Cinta Berbekal Matre?

Cinta Berbekal Matre?
Sahabat berasa Aksa


__ADS_3

“Egoisme sebuah nafsi yang berulang kali melantangkan nama sudah tak lagi pedulI, cukup buat sahabat berasa aksa dari dekapan.”


📖📖📖


Sudah damai. Oke, tidak mengulangi kesalahan yang beberapa minggu berlalu, cukup lama juga mereka saling bombe yah?


“Tik, kita tidak larang kamu belum lupa Randy, hanya saja kita tidak tega kalau kamu sakit begini.” Kata Elvira, sangat lantang sedikit marah.


Sedangkan Cantika masih bergelayut manja.


Oh iya, mau cerita sedikit kalau sebelum damai, gadis itu sempat terjatuh sakit karena sibuk begadang, menulis absurt. Setelah sembuh mendengar kabar kalau Elvira rawat inap di rumah sakit.


Yah. Lewat jenguk itu sudah mereka bisa berdamai kembali.


“Rin, kita belikan buah-buahan yoh, pake keranjang juga, biar dia senang.” Kenapa saat menyuarakan kalimat tersebut, ada dentum tak enak di rasakan oleh Cantika? Sesak.


Rina seolah-olah mengangkat tangan, lepas kepeduliaan, sahabat berasa aksa dari bola mata. Fine! Egoisme sebuah nafsi yang berulang kali melantangkan nama sudah tak lagi peduli, cukup buat sahabat berasa aksa dari dekapan.


Selalu menceritakan tentang nestapa berulang-ulang tidak bisa move on sama sekali dari Randy yang memang sudah memiliki pacar baru.


Sampai di sana, ternyata ada teman Fatir, Forum Silaturahmi Remaja datang menjenguk. Sedikit malu, karena baru pertama kali mengenakan jilbab depan mereka semua.


Elvira yang merasakan keberadaan sahabat keras kepalanya itu, langsung memanggil, namun Cantika masih bergeming di tempat sedangkan Rina sudah lebih dulu bergabung di dekat ranjang rawat inap perempuan itu.


Enak eh, masih banyak yang sayang sama kamu. Getir-getir tercipta di balik ekspresi.


“Hei..Tik, kenapa di sana. Sini..” Panggil Elvira penuh antusias.


Teman Fatir sudah pada balik. Tidak melihat keberadaannya sedang menunggu mereka pergi, namun denyut nadi seorang sahabat bisa merasakan ada Cantika juga di sana.


Sakit sih, Rina tidak memberitahui kalau berdua ke rumah sakit.


Perempuan itu masuk rawat inap karena kecelakaan saat mau berangkat sholat teraweh, melihat ada kendaraan yang ugal-ugalan dan melarikan diri, tidak bertanggung jawab.


Cantik. Begitulah yang terbit dari salah satu teman Fatir memang peka dengan kehadirannya walau tidak bergabung.


Jangan lepas-pakai lagi yah? Banyak yang dukung kamu kok kalau berjilbab gini, cantik tahu! Bisa di tangkap lewat tatapan penuh arti dari Elvira.


Ada senyum miring di rasakan.

__ADS_1


Melihat keranjang buah yang sudah di simpan oleh Cantika samping bed-nya diatas nakas. “Kalian beli di mana? Mewah sekali, pake kranjang segala.” Elvira bertanya sambil terkekeh, geli.


“Biasa, Cantika yang keuhkeuh pengen pake, padahal tadi tidak ada, saya sudah senang, eh mbaknya tawarin buat nyari.” Rina menginfokan, sedikit umumkan protes juga sih.


“Haha, bisa-bisanya tuh.” Elvira menimpali penuh tawa.


Ternyata hanya perasaan doang, takut bakal di kacangin oleh mereka berdua. Salah, melainkan ngajak bertutur kata setelah lama berada dalam egois diri masing-masing.


Begitu panjang sekali obrolan yang tercipta hingga tak menyadari sudah masuk sore, mereka berdua pun pamit, sebelum ke rumah, Cantika ngantar sahabatnya ke asrama, pondok.


Turun dari kendaraan, tidak ada sapaan bye seperti biasa di lakukan kadang ada tawa jail dari gadis itu, sekarang hanya bergeming dan balik tanpa kata manis lagi.


Menggerutu dalam kamar, kalau saja tidak terlalu overload dalam bercerita tentang dua puluh empat januari ke dua sahabat, tidak memungkinkan melihat mereka menjaga jarak.


Sangat tidak enak, jauh lebih patah hati di banding Randy pamit atau sudah pamer pacar baru, serius, tidak bohong.


Beberapa hari kemudian, berjalan santai penuh riang ke kelas Elvira, namun ada sorot berbeda di sana, mereka berdua bergandeng tak menghiraukan keberadaannya dengan tatapan bingung campur sakit.


Ternyata selama ini keramahan mereka waktu di rumah sakit sebatas menjaga perasaan Cantika, kah? Karena di sana ada orang tua Elvira?


Arg. Serius, sangat marah dalam hati.


Kembali ke kelas, eh tidak jadi deng, lebih baik duduk di kantin sambil jajan cilok dengan sambel terbilang banyak.


Sisi lain, ada Randy yang memerhatikan dengan khawatir namun tidak memiliki ruang leluasa lagi untuk menegur karena sudah ada Rista dalam hati. Walau sejujurnya, sangat gelisah belum sepenuhnya melupakan mantan kekasih.


