
“Pintu itu terbuka, saat tanpa sadar duduk bincang luka lama, memoar kembali terputar lagi dalam kepala.”
📖📖📖
Kebetulan mendapatkan tugas drama bahasa indonesia, kelompok, namun hari paling sial bagi Randy sudah buat mood kekasihnya berubah, marah besar dan mogok bicara.
“Sayang, kapan kita buat tugas dramanya?” Randy bertanya, dengan hati was-was.
“Terserah!” Lalu berdiri dari kursinya, keluar kelas meninggal cowok itu.
Fiuh, berusaha menahan sabar dan tidak membentak Cantika, sebab tahu bagaimana nanti terluka berkepanjangan dan trauma mendalam saat dapat tekanan di rumah di tambah bentakan darinya lagi.
Assalamualaikum, buchu lagi apa?
Randy berusaha buat bersapa ramah dulu, saat baru saja pulang ke rumah, moga-moga amarah itu sudah menguap tak lagi ketas-ketus seperti dalam kelas tadi.
Waalaikumsalam, lagi tiduran saja. Sayang sndri?
Sebentar, ada rasa yang berbeda saat membalas SMS Randy, menghangat dan mengelupas kesal dalam dada.
Hmm..lagi jaga toko nih Sayang. Oh yah Say, kita satu kelompok drama nih Say.
“Dah tahu kali!” Cantika berbicara sendiri, sambil cengengesan.
Oh iya Say, hmm trus kpn kita buat teks dramanya Say?
Bingung campur senang nanti bisa berdua memikirkan diksi-diksi apa yang akan tercipta di balik dua kepala mengerjakan tugas drama mereka. Ups, bukan hanya berdua masih ada teman kelompok lain yah.
Hmm..bagaimana bsk di sekolah sja Sayang?
Bagus juga sih, tanpa perlu balik ke rumah lagi, kan? Atau saling tunjuk-menunjuk di rumah mana bakal mengerjakan tugas kelompok mereka.
Okey deh say, muach :* hmm trus Syg lagi apa?
Perasaan pertanyaan lagi apa sudah diajukan pertama kali bertukar kabar loh, apa efek ngebucin makanya lupa?
Lgi mikirin Sayang nih :* Syg sndiri?
Blush. Sudah terbit sebuah warna merah muda di pipi Cantika, tersipu mendapatkan godaan dari pacar sendiri.
Haha..Syg nih bisa aja, sama Syg. Kngen kmu Syg :*
Kangen? Padahal kalau mau di bilang sering bertemu dalam kelas loh, hanya hari Minggu yang meliburkan pertemuan mereka.
Kangen kamu juga Sayang :)
Definisi kebahagiaan mereka adalah saling menjaga perasaan satu lama lain pun tak lupa menukar kabar. Bahkan tanpa sadar Randy adalah alaram work home untuk Cantika sendiri. Serius deh.
Beberapa hari kemudian .. Ternyata tidak sesuai ekspektasi mereka, dapat pelajaran pendek yang mengharuskan mereka pulang dulu ke rumah masing-masing dan sore baru berkumpul di panggung sekolah, kerja kelompok tugas tersebut.
Dan, sore itu Cantika mengenakan rok bercorak batik ke sekolah dengan rambut yang di biarkan tergerai di hiasi satu jepitan di sana.
Terlalu tomboi, tidak terlalu memerhatikan penampilan bahkan kali pertama melihat penampilan berbeda hari ini, sedikit merasa risi dan geli, “haha..” Begitulah yang keluar dari mulut Cantika.
Saat sampai di sekolah, ternyata masih ada beberapa teman lain, bukan teman kelompoknya sih. Menunggu teman lain pada datang, sudah menyalakan laptop, ngetik asal untuk membangunkan imajinasi draf naskah drama mereka.
