
" Pisau, " Batinku dalam hati saat Naura masuk ke kamarku membawa sebilah pisau kecil di tangannya. Dia berusaha merampas cincin berlian pemberian Tuan Muda Axel dan Keluarga Widodo.
" Berikan cincinmu atau ku iris jari-jarimu. "
" Tidak, tidak Naura. Cincin ini milikku Naura. "
" Aku cuma mau pinjam sebentar saja Kakak, hahahaha, '' Naura semakin mendekatiku dan semakin menakutiku dengan pisau kecilnya.
" Tolong Naura jangan kamu ambil cincin ini, ini cincin tunangan ku dengan Axel, " Aku memohon sambil menangis.
" Sini, atau kamu mau aku melukai jari-jari lentikmu ini ????? "
" Tidak Naura, jangan !!!!! "
Karena aku ingin terus mempertahankan cincin tunanganku, Naura nekat melukai jariku. Darah segar menetes dari jariku. Sakit sekali, aku menangis kesakitan. Karena aku tidak berdaya Naura merampas cincin tunanganku.
" Jangan Naura, kembalikan cincinku Naura. "
Sambil menangis menahan sakit aku masih berusaha merebut kembali cincinku dari tangan Naura. Tapi sia- sia karena tenaga Naura lebih kuat dariku.
Aku hanya bisa menangis pedih saat dia mencoba memasukkan cincin tunangan ku di jemarinya. Aku tidak rela kali ini diperlakukan seperti ini. Hingga akhirnya aku mendorongnya dan jatuh mengenai pintu.
Namun bukan Naura kalau dia tidak bisa membalas perlakuanku. Sekali dorongan Naura berhasil membuatku terjatuh dan juga membuat kepalaku kebentok ujung meja riasku yang terbuat dari kayu.
Tampak lebam dan ada sedikit darah segar jatuh membasahi pelipisku. Hingga akhirnya aku melihat sekitar terasa gelap dan aku tidak sadarkan diri. Aku pingsan untuk waktu yang lumayan lama.
Hingga aku tersadar aku melihat Mama dan Papa disampingku. Luka di jari dan dahiku ternyata sudah di obati. Mungkin Mama yang sudah merawatku.
__ADS_1
Saat aku mulai bisa mengendalikan keadaanku, aku berusaha bangun dari tempat tidurku.
" Nayra sayang, kamu kenapa sayang ???? "
" Mama... Papa ..... "
" Iya sayang kenapa kamu bisa terluka seperti ini. Tadi Bi Inah pas mau anterin susu buat kamu, nemuin kamu sudah seperti ini. Dan cincin tunangan kamu kemana Nak ????? " Dengan perasaan kawatir mama mencoba bertanya padaku.
" Mama..... Naura Ma... " Tidak sempat aku melanjutkan kata-kataku, aku tidak kuasa menahan Tangisku yang pecah.
Jujur aku takut dan trauma dengan kelakuan Naura. Tapi disisi lain aku takut Naura makin menjadi kalau aku memberi tahu semua pada Mama dan Papa.
Papa pun mencoba menasehati ku.
" Nayra, kami ini orang tua kamu. Papa ini memiliki tanggung jawab untuk melindungi kamu sayang. Jangan kamu simpan sendiri masalah yang kamu hadapi sayang. Sekarang kamu jawab jujur apa semua ini ada hubungannya dengan Naura ?????. Dan mengenai cincin tunangan kamu, apa benar Naura yang sudah mengambilnya ????? "
Lama aku terdiam karena jujur aku takut kalau mengatakan semuanya Naura bisa semakin menjadi. Tapi di sisi lain, kalau aku tidak jujur keadaan Naura bisa membahayakan kami semua disini.
" Pa, Ma. Nayra boleh jujur ????. Tapi janji ya Mama sama Papa harus percaya sama Nayra dan disini Nayra tidak ada maksud apa-apa.
" Iya sayang, " Mama dan Papa pun berjanji untuk mendengarkanku.
