
...“Kenapa berada dalam healing tidur panjang yang menjadikan nafsi sebagai pingsan, lagi tidur bukan pingsan loh.”...
🥇🥇🥇
Enam bulan, bukan waktu cepat dalam menjalani hubungan terbilang sangat manis dengan Randy apalagi menjadi rumahsaat tak menemukan pintu tepat melarikan sesak, tahu realita sangat menghakimi.
Namun, kenapa akhir-akhir ini merasa ada yang berbeda dan mengembalikan sikap lama, tidur dalam kelas yang teman-teman mengira pingsan.
Kebetulan sekolah mengadakan acara, malas membersamai di tengah keramaian, lebih baik mengasingkan diri dan duduk lasehan di lantai.
Sudah lelah dengan pemikiran mengenai sikap tak peduli Randy.
Tidur ah, kayaknya dengan begitu bisa menutupi kekesalan dan sesak dalam hati menahan seorang diri tanpa sosok kekasih.
“Can?!” Teriak salah satu teman sekelas.
Belum beberapa menit memejamkan bola mata, teman sekelas sudah pada heboh. Malas menanggapi pekik yang memang mengusik telinga, jauh lebih baik bertemu pulau mimpi saja tanpa niat membuka mata.
“We..we, Cantika pingsan!” Seru salah satu teman sekelasnya lagi.
“Hah?! Seriusan?!”
Kalau Cantika lelah pikiran, pasti tidak bisa menggerakkan seluruh badannya, yang dikira pingsan oleh teman sekelas.
Padahal lagi tidur, tidak pingsan.
Menepuk pelan pipi Cantika, tidak ada respon tapi bisa mendengarkan kehebohan mereka.
Mau bangun, hanya badan terlalu capek, tidak tahu kenapa bisa, setelah overthinking?
Lify yang tadi menepuk pelan pipi temannya, ada sebuah ide melintas di kepalanya, “eh, bagaimana kalau panggil Bu Ratri saja?”
“Oh, benar juga, ibu itu kan tantenya toh? Siapa tahu bisa kasih bangun Cantika.” Seru Hanin.
Beberapa menit di bangunkan oleh tante sendiri, satu hal yang bisa dirasakan keterkejutan sudah dikerumunin banyak teman sekelasnya.
Yang harus kalian tahu Cantika tidak pingsan tapi tidur panjang, sudah kalah-kalah Aurora Si Putri Tidur.
Tampak kusut sekali wajah itu, dikira pingsan, padahal kan, healing dengan tidur panjang. Haish.
“Dek, kamu kenapa lagi? Yang tante tahu, kamu itu orangnya periang kalau di rumah, kenapa jadi pemurung gini?” Kata Bu Ratri heran campur khawatir.
Hanya bergeming. Hanya berdua karena beliau menyuruh mereka meninggalkan ruangan kelas. Walau sebagian mengintip di balik jendela kelas.
“Kalau begitu tante tinggal yah? Ingat tuh ih, jangan sedih-sedih begini, ndak bagus bukan Cantika sekali.”
Sedih, apa sekentara itu kah? Padahal melarikan nestapa dengan tidur loh, kenapa tiba-tiba pada heboh mengira diri pingsan sih?! Menyebalkan.
Dasar, mengganggu orang tidur saja, ketus gadis itu dalam batin.
Memang sih, sebelum mendapatkan perubahan sikap mendadak dari Randy, sudah memberikan sesuatu dalam amplop beberapa hari lalu, katanya jangan buka sebelum cowok itu suruh.
Setelah pasca dihebohkan dia pingsan, melihat Randy masuk ke dalam kelas dengan tatapan sukar diartikan.
Bukannya datang ke meja bertanya atau mengobrol seperti biasa, ini tidak ada sama sekali.
Sepulang sekolah,
“Sayang, sini..ada sesuatu yang ingin saya kasih tahu.” Panggil Randy dengan hangat.