Absurt, bingung mau nulis apa, tidak memiliki ide luas mengenai sederet diksi untuk tugas kelompok mereka nanti minggu depan. Ada kekehan kecil berasal dari mulut Cantika, geli sekali kembali baca tulisan tangannya dengan imajinasi ala kadarnya.
“Say? Lama kah nunggunya? Sori.” Kata Randy, menyapa ramah.
Menggeleng, “trus yang lain ke mana? Kok belum pada datang?” Timpal Cantika sedikit heran.
Sebentar, Randy kok lama sekali menatap gadis itu sih? Ternyata memberikan kejutan yang tampak jelas di wajah kekasihnya, tersipu campur senang, melihat Cantika sedikit feminin dari hari-hari biasa mereka berkumpul di sekolah.
Setelah beberapa waktu lama menunggu, kelompok mereka lengkap lalu mengambil tempat di samping gadisnya itu dan mengambil alih untuk baca ulang teks sudah di buat.
“Say, ada kata-kata yang harus di ganti, nih,” Randy menginfokan.
“Hm, ganti saja sudah, soalnya bingung juga.”
Setelah fix merombak kata-kata itu, ada sedikit getir tercipta di wajah Cantika.
Dasar payah, rutuknya dalam batin.
“Say, bagaimana nih? Harus di print hari ini tugasnya kita.” Kata Randy terlihat lesu.
Memang cuaca sedang mendung, bingung mau ke tempat print dengan cara cepat pakai apa, sedangkan tadi Cantika ke sekolah tidak bawa motor, sengaja mau pulang bareng pakai taksi.
Sedikit berpikir, “bagaimana kalau kita jalan ke depan?”
“Ke depan? Jalan kaki Say?” Randy membalas dengan tatapan bingung bukan main. Justru diangguki sangat santai oleh gadis itu.
“Ah, nanti kalau hujan bagaimana? Trus waktu juga sudah mau magrib nih. Tidak bisa terkejar.” Randy mengeluh.
Benar juga sih, terus gimana deng? Aha, ada satu ide yang terselip dalam kepala Cantika.
“Oh, tunggu bentar eh Say?” Bola mata Cantika sudah mengarah ke motor honda lumayan besar milik Nila.
__ADS_1
“Nil, boleh pinjam motormu sebentar? Mau pergi print di luar sama Randy.” Kata Cantika.
“Oh, Randy bisa bawa motorku kah?” Ada sedikit intonasi ragu dari teman sekelasnya itu.
“Hm, pasti bisa kok.”
“Yakin? Motorku besar loh, Can. Yang itu.” Nila sambil menunjuk, memastikan.
Mengangguk mantap.
“Hm, iya sudah, hati-hati.” Lalu memberikan kunci motor itu.
Randy yang dari tadi memerhatikan sedikit jauh keberadaan mereka berdua, sedikit mengendus kecurigaan dan ada rasa tak enak dalam hati saat mendapati senyum jaim milik pacarnya itu.
“Say, kita pake motornya Nila saja buat ke warnet depan sekolah, nih..kuncinya.” Kata Cantika dengan santai.
Hah. Terkejut bukan main, “Sayang suruh saya bawa motornya Nila? Yang mana?”
“Tuh..yang honda, besar. Kenapa jadi Say?” Justru Cantika bingung.
“Eng, tidak kok, hanya saja saya kurang yakin bisa bawa, apalagi motornya besar begitu, apa tidak ada motor yang lebih kecil dari ini Say?” Lah, minta penawaran lain.
“Keburu hujan nanti, say. Ayo sudah, yakin aja Sayang pasti bisa bawa kok.”
“Tapi, saya takut bawa motornya orang nanti jatuh lagi.”
“Sudah, yakin saja.”
Mereka pun berjalan menuruni panggung sekolah. Belum menaikan standart motor sudah terdengar kicauan ledek dari teman sekelas.
“Can, perut Randy yang erat! Awas nanti jatuh tuh!”
“Cie..Randy gonjeng Cantika, suit..suit!”
