
“Sebuah penyakit yang tak bisa di lihat oleh mata, justru semakin di permalukan di belakang tanpa sepengetahuannya.”
📖📖📖
Sangat tidak sabar menunggu kepastian datang atau tidak ke Sentani, karena ada pesanan yang bakal di ambil oleh Cantika.
Ini sudah lebaran masuk ke lima hari, belum ada kabar juga dari Randy.
Duh, teman-teman multimedia sudah pada mau datang dan masih nunggu balasan dari cowok itu, lama sekali.
Cantika, saya sudah tiba di sentani.
Spontan buat dia lompat girang, bukan mendapatkan balasan dari mantan tapi mau ngambil pesanan yang di titipkan ke Randy.
“Tadi katanya Randy juga mau main ke rumahmu, Can,” ada jeda beberapa detik, “tapi..dia takut trus malu juga. Padahal tadi saya sudah ajak ke sini baru.” Dyka menginfokan.
Malu dalam rangka apa coba, kan, silaturahmi apalagi ini lebaran. Kenapa masih memelihara malu setelah lepas dari bangku putih abu-abu.
“Lah, kenapa takut coba? Ada kalian juga kok, pasti dia senang.”
Intonasi terdengar protes sangat jujur menginginkan dalam berenang di kedua bola mata mantan, batas sua sebagai teman, apakah tak di perbolehkan?
Ketakutan-ketakutan apa yang mengahantui isi kepala Randy, hingga berat menapakkan kaki ke rumah. Sedangkan saat sebelum tahu ada pamit tulus, Cantika sebenarnya sama halnya dengan cowok itu, takut, namun ada rasa penasaran lebih mendominasi yang dapat menghalau ketertakutan dalam benak.
Mereka datang bukan sekedar silaturahmi melainkan mendiskusikan sebuah project komik.
Kalau melihat mereka kembali, ada romansa bermain dalam kepala, tentang status cemburu berasal dari Randy.
Saat itu bergandeng dengan dua puluh delapan desember, semasa sekolah dulu. Begitu cemburu saat mendapati status kepunyaan Randy.
Sudah berlalu
Yang lalu biarlah berlalu
Cuma bisa mendo’akan agar dia baik” saja
In the past.
Kenapa kalau cemburu tidak melantangkan langsung justru menghumbar kemesraan dengan Rista di sekolah. Aneh bin labil deh si Randy itu.
Dan, tiga hari kemudian, setelah status pertama muncul di beranda facebook Cantika, ada status baru lagi.
Kata-kata apa yang membuat kamu paham dan mengerti..,
Sebelum semuanya telah terjadi?
Masih penasaran, cemburu karena berpacaran dengan sahabat dekatnya dulu waktu SMP atau marah dengan gadis itu tidak bertanya lebih dulu?
Kalau marah, mana tahu kalau cowok yang sempat berpacaran dengan dirinya adalah teman dekat Randy sewaktu SMP.
Lagian, sudah tidak ada hak juga, kan. Tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Ok. Mereka pun membahas kapan rencana buat jadwal pertemuan selanjutnya, sangat antusias sekali membicarakan project komik yang bakal di buat ceritanya oleh Cantika sendiri.
Apakah ini awal bentuk kesuksesaan gadis bermodal memiliki hobi tulisan yang memang belum bisa menyempurnakan deret diksi dalam membangunkan sebuah cerita?
Ada rasa senang campur haru tersendiri dalam hati gadis itu.
Mereka bisa mempercayakan projcet naskah tersebut tanpa adanya penghakiman setelah melihat isi novel perdana yang memang tertuju buat jurusan mereka begitu absurt.
Saling mendukung satu sama lain, kah? Ah, kenapa begitu bodoh sekali gadis itu, dulu tidak mengakrabkan diri yang lebih mementingkan minder atas landasan porsi otak di bawah rata-rata dari mereka.
“Hanya perasaanmu saja, Say. Mereka tuh sebenarnya care sama kamu. Jangan terlalu menutupi diri sama mereka.” Sempat kok Elvira mengatakan hal demikian.
Namun, insecure dan minder jauh lebih mendominasi yang cukup buat diri menutupi percakapan dengan teman berasa keluarga dari mereka.
Serius, saat mendapakan kabar teman-temannya pada mau datang ke rumah ada haru dan kejutan tersendiri bagi Cantika.
