
“Randy sangat antusias dalam mendengar dua puluh empat berada dalam aksara, ngajak balikan kah?”
🩶🩶🩶
13 Mei 2021,
Menunggu kakting datang ke rumah mungkin agak lama, jadi menyempatkan untuk ngambil buras di rumah tante dan diajak makan bakso dulu.
“Tidak usah sudah, Can, langsung pulang antar buras saja, nanti mama cari lagi kalau kita lama.” Sempat adiknya menolak.
Sudah hapal betul dengan gerakan makan sang kakak, tidak mau menunggu dengan bosan, makanya langsung mau pulang saja. Biar nanti berbarengan dengan keluarga lain saja.
“Ah, tidak apa-apa, sebentar saja kok. Lagian, belum ada tamu, masih pagi juga.” Yuyun, tantenya justru terus keuhkeuh untuk menyuruh mereka makan dulu sebelum balik ke rumah.
“Nah..itu, dengar sendiri kan? Yok ah, kita makan dulu, lapar nih. Kita jadi tamu pertama disini.” Kekeh Cantika sangat heboh untuk menganyunkan kaki ngambil mangkuk serta baksonya di ruang tengah.
Yuyun hanya tertawa kecil lihat tingkah gadis itu.
Di sela-sela makan bakso sudah dua porsi, kakting menelpon, mengganggu keasikan melahap makanan favorit saja. Karena sedikit lagi sampai di rumah. Bikin panik, kan.
“Lan..ayo! Kaktingku sudah mau datang nih!” Seru Cantika.
Wulan menggelengkan kepala, lihat kelakukan kakaknya ini.
“Eh, teman kampusmu datang kah, Can?” Tetiba Yuyun menimpali.
“Iya, kenapa jadi?” Justru di balas dengan wajah bingung dari Cantika.
“Ajak ke rumah sini sudah, makan bakso sekalian.”
“Tidak apa-apa kah?” Sedikit bingung.
“Iya, tidak masalah itu. Justru tante senang sekali, teman kampusmu datang makan disini, lagian belum datang tamu lain kok.”
Oke. Setelah minum air es gas ke rumah bawa buras, kok, tidak melihat keberadaan mereka depan rumah sih. Katanya sudah sampai.
Eh, langsung melihat HP dan menepuk jidat, mereka ternyata ada di rumah pasar lama. Salah sih, kenapa tidak kasih tahu buat acara di rumah tante.
Tadi Wulan menyindir, karena menunggunya makan terlalu lama, diatas motor bawa dengan diatas rata-rata.
“Makanya tadi sudah saya bilang, pulang bawa buras dulu.” Wulan mencibir.
Buru-buru memberikan buras itu ke adiknya dan memutar motor.
“Can, mau ke mana?!” Ibunda meneriakinya.
“Ada kaktingku di rumah! Sabar eh, saya panggil mereka dulu ke sini, tidak tahu rumahnya nenek jadi.” Cantika menyahuti dengan sedikit terkekeh.
“Oh..yasudah, bawa motor jangan balap-balap.”
Tidak butuh waktu lama, sudah sampai depan rumah dan menyuruh mereka mengikuti dari belakang. Takut nyasar lagi.
“Bah, jangan dulu, kita bertamu dulu di rumahmu. Tidak sopan langsung ke rumah tantemu.” Timpal salah satu dari mereka.
Haish. Langsung mematikan mesin motor. Dan membuka pintu pagar rumah, tidak ada teman cewek semua cowok.
“Mau duduk di dalam rumahku? Yakin? Tidak ada orang sama sekali. Karena tahun ini open house di tanteku punya rumah.” Sahut Cantika, sedikit bingung dengan mereka.
Hah. Langsung mengiyakan dan buat gadis itu harus membuang napas panjang, mengambil kue dan minuman dari karton.
Juwanda minta pucuk saja. Enam botol dan di masukkan ke dalam tas yang memang sudah di siapkan untuk minuman dan kue.
Serakah ternyata. Bisik Cantika dalam batin.
Dulu, tidak punya teman seperti mereka, rakus, serakah dan tidak tahu diri hanya beberapa saja yang tidak berprilaku seperti mereka terutama Juwanda yang memang pada dasarnya rakus makanan.
__ADS_1
Melihat mereka puas mendapatkah jatah kaleng dan botol, Cantika menyuruh datang dulu ke rumah pertama tadi makan bakso.
Ternyata sudah ada keluarganya datang di sana.
“Ma..saya suruh mereka langsung makan kah?” Bisik Cantika ke telinga ibunda.
“Tunggu dulu, ih, tidak malu kah, langsung makan begitu?” Beliau menolak secara halus.
“Ndak papa, langsung makan saja, tadi saya yang suruh Cantika ajak temannya datang.” Yuyun menimpali sangat santai.
