
...“Banyak luka tercetak namun hati selalu meneguhkan sebuah asa, agar bisa mendapatkan simfoni nyata.”...
🥇🥇🥇
Keras kepala, begitulah yang bisa diberikan ke Cantika, setelah tahu dapat penolakan garis depan, Randy benar-benar tidak mau pacaran.
Walau sudah mendapatkan kejelasan bahwa cowok itu tidak mau menjalani romansa, masih saja tetap produksi status for Randy di dinding facebook.
Jujur, kali pertama mengenal orang baru yang berhasil membuat Cantika bisa menyentuh buku dengan semangat, bahkan terdengar dari guru-guru kalau mendapatkan perkembangan belajarnya di sekolah.
Jangan sampai keterlukaan hati menjadikan dia kembali saat-saat baru putus dengan Arsha, brantakan dan tidak ada minat sama sekali buat menyentuh buku pelajaran.
Memerhatikan muka yang kusut depan cermin, ada senyum lirih tercipta sebelum keluar dari kamar, berangkat sekolah pakai motor saja.
Terkadang pakai taksi, berhubungan dengan perasaan sedang kacau karena keputusan Randy tidak bisa ganggu-gugat, bisa apa selain menyimpan cinta itu sendirian?
Sampai di sekolah, menyimpan tas lalu membuka facebook, ada status baru Randy, tidak mau pacaran dan ingin fokus belajar.
Berulang-ulang dalam benak bahkan tidak perlu di tegaskan juga di dinding facebook, Cantika sudah mengerti hal itu, kok.
“Kenapa, Can?” Nila yang selalu peka dengan ekspresi temannya itu langsung membuang suara, saat sudah sampai di kelas.
Menggeleng, “tidak kok,” memaksa buat tersenyum sekali pun, Nila tahu sedang menyimpan prahara juga tangis dalam hati.
“Ada apa nih, kok sedih?” Nining menambahkan, baru datang.
Lagi, senyum paksa di perlihatkan.
“Kenapa sih?” Kali ini Wardah ikut menimpali, sambil simpan tas di bangkunya.
“Galau lagi, sedihnya tidak tahu karena apa.” Nila menjawab asal.
Hah. Membuang napas lega, mereka ternyata tidak membaca komentar-komentar di media sosial, juga tidak melihat status mereka berdua. Merasa sedikit aman.
“Ayo sudah ke kantin, ngumpul sama teman cowok di bawah.” Ningsing mengusulkan ke kantin.
“Boleh tuh. Can, ayo jan sedih lagi di sini sendirian dalam kelas.” Langsung Nila menggandeng tangannya.
Menghelakan napas pasrah, untuk kali ini tidak menolak, karena memang sedang berkabut lagi.
__ADS_1
Cantika melihat ada orang yang buat hatinya patah, tidak bisa mendeskripsikan ekspresi yang di berikan ke gadis itu dan duduk sibuk dengan corat-coret sesuatu di buku.
Daripada melihat bola mata yang memberikan luka, lebih baik coret sembarang saja dalam buku, sebelum itu Cantika menerbitkan status galau di dinding facebook. Takut bakal kena razia dari guru BK dan osis, secepat mungkin menyimpan HP-nya di tempat aman bersama dengan HP teman-temannya.
“Can, kenapa diam saja, ngomong apa kek.” Salah satu teman cowoknya menegur dia.
Sejak tiba di kantin tidak banyak bicara hanya diam sambil tenggelam dengan kesibukan yang sengaja di buat supaya tidak mencari-cari bola mata menyimpan luka dalam hati Cantika.
Benar apa yang dibilang oleh Elvira, teman sejurusan sangat humble, ramah dan tidak membedakan karena porsi otak, melainkan melengkapi satu sama lain. Terbukti, saat ujian harian dalam kelas, mereka melihat dia sedang kebingungan langsung sodorkan jawaban itu.
Hanya terlalu besar sebuah rasa minder sebab porsi otak tidak seperti mereka yang bisa cepat memahami pelajaran dalam kelas, apalagi pelajaran paling di benci, sangat malu berulang-ulang minta diajarkan mereka. Ok, Cantika tidak lihat dari mereka keberatan melainkan lebih senang saat meminta bantuan.
“Sebentar pelajaran matematika, duduk di sebelah bangkuku eh? Biar nanti saya ajarkan.” Kata Nining tiba-tiba.
Spontan buat dia terkejut campur senang, “oke,” lalu menimpali santai.
Apakah ini yang dicemburui oleh Elvira? Langsung mengangkat kedua bahu tidak tahu, sangat pelan, karena masih belum bisa merasakan cinta nyata di berikan oleh teman sejurusan.
Hati masih mati rasa karena terbiasakan oleh toxic friends, yang bahkan ada ketulusan tanpa manipulasi tawa, belum bisa dirasakan oleh Cantika sendiri.
Tidak bisa membohongi kalau dalam hati Cantika, mengakui teman multimedia sangat humble bahkan dengan guru killer sekali pun, sangat jelas bola-bola mata tersebut begitu tulus, ikhlas saat menyambung ikatan bersama.
