
... “Jangan menjadikan orang lain sebagai penghibur diri dan tak sadar menitipkan perih.”...
📖📖📖
Ke sekolah dengan perasaan senang, kemarin sudah merasakan kedekatan tak terduga semenjak kedatangan Dito yang memang mau mengajari justru ayunan langkah cowok itu juga datang ke meja Cantika, ikutan mengajarinya.
Tidak seperti kemarin-kemarin, hanya memberikan sikap datar, cuek dan asing. Sekarang terlihat beda, lempar senyum ramah walau tak seperti dulu lagi, bercengrama romantis, karena ada hati yang di jaga oleh Randy.
Hm. Wajar, tidak marah dan tak memaksa juga, kok. Asal, sudah tahu isi hati sang mantan kekasih masih nama lama, namun masih marah kenapa menjadikan orang lain sebagai penghibur diri saja sih.
“Kenapa sih, Randy tidak minta balikan saja sama kamu, biar nanti kalian pacaran sembunyi-sembunyi dari mamanya?” Elvira berkicau, sangat protes.
Cantika hanya bergeming tak merespon, selain ada getir-getir tercipta dalam hati.
Tidak memungkinkan juga kan, saat Elvira sudah tahu hubungan mereka, mengharuskan balikan dengan dua puluh empat januari? Sedangkan tahu sendiri, sahabatnya di labelkan cewek matre oleh beliau. Terlalu besar dinding pembatas itu untuk mengembalikan romansa tersebut.
“Pagi, Cantika.” Terbangun dari lamunan.
Kenapa yah senang sekali melamun dalam kelas pun tangga.
Tanpa sadar ada desir rindu dalam hati, ketika bola mata mereka bertemu walau hanya sekilas, cukup melegakan nestapa selama ini terpelihara.
Oh, benar juga, kenapa sekarang berseri-seri setiap kali Randy melempar senyum, sudah selesai dengan dua puluh delapan desember. Yah..memang cukup mengagetkan, bukan? Hanya menjalin ikatan hubungan itu sementara.
Hah. Mau di apa lagi, kalau tidak di dasari oleh cinta. Lebih baik langsung membubarkan perasaan saja, kan? Daripada bertahan dalam luka.
“Can, tadi Elvira sampaikan pesan, kalau jam istirahat pertama datang jemput di kelasnya.” Kata Randy.
Yang hanya di balas anggukan kecil oleh Cantika.
Ok. Fine, sahabat sendiri yang memang bukan mantan dari Randy, masih kesal kenapa berpacaran ulang setelah mengumandangkan tidak ingin pacaran kecuali fokus belajar, memperbaiki nilai-nilai sempat jelek.
Mengingat itu saja, cukup mengundang gelengan malas dari Cantika saat ini sedang sibuk dengan HP sembari menunggu guru datang ngajar.
Kalau mau di bilang marah dan cinta, ada, hanya gadis itu bisa apa selain diam menikmati moment tak terduga di lempari Randy tiba-tiba, kan.
Jam istirahat pertama,
“Tik, kenapa sih kamu mau-maunya di permainkan sama dia, hah?! Minta penjelasan kek sana!” Ketus Elvira tiba-tiba.
“Apaan sih?” Balas Cantika dengan kekehan.
“Tuh..kenapa DP BBM Randy di ganti-ganti trus, hah?! Maksud apa coba, kalau bukan mau permainkan kamu!” Kesalnya.
Kebetulan ada data seluler yang bisa buat dia ngecek status BBM di HP. Ah, yang benar saja, selalu mengganti DP BBM dengan wajah Rista.
Seperti menjadikan nafsi sebuah penghibur diri setelah itu tanpa sadar, ada perih di titipkan dalam hati. Serius, sangat sakit menahan gemuruh dalam dada seorang diri, melihat kemesraan walau batas DP BBM cukup ngundang cemburu.
__ADS_1
“Kenapa diam, sih?!” Elvira menggoyangkan bahunya dengan kesal.
“Ah, it’s okay.” Sahut Cantika, dengan intonasi berbeda.