Spontan buat kedua pipi gadis itu tersembur rona-rona pink, salah tingkah.
“Ran, bawa motornya pelan-pelan! Ingat, Can, jangan lupa peluk Randy dengan kencang! Jangan grogi bonceng cewek, Ran!”
Sedangkan di belakang kemudi, sudah duduk cewek, sambil membisikan kekuatan dan yakin bisa mengendarai kendaraan tersebut di telinga Randy yang sudah terlihat tegang dan keringat dingin memegang stir motor. Saat sudah menjalankan motor itu, ketika sudah mau keluar dari gebang sekolah, mau belokan, nyaris jatuh. Syukur, dengan sigap Cantika menahan pakai kakinya, menjaga keseimbangan mereka.
Hujan turun, setelah keluar dari gerbang sekolah dan mendengar omelan dari Randy yang terdengar lucu di telinga Cantika.
“Aduh, pulang nih pasti di marah sama Ayah, karna main hujan begini.”
“Hehe, nggak papa Sayang, cuma sehari kok.”
“Hehe, satu kali aja kok demi tugas Sayang. Udah yah, jangan marah-marah, maaf.”
Sampai di tempat warnet mereka mengibas tubuh dari hujan setelah itu print tugas kelompok drama.
🧭🧭🧭
Ketar-ketir masih belum menghapal tugas drama bahasa indonesia, dan tidak melihat kedatangan Randy ke sekolah, tumben sekali ngaret? Padahal sengaja Cantika datang lebih awal supaya bisa belajar sama-sama lagi, karena tidak bisa belajar, Randy demam sehari setelah hari itu bermain hujan, ups, tidak deng, maksudnya tidak sengaja mandi hujan karena sudah terlanjur jalan ke tempat warnet.
“Huee..Sayang, kenapa grogi gini sih? Lupa kan jadinya.” Rengek Cantika.
“Hm, coba pelan-pelan dulu. Sayang pasti bisa kok. Yaudah saya ke tempat duduk dulu yah Say? Mau baca ulang peranku juga.”
Hari ini Randy datang sedikit terlambat dan syukur belum bel masuk. Jadi, bisa menyempatkan waktu buat belajar lagi. Teman kelompok yang lain sudah pada hapal peran masing-masing, hanya Cantika saja yang tidak tahu kenapa mendadak lupa.
Setelah mendengar bel masuk, hanya menunggu Bu Tri masuk ke dalam kelas. Sebisa mungkin sisa-sisa waktu terbilang sedikit di manfaatkan Cantika buat hapal bagian peran yang bakal di bawakan nanti depan kelas.
Menunggu giliran di panggil maju ke depan mempresentasikan hasil tugas kelompok drama mereka. Masih sedikit kesulitan menghapal peran sendiri.
“Ok, sekarang kelompok dari Randy, Cantika, Wisnu, Irwan, Kiki dan Dito silahkan maju ke depan.”
Keringat dingin campur nervous lalu mereka pun ke depan, memperkenalkan nama peran masing-masing. Ok, tugas drama bahasa indonesia pun sudah di mulai, yang belum masuk dalam peran, menunggu di luar, bruntung bisa menghapal kembali perannya lagi. Ternyata bukan hanya Cantika saja yang lupa tapi teman lainnya.
Saat sudah masuk dalam dialog, “mau kah kamu menjadi pacarku?” Kata Dito.
Bising terdengar dari teman sekelas, begitu heboh yak.
“Woi! Cantika sudah punya pacar! Randy, masa Dito mau rebut pacarmu tuh?!” Rifki meneriaki sambil tertawa diikuti teman lainnya.
“Sstt..yang lain tenang dulu! Jangan pada ribut! Ok, silahkan di lanjutkan.” Perintah beliau, memenangkan keriuhan mereka dalam kelas.
“Maaf, saya tidak bisa terima kamu jadi pacarku.” Tolak Cantika.
Lagi, “yah, kasihan, Dito di tolak. Ran, pacarmu setia tuh sama kamu.”