Sangat lama. Menantikan sua pun obrolan hangat dari teman multimedia yang memang sengaja menutupi pintu tersebut dengan menampilkan sikap judes, cuek pun ketus. Tujuan, agar mereka semua membenci dan menjauhi, justru semakin buat mereka tidak lelah dalam mengetuk pintu dingin Cantika, akhirnya meleleh juga, kan?
“Oh, oke. Berarti nanti saya kasih info lagi sudah eh? Kapan kita ketemu lagi, trus..bagian ini punya Ansel, jangan lupa buat storyboard-nya.” Kata Indra.
__ADS_1
Oke. Sampai disini pertemuan mereka dan pamit setelah masing-masing sudah mendapatkan peran project komik.
🧭🧭🧭
Kalau mau ambil buku novelnya, nanti info saja.
Sempat protes, harus ambil lagi di rumah Randy. Bukan egois harus diantarkan ke rumahnya melainkan ketakuan dalam benak, bersemuka tak sengaja dengan ibunda.
Hm, nanti sekitar jam tiga baru saya datang.
Kenapa mendadak nervous dan memikirkan cara siapa saja kah yang tolong ambilkan pesanan itu di rumah Randy, asal jangan dia.
Tetapi, sadar diri kalau tidak enakan dan tidak berani minta tolong ke teman dekatnya yang memang nanti merepotkan. Apalagi kan, sewaktu sekolah tidak terlalu akrab dengan mereka.
Jam tiga sore, ternyata masih panas. Cantika pikir sudah adem setelah mengeluarkan motor matic dari garasi rumah.
Saat sampai depan rumah sekaligu toko cowok itu, cepat-cepat berteduh di tempat dingin, panas sangat menusuk kulit. Serius.
Ada dentuman berpacu sangat maraton, padahal sedang tak mengikuti event lomba lari maraton kok sudah merasakan napas terputus-putus yah?
Ran, sy di dpn tokomu.
Setelah SMS itu terkirim, kenapa sangat lama mendapati balasan, panas menunggu depan rumah nih, bisa-bisa jadi ikan asin.
Mamanya ada kah tidak eh di rumah? Tiba-tiba ada pemikiran ini dalam kepala Cantika.
Oke.
Membuang napas lega, sudah mendapatkan balasan dari Randy yang terpaut lamanya menunggu depan rumah dengan cuaca panas terik.
“Can..Can..Cantika?!” Panggil Randy.
Mengunci stank motor dan turun dari sana lalu menghampiri Randy yang sudah menunggu depan pintu toko, di buka sedikit.
“Minal aidzin.” Kata Cantika.
Tanpa sengaja melihat sebuah bola-bola mata cowok itu, apakah tidak terlalu kepedean kalau pancaran di sana masih menyimpan rasa?
“Ayo masuk dulu.” Randy mengajaknya.
“Tidak ah, takut.” Cantika langsung menolak.
“Tenang. Mamaku lagi keluar kok, lagi silaturahmi di entrop, jayapura.” Seperti mengetahui intonasi gadis itu, Randy langsung ke intinya.
Saat sudah masuk ke dalam rumah, lantai dua langsung di persilahkan duduk di sofa dekat tangga.
“Bagaimana kuliahmu di jogja?” Cantika membuka obrolan.
“Alhamdulillah baik, kamu?” Cowok itu bertanya balik.
“Aman terkendali.”
Tik, ingat cara terbaik balas dendam adalah dengan cara lanjut kuliah sampe pake toga trus buktikan ke mamanya Randy juga kalau kamu bukan cewek matre.
Perkataan Elvira waktu makan bakso depan Mall Borobudur Sentani, bermain-main lagi dalam kepala.
Kalau berlama-lama berada di samping Randy, mengingatkan lagi mengenai sekolah, dulu ngantuk sekali campur masalah yang cukup buat Cantika harus tidur panjang tanpa sadar sudah bangun di kantor guru.
Oh, lagi, mereka mengira pingsan padahal ada penyakit yang memang tidak bisa di lihat oleh mata hanya orang-orang sefrekuensi atau tenaga medislah bisa mendiagnosa penyakit dialami Cantika, kenapa sering dianggap pingsan padahal tidur dengan keadaan mayat hidup yang tergeletak.
Parahnya lagi, ngigau manggil nama cowok itu.