Apalagi melihat sambel di tuangkan tak di takar, mengundang rasa sakit di dada, tidak bisa menjaga sesosok yang memang masih dalam hati.


Dulu, sebelum ada Rista, masih sama. Memerhatikan dari jauh, tetap sama, kan, tidak ngebantu dalam memberikan perhatian agar gadis itu berhenti menyakiti diri dengan mengonsumsi pedis-pedis?


 🧭🧭🧭


Hari ini tidak tahu kenapa tumben sekali Randy mau bertemu dengan dirinya. Lalu duduk di taman sekolah dasar.


“Maaf, El, kalau selama ini saya bohongin perasaanku, saya masih sayang sama dia.” Terus terang Randy.


“Huh..dasar! Makanya jan jadi cowok plin-plan kek gini, siapa suruh kau ngeluh di saya? Noh..langsung kasih tahu ke orangnya!” Kesal perempuan itu.


Mana mungkin menjatuhkan harga diri untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya, masih sayang dengan jemari dua puluh empat januari?

__ADS_1


“Kan, sudah pernah saya sampaikan juga ke kamu. Kalau pacaran jangan terlalu ngebucin, yang bikin orangtuamu marah, nilai anjlok toh. Oh iya, satu hal, saya marah loh sama mama-mu kenapa bilang sahabatku matre, hah?! Kau ini cowok atau banci sih?! Kenapa tidak luruskan salah pahamnya beliau?!” Elvira mengungkapkan kekesalan yang dari beberapa tahun di pendamnya.


“Maaf..” Dan, hanya ini saja di ucapkan oleh seorang Randy?


“Tuh..pacarmu nyariin. Awas, kalau saya di bawa-bawa lagi. Tidak ketahuan toh?”


Elvira hanya tidak mau ada kesalah pahaman lagi di pacar baru cowok itu, membuang-buang waktu untuk menjelaskan kalau mereka berdua adalah keluarga.


Sisi lain, tidak datang sekolah hanya berdiam diri dalam kamar sambil memainkan sebuah benda yang menjadikan dia tersenyum menakutkan.


Sangat patah dalam kehidupan, tidak menentu ke mana langkah itu akan berjalan? Selain berdiam diri di tubuh memiliki penyakit trauma mental, yang bahkan tidak menyadari bersarang begitu serius jika tidak di dampingi.


Melihat sekitar rumah saja tidak pernah anggap ada, selain figuran, selalu menjadi plampiasan amarah, bagaimana mau terbuka dalam berkisah? Kalau selalu di penjara dalam tekanan batin lewat tutur kata paling bengis?


Apalagi memiliki trauma paling dalam, saat terbius oleh game di HP terbilang mahal saat masa kecilnya oleh salah satu om-om, tetangga sih lebih tepatnya. Cantika malas lebih lanjut untuk mengingat setiap kejadian di masa kecil terbilang suram, menciptakan kepribadian haus perhatian dan cinta dari orang lain, terutama ingin berpacaran tanpa ada kalimat perpisahan.


Setelah tahu sosok paling ramah di potret dua puluh empat januari pamit, tidak ada lagi kalimat penenang selain berperang dalam batin, terluka, kumat, marah di temani air mata seorang diri dalam kamar. Kadang meronta sambil menyalahkan diri sendiri, tidak pernah berhasil membawakan sebuah prestasi.


Ibunda selalu membanggakan tiga saudara yang selalu memborong prestasi terutama si bungsu, bahkan tak tanggung-tanggung, langsung di belikan HP di masa-masa Sekolah Dasarnya. Cemburu? Jelas. Sakit hati? Tentu. Tapi, Cantika bisa apa selain diam dengan memberikan sikap riang tanpa adanya luka batin.


Bukan hanya menjadikan pisau cutter sebagai hiburan dalam menenangkan pikiran melainkan motor dan headset.


Oke. Keluar jalan-jalan dari rumah, walau sempat lihat Mama memberikan tatapan amarah, tak tergubriskan dengan berlenggang keluar tanpa dosa karena hari ini tidak sekolah lagi.


Singgah dulu di warung pojok, seperti biasa menuangkan sambel banyak-banyak, cukup buat hati lega yang akan berakhir dalam kamar mandi. It’s okay.


Mengenai artikel tentang trauma mental yang sedang dialami Cantika, tidak ada keinginan melihat lebih jauh dibanding menikmati moment dengan begitu, tanpa arah dan monoton tak memiliki semangat hidup.


Syukur sih, hanya melihat pisau cutter tidak ada niatan untuk sayat-sayat tangan. Karena pernah Elvira bercerita seorang memiliki trauma mental seperti dia, pasti akan mengamuk dan melukai diri sendiri adalah kesenangan.


Sedikit lambat dalam menikmati mie ayam bakso, dengan ditemani pikiran-pikiran tentang Randy dan masih banyak lagi.


Terutama paling sakit adalah sahabat menjaga jarak, begitu lama.


Padahal, kan, waktu datang jenguk sudah berbaikan, bukan? Kenapa harus berada dalam amarah berulang lagi?


Kalau saja bisa mengandalkan diri sendiri, tanpa harus bergantung PR Matematika dan Fisika di Elvira, tidak bakal kepikiran seperti ini.


Sangat menguras tenaga juga pikir, serius.

__ADS_1


Ke mana lagi melarikan semua keluhan, kalau bukan di mereka berdua? Tidak mungkin, kan, datang memberikan sebuah sajian nestapa di family multimedia yang akan di terima penuh ledekan? []


__ADS_2