
Naura benar-benar jahat dan kejam. Dia melempar kesalahannya pada Bi Inah, orang yang tidak bersalah sama sekali.
Axel pun memakaikan cincin pertunangan kami di jariku, setelah sebelumnya mengecek keaslian cincin berlian tersebut. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu apa di balik tujuan Naura mengambil cincin tunanganku dan mengembalikannya kembali.
" Mama, sama Papa bisa bantu apa Nak. Kita tidak bisa melakukan apa-apa, karena kita pun diancam. "
" Diancam ????. Maksudnya Ma Pa ??? " Aku terkejut dengan perkataan Mama dan Papa.
" Ya, Naura mengancam Mama dan Papa kalau ikut campur dan memperpanjang masalah ini Naura akan nekat membunuh kita semua, " Papa berusaha menjelaskan pada kami.
" Sekarang Papa sadar kan kalau Naura itu sakit jiwa pa. Nayra kan sudah bilang dari awal kalau Naura itu butuh di tangani seorang Psikolog atau Psikiater pa. Kalau terlambat nyawa kita bakal terancam pa. "
" Iya Nak, maafkan Papa Nak. Papa waktu itu malu kalau sampai kolega Papa tahu kalau salah satu anak Papa ada yang mengalami gangguan jiwa Nak. "
" Ya sudah Pa, bagaimana lagi Pa. Sudah terlanjur juga kan. "
Malam ini Axel masih menemaniku bermalam Di rumah sakit.
" Kamu masih mikirin Naura ya sayang ??? " Axel mengagetkan lamunanku.
" Iya sayang, aku takut kalau Naura bertingkah aneh- aneh lagi. "
" Kamu tenang ya, ada aku disisi kamu. Aku akan berusaha melindungi kamu. "
" Iya terima kasih sayang. Tapi besok pulang dari rumah sakit anterin aku langsung ketemu Bi Inah di Kantor Polisi ya ??? "
" Iya pasti aku anterin. "
Aku pun terlelap dalam buaian malam, tangan Axel terus menggenggam tanganku. Dia menolak tidur di Sofa, dia lebih memilih tidur dengan duduk di kursi asal dekat denganku. Mungkin dia takut Naura nekat datang Ke rumah sakit lagi.
Keesokan harinya Dokter sudah memberiku izin pulang. Kami langsung menuju Ke Kantor Polisi untuk menemui Bi Inah. Sesampai disana aku tidak tega melihat keadaan Bi Inah.
" Non Nayra, Non tolong Bibi non. Bukan Bibi yang meracuni Non Nayra. Bibi berani bersumpah atas nama Allah dan Rasulullah Non, " Bi Inah bersimpuh dan berlutut di kakiku sambil menangis sesenggukan.
Aku pun ikut bersimpuh dan menyuruh Bi Inah duduk. Aku juga tidak kuasa menahan tangis melihat keadaan Bi Inah yang lusuh, kurus dan pucat sekali.
__ADS_1
" Bi, Nayra yakin seyakin-yakinnya bukan Bi Inah pelakunya. Bi Inah hanya di jebak saja kan. "
" Iya Non. Bibi gak akan tega menyakiti Non Nayra karena Bibi sudah menganggap Non seperti anak Bibi sendiri. "
" Iya Bi, tapi yang buat Naura heran kenapa waktu itu pas tengah malam Bi Inah datang ke kamar ??? "
" Soalnya Bi Inah curiga dengan Non Naura. "
" Curiga maksudnya gimana Bi ??? "
" Soalnya pas Bibi ada Di dapur, Bibi melihat Non Naura keluar rumah dengan gelagat mencurigakan Non. "
" Katanya dia gak ada Di rumah saat kejadian itu Bi. "
" Tapi Bibi yakin banget itu non Naura. "
" Iya sudah biar kita lihat dari CCTV saja Bi. Ayo Axel kita minta rekaman CCTV nya. "
" Ayo sayang. "
" Iya Non Nayra. "
Ketika aku mau pulang, aku tidak tega melihat Bi Inah meneteskan air matanya. Aku pun memeluknya dan ku lihat bi Inah menangis sesenggukan. Aku hapus air matanya dan saat Bi Inah mau tersenyum untukku, aku pun pulang.
Hari ini adalah Awal Perjuangan Mencari Keadilan untuk Bi Inah dan untuk diriku juga pastinya. Kami langsung menuju Ke rumah dan meminta rekaman CCTV. Setelah mendapat rekamannya, aku dan Axel memeriksanya. Dan ada yang aneh disitu....