Begitu terdengar getir, menahan tangis.
Dia atau aku, begitulah yang sudah di ketik lewat kolom status baru akan di terbitkan lewat facebook, namun di urungkan karena mengingat sikap terlalu kepedean Randy, yang tak akan habis-habis ngebully diri dalam kelas.
“Sudah. Lupakan saja, masih banyak cowok selain Randy. Yah, tentunya jauh lebih tulus di banding dia yang suka permainkan perasaan anak perempuan orang.” Kata Elvira.
Yang memang sudah tahu arti ekspresi sedang tertampilkan begitu jelas di mata Elvira walau tanpa penjelasan sedikit pun.
Lupakan. Satu kalimat paling mudah di utarakan oleh seseorang namun tidak bagi hati yang belum puluh dari masa lalu masih bermain-main dalam hati dan pikiran.
Bahkan berpacaran dengan orang asing pun tak menjamin melupakan Randy, justru semakin menyiksa batin, terus bertutur kata lewat memoar lama yang tak sengaja datang dalam benak.
“El, tapi, kenapa sih mereka semua pada mengira kalau saya ini berjilbab karena dia, hah?!” Kesal Cantika tiba-tiba.
“Hm. Ngapaian di pikirin sih, Tik? Mereka bebas dalam berkomentar tapi tidak bisa dalam mendengar isi hati kita, kan? Hanya allah saja yang tahu niat itu, bukan manusia. Biarkan saja kali.”
Jujur, kembali diingatkan lagi persoalan adik kelas itu yang belajar menyamakan gaya bicara seperti Randy, cukup merutuki diri sendiri, serius, karena memang sudah memiliki trauma mental yang tidak bisa terkontrol.
“Apa ini semua ada kaitannya dengan penyakitku yang ada di artikel?” Sahut Cantika.
“Tik, bagaimana pun kamu dan penyakit apa yang kamu punya, selama bisa dapat teman yang baik dan mengingatkan, kenapa harus takut terasingkan coba? Nih, lihat saya, emang saya jenuh dan bosan hadapin sikapmu yang memang dipengaruhi oleh trauma mentalmu? Nggak, Sayang. Hanya mereka saja belum mengerti dan tidak bakal peduli dengan kondisi mentalmu, hanya tahu menjatuhkan doang.” Urai Elvira.
🧭🧭🧭
Dan, lucu memang campur sedikit egois, menginginkan diri jadi pusat perhatian Randy sepenuhnya sedangkan tahu bahwa tak lagi sendiri, ada hati sedang di temui setiap kali jam istirahat.
Rasanya sangat gusar, kalau belum llihat cowok itu kembali dalam kelas, tujuan ngajar pelajaran kejurusan.
Daripada bosan dalam kelas, lebih baik keluar duduk depan kelas, lasehan sembari dengar musik di temani candy crush, game favorit semenjak bernestapa tahu dua puluh empat januari pamit.
“KAK CANTIKA!” Seru salah satu adik kelasnya yang memang kelas mereka bersebelahan.
Hanya ada dua kelas multimedia, berdekatan dengan kantin dan laboratorium, yang kelas satunya ada di bagian lain.
Hanya melihat ke sumber suara dengan tatapan datar di miliki gadis itu, selalu begitu, yang buat mereka di sekolah menanggapi sebagai orang paling judes, cuek dan ketus.
Sikap yang di ciptakan setelah merasakan kidung nyata telah berkemas takkan balik lagi. Sebab, pertama kali merasakan arti di hargai, dianggap ada, berarti hanya Randy saja.
Walau pun di rumah tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik, namun ketahuilah orang rumah justru pemicu utama dalam menciptakan sebuah trauma mental hingga sampai detik ini belum pulih. Dan, tidak pernah mendapatkan apresiasi sekecil apa pun usaha yang sudah di berikan oleh Cantika.
“Kak, si Rista cemburu kalau Kak Randy dekat sekali sama kakak.” Kata adik kelasnya itu.
Spontan ada dentum-dentum sangat tak terima berasal dari hati Cantika. Marah.