" Iya pa, Naura yang membawa cincin pertunangan Nayra. Bahkan Naura nekat hampir mengiris jari Nayra saat Nayra berusaha mempertahankan cincin pertunangan Nayra dengan Axel. Ma, Pa sebenarnya yang aku lihat itu, Naura tidak normal. "
" Maksudnya tidak normal gimana sih sayang ????? "
" Apa menurut Papa dan Mama ada saudara kembar yang tega ngelakuin ini ke saudara kembarnya pa ???. Dia juga pintar sekali menutupi perasaannya dan berpura-pura baik pada semua orang Pa. Yang paling tidak normal adalah saat dia bahagia yang sangat teramat senang namun dengan hitungan detik tiba-tiba Naura berubah menjadi sedih yang teramat mendalam. Emosinya menjadi tidak terkontrol Pa Ma. "
__ADS_1
Mama dan Papa diam dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
" Papa dan Mama kenapa ???? "
" Sayang, masalahnya tidak semudah itu kita membawa Naura untuk periksa Ke rumah sakit jiwa karena ada beberapa alasan agar kita tidak gegabah. Pertama, kita bukan orang sembarangan Nak. Kalau sampai publik tahu mengenai masalah keluarga Wijaya pasti keluarga kita bakal disorot dan itu nanti berdampak pada saham perusahaan kita Nak. Yang kedua, pastinya Naura sakit hati dan itu nantinya akan membuatnya lebih agresif lagi tingkah lakunya.
" Ya pa. Maaf itu hanya saran dariku saja Pa. Kalau Papa keberatan juga tidak masalah Pa. "
Karena keadaanku sudah agak mendingan, Mama dan Papa pun meninggalkanku. Akhirnya aku pun tidur terlelap. Tengah malam tiba-tiba aku terbangun, aku merasa haus sekali. Ku dapati segelas susu di mejaku yang biasa di sediakan Bi Inah untukku. Mungkin tadi aku ketiduran dan Bi Inah menaruh segelas susu di meja. Aku pun langsung meminumnya sampai tak ada yang tersisa sedikitpun.
" Glek glek glek " Tampak aku menghabiskan segelas susuku. Aku pun tidak merasa kehausan lagi.
Namun selang beberapa menit, tiba-tiba ada yang aneh dengan tubuhku. Aku merasakan sakit di tenggorokanku sampai mulutku mengeluarkan busa. Aku ingin berteriak meminta tolong tapi tidak bisa karena tidak ada suara yang keluar sepatah kata pun. Namun aku tetap berusaha meminta pertolongan karena aku tidak mau mati sia-sia karena keracunan.
Untungnya ada ponsel di dekatku. Aku pun berusaha menghubungi Mama, tapi belum diangkat juga. Aku hampir tidak kuat lagi bertahan. Aku hampir ambruk dan tidak sadarkan diri ketika Bi Inah datang dan mencoba membantuku.
Bi Inah berteriak meminta tolong namun tidak ada yang mendengar. Bahkan Naura yang kamarnya berdekatan denganku tidak datang menolongku. Hingga akhirnya Bi Inah sendiri yang menuntunku untuk turun ke lantai bawah. Aku sebenarnya sudah tidak kuat dan pasrah pada ajal yang sebentar lagi menjemputku.
Untungnya Mama dan Papa langsung bangun dan menghampiriku. Mereka langsung membawaku ke Rumah sakit terdekat. Di perjalanan aku sudah dalam kondisi pingsan. Aku tidak tahu aku bisa bertahan sejauh mana.
Ketika tiba Di rumah sakit aku langsung dibawa masuk ruang UGD, para dokter dan perawat yang bertugas berjuang menyelamatkan hidupku. Mama dan Papaku hanya bisa menangis dan mendoakan untuk kesembuhanku.
Setelah melewati proses yang sangat panjang dan lama, akhirnya racun yang ada di dalam tubuhku sudah berhasil dikeluarkan. Namun aku belum sadarkan diri waktu itu.
" Siapa yang tega melakukan ini pada Nayra istriku, " Papa tampak sangat kawatir melihat keadaanku.
" Entahlah sayang. Mama juga tidak tahu. Apa mungkin Bi Inah yang melakukan semua ini ???? " Mamaku menuduh Bi Inalah yang meracuniku.
__ADS_1
" Kita tunggu saja Nayra sadar. Tapi papa pastikan kasus ini harus di proses hukum !!!!!! "
Apa mungkin Bi Inah yang tega melakukan ini padaku, karena baginya aku sudah dianggap anak kandungnya sendiri. Rasanya sulit di percaya kalau Bi Inah pelakunya. Atau mungkin Naura lah dalang di balik semua ini ????????.