Menghelakan napas kasar, membingungkan sekali sikap kekasihnya, labil.
__ADS_1
“Sebelumnya saya minta maaf yah sama Sayang, beberapa hari ini sudah cuekkin Sayang.” Randy terkekeh tak bersalah sedikit pun.
Serius, ingin sekali mencubit ginjal pacarnya itu, sudah buat nafsi healing dalam pulau mimpi, bertutur tanpa salah pula.
“Iya tuh, Ran, masa karena kamu cuekkin dia sampai-sampai dalam kelas murung trus. Hayo..tanggungjawab tuh anak orang sudah kamu buat sedih.” Sambar Lify, membela teman ceweknya itu.
Cantika hanya tersenyum samar.
“Sayang bawa kan amplop yang saya suruh? Belum di buka kan?” Kata Randy to the point.
Walau dalam kalut, masih bisa ingat pesan pacarnya.
Sudah ada kertas hvs sebanyak dua puluh tiga lembar yang di pegang cowok itu, di kasih tunjuk semua isi kertas tersebut.
“Nah, sekarang Sayang buka amplop itu. Nanti Sayang sendiri tahu apa isinya.” Randy memberi aba-aba.
“Widih, Ran, kenapa pakai acara tulis di kertas segala? Gunanya laptop apa?” Celetuh Fandy.
Cowok itu tidak menghiraukan sama sekali.
“Cie..masih ada lagi kah, Ran? Semuanya ada berapa, Ran? Buset..banyak sekali, kamu yang tulis semua itu kah?” Kali ini Dyka yang ikut menyambar.
Belum merespon selain, terus mengganti kertas berikutnya ke Cantika. Setelah selesai, kali ini kertas paling terakhir, dalam amplop tertulis sebuah kalimat ..
4-Ever
#24 :*
By : buchu
For : peri
Bersemu, sangat malu. Dan, tak lupa selip bahagia.
“Makasih, Sayang.” Ucap Cantika dengan debaran tak tahu malu.
“Iya, maaf juga yah beberapa hari ini sudah cuekkin Sayang dalam kelas.” Sambil mengacak gemas rambutnya.
“Cieee..” Mereka bersorak.
“Randy kalau mau mesra-mesraan jan disini kah, bikin jomlo iri saja.” Sahut salah satu dari mereka.
🧭🧭🧭
Cantika meminta pada semesta untuk tetap seperti ini, tidak menginginkan orang baru karena terlanjur nyaman dengan segala cara bentuk cinta di tunjukkan oleh Randy.
Menuju bakso pojok, langganan, pengen ngajak Elvira, pasti sibuk karena bantu orang tua jaga warung. Lagian, sudah sore juga.
Sampai di sana, tumben sedikit sepi yang buat dia bisa leluasa untuk duduk makan dengan tenang. Tapi, tunggu ada pembeli yang memerhatikan dengan tatapan nafsu.
Dih, gatal sekali kah, om-om ini! Ketus Cantika.
Selepas makan nanti langsung ke rumah, tidak mungkin singgah ke sana, kan, sudah terlanjur curhat bebek mengenai sikap cuek Randy. Terus kasih lihat kertas sebanyak dua puluh lembar, bakal dapat damprat.
“Labil sekali kah! Tidak jelas,” begitulah sekiranya yang akan di dengar oleh Cantika.
Hm, tunggu waktu tepat saja deh baru memamerkan kertas kejutan dari Randy.
“Pesan apa, Dek?”
“Mie pangsit bakso satu yah, Mas.”
__ADS_1
“Makan atau bungkus?”
“Makan disini.”
Cantika lebih pilih duduk di bangku paling terakhir, membelakangi mata-mata genit tersebut. Risi kalau di lihat sampai segitunya.
Syg lgi apa? Sdh mkn blum?
“Eh?” Mendadak terkejut, bukannya senang dapat SMS dari pacar.