“Dih, kenapa ade salahkan kakak sih?! Noh..marah Randy sana, kenapa selalu kasih perhatian ke kakak?” Langsung menyemprotkan protes.
__ADS_1
Ok. Walau pun ada rasa marah sisi lain begitu senang mengetahui kalau kekasihnya Randy sangat cemburu. Berarti, takut kehilangan dan sebatas menjadikan sebagai pelampias.
Tapi, masih menjadi pertanyaan kenapa tetap bertahan dalam luka, yang memang bukan ada Rista dalam hati?
“Oh, begitu yah, kak? Yaudah saya balik ke kelas dulu.”
Hanya menyampaikan perihal cemburu kepunyaan Rista setelah itu balik lagi ke kelas? Dasar..hanya penggali informasi dan menyampaikan pesan tak berfaedah sama sekali.
Pasti sampaikan lagi ke adik kelas itu. Hah, bodoh amat-lah. Yang jelas bukan Cantika yang mulai duluan ciptakan kedekatan itu melainkan Randy sendiri. Dan, berhak di marah dan di salahkan si cowok itu.
“Can..”
“Hm.” Hanya membalas dengan dehaman doang.
Sudah tahu kok, bisa merasakan kedatangan cowok itu lewat ekor mata. Saat ini sudah berganti tempat duduk, di atas meja depan kelas, nunggu guru datang ngajar.
Merasakan keberadaan cowok itu semakin dekat, sudah duduk disampingnya, tanpa persetujuan Cantika. Justru tak keberatan sama sekali, kalau ada cowok itu. Ke arah lebih senang apalagi tahu bahwa kekasihnya cemburu tahu kedekatan mereka selama ini lewat intel unfaedah yang tak lain adalah Vhivi.
“Dengar musik apa?” Kata Randy.
Please, jangan berpacu tak tahu malu dong, napas tersengal-sengal berupaya mengontrol detak pacu jantung itu.
Melirik dengan sengit, “kepo!” Lalu membalas dengan nada ketus.
Bukan marah atau pergi, justru Randy hanya terkekeh geli melihat tingkah gadis itu.
“Kan, hanya tanya doang kok, lagi PMS kah?” Celetuh Randy.
Sangat dekat semakin buat detak-detak dalam dada berpacu maraton, tolong jangan buat baper ulang setelah memamerkan kemesraan lewat dinding dunia maya.
Loh, mau ke mana lagi tuh cowok labil. Cantika hanya bengong beberapa saat dan kembali ke rutinitas sebelumnya.
“Kak!” Seru Vhivi.
Nih bocah kenapa lagi dah?! Gerutu gadis itu dalam batin.
“Kak, di mana kak Randy?”
Hanya membalas dengan mengangkat kedua bahu, tak tahu. Padahal sudah jelas membersamai sembari ngobrol singkat. Malas saja sih lebih tepatnya dalam menggubris pertanyaan adik tingkat berlabel intel milik Rista itu.
“Lah, perasaan tadi saya dengar suaranya dari dalam kelas.” Vhivi terheran-heran.
Masih sama, terdiam, tak meladeni sama sekali, hanya melirik sekilas doang dan kembali sibuk dengan HP-nya itu.
“Tadi Rista nyariin Kak Randy, makanya saya nyampein ke sini. Ternyata nggak ada toh.” Lagi, berkicau dengan kekehan.
Ada satu alis terangkat, bingung. Dan, ada apa lagi sih sebenarnya, hah. Kenapa coba nyari Randy di gadis itu?
Sejujunya sangat risi kalau bincang-bincang seputar memoar lama yang cukup melukai batin, hati juga harapan di berikan yang ternyata batas sahabat doang dari Randy.
__ADS_1
Sempat ada pilih dia atau aku yang sudah terbungkus dalam kegelisahan hati Cantika, untuk menyegerakan tersampai ke cowok itu, sisi lain tidak perlu karena memang terlanjur nyaman oleh perhatian manis tak terduga di berikan mantan kekasih. []