
“Ternyata sudah menjadi mantan memiliki sikap ramah dipenuhi bola mata bersahabat.”
📖📖📖
Mereka sudah duduk dalam bioskop menunggu film di putar, ngobrol dulu, daripada bosan bermain HP masing-masing. Apalagi kedua orang ini sangat humble dan senang bercerita.
Bagaimana jadinya kalau Cantika bertemu cowok yang dingin, misterius bisa-bisa jengkel sendiri karena penasaran tidak pernah bicara panjang lebar selain kata-kata singkat.
“Can, mau ikut kegiatan haiking nanti kah?” Kata Julio.
“Haiking?” Cantika mengulangi diksi itu.
Langsung mendapatkan anggukan cepat pun antusias. Baru pertama kali dengar kalimat yang di lontarkan kakak kelasnya itu.
“Itu kegiatannya seperti apa kah?” Tanya Cantika lagi, sangat penasaran.
“Yah..nanti kamu tahu sendiri, kalau sudah ikut. Makanya daftar sudah, biar nanti saya kasih tahu ustad.”
Sebenarnya siapa sih yang mau ikut, kenapa Julio tidak sabaran menunggu jawaban dari Cantika, langsung mendesak seperti itu. Hm, kebiasaan memang.
Semenjak Elvira berangkat ke padang, lanjut kuliah di sana, jurusan kebidanan. Sedih sih, di tinggal sendirian, berasa lagi pacaran yang di tinggal doi, LDR-an deh. Memang masih belum kembali ke halaqoh, sebab akan terasa kaku jika sendirian ke sana.
“Nanti sudah eh? Lihat-lihat, kalau mood saya kabari langsung ke kamu.” Kata Cantika.
“Oh iya, saya mau kasih tahu juga, nanti ada lagu perdanaku rilis. Mau dengar?”
“Lagu apa emang?” Gadis itu menaikkan satu alis, bingung.
“Lagu menang juara pas lomba di bandung, nasyid.”
“Oh..nanti sudah kalau sudah rilis, kirim saja ke saya.” Cantika menyahuti dengan santai.
Padahal baru-baru ini di kasih tahu akan di buatkan sebuah grup nasyid, saat pertama kali ngampus bareng. Eh ternyata sudah mau rilis saja lagu perdana mereka.
Masih ingat betul saat itu diatas motor, Julio mengumandangkan sebuah kalimat penuh harap suatu hari gadis itu harus nonton di bawah panggung kalau grup nasyid-nya terbentuk.
“Can, nanti kalau grup nasyidku di bentuk, kamu nonton eh? Pas mau manggung?” Kata Julio.
Hm. Begitulah penuturan kakak kelasnya sewaktu ngampus bareng, pertama kali. Yang ngajak berangkat sama-sama, Julio. Tidak mungkin Cantika, kan?
“Kak, tanya kah, masa toh Randy suka ngatur-ngatur saya tidak boleh dekat sama cowok lain tuh?” Kata Cantika.
Nunggu film di putar, kenapa berasa lama sih? Yaudah, ngobrol lagi deh bincang sebuah memori lama lebih tepatnya.
“Cie..balikan sudah mo, masih sayang tuh.”
Kesal. Bukan itu yang mau di dengarkan oleh Cantika, melainkan saran atau pendapat dari pemikiran Julio, tidak minta di suruh balikan atau lain halnya yang di luar dari topik.
“Siapa juga mau balikan sama dia? Orang sudah tidak sayang juga. Lagian eh, kak, dulu saja waktu masih sayang-sayangnya, dia pacaran sama adik kelas nama yang sama lagi kek saya.” Gerutu Cantika, tidak terima.
__ADS_1
Julio tertegun, tak percaya dengan omongan Cantika. Serius. Kok bisa ada cowok seperti adik kelasnya itu?
Ok. Tidak mau terlalu jauh mendalami hubungan mereka dulu, hanya sebatas menjadi pendengar saja dan tidak lagi menggodai menyuruh balikan.
Berat jika berada di posisi gadis itu, masih saling cinta dan sayang justru mempermainkan perasaan orang asing yang memang tidak tahu apa-apa persoalan hati.
Beberapa jam berlalu, setelah meninggalkan Mall Jayapura, mereka berdua singgah dulu mengisi perut di warung mie ayam favorit yang di rekomendasikan oleh kakak tingkat Cantika, prumnas tiga.
Cowok itu bilang minta tolong bayarkan dulu, karena bawa duit hanya buat nonton tadi. Hah, membuang napas kesal dan menganggukan kepala.