“Oh, yasudah, ajak temanmu makan trus nanti kalau mau ke rumah tunggu tantemu.” Ibunda menginfokan ke ananda.
Melihat mereka berbaris buat ngambil bakso, cukup mengundang perut Cantika ingin nambah lagi setelah makan dua porsi tadi.
Ah, jangan bilang rakus, kalau soal bakso. Sudah kewajiban memang, apalagi ini gratis, jarang-jarang bisa menikmati tanpa nambah uang, kan.
Dan, saat melihat di meja tamu tidak ada minuman kaleng, hanya air putih berkemasan gelas, bernapas sangat lega. Tidak bikin malu parah di rumah tantenya.
🧭🧭🧭
Menyuruh mereka pada nunggu dulu, karena kedatangan tamu dari family multimedia, walau tidak lengkap sudah cukup mereunikan rindu dalam hati Cantika, semasa sekolah jarang bergabung dengan mereka.
Tadi kaktingnya bilang mau rute lagi, tapi tertahan karena Cantika mau ikut dan tunggu teman smk pada pulang baru jalan sama-sama.
Sudah lama sekali tidak mendengar kabar tentang mantan di balik bingkai dua puluh empat januari, semenjak mendapati penuturan dari Dyka, soal masih ada rasa dan cemburu juga malu main ke rumah saat bahas project komik. Selepas dari itu, Randy tidak ada kabar.
“Eh..apa kabar Randy? Sudah nyusun kah anak itu?” Cantika bertanya sangat penasaran.
Pertanyaan tersebut muncul bukan berarti kepo atau ada rasa melainkan ke arah perhatian mengenai studi sempat di bicarakan sewaktu masih menjadi sepasang kekasih dulu, ingin membanggakan orang tua dengan nilai akademik terutama mama.
Penasaran saja sih, lihat Dyka sudah tiba duluan di Jayapura kenapa cowok itu belum?
Dyka menceritakan kalau belum selesai sama sekali skripsinya, dan tidak membutuhkan bantuan teman sendiri yang memang sudah menawarkan diri. Mau menyelesaikan sendiri, begitulah katanya dari teman dekat Randy.
Mendadak bingung campur kaget, kenapa berubah drastis seperti ini? Ke mana semangat belajar Randy yang dulu dan apakah tidak mau membawakan sebuah penghargaan dari akademik buat keluarga yang bukan hanya kakak pertama saja mendapatkan kebangaan.
“Tahun depan sudah dapat ancam kena D.O, makanya itu saya sempat tawari kalau mau nanti kita bantu skripsinya. Tapi begitu sudah, Can, dia selalu banyak alasan.” Dyka menginfokan.
“Alasan kenapa lagi?” Cantika mengernyit, bingung.
“Dia kan di sana kerja, tapi bukan dia saja yang kerja, sempat juga kok sebelum teman-temanku yang lain belum lulus, pengen bantu skripsinya. Begitu sudah jawabannya, nanti dan nanti.”
Hm. Begitu rupanya yang buat Randy tertahan di sana. Hampir jadi mahasiswa abadi.
Fandy memutuskan untuk temannya menelpon cowok itu, mendadak ada irama-irama berbeda dari hati Cantika, saat panggilan masuk dan mendengar suara sudah lama hilang dari telinga. Bukan hanya Fandy tapi Dyka mendorong dia menelpon Randy.
Sebelum masuk ke inti permasalahan, mereka berdua minal aidzin dulu. Tapi, kok mendengar ada tawa malu berasal dari Randy sih.
“Tumben anjir, biasanya tidak telpon loh?”
“Ah, tidak ada toh, kan namanya teman harus silaturahmi.” Menahan tawa, ingin sekali ngakak besar.
“Wis, baek kali..yah, makasih.”
Dyka dari tadi mengode melemparkan pertanyaan kamu lagi apa di sana?
Cukup buat dia ingin tertawa, “trus kamu di sana lagi bikin apa?”
“Eng..lagi buka youtube lagi nyanyi-nyanyi saja. Kenapa?”
“Enggak. Kabar skripsimu bagaimana?”
“Trrrsss, di tanya pula hari libur nih, aku lagi menikmati hari ini.”
Lah, Randy kok tertawa sipu, cukup mengundang ngakak yang tertahan oleh mereka sedang mendengarkan obrolan mereka berdua.
__ADS_1
“Tidak. Kalau hari libur kamu gunakan toh untuk nyari referensi.”
“Referensiku sudah banyak sih.”
“Trus?”
“Yah, tinggal kerjakan saja.”
“Lah, kenapa tidak kerjakan?”
Randy bilang sedang hari libur dan dosen tidak di kampus dan membutuhkan refresing juga. Hm, alasan lagi.
