
“Kenapa harus memancing sebuah kecurigaan dari Nay, hanya ingin menyulam sebuah maaf lewat draf, karena lisan tak mampu menjelasakan kesalah pahaman telah terjadi.”
🥇🥇🥇
Samar-samar melihat kecurigaan akan menendang Cantika dari grup inti yang telah mengembalikan semangat dalam diri, hanya perkara sepeleh, manipulatif telah di percayai mereka.
Benar. Ustad bakal mengeluarkan gadis itu dengan pelan penuh tekanan batin.
Belum lagi hari ini kedatangan Nay katanya mau pinjam novel, alibi saja kah dalam mengorek sangat hati-hati sebuah informasi mengenai cerita hoaks yang sudah tersebar luas di PKS Muda?
Harus bagaimana dalam menanggapi kesalah pahaman yang terlanjur di buat sangat terpecah belah oleh Nurul tak tahu diri, tak bertanggung jawab pula.
Sebelum Nay datang, sudah lebih dulu mendiskusikan perihal project film yang memang sengaja di buat sebagai bentuk maaf ke Rista. Justru memancing kecurigaan sangat hebat dari perempuan itu.
Kenapa harus memancing sebuah kecurigaan dari Nay, hanya ingin menyulam sebuah maaf lewat draf, karena lisan tak mampu menjelasakan kesalah pahaman telah terjadi.
“Kak, saya penasaran siapa yang sebenarnya bikin masalah?”
Nah, intonasi yang tercetus saja cukup mengundang ketaksukaan dari perempuan itu. Harus berapa orang lagi Nurul membawakan kepada Cantika, agar terus di benci tanpa sebab pun tak bisa kah memahami kalau korban dari segala cerita hoaks Nurul, hah?!
Ingin sekali meronta sangat hebat, sembari bukan kakak yang salah, dek, tapi Nurul yang bikin semuanya salah paham begini.
Cantika tersenyum getir, “dek..bayangkan kalau punya mantan yang sama dengan adik kelas, trus mantan ini masih sayang sama ade, apa yang ade rasakan? Saat mantannya ade jadiin adik kelas ini sebagai plampiasan saja?”
Terlihat berpikir sangat keras. “Yah..marah toh, kak, emang kenapa jadi?”
“Hm, itu sudah yang sempat kakak ceritakan ke Nurul, tapi..ada tapinya, dek. Kakak cerita itu ada sesal, bukan mancing emosinya Rista.”
Aduh, lupa bilang kakak juga tidak cerita jelek tentang dia kok, dek. Tampak Nay sangat mempertimbangkan lagi, antara percaya atau membenci.
Lama sekali mendapatkan jawaban, cukup buat Cantika penasaran.
“Ah..saya tidak mau percaya omongannya kak Cantika atau kak Rista, begitu juga dengan ceritanya sih Nurul, bingung.”
Hah? Seketika wajah Cantika melongo, kebingungan. Lantas, buat apa mengorek-ngorek permasalahan yang memang masih belum reda dalam grup tersebut.
Hanya menambah-nambah beban pikir, bukan memberikan solusi.
“Kak, sempat saya tidak suka sama kakak. Karena kakak nilai Kak Rista jelek.”
Allahu akbar! Ingin sekali Cantika memaki depan-depan wajah perempuan ini, serius, sudah sangat mengepal rasa emosi dalam dada, sesabar mungkin menghadapi apa pun jawaban di berikan. Sudah keterlaluan.
Feel gadis itu tidak meleset ke mana-mana kan, kalau Nurul memang membolak-balik cerita yang ada.
__ADS_1
Heh, ada senyum miring terbit di wajah Cantika. Sangat marah dan tidak terima, selalu menjadi sasaran intimidasi mereka tanpa mencari tahu lebih detail.
Susah, kalau pada dasarnya orang membenci kita atau pun tidak, jika satu orang menyuntik benci akan cepat tersebar ke orang lain dalam mengutuk kita bersalah.
Draf menyulam maaf bukan mau menjatuhkan Rista, wallahi mereka sudah jauh kesalah pahaman itu. Sedangkan Cantika sangat kesulitan dalam meluruskan semua masalah tersebut lewat lisan, karena takut ada yang salah dalam penyampaian atau tidak bisa di terima, padahal tulus tanpa kepalsuan hanya sekedar menyenangkan jiwa, seperti Nurul perbuat.
Palsu itu nyata tapi tidak bisa di sadari sekitar, bahkan telah melukai ketulusan serta jiwa yang memang mau berdamai dengan masa lalu, sempat dianggap buruk hanya karena omongan orang ketiga. Kalau tulus telah terluka oleh kepalsuan begitu pekat menggumpal dalam tutur kata, menjadikan orang lain menyakini, tulus tetap kalah dengan palsu.
Biar bagaimana pun penjesalan dalam menyelesaikan permasalahan tak di buat, takkan mampu mengalahkan sebuah manipulatif, begitu berbahaya jika kita tak hati-hati dalam menilai.
Dua hari kemudian ..
Dea, Nay dan Atala datang ke rumah untuk bahas project film yang sempat tertunda.
Setelah menceritakan alur yang dibuat oleh Cantika, ada getir tercipta sangat sakit kalau mengembalikan cerita sesal yang justru di salah pahamkan oleh mereka semua, terutama Rista.
Jujur, sorot-sorot penuh penolakan halus, tidak mau mengikut sertakan diri dengan project yang di buat oleh Cantika. Lagi, ada luka yang menari-nari di benak. Kenapa vibes kebencian di sebarkan sama Nurul terasa sampai di mereka?