Dulu saja, Randy tidak pernah meminta traktiran seperti ini, justru diam-diam membelikan sarapan nasi goreng atau nasi kuning di kantin sekolah.
Karena memang Cantika paling tidak suka makan, kalau tidak di perhatikan atau di bawakan langsung ke depan matanya.
Jika, “Can, ingat nanti istirahat makan eh? Jangan lupa isi perut tuh, nanti sakit.” Hanya sekedar mengingatkan tanpa menggandeng tangan gadis itu, bakal tidak mau makan.
Sewaktu masih pacaran dengan Randy, gadis itu tidak pernah absensi dari sarapan, selalu diingatkan dengan membawakan sebungkus nasi di mejanya.
Senang sekali kalau ngemil tidak sehat yang seringkali dapat ngomel dari Elvira, setiap kali duduk di kantin bawa jajanan dari rumah dengan snack di kantin.
Perhatian manis diam-diam itu sudah yang sangat di rindukan oleh Cantika dulu. Berasa kehilangan sosok yang menghargai dia, walau beberapa cowok ganteng mengantri sebatas teman dan bergandeng seperti Julio, Kak Andy atau nama cowok lain, tidak bakal bisa menggantikan posisi Randy di hati.
Sangat berbekas walau tak ada rasa, namun kenangan yang di berikan begitu berarti dan masih dihargai oleh gadis itu sampai detik ini.
🧭🧭🧭
Sempat sudah ngajak Elvira juga buat ikut daftar, terjadi pergelutan sesaat karena Cantika agak kesal, kenapa terus-menerus membicarakan keburukan orang lain sih.
Hah. Membuang napas sangat gusar, kenapa selalu menjadi hal tak menyenangkan kalau ada acara seperti ini, berjaga jarak di sebabkan omongan sahabat sendiri, selalu menjatuhkan orang lain tanpa
Bukan kah pundak paling nyaman adalah sahabat saat bercerita bebas tanpa adanya penghakiman, tetapi kenapa Cantika memiliki ikatan sangat pongah dalam berbincang sebuah kekurangan orang lain, yang belum tentu sesuai dengan omongan di sampaikan.
Sekarang, meninggalkan Elvira, berjalan menuju air terjun harapan bersama sepupu, kebetulan di pertemukan tak sengaja lewat liqo.
Tidak memedulikan dengan keberadaan sahabatnya, sangat menjengkelkan.
“Ih, ndak papa kah, kalau kamu jalan sama saya?” Kata Yelna, sepupunya.
“Ah, buat apa pikir dia kah?!” Di balas dengan ketus.
Hanya menggeleng lihat tingkah gadis itu, sangat keras kepala, bukan hal baru lagi bagi Yelna walau tidak langsung mengenal karakter tersebut dari orangnya melainkan dengar dari omongan orang lain.
Terkadang apa yang di dengar tidak selalu benar, bahkan ada selip intimidasi, bumbu dalam menceritakan orang di maksud.
Manusiawi bukan sih, kalau menceritakan orang lain tidak lepas dari memburukkan mereka, padahal belum mengenal luar dalam.
Saat tidak sadar melirik ke belakang, sudah terlihat Elvira bersama rombongan akhwat yang tak dikenali mereka berdua. Hm, membuang napas dengan ketus lalu berjalan lagi berdua dengan Yelna, berbincang yang tak menyadari sudah merasakan getir dalam hati.
Can, kalau yang namanya sahabat ada salah, harus di perbaiki bukan di tinggali.
__ADS_1
Kalimat Vlora datang dalam kepala dengan tiba-tiba, bukan Cantika namanya kalau masih berada dalam keras kepala dan gensi buat menghampiri sahabat terkesan bermuka dua, depan publik sangat baik, motivasi, bijak, dewasa namun di belakang layar sangat pedis, tak berperasaan, pongah dalam menjelekkan orang lain.
Saat mereka akan menyebrang sungai terdapat bebatuan yang sudah berlumut, licin, melihat Rista dengan bodoh amat pakaian basah atau kering, langsung jalan melepas sepatunya dan memegang di tangan sebelah kanan.
Sampai di air terjun, masih belum menegur, amarah lebih terprioritas dalam dada. Kenapa bisa menyimpulkan sebuah karakter orang hanya dengan melihat gerak-gerik, bukan langsung bertanya ke orangnya.
