekarang mengantongi nestapa juga cemburu seorang diri.
Saat butuh doang sikap itu ramah dan manis.
Ah, kenapa tidak minta diajarkan sama pacar yang memiliki otak pinar itu sih? Terlanjur sudah buat janji kan, bakal ngecek ulang laporan prakerin yang memang belum selesai di buat Randy.
Fiuh. Membuah napas sangat gusar. Salah sendiri, ngundang luka dalam batin. []
__ADS_1