
Aku mulai membuka mata dan samar-samar aku melihat Mama dan Papa.
" Ma, pa.... "
" Alhamdulillah, kamu sudah sadar Nak ????? "
" Ma, Pa Nayra ada dimana ini ?? "
" Kamu Di Rumah Sakit sekarang sayang, semalam kamu keracunan Nak. "
" Aku inget semalam aku minum segelas susu dan aku merasakan sakit di tenggorokanku. Aku berusaha meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarkanku. Untungnya ada Bi Inah yang datang dan menolongku. Setelah itu aku gak ingat apa apa Ma, Pa. "
" Pasti ada seseorang yang sengaja menaruh racun di dalam minuman kamu sayang. "
" Tapi siapa yang tega melakukan ini padaku Ma ???? "
Tiba-tiba Axel dan keluarganya datang menjengukku.
" Sayang, sayang kamu gak apa-apa kan sayang ??? " Axel dengan paniknya melihat keadaanku, dia bahkan menciumku dan memelukku. Seakan-akan dia benar- benar takut akan kehilanganku.
" Aku sudah agak baikan kok sayang, " Aku berusaha menenangkan Axel.
" Siapa yang tega melakukan ini sayang ???? "
" Aku juga tidak tahu, saat aku minum segelas susu
buatan Bi Inah aku sudah tidak sadarkan diri. "
" Apa mungkin Bi Inah yang melakukan itu padamu. "
" Tidak mungkin sayang, Bi Inah sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri, dan aku sangat yakin bukan dia Dalang Di Balik Kasus Yang Meracuniku. "
" Lalu siapa ???? "
" Kami sudah melaporkan kasus ini ke Pihak Berwajib biar mereka yang menanganinya. "
Ternyata diam-diam papa sudah membawa kasus ini ke polisi.
" Kenapa papa gegabah membawa kasus ini ke Polisi pa ??. Bagaimana nanti jadinya kalau pelakunya adalah orang terdekat kita sendiri. Apa jadinya nanti dampak ke Perusahaan kita pa ??? "
" Papa sudah tidak memikirkan dampak ke perusahaan lagi, Papa yakin perusahaan kita tidak akan kena masalah. Papa gak mau kehilangan kamu sayang. Hanya kamu satu-satunya harapan Papa untuk bisa meneruskan perusahaan kita Nak. "
" Tapi Nayra sangat yakin Pa kalau bukan Bi Inah pelakunya. " Aku berusaha meyakinkan Papa.
" Sudah masalah ini kita bahas besok lagi, sekarang kamu harus istirahat. "
__ADS_1
Malam ini Axel bermalam Di Rumah sakit, sedangkan Papa dan Mama mau fokus mengurusi siapa dalang yang sudah meracuni ku. Begitu pun dengan calon mertuaku mereka juga pamit akan kembali lagi.
Axel menyuruhku istirahat agar keadaanku semakin pulih. Aku pun memejamkan mataku, Axel juga tidur dengan posisi duduk sambil menggenggam tanganku. Akhirnya kami pun tertidur.
Kami pun terbangun saat bunyi panggilan telfon dari Papaku.
" Hallo iya ada apa ???? "
" Sayang nanti polisi Ke Rumah Sakit terkait meminta informasi kasus yang kamu alami. Tapi maaf sayang, polisi sudah menetapkan tersangka kasus yang sudah meracunimu. "
" Si siapa pa ???? "
" Bi Inah. "
Bagai tersambar petir di siang bolong, aku kaget bercampur sedih. Aku tidak percaya kalau Bi Inah pelakunya. Dia sudah menganggapku anaknya sendiri dan dia sangat menyayangiku. Tidak mungkin Bi Inah yang tega Meracuniku. Pasti ada kesalahpahaman disini.
" Bagaimana mungkin Bi Inah yang dijadikan tersangka Pa ????? "
" Karena polisi sudah menggeledah rumah kita dan polisi menemukan bukti kantong plastik yang berisi racun dikamarnya. Itu sudah merupakan titik terang dari kasus ini sayang. "
" Terus Naura kemana saat aku di racun Pa ??? "
" Dia tidak ada Di rumah dan belum pulang sama sekali sesaat setelah mengambil cincin pertunanganmu sayang. "
" Tidak masuk akal sama sekali. "
" Bagaimanapun aku yakin Bi Inah menjadi kambing hitam disini Pa. Aku sangat yakin sekali pa. Aku akan memperjuangkan Bi Inah keluar dari penjara karena memang hati nuraniku mengatakan bukan dia pelakunya Pa."