Hal yang di rasakan Cantika saat ini adalah kosong, ketika melihat tatapan mata Randy yang sengaja menghindari, semakin gusar.
🧭🧭🧭
Seperti biasa, mereka selalu ngumpul setiap kali pulang sekolah di rumah Fandy atau kadang di Dyka. Tapi untuk kali ini, lebih memilih rumah Fandy, karena lumayan dekat.
“Eh, Ran, kasihan Cantika, buat status galau trus.” Fandy langsung menyahuti.
“Saya?” Sambil nunjuk dirinya sendiri, dengan tatapan bingung.
Selama ini memang jarang buka facebook, dan tidak tahu perkembangan status apa-apa saja yang sudah di buat oleh Cantika di dunia maya.
Bersamaan, Fandy dan Dyka langsung memukul bahunya, gemas sendiri.
“Masa sama Dito! Jelas kamulah yang buat dia bikin status galau seperti itu!” Kesal Dyka.
Spontan bayang-bayang mengenai teman cowoknya yang satu itu, kembali mengingat saat mereka berdua ngobrol, tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, satu hal bisa Randy tangkap dari Dito adalah kecewa dan terluka.
__ADS_1
Apa benar, Dito dulu nembak gadis itu?
Kebetulan hari ini bawa HP dan tidak ada razia dari osis pun guru BK, cowok itu bisa lihat isi status Cantika di dunia maya.
Menari-nari sebuah kalimat nestapa di sana, juga ada kejanggalan di dapati Randy di balik status yang terbit itu.
Gw?
Cukup lama untuk masuk ke kolom komentar status di buat Cantika, takut kena sorakan lagi dari mereka yang sedang sibuk ngobrol itu. Randy memerhatikan sekilas, masih belum dicurigai walau telah melihat beberapa komentar teman dekatnya beberapa hari lalu.
Randy pun memutuskan untuk membagikan sebuah qoutes motivasi dan vidio pembelajaran hidup, mengupayakan gadis itu perlahan melupakan dirinya.
Tadi juga sebelum keluar dari gerbang sekolah, Randy memutuskan buat bertemu berdua saja lalu ..
“Saya tahu, Can, yang kamu maksud itu saya kan? Jujur saja, it’s okay tapi maaf saya belum bisa pacaran soalnya mau fokus ke pelajaran dan kita bershabatan saja. Jangan sedih yah, Can?” Penuh keseriusan dibalik intonasi pun ekspresi.
Jujur, penuturan itu terkumandangkan karena desakan teman-teman dekatnya buat mengklarifikasikan, apa benar ia juga menyukai gadis itu? Semakin buat Randy frustasi yang mengharuskan untuk meluruskan agar berhenti menerbitkan status galau dan selip asa supaya bisa menjalankan romansa, yang takkan pernah buat Randy lakukan itu, tidak pacaran selain kasih nilai terbaik ke orang tua.
“Randy?!” Teriak Fandy, yang spontan buat cowok itu terhentak kaget.
“Kenapa melamun? Oh, saya curiga sifat melamunmu ini karna pikir Cantika toh?” Kata Fandy lagi, mencurigai.
“Ah, sembarang saja. Mana ada pikir dia, saya hanya mau fokus belajar tidak mau pacaran, nanti ayahku marah kalau ketahuan pacaran trus nilai jelek.” Berusaha melayangkan protes.
“Pacaran tidak bakal buat kamu lupa belajar, justru kalian bakal saling mengingatkan. Lihat, semenjak Cantika curhat di kamu, dia semakin semangat belajar dan rajin ke sekolah.” Sahut Dyka.
Sebentar, Randy mengingat-ngingat dulu, sejak kapan ada perubahan di diri Cantika? Ah, tidak memerhatikan dengan baik hanya sekedar mengingatkan kalau ada PR atau tugas yang buat dia bingung, cari dirinya saja.
Ternyata selama ini teman-teman dekatnya memerhatikan setiap gerak-gerika Cantika.
“Oh, begitu?” Timpal Randy.
“Nah, bagaimana kalau besok kamu mulai pendekatan sudah dengan Cantika? Tenang, nanti kita bantu kalau dia ngambek.” Fandy langsung mengusulkan dengan cepat.
Mau menolak, tapi ada sedikit pertimbangan di wajah Randy saat teman-temannya mau mencomblangkan mereka berdua besok.
Hanya memilih diam. Benar, sejak menjadi telinga ketika Cantika butuh tempat buat bercerita, ada rasa aneh tercipta dalam batin Randy.
Ingin mengelak kuat-kuat kalau takkan mau pacaran sebatas sahabatan, ternyata pertahannya runtuh saat teman-temannya menyakinkan dirinya kalau dengan berpacaran bakal saling mengingatkan saat belajar.
Apalagi sudah terlanjur buat status yang memang menarik perhatian gadis itu, saat kali pertama mengusap air mata dalam kelas. Meurutuki kebodohannya, coba menyimpan perasaan itu sendiri tanpa perlu terpublikasikan, semakin buat Cantika terus menyimpan harapan, kan? []
__ADS_1