
Sudah berlalu sangat lama,namun perasaan yang tulus tak akan pernah Hilang walau tersapu jarak Dan waktu. Begitu pula dengan perasaan tulus Kinar pada Andra. Lelaki yang Masih sama dia rindu Dan impikan selama ini.
Cukup lama Kinar Memandang foto kedekatan mereka saat saat Masih zaman SMP Dan SMA. terselip senyum dibibir Kinar melihat betapa konyolnya mereka dulu yang sudah berbanding terbalik dengan sekarang.
Wajahnya berubah kecut ketika bayangan masa lalunya kembali terlintas di benaknya.
Flashback on...
Lima tahun yang lalu
Cerahnya senyuman para calon mahasiswa mengalahkan cerahnya sinar mentari pagi ini. Apalagi bagi mereka yang Lolos terdaftar di Salah satu Universitas ternama di ibu kota Jakarta. Begitu pula untuk Kinar Dan Andra yang juga sudah terdaftar memilih bersantai Dan duduk berdua di taman kampus.
"Kinar" panggil Andra
"Iya?" Kinar menoleh Dan mendapatkan tatapan sejuk Dari teman duduknya
"Nanti malam kamu free kan?" Tanya nya kembali Dan Kinar terlihat berfikir cukup lama tapi kemudian dia mengangguk di susul senyum termanis di Bibirnya.
"nanti malam makan bareng, mau?" ajak Andra
"mau mau" jawab Kinar antusias."sudah lama nih kita ga makan di luar" lanjutnya
"nanti jam tujuh malam aku jemput ya" ucap Andra Dan di angguki oleh Kinar.
Tidak Lama, setelah Kinar mengedarkan pandangannya Dan mendapati banyak manusia berjenis kelamin sama dengannya, tengah memperhatikan ke arahnya Dan Andra. Kinar menatap jengah pada gadis gadis centil menurut dia.
Aaakhh. Kau bahkan sudah populer sebelum kuliah dimulai. Batin Kinar
saat beralih menatap Andra, lelaki itu bahkan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya, dia hanya fokus pada satu wanita yang ia pandang sangat Lucu ketika lagi kesal. Bahkan Kinar sampai mengerucutkan Bibirnya ketika Andra tersenyum padanya.
"kau senang kan? bahkan sebelum kuliah dimulai, kau sudah sangat populer" ucap Kinar, merasa terusik sesuatu miliknya di ganggu orang lain. bahkan dia tidak sungkan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Andra. Mereka sudah sangat dekat sejak Masih kecil, kedua orang tua mereka bersahat jauh sebelum hadirnya Kinar Dan Andra.
Sejak papa Kinar dan papa Andra memulai bisnis bersama, mereka menjadi lebih sering bertemu Dan mulai lebih dekat seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
"kenapa" jawab Andra santai. Toh dia tidak peduli, tapi kenapa Kinar yang marah begitu pikirnya.
"Kenapa?" Kinar benar benar tersulut emosi, bahkan dia mendongakkan kepalanya Dari bahu Andra.
"kamu suka ya di pelototin seperti itu sama mereka" lanjutnya sewot menunjuk kerumunan cewek cewek yang tidak jauh Dari mereka, Hal itu membuat Andra tidak tahan untuk tertawa. Dan Kinar sudah benar benar marah
"aku tidak peduli pada tatapan mereka"
"Bohong" potong Kinar cepat saat Andra belum menyelasaikan kata katanya
Tiba tiba Andra memegang wajah Kinar dengan kedua tangannya untuk menghadap padanya, menatapnya lekat. Dan Tanpa aba aba sebuah ciuman singkat di lakukan Andra pada Bibir ramun Kinar yang semerah buah delima.
"Sudah ga marah lagi kan?" Tanya Andra yang bahkan tidak di jawab apapun oleh Kinar, dia Masih mematung Memandang Andra.