Cantika hanya menyulam senyum tipis, sedikit berdetak-detak abnormal, karena terus-menerus di goda oleh satu kelas mengenai hubungan mereka. Wajar saja sih, tugas kelompok drama yang diangkat dari judul Cinta Segitiga menciptakan sahut-sahutan paling heboh dari mereka.
Ternyata pintu itu membawakan langkah-langkah Cantika pada nostalgia tugas drama kelompok bahasa indonesia, sedikit menghirup udara banyak-banyak lalu membuangnya.
Kembali membaca naskah yang memang sudah lama di buat, cukup mengundang tamu bernama kenangan dalam kepala Cantika.
Sudah tengah malam juga sih, besok harus terlihat segar, beberapa hari ini merasakan denyut paling nyeri di bagian kepala. Harus bisa istirahat baik. Tidak boleh terjaga sampai pagi lagi.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Cantika!” Seru seseorang yang dihapal Cantika suara siapa itu sedang mengetuk pintu rumah.
“Waalaikumsalam, kok kalian bisa ke sini?” Mengernyit penuh senang.
Namun, kesenangan itu mendadak pudar, saat bola mata menangkap keberadaan sosok yang buat hati terluka berkepanjangan.
Tumben mau jenguk saya, ini lagi Randy! Kenapa pake datang sih?! Sudah putus juga, kenapa ikut ke rumah?! Gumam Cantika kesal.
“Ayo..masuk dulu.” Cantika langsung mengajak mereka masuk, tanpa memedulikan tatapan penuh kerinduan dari mantan kekasih.
Sampai Nila menggoda, “kenapa sakit lagi? Pasti banyak pikir Randy nih.” Celetuh Nila.
“Yey..apaan sih! Tidak kok, biasalah suka begadang makanya sakit begini.” Cantika berusaha menampik asumsi temannya itu. Walau tak bisa mengelak juga sih.
Elvira tetiba menarik tanganku masuk dalam kamar, sahabatnya datang berbarengan teman multimedia juga. Ngobrol yang kurang jelas diingat oleh gadis itu sendiri. Setelah itu mereka berdua keluar duduk di ruang tamu.
Tiga sahabat Randy minta ijin mau keluar beli snack, lalu menganyunkan kaki dengan sisa-sisa tenaga, kurang kuat.
“Can, maafkan saya?” Kata Randy, buka obrolan.
“Heh, kamu ada salah apa sih? Tidak ada kok.” Cantika justru bengong menatap cowok itu.
“Iya, Say. Saya memang ada salah sama kamu.” Lagi, mengucap salah.
Terhentak kaget, sayang kenapa bisa lahir lagi di mulut Randy yang sudah melambaikan tangan dari dua puluh empat januari? Sedikit aneh.
“Salah apa eh? Saya rasa, kamu tidak ada salah kok.”
Juh, dalam hati meronta sangat brutal selama ini tersiksa oleh sikap cuek dari mantan kekasih, sedikit labil juga sih dan risi di katai matre pun tidak ada kalimat pembelaan keluar dari mulut Randy, untuk meluruskan kesalah pahaman tersebut.
“Tidak, Can. Saya memang ada salah sama kamu. Trus, saya juga sudah sia-siakan cewek yang saya sayangi, yaitu kamu seorang, Can. Maafkan saya yah, Can? Dan, orangtuaku juga sudah restui hubungan kita berdua.” Urai Randy penuh ketulusan.
Tidak lama kemudian Randy mengeluarkan kertas, sama persis waktu itu di sekolah. Lalu menyimpannya diatas meja.
Kemudian teman lain pada masuk diikuti Elvira.
Loh, bikin bingung, di tinggal sendirian dengan kertas-kertas hvs terletak diatas meja. Sedikit mengernyit dan penasaran dengan isi di kertas tersebut. Ups, tidak sendirian, masih ada sebagian teman multimedia
Walau sedikit menggeram, sudah membaca semua isi kertas hvs di berikan oleh Randy yang tadi pamit sebentar masuk ke dalam kamar lalu keluar menghampiri mereka.