" Nayra, jangan memperkeruh keadaan. Sudah terima saja kalau memang bi Inah pelakunya "
" Maaf pa, untuk pertama kalinya Nayra tidak sependapat dengan Papa. Nayra tetap harus menegakkan keadilan disini. "
Aku langsung menutup ponselku..
" Sabar sayang, kebenaran akan terungkap. Aku juga sangat yakin bukan Bi Inah pelakunya. Aku akan selalu ada disampingmu sayang. "
" Iya sayang, aku gak tega Bi Inah mendekam di penjara sekarang. Di usianya yang renta tidak seharusnya dia berada di tempat yang tidak sepantasnya. Aku berjanji akan mengeluarkan Bi Inah dari penjara. "
" Iya sayang kita harus mengumpulkan bukti bahwa bi Inah bukan pelakunya. Oiya sayang bukankah dirumahmu di lengkapi CCTV ???? "
" iya sayang benar sayang, setelah aku boleh keluar dari rumah sakit kita langsung mencari bukti di CCTV."
Axel membantuku menyeka tangan, kaki dan wajahku. Untuk pertama kalinya dia melihatku tanpa polesan make up sedikitpun. Aku yakin mungkin dia agak risih melihatku seperti ini.
" Kamu terlihat lebih cantik kalau natural seperti ini sayang, " Axel tersenyum manis sambil membenarkan rambutku.
__ADS_1
" Apa ????. Kamu sadar kan ngomong kayak gitu ??? "
" Iya sayang, aku kan mencintai kamu tulus apa adanya sayang. Meskipun kamu sudah tua dan keriput pun aku tetap mencintaimu. "
" Ihhhh, So Sweet banget sih sayang. "
" Iya sayang, tapi kemana cincin pertunangan kita ????. Dan kenapa dengan jari kamu yang terluka ini ???? "
" Cincin itu..... "
" Apa Naura yang mengambil dan melukai jarimu, "
Aku hanya bisa mengangguk dan menunduk.
Namun Axel memelukku dan mengatakan tidak apa- apa karena nyawaku lebih penting daripada apapun. "
Tidak berapa lama Polisi pun datang dan menginterogasiku. Aku pun menjawab pertanyaan pak Polisi dengan baik dan jujur. Namun aku tidak setuju kalau pak Polisi menetapkan Bi Inah sebagai tersangkanya. Namun karena semua bukti mengarah pada Bi Inah maka untuk sementara ini bi Inahlah pelakunya sampai ditemukan pelaku yang sebenarnya.
Maka aku pun memberikan saran pada Pak polisi untuk mengecek CCTV rumahku. Siapa tahu ada bukti baru dan kasus ini bisa cepat berakhir dengan baik.
Aku menangis, aku meminta pada Axel untuk mengantarku Ke kantor polisi. Aku ingin bertemu dengan Bi Inah disana. Namun Axel menolak dengan alasan kondisi kesehatanku yang belum stabil. Aku marah pada Axel, namun dia memelukku sambil membelai rambutku. Dia meyakinkanku bahwa besok adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Bi Inah Di kantor polisi.
Hingga malam hari Mama, Papa dan Naura datang menjengukku. Belum sempat mereka menyapaku, Axel langsung menuju ke Naura.
" Kembalikan cincin pertunangan yang sudah kau rebut itu ke pemiliknya, dasar perempuan tidak tahu malu, " Axel tampak sangat marah pada Naura.
" Cincin itu..... "
" Kemana cincin itu ????? "
" Aku tidak tahu. "
" Kamu kembalikan cincin itu, atau kamu masuk penjara !!!!!! "
" Apa maksudmu !!!!! "
" Aku tahu dan sangat yakin bukan Bi Inah yang meracuni Nayra. Dan sebentar lagi pelaku yang sebenarnya pasti tertangkap. Aku pastikan itu !!!!! "
" Ok, ok iya kalau masalah cincin itu memang aku yang mengambilnya. Apa aku salah kalau aku hanya meminjamnya. "
" Tidak perlu berpura-pura, aku tahu kalau yang meracuni Nayra itu kamu Naura !!!!. Ayo ngaku saja kamu !!!! "
" Mana buktinya ??? "
Sambil tersenyum sinis dan melempar cincin pertunanganku, dia pergi begitu saja.
__ADS_1
Apa memang Naura lah, Dalang Di Balik Kasus Yang Meracuniku ?????????