Ciuman pertamaku . teriak histeris Kinar dalam hati
Dia mencium ku tadi kan? padahal kita belum pacaran. wajah Kinar merona Dan jantungnya berdetak lebih cepat Dari biasanya
Ciuman sekilas itu ternyata mampu membuat para gadis yang tadinya Memandang Andra dengan tatapan memuja seketika merasa patah hati Dan bubar ditempat.
aakhh kenapa cuma digantungin sih, kenapa ga sekalian nyatain perasaan gitu. kan tanggung banget. Batin Kinar memberontak
Dan Kinar segera menyusul Andra yang sudah meninggalkan nya.
mereka akhirnya berpisah saat Andra mengantar Kinar di depan gerbang rumahnya.
"ga mau mampir dulu?" Tanya Kinar sebelum turun Dari Mobil
"ga usah, nanti malam aja sekalian aku jemput kamu " balas Andra
"baiklah" Kinar akhirnya berlalu meninggalkan Andra yang Masih memastikan Kinar masuk ke dalam rumahnya dengan aman.
*******
__ADS_1
Kinar yang Masih tertidur pulas sore itu di bangungkan oleh Dering keras di ponsel miliknya. Kinar mengerjab menyesuaikan sinar yang masuk ke retinanya. setelah Cukup sadar dia mengambil HP di Laci sebelah ranjangnya. Kinar terkejut dengan pemilik nomor yang sedang menghubunginya saat ini
"Febri?" mengerutkan kening tidak Percaya. Febri Wijaya yang tak lain sepupu Dari Andra, Dan bahkan keduanya tak pernah terlihat akur. Pak Wijaya selaku adik kandung papanya Andra, selalu merasa iri dengan hasil bisnis kakaknya sendiri yang semakin berkembang pesat Dan tengah berada di puncak, hingga sampai akhirnya pak Wijaya nekad untuk menghabisi kakaknya sendiri, demi merebut Perusahaan milik Papanya Andra, pak Hardi.
"Hallo" sapa Kinar
"kok lama banget sih Kinar?" jawab pria di seberang
"Kamu tau ga? kamu sudah ganggu aku tidur, Masih protest aku jawabnya lama. ga dijawab baru tau rasa" cerocos Kinar kesal.
"jangan gitu dong, kamu beda banget ya sikapnya kalo lagi ngomong sama kak Andra" timpalnya lagi. " kalem, beda banget kalo ngomong sama aku, ga ada Manis manisnya"
"sudah ya, kalau ga ada yang penting mending matiin aja deh, Bosen basa basi. mau lanjut tidur" mulai kesal dengan pembicaraan mereka
"tunggu tunggu, Kinar" cegahnya cepat
"Apa?"
"ketemu yuk, ada yang mau aku bicarain. tentang kak Andra" ucapan Febri membuat Kinar penasaran
"Apaan? kenapa ga ngomong sekarang aja?" dia males bicara lama lama dengan Febri apalagi ketemu, ogah batin Kinar.
"ga bisa, aku harus ngomong langsung sama Kamu? kalau kamu ga dateng ga papa, tapi kamu bakal nyesel nantinya" Kinar diam mendengar ancaman Febri, Kinar tau. Febri akan berbuat apapun ketika yang di inginkannya tidak terpenuhi
"Ok ok, mau ketemu di mana? asal jangan jauh jauh Dan terlalu lama, aku Masih ada janji dengan orang lain" Kinar yang Masih labil dengan usianya yang belum genap 19 tahun, Tanpa berfikir panjang dia menyetujui ajakan Febri
"janjian sama Kak Andra ya?"
"ga usah kepo, cepat kirim alamatnya. kita ketemuan sekarang aja" lanjut Kinar Dan langsung memutuskan sambungan telepon.
lebih cepat lebih baik, pikir Kinar. dia tidak Mamu membuat Andra menunggu lama nantinya
Disis lain, Febri tersenyum senang dengan tawarannya yang di setujui oleh Kinar, wanita yang sangan di idamkan sepupunya itu.
__ADS_1
"tidak hanya akan merebut Perusahaan mu, tapi akan aku rebut juga wanita milik mu" tawanya memenuhi langit langit kamarnya. Febri menelfon Kinar setelah mendapat kabar bahwa pamannya meninggal karena kecelakaan.