Ingin mengembalikan waktu tidak mau merekomendasikan sebuah sosok munafik di tengah-tengah sedang mengumpulkan kebaikan malah terbalik, sangat membenci satu sama lain. Dan itu tertuju ke Cantika yang selaku menjadi korban.
Beberapa jam berlalu, mereka semua sudah pada pulang setelah mendapatkan peran masing-masing nanti di project tersebut.
Sudah tidak bisa membendung sesak seorang diri, saat ini membutuhkan sosok Elvira namun terlalu gensi menelpon duluan.
“Can, saya kasih tahu eh, kita disini punya ujian tidak sebanding dengan anak-anak di palestina.”
Hanya membalas dengan tangis sesegukan, sangat terluka.
“Kalau memang ada yang salahpaham, biar nanti saya bantu kamu ketemu dengan mereka sudah? Termasuk Rista juga, biar masalah kelar.”
Sudah mendapatkan saran dan solusi, hanya masih malu buat ketemu dengan mereka walau bukan dia yang cipta masalah, terasa sekali sisa-sisa wajah mengintimidasi diri.
🧭🧭🧭
Mendapatkan sebuah tugas amanah dari ustad untuk membantu susun makanan yang akan di bagikan ke warga terkena banjir bandang.
Saat datang ke sana, tak sengaja bola mata mereka bertemu, hanya tersenyum justru di balas dengan tatapan datar. Oh, masih tersisa kebencian kah.
Maaf, dek. Gumam Cantika, lalu mengambil tempat duduk yang sudah di buat lasehan menggunakan terpal. Sudah banyak sekali makanan yang dibawa oleh donatur.
Sebentar, kok ada desir-desir berbeda saat sibuk memasukkan lauk ke dalam kantong? Siapa yang sedang memerhatikan Cantika.
Dini, yang kadar kepekaannya tinggi melihat dengan bengong ke arah dua orang berbeda. Sambil melihat bergantian dengan wajah bingung.
__ADS_1
Ah, yang benar saja. Ternyata ada Julio juga turun membantu, jadi relawan buat korban banjir bandang. Bolak-balik mengambil barang-barang di dalam toko lalu mengopor ke ikhwan lain yang bagian mengantar barang tersebut ke rumah korban banjir bandang.
Duh, kenapa di lihat trus kah? Cantika jadi bete sendiri.
Setelah selesai mengatur dan menghitung makanan dalam kantong besar, melihat sekitar posko tak tersisa ikhwan, hanya akhwat serta ustadzah di sana.
“Nurul..kita antar sudah? Bisa kan pegang di belakang nanti?” Kata Cantika, mengusulkan.
Sudah mendapatkan ijin juga dari ustadzah. Memperbolehkan mereka antar, asal dalam perjalanan hati-hati, karena masih deras banjir di jalanan.
“Bisa kok, kak. Ayok sudah..”
Ok. Tak berdua saja melainkan ada dua akhwat ikut ngantar makanan tersebut. Dan, jika menunggu ikhwan pada balik ke posko, kasihan nanti yang lain sudah kelaparan tapi makanan belum datang.
“Kak..kak, pelan-pelan, banjir sekali tuh di depan.” Kata Nurul, mengusik konsentrasi Cantika.
“Iya, kakak tahu, dek. Diam dikit dulu, nanti kalau kita ngobrol jatuh lagi.” Cantika menyahuti sangat kesal.
Nurul lagi bicara dengan siapa sih, kalau yang bawa motor sudah lincah bahkan banjir sekali pun bisa di atasi, tetapi mulut cerewetnya tak bisa diam cukup memancing emosi.
Kasihan dua akhwat yang mengikuti dari belakang, agak kebingungan mau lewat jalur mana. Sampai lihat mereka berdua terjatuh dari motor.
“Kak..kak, itu temanku! Berhenti di sana sudah.” Seru Nurul, asal main memerintah, semena-mena sekali.
Berdecak sangat kesal. Salah sekali, kenapa harus bawa mulut bocor seperti Nurul ini kah.
“Dek..kakak tahu itu temanmu, tapi lihat kondisi kenapa sih?! Ini kakak ada usaha nyari tempat buat berhenti. Tidak lihat kah kalau disitu banjir sekali?!”
Iya, kita tahu dan sudah lihat posisi temannya, tidak lucu kan, parkir pas bagian arus yang deras dan becek belum lagi kendaraan yang terbilang padat, apa mau di sambar tiba-tiba dari belakang, hah?!
Sangat tidak sabaran sekali terus cerewet juga. Bikin telinga panas, salah merekomendasi orang ikut Cantika bawa makanan.
Tadi, melihat mereka berdua nyaris terbawa arus air yang sangat deras. Semakin buat Cantika ingin memuntahkan kekesalannya ke Nurul.
Syukur tadi ada tentara yang membantu mereka berdua berdiri dan menahan kendaraan itu tidak terbawa arus, Cantika tidak bisa bergerak bebas, karena memang keadaan jalan padat dan yang berwenang hanya mereka sedang bertugas di jalan.
Setelah balik ke posko, menenangkan pikiran atas kejadian yang tadi terjadi, mengundang emosi dalam batin Cantika lagi.
Kalau bukan ngajak adik kelas terkesan cerewet ini, siapa lagi yang mau dia bawa, kalau Elvira saja masih di padang dan belum berkomunikasi sama sekali.
Tidak bisa berdiam diri saja dalam rumah, bisa-bisa buat Cantika tertekan batin dan meledak, melempar emosi ke sembarang arah, harus bisa mencari kesibukan di luar salah satunya menjadi relawan banjir bandang sambil ngobrol atau duduk santai setelah semua pekerjaan selesai di posko. []
__ADS_1