Melirik jam di HP sudah pukul setengah lima sore, tumben bisa pegang HP biasanya juga Randy lagi sibuk buka toko.
Nih lgi mkn mie ayam, Syg sndri sdh mkan?
Masih wajar, menanyakan kabar dan perhatian seperti biasa, tapi kok, semakin ke sini ada yang berbeda dari hubungan mereka selama enam bulan di jalani?
Apakah sudah bosan dengan bingkai dua puluh empat januari kah?
Tadi pulang sekolah sudah main hilang saja, biasanya juga menghampiri meja Cantika buat nawarin pulang sama-sama kalau tidak bawa motor, jika bawa palingan beriringan sampai di parkiran sekolah.
Serius. Berubah, no debat!
Daripada pusing pikir pacar labilnya itu, lebih baik menuangkan sambel sebanyak mungkin, pelarian paling menyenangkan bagi perut Cantika, saat sedang sedih.
Sangat butuh dekapan Elvira saat ini, padahal mau datang untuk memamerkan sebuah kejutan seminggu lalu diberikan oleh Randy, mendadak bad mood. Karena perubahan tanpa aba-aba pacar labilnya itu.
Kesal, tidak bisa pulang bareng atau setidaknya bicara sepatah dua kata kek, ini tidak ada sama sekali justru hilang entah ke mana.
Biasanya yang kalau Syg, sy lagi mkn mie ayam pke sambel bnyak skli dan bakal kena omelan lalu menjelma perhatian, sekarang rasanya hambar untuk mengetikan kalimat tersebut.
Makan nasi tanpa garam, walau tahu sedang makan mie ayam bukan nasi, tetap terasa hambar, bukan lidah melainkan perasaan Cantika.
Randy itu cerewet, kalau tahu gadisnya makan di luar, pasti bertanya sama siapa dan kapan pulang. Sekarang berbanding terbalik, seratus delapan puluh derajat berubah. Yang bahkan Cantika tidak tahu apa penyebab cowok itu menjadi asing dalam hati?
Mana mungkin soal pelajaran, kan? Selama satu semester ini belajar sama-sama dan tidak pernah absensi buat tugas pekerjaan rumah.
Lah, apa yang bikin Randy seperti ini?
Tidak memungkinkan sekali bertanya perihal hubungan sendiri di teman dekat pacar labilnya, kan? Bakal menutupi soal privasi Randy dan tidak mendapatkan apa-apa selain buntu.
Setelah makan puas dengan sambel banyak, balik ke rumah lalu menjalankan motor diatas rata-rata, sangat bete sekali sama sikap acuh sang kekasih dalam beberapa belakangan ini.
Baru seminggu loh merayakan anniversarry dan berasa bahagia satu sama lain, langsung mendadak hambar dan retak bingkai dua puluh empat januari selama enam bulan terawat indah.
“Habis dari mana, Can?” Ibunda menyapa, saat baru melihat anaknya pulang.
“Eh, Mama. Dari makan mie ayam di pojok.” Timpal gadis itu.
“Sama Elvira?” Beliau menebaknya dan dapat gelengan kecil, “tidak, Ma, anak itu mah, kalau jam segini tidak dapat ijin, karna bantu orangtua jaga warung.” Cantika terkekeh kecil.
“Ma, mau tidur, capek..” Lalu merengek untuk segera bertemu kasur.
Hanya menggeleng lihat tingkah anak perempuannya yang satu itu, manja dan masih kekanakan.
Apakah tidak sadar, bahwa Cantika terkena sebuah penyakit inner child yang sampai saat ini terperangkap dalam tubuh dewasanya? Memang, pentingnya sebuah peran orang tua untuk belajar memahami karakter anaknya yang tak biasa, bukan berarti harus di ruqyah melainkan pertolongan medis.
Salah satunya adalah dokter psikolog. []
__ADS_1