Cantika di sini sebagai orang yang harus menekan setiap kali kalimat di sampaikan mengenai skripsi harus selesai tanpa alasan dan nanti.
“Katanya tahun depan kamu kena D.O toh?” Tanya Cantika.
“Hah?! Jangan ngomong kasar.” Setelah menimpali ada tawa besar terdengar.
Asik berdua sendiri sembari menceritakan kembali keinginan Randy yang mau membahagiakan orangtua dengan cara lanjut studi. Yah, masih ingat betul, saat itu pamit memberitahui juga soal keinginan itu dengan tatapan penuh keyakinan dan harapan.
Buat teman smk pada tertegun, baru tahu.
Diingatkan kembali, cukup buat Randy malu sendiri. Dan tidak menyangka kenapa bisa gadis itu masih ingat perkataannya yang sudah lama. Hanya tersenyum walau tidak di lihat dan cuma family multimedia yang melihat senyum itu.
Karena memang dengan cara itu pula adalah jalan mendapatkan sebuah perhatian dari orangtua lewat nilai. Selalu miris, mendengar kakak pertama cowok itu selalu di banggakan sedangkan Randy terus-menerus di patahkan mental citanya.
“Can..pacaran yok?” Randy mengatakan dengan tawa besar.
Apakah terlalu tertekan di suruh cepat-cepat menyelesaikan skripsi, makanya ada ajakan buat pacaran lagi. Hah, hanya di tanggapi biasa dan pasti bercanda semata.
Cantika melihat wajah penasaran dari teman smk, tidak sabar menunggu jawaban apa yang akan diberikan ke Randy.
Ada senyum jail terbit di sana, sambil melirik mereka bergatian lalu .. “Buat apa pacaran? Taaruf yok..” Cantika membalas tak kalah heboh.
Hm. Ternyata mereka masih memberikan sorot prihatin, belum berhasil balikan dengan dua puluh empat januari.
Bukan semakin lirih justru langsung menyahut lagi dengan ketegasan.
“Buat apa balik sama mantan, kalau nggak menjamin masa depan?” Dengan nada penegasan.
Cukup mengundang wajah melongo dari Fandy, masih belum percaya dengan penuturan teman semasa smk sendiri. Sudah berhasil move on kah?
Dan, berpikir sejenak lalu mencatat kata-kata Cantika barusan dengan wajah yang sama, keheranan. Sangat di buat kaget. Berpikir masih ada harapan buat balikan. Ternyata sudah pulih dari keterlukaan diberikan oleh Randy.
“Eh be the way, saya ada buat kisah kita berdua dalam tulisan, nanti mampir baca eh di noveltoon. Link-nya nanti saya kirim ke whatsapp. Oke?!” Seru Cantika.
“Can, kamu sebenarnya masih ada rasa kah atau gimana nih?”
“Bah, kenapa jadi, kan, tidak ada masalah toh kalau saya tulis kita berdua punya kisah dalam novel? Lagian tidak ngejamin kalau masih ada rasa, kan. Buat di kenang bukan balikan.” Sahut Cantika, sedikit protes.
Terdengar napas kecewa di sebrang telpon. Padahal sangat antusias mendengar sebuah kisah dua puluh empat januari berada dalam jemari aksara, ternyata batas menjadi kenangan dalam novel doang.
Setelah selesai ngobrol panjang, mereka sangat bangga sudah lihat temannya itu telah move on dan tegar tidak menginginkan balikan dengan mantan.
“Mungkin bukan kamu yang masih ada rasa, tapi Randy yang ada rasa ke kamu, Can.” Kata Livy tiba-tiba, saat sudah menyudahi obrolan mereka lewat telpon.
“Haha, bodoh amatlah. Siapa juga yang mau balikan sama mantan? Tidak ngejamin masa depan juga kok.” Balas Cantika dengan santai.
Karena yang dia ketahui dari motif mantan hanya sekedar membuka memoar dan file lama, sembari duduk bincang kisah tersebut dan takkan lagi pernah berenang di simfoni berbekas sangat manis walau tahu kenyataan begitu bengis, di katai matre.
Namun, cukup meninggalkan banyak cerita yang hanya bisa di kembalikan dengan cara menyapa memoar lama tersebut lewat aksara. Pun, Cantika takkan pernah melupakan bagaimana cara cowok itu memprilakukan diri sangat baik, ramah, menghargai, kasih sayang nyata, perhatian hangat itulah sangat berarti bagi dia. Dan, sampai detik ini belum bisa menemukan di cinta asing selain cinta berbekal matre. []
~Ending~
.
__ADS_1
"Kita tidak pernah tahu jodoh siapa dan mantan bukanlah jaminan untuk duduk di plaminan."