Randy balik, tidak tahu dari mana, ada sebuah haru saat mengetahui isi tulisan setiap ada di kertas itu. Hampir air mata bahagia meluncur bebas di pelupuk mata, saking bahagia.
“Mau minum apa?” Cantika bertanya.
“Ciee..” Hingga menimbulkan sorak godaan dari teman sekelas. Sedangkan Elvira hanya tersenyum.
“Air putih saja Say.”
Oke, sudah tahu kedatangan mereka bukan sekedar jenguk melainkan ada sesuatu ingin disampaikan ke Cantika. Namun, masih ada rasa keki berasal dari dalam hati gadis itu sendiri.
Satu memegang botol infus dan sebelahnya lagi bawa gelas berisikan air putih, sempat Elvira menolak dia bawa minuman buat Randy justru di tolak mentah.
“Gimana, Can? Kamu sudah baca semuanya? Dan saya mau kita..” Ada jeda sambil melihat ke sembarang tempat, salting, “balikan? Kamu mau kan kalau kita balikan? Soal mamaku yang katai kamu matre, saya minta maaf, mamaku salah paham soal saya minta jatah uang pulsa hampir setiap hari, dia kira saya kirim pulsa ke kamu. Tapi teman-teman sudah banyak bantu untuk brani ngomong dan jelaskan ke mamaku, kalau kamu tidak seburuk di pikiran mamaku.” Terus terang cowok itu.
Masih mengheningkan cipta, belum ada obrolan menghiasi mereka namun sisi lain ada senyum penuh arti dari mereka.
“Trus..mamaku minta maaf juga sudah buat kamu sakit hati di katai matre.” Lanjut Randy, karena belum mendapatkan respon dari gadis itu.
“Tapi, katanya waktu itu kamu mau fokus belajar? Kok minta saya balik jadi pacarmu sih?” Cantika masih belum puas mendengar semua penjelasan Randy.
“Hm itu karna kemauan mamaku supaya kita putus, Can. Benar apa yang sudah kamu tulis di status facebook kalau pacaran itu ada batas, bisa saling mengimbangi atau bila perlu belajar sama-sama, supaya nilai kita tidak anjlok lagi.”
“Oh, begitu?”
“Em, gimana, Can? Kamu mau kan balikan sama saya?”
Sedikit lama dalam memikirkan untuk kembali ke bingkai dua puluh empat januari sudah lama di tinggal oleh Randy.
Saat mau menjawab, Elvira mengganggu moment menegangkan saja dengan membawa minuman yang sudah dibuatkan tadi dalam dapur untuk teman-teman multimedianya Cantika.
“Terima saja, Tik, daripada galau mulu tiap hari di saya.” Elvira membisik pelan, saat sudah duduk disampingnya.
“Hm, tapi janji eh tidak buat saya nangis lagi?” Kata Cantika, sedikit menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya..
Ok. Berarti, “kita balikan nih, Can? Kamu terima saya lagi jadi pacarmu? Thanks.”
“Janji! Kita selalu bersama, maaf selama ini buat kamu nangis.” Sambil menautkan jari kelingking mereka.
Ah, JK adalah kepanjangan jari kelingking yang selalu menautkan sebuah asa tak saling meninggalkan satu sama lain dengan alasan berbentuk apa pun itu.
“Cie..so sweetnya oh, kekasih yang dulu hilang, kini sudah kembali haha. Bisa di bilang lem dan kertasnya sudah menyatu lagi, cie..” Dapat sorak kompak dari teman sekelas.
Drrtt...Drrtt..., getaran di samping kepala cukup membangunkan Cantika dari mimpi, oh ternyata hanya sekedar bunga tidur? Spontan ada wajah-wajah getir tercipta ulang. []
__ADS_1