Randy_c mengatakan d saat teman sya pingsan lalu bangun ia kemudian berkata..saya dimana? Di situ kadang sya merasa sedih..moga aja g parah” amat tu pala :D
“Oh yah, tunggu sebentar. Saya ambilkan paketmu dulu.” Ah, benar juga Cantika terbangun dari ingatan masa lalu.
Randy menyodorkan sambil, “kalau yang ini saya masukkan ke tas ransel, supaya gak hilang.” Memberikan satu paket kecil lagi ke gadis itu.
“Thanks?” Timpal Cantika.
Ada sejam, ayahnya Randy keluar dari arah ruangan belakang.
__ADS_1
“Eh, ada tamu. Vian..keluar dulu, ini ada tamu!” Kata beliau, meneriaki anak pertama dalam kamar.
“Kamu temannya Randy?” Lanjut beliau.
“Iya, om.”
“Kenalin, Yah, ini teman Randy. Cantik kan?” Kata Randy dengan nada bangga.
Ih, Randy! Kesal gadis itu dalam batin.
“Cantik kok.” Tidak memanipulasi sebuah diktum untuk memberikan pujian, begitu tulus.
Cantik dari mana sih, kalau saat ini gadis itu sedang mengenakan masker, beralasan sedang flu. Sebab takut di kenali keluarga Randy.
Vian mondar-mandir, memerhatikan gadis itu dengan seksama.
“Eh, Randy..ajak temanmu ke ruang tamu belakang. Ajak makan kue.” Kata Ayahnya.
Memang ada dua ruang tamu, depan dan belakang. Saat ini sudah duduk di ruang tamu belakang, terlihat sedikit luas dan di sana ada tv juga. Sedang menampilkan murottal.
Sangat nyaman dan beta mendengarkan ayat-ayat suci-Nya.
“Tidak usah repot-repot.” Cantika berusaha menolak secara halus.
Randy sudah buka tutup toples tersebut dan mempersilahkan gadis itu mencicipinya.
“Ini..kamu bawa pulang aja. Yah, oleh-oleh dari saya.” Kata Randy sambil menyodorkan brownis rasa keju.
Tahu saja kalau Cantika penggemar keju. Sangat bruntung sekali bisa bawa pulang oleh-oleh dari jogja.
“Yakin nih?” Justru masih ragu-ragu buat bawa pulang.
Sedangkan kakak pertama Randy, mondar-mandir, memerhatikan gadis itu dengan seksama.
“Eh..kamu bukannya cewek yang sering pingsan-pingsan itu yah di sekolah?” Tanpa memfilter ucapan itu, sangat blak-blakan.
Sebentar, meneliti lagi, takut salah orang, “oh yah! Benar, kamu yang pingsan itu di sekolah kan? Oh, kamu toh pacarnya Randy.”
Pingsan. Kenapa menjadi sebuah bincang paling bengis di sekitar teman multimedia pun jurusan lain terutama mantan kekasih. Apakah tidak bisa secuil rasa penasaran, bertanya .. “Are you okey, Cantika?” Tidak ada sama sekali, kan.
Hanya langsung menyimpulkan sebuah pengamatan yang tidak langsung mendetail ada apa, kenapa, bagaimana bisa, justru melukai setiap ruang termiliki Cantika bernamakan penyakit trauma mental.
Bergetir. Sangat lirih, apakah mengharuskan dalam melantangkan sebuah penyakit tak terlihat oleh mata?
Hm. Menggeleng dalam batin, percuma menjelaskan sebuah kelemahan yang sekedar penasaran tidak bisa menyembuhkan justru akan memperparah keadaan mental seseorang.
Setelah balik dari rumah Randy, langsung bergelayut manja di lengan sahabat.
“Sudah saya bilang apa coba, tidak usah lama-lama main di sana. Kepala batu mo.” Elvira langsung memuntahkan protes dengan memberikan tatapan jengkel.
Melihat kepergian sahabatnya menaruh piring dan gelas kotor ke dalam, mengambil benda pipih dalam tas lalu menuliskan sebuah kalimat di blog.
Kamu sebatas cerita
Tak lagi bisa bersama
Kenapa ada kisah
Di intonasi pongah?
Apakah memberitahui
Sedang tak baik di fisik
Yang akan prihatin
Bukan benar peduli. []
__ADS_1