" Sayang, kok aneh ya dalam rekaman CCTV ini gak menunjukkan tanda-tanda kalau malam itu Naura pulang kerumah ??? " Axel pun mulai bingung dengan isi rekaman CCTV tersebut.
" Aku juga bingung sayang, gak mungkin Bi Inah bohong. Firasatku mengatakan ada yang tidak beres dengan rekaman ini. "
" Iya tapi apa ya ????? "
Hampir beberapa jam aku memeriksa isi dari CCTV itu dan akhirnya aku pun mendapatkan jawabannya.
" Isi rekaman CCTV ini ada beberapa yang di hapus atau di potong. Perhatikan saja waktunya bukankah ada waktu yang telah terpotong ???? "
__ADS_1
" Iya sayang, kamu benar. Ayo kita ke Security untuk meminta file yang asli. "
Sesampainya disana, awalnya Security tidak mau mengaku namun karena Axel mengancamnya akan melaporkan Ke Polisi dia akhirnya mengaku. Dia sebelumnya sudah diancam Naura untuk memberikan File Rekaman CCTV yang sudah di potong. Dan setelah itu Naura menghancurkan file yang asli. Aku akui Naura memang licik sekali. Rencana pertama untuk mencari bukti kejahatannya gagal.
Namun aku tidak kehabisan akal, aku langsung menuju kamar Naura. Aku yakin pasti bisa menemukan bukti-bukti lain disana. Aku mencari-cari kesana kemari, namun belum mendapatkan apapun.
Tiba-tiba aku mendapat Struk dengan tulisan Botulinum. Aku berfikir apa ini ????. Namun setelah aku mencari tahu di internet ternyata itu adalah resep racun paling mematikan di dunia.
Kalian tahu efeknya seperti apa ??????????. Aku hampir pingsan setelah tahu bahayanya racun ini !!!!!!
Botulinum ini efeknya dapat menyebabkan lemah otot, penglihatan kabur, berbicara tanpa kendali dan kematian !!!!!!!!. Aku langsung memasukkan nota atau struk tersebut ke dalam sakuku.
Tiba-tiba Naura datang dan dia kaget saat tahu aku dari dalam kamarnya. Bahkan ponselku juga ikutan terjatuh !!!!.
" Kamu ngapain Di kamarku Nayra ????!!!! "
" Aku kesini mau mencari bukti kejahatan kamu padaku !!!! "
" Hahahahaha kamu tidak akan bisa mendapatkannya !!!! Buktinya isi rekaman CCTV saja sudah aku hancurkan. Kenapa sulit banget ya membunuh orang kayak kamu, nyawamu sebenarnya berapa sih !!!!. Susah banget matinya !!!! "
" Kamu tega menjadikan Bi Inah sebagai tersangka atas kejahatanmu Naura !!!! "
" Memangnya kenapa ???? Masalah buat Lo !!!!!! "
" Kamu ingat ya, sepandai-pandainya kamu menyimpan kejahatanmu suatu saat pasti ketahuan juga !!!!! "
" Mana mungkin, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan seorang Naura !!!!!!! Hahahahahahahahaahaha!!! " Naura tertawa penuh kemenangan.
Setidaknya aku sudah mendapatkan sesuatu dari kamarnya Naura dan semoga ini bisa jadi bukti. Namun siapa sangka tiba-tiba Naura menggeledah kantongku, dan aku pun berusaha menampiknya. Hingga Naura hampir mendapatkan struknya dia memukul pelipisku dengan ponselnya. Darah segar pun menetes di wajahku. Namun aku tetap mempertahankan bukti itu.
Tiba-tiba Axel datang menyelamatkanku dan mendorong Naura agar tidak melukaiku. Axel pun langsung membawaku pergi dan mengendarai mobil dengan cepat. Namun Naura terus mengejar kami dengan kecepatan tinggi. Sambil memegang pelipisku yang terus mengeluarkan darah dan menahan perih aku berdoa agar bisa kami bisa terlepas dari Naura.
Saking nekatnya Naura menabrak mobil kami dari belakang namun Axel mampu menguasai mobil.
Tidak sampai disini saja, ternyata Naura memanggil preman-preman sewaannya. Mereka berjumlah 6 orang dengan mengendarai Sepeda Motor dan menghadang kami Di depan jalan.
__ADS_1
Entah apa kami mampu melewati ini semua, atau langkah kita akan terhenti disini......