Tadi saja saat ingin naik ke atas yang ada bebatuan, kesulitan naik, “sini..kak, biar pegangan dengan tanganku saja.” Kata Rista sangat hangat.
Satu hal fakta tentang adik kelas ini adalah sudah menjadi mantan Randy dan tanpa sadar menemukan sebuah bola mata ramah, sangat bersahabat berbanding terbalik dan jauh sekali dengan ucapan Elvira waktu masih sekolah dulu.
Gemar mencari celah dalam menjelekkan adik kelas mereka, padahal sangat baik.
Cantika penasaran bagaimana kalau ngambil foto bareng dengan adik kelasnya itu, eh di terima sangat ramah dong, saat .. “Ayo sudah, kak, di sini saja kah?” Kata Rista sangat bersahabat.
Mereka foto di bebatuan, setelah makan.
Satu minggu kemudian .. Ternyata Elvira kembali diajak liqo oleh murobbi mereka dulu tanpa ngajak gadis itu, bagaimana pun di perlaku tak baik waktu haiking, masih ada pemikiran merangkul jemari sahabat ke aroma jannah.
Memang yah, selalu tak pernah dianggap. Hanya Randy saja menganggap sebagai manusia dan begitu berarti bukan sebagai kekasih saja melainkan benar-benar mendekap saat yang lain melepas penuh bengis. Makanya, saat cowok itu mengibarkan sebuah bendera pamit dari hubungan mereka berdua, sangat terpukul campur sedih.
Siapa lagi yang bisa di jadikan sebagai rumah, setelah kepergian dua puluh empat januari?
Oh, benar bersamaan dengan hari itu, Cantika juga bisa masuk ke dalam grup inti PKS Muda. Sebab, sudah mempromosikan lagu perdana yang pernah kakak kelasnya sampaikan saat menunggu film dalam biskop terputar.
Senang sekali, bisa menjadi panitia PKS Muda, mengembalikan memori saat masih ada FATIR. Sangat merindukan moment di mana berkumpul untuk rapat, mendiskusikan dalam buat acara dan masih banyak kegiatan lainnya yang buat Cantika bersemangat.
Ternyata ada Rista juga di sana. Ada senyum bersahabat dari gadis itu, biarkan masa lalu menjadi kenangan tanpa perlu terbahas ulang. Karena ada bincang ukhuwah menguarkan jannah jauh lebih menyenangkan di banding mengobrolkan perihal cinta lagi.
Yang di kagumi dari sosok adik kelasnya adalah setelah putus dari Randy, memilih hijrah dan ngaji.
Bruntung sekali, mendapatkan hidayah langsung di laksanakan. Apa kabar Cantika dengan bergandeng dengan penyakit trauma mental, tak menentu arah, kadang kehilangan semangat hidup kalau tidak ada yang mengarahkan dirinya.
Apa lagi saat bertengkar terus-menerus dengan sahabat sendiri yang memang mengenalkan nafsi pada liqo. Seharusnya tahu, kalau penyakit Cantika sangat sensitif tidak bisa mendengar kalimat-kalimat yang memang memicu kumat pun meledak-ledak.
Kebetulan hari ini ada rapat PKS Muda di mushola, sedikit tersinggung karena dua akhwat seperti menghindar dari dia.
Ada tawa-tawa getir tercipta dalam diam.
“Biar saya sudah yang duduk di samping Kak Cantika.” Putus Rista kemudian.
Sangat terharu, mendengar penuturan ramah dari adik kelas sempat di anggap buruk karena terpengaruh oleh omongan Elvira.
Thanks, dek. Bisik Cantika dalam batin.
Oh, ada Julio juga di sana. Jarak akhwat dan ikhwan duduk agak berjauhan.
Karena memang pria dan wanita menurut syariat islam dalam batasan pergaulan islam menetapkan beberapa kriteria syar’i pergaulan antara laki-laki dan perempuan untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan kesuciannya.
Interaksi dan komunikasi antara laki-laki dan perempuan sebenarnya boleh-boleh saja, dengan syarat wanitanya tetap mengenakan hijabnya, tidak memerdukan suaranya, dan tidak berbicara di luar kebutuhan. Adapun jika wanitanya tidak menutup diri serta melembutkan suaranya, mendayu-dayukannya, bercanda, bergurau, atau perbuatan lain yang tidak layak, maka diharamkan. Bahkan bisa menjadi pintu bencana, kuburan penyesalan, dan menjadi penyebab terjadinya banyak kerusakan dan keburukan